Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Semakin dekat


__ADS_3

Tuan Felix duduk di temani secangkir kopi panas di teras rumah. Ia melihat Rina mengangguk hormat padanya. Ia membalas Rina dengan senyumnya.


"Sayang," panggil suami Rina.


Tidak lama Rina pamit dan segera masuk. Tuan Felix melihat Rina yang semakin hilang dari pandangannya. Tiba-tiba ia membayangkan wanita itu adalah Riri yang terburu-buru masuk saat mendengar panggilan dari Rian.


"Pah," sapa Rian.


Sapaan Rian membuyarkan lamunan Tuan Felix. Senyumnya seketika menghilang. Moodnya berubah dengan cepat.


"Apa?" tanya Tuan Felix dengan ketus.


"Papa kenapa senyum-senyum sendiri? Ayo masuk! Nanti kesambet," ucap Rian.


"Ah, kamu. Mengganggu saja," ucap Tuan Felix sambil segera masuk.


"Pah, ini kopinya ketinggalan." Rian setengah berteriak.


"Buat kamu saja," jawab Tuan Felix.


Rian segera memgambil gelas itu dan meminum sisa kopi Tuan Felix.


"Ah, enak." Rian segera masuk sambil membawa gelas kotor dan menyimpannya ke dapur.


Rian duduk di samping Tuan Felix. Sebuah kursi sederhana membuat pria itu tidak nyaman. Sementara Rian yang sudah terbiasa hidup susah sudah tidak asing lagi dengan keadaan seperti itu.


"Papa istirahat di kamar saja," ucap Rian.


"Di sini saja. Papa mau bicara denganmu," ucap Tuan Felix.


Seperti yang Rian duga, Tuan Felix membahas tentang hubungannya dengan Riri. Sementara Rian hanya bisa tersenyum miris lalu menjelaskan apa yang ia alami.


"Kamu menyerah?" tanya Tuan Felix.


Rian menggeleng.


"Aku sudah menyesal karena salah emngambil keputusan. Maka saat ini aku putuskan untuk menunggu Mpus sampai dia memutuskan apa yang akan terjadi dengan hubungan ini," ucap Rian.


"Kalau ternyata dia memilih untuk pergi?" tanya Tuan Felix.

__ADS_1


"Aku hanya bisa kecewa Pah. Tapi setidaknya aku tidak merasa bersalah," ucap Rian lalu menarik napas dalam.


Tuan Felix hanya bisa menatap Rian dengan penuh haru. Ada rasa bangga sekaligus iba. Ia tidak menyangka jika Rian akan mengalami beban seberat ini.


Awalnya Tuan Felix berpikir jika Rian adalah anak yang kuat. Nyatanya setelah dihadapkan dengan masalah rasa, ia tidak setangguh saat menghadapi semua asanya. Semua harapan dan cita-citanya nyaris terwujud sesuai apa yang ia mimpikan selama ini.


"Setahun itu tidak sebentar," ucap Tuan Felix.


"Tapi lebih sebentar jika dibanding penyesalan di seumur hidupku," ucap Rian.


Tuan Felix tersenyum dan segera memeluk Rian. Ia menenangkan Rian bahwa jodoh tidak akan kemana. Selagi ia sudah berusaha maka Tuhan akan memberikan yang terbaik.


Kehadiran Tuan Felix di Indonesia, cukup membuat Rian merasa hari-harinya lebih berwarna akhir-akhir ini. Namun sayangnya, Tuan Felix harus kembali ke Jerman setelah beberapa hari di Indonesia.


Mia yang ikut mengantar ayah kandungnya ke bandara menangis dalam pelukan ayahnya. Tuan Felix membuka kacamatanya dan mengusap sudut matanya. Ada air mata yang tidak bisa ia bendung. Hatinya lemah saat harus berpisah lagi dengan anak kandungnya.


"Mi, sehat-sehat ya di sini. Nanti Papa ke sini lagi. Papa masih ingin bersama Naura dan Rendra. Mereka selalu membuat Papa rindu," ucap Tuan Felix.


"Mia sama dan anak-anak menunggu Papa di sini. Papa juga sehat-sehat ya di sana," ucap Mia.


Perjalanan hidup mereka berjalan seperti biasanya. Hanya ada yang berbeda dalm diri Rian. Kini ia lebih senang menyendiri. Sibuk dengan ponselnya. Rian juga tidak seceria dulu di mata semua orang yang mengenalnya.


Kini Rian lebih tertutup dan pendiam. Ia tidak banyak bicara dan itu semua membuat orang di sekelilingnya merasa aneh. Banyak hal yang berubah dari Rian. Urusan perasaan memang sudah mengubah sikap Rian. Namun ia masih bisa mengatasi semua itu agar tidak berimbas pada urusan pekerjaan.


Manto menatap Rian dengan kerutan di dahinya. Seperti biasa, Rian sedang melamun. Matanya menatap layar laptop tapi pikirannta tidak di sana. Rian sama sekali tidak merespon ucapan Manto.


"Pak, maaf." Manto menepuk pelan tangan Rian.


Rian seger terperangah melihat kehadiran Manto yang berdiri di sampingnya.


"Bapak kenapa di sini?" tanya Rian.


"Ini saya mau memberikan ini Pak," jawab Manto menyerahkan berkasnya.


"Oh iya. Terima kasih," ucap Rian sambil menerima berkas itu.


Tidak dibaca atau sekedar dilihat. Rian hanya menerima berkas itu dan menyimpannya di atas meja sebelah kanan. Sementara ia merogoh tangannya dan sibuk dengan ponselnya.


Manto yang sudah mulai terbiasa dengan sikap Rian hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap bos sekaligus temannya itu. Ia bahkan sering membahas tentang sikap Rian dengan Danu. Mereka berdua memanfaatkan waktu luang untuk membahas perubahan Rian dari hari ke hari.

__ADS_1


"Sepertinya Pak Rian butuh piknik," ucap Manto sambil tertawa.


"Husst, jangan sampai Pak Rian mendengar semua ini. Bisa marah besar," ucap Danu mengingatkan.


Walaupun sebenarnya hatinya juga mengiyakan. Ia setuju dengan ucapan Mantl. Rian memang butuh piknik. Butuh refreshing agar lebih fresh. Namun sayangnya akhir-akhir ini pekerjaan di kantor sedang padat.


"Pak Manto, Kak Danu." Rian menghampiri mereka berdua.


Danu dan Manto saling menatap kehadiran Rian. Pasalnya sudah cukup lama mereka tidak melihat Rian keluar dari ruangannya. Rian hanya datang ke kantor lalu masuk ke ruangannya. Makan siang selalu di ruangan karena Sindi masih dengan setia memberikan bekal makan siang untuk Rian. Rian hanya akan keluar dari ruangannya saat akan pulang.


"Aku ikut gabung ya Kak," ucap Rian.


"Boleh, boleh." Danu segera menggeser kursi untuk Rian.


Rian duduk dan menyimpan kopinya di atas meja. Mereka bertiga duduk bersama menghabiskan waktu istirahat sebelum nanti kembali bergelut dengan pekerjaan. Pemandangan yang sangat langka sebenarnya. Bahkan beberapa karyawan yang sedang di kantin membahas tentang kebersamaan mereka bertiga.


Jam makan siang sudah selesai. Mereka kembali ke ruangan. Layar laptop yang masih menyala sudah menantinya sejak tadi. Berkas yang masih terbuka di atas meja adalah bukti bahwa pekerjaan itu belum usai.


"Ah, sudah waktunya pulang." Rian menggeliat dan menutup laptopnya.


"Selesai Pak?" tanya Manto basa basi.


Basa basi? Ya, tentu pertanyaan itu memang hanya sebuah basa basi belaka. Karena ia tahu kalau akhir-akhir ini Rian selalu membawa pekerjannya ke rumah.


"Belum. Nanti dilanjut di rumah," jawab Rian.


"Sebaiknya Bapak istirahat yang cukup. Biar saya yang menyelesaikan pekerjaannya Pak," ucap Manto.


"Tidak perlu. Ini tanggung jawab saya Pak," ucap Rian.


Akhirnya Manto senang saat tahu kalau Rian memang sudah benar-benar belajar untuk lebih fokus. Manto yang senang dengan perubahan itu segera mengabari Tuan Felix. Si penerima pesan sedang tersenyum senang saat mendengar kabar itu.


Perubahan demi perubahan terus terjadi pada Rian. Sampai akhirnya ia mendengar Shelin dan Hiro sudah semakin dekat. Ah bukan hanya mendengar, tapi Rian sempat melihat keduanya makan bersama di sebuah mall.


Rian yang kebetulan mengajak Naura dan Narendra sengaja mengajak pergi dari sana. Ia tidak mau hubungannya dengan mereka yang baru saja membaik menjadi berantakan lagi saat melihat Shelin dengan Hiro.


"Om kenapa harus pindah sih? Kan biasanya juga kita makan di sana," ucap Naura sambil cemberut.


"Om mau menunjukkan tempat makan tang baru. Enak banget dan Om yakin kalian pasti suka," ucap Rian.

__ADS_1


Rian berusaha mencari alasan agar keduanya tidak curiga. Tanpa Rian tahu jika Narendra sudah melihat Shelin yang sedang makan di tempat itu. Namun Narendra berpura-pura tidak tahu apa-apa.


Sudahlah Om, jangan mencari alasan. Aku sudah tahu semuanya tapi ah sudahlah. Mungkin lebih baik jika aku diam. Aku tidak mau nanti Naura malah bicara dan bersikap yang tidak-tidak.


__ADS_2