Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Bukan kencan


__ADS_3

Rian mengantar Maudi pulang. Dalam perjalanan, keduanya saling diam satu sama lain. Hanya terdengar alunan lagu kesukaan Rian.


"Ri, terima kasih ya! Aku tidak tahu kalau tadi kamu tidak membantuku," ucap Maudi memulai obrolan.


"Ini yang terakhir kalinya," ucap Rian.


Sakit. Maudi merasa ucapan Rian menghujam hatinya yang paling dalam. Ia merasa begitu sakit dengan ucapan Rian.


"Apakah aku sehina itu di matamu? Sampai-sampai kamu tidak ingin berhubungan lagi denganku?" tanya Maudi sedih.


"Aku juga merasakan hal yang sama saat itu. Saat kamu memutuskan untuk pergi dan memilih Rey. Bahkan kamu yang mengatakan kalau kita juga sudah tidak berteman. Seiring berjalannya waktu, aku berhasil mengobati lukaku sendiri. Kita bisa berteman kembali meskipun aku selalu cemburu saat kamu dengan Rey. Aku masih berharap jika suatu saat nanti aku yang akan jadi pemenangnya. Tapi saat ini, semua harapanku sudah hilang," ucap Rian panjang lebar.


Rian menggunakan waktu ini untuk mengungkapkan semua rasa kecewanya. Dadanya semakin sesak. Ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya untuk melepas rasa sakit hatinya.


"Rian, tidak bisakah kita memperbaiki semuanya? Mengulang semua kenangan indah itu?" tanya Maudi.


"Cukup Maudi. Cukup! Sekarang, pintu harapanku sudah tertutup rapat untukmu. Bahkan untuk bermimpi saja aku sudah tidak mau. Lupakan aku," ucap Rian.


Maudi mulai menangis. Bagaimanapun, ia adalah seorang wanita. Ia baru saja mengalami hal buruk dalam hidupnya. Maudi juga menyadari setiap kesalahannya. Namun nasi sudah menjadi bubur. Ia sudah jatuh terlalu dalam.


"Aku mohon jangan beri tahu Rey," ucap Maudi.


"Apa? Kamu mau menyembunyikan semua ini dari Rey? Jahat sekali kamu Maudi," ucap Rian semakin kecewa.


"Aku tidak siap sendirian. Aku takut Rey juga akan bersikap seperti kamu," ucap Maudi disela isak tangisnya.


"Rey berhak tahu," ucap Rian tegas.


"Aku mohon Rian, aku mohon." Maudi menggenggam tangan Rian memohon agar Rian bisa sedikit saja mengasihaninya.


Sayangnya, Rian malah melepaskan genggaman tangannya. Rasa yang tersimpan itu perlahan terkikis seiring dengan apa yang terjadi pada Maudi saat ini. Rasa sakit dan kecewanya saat ini, melebihi rasa sayang yang ia simpan untuk Maudi.


"Maaf, Maudi." Rian tetap pada pendiriannya.


"Ya sudah iya. Aku yang akan memberi tahu Rey. Kamu tenang saja. Aku hanya minta jangan katakan apapun pada Rey. Aku janji aku akan memberi tahu Rey. Tapi aku butuh waktu," ucap Maudi.


Rian tidak menjawab. Rasanya ia sudah tidak peduli lagi dengan ocehan Maudi. Keheningan mulai kembali menyapa mereka berdua sampai akhirnya mobil berada di depan rumah Maudi.


"Turun!" ucap Rian tegas.


"Rian kamu jahat sekali," ucap Maudi tidak percaya.


"Kamu pikir kamu baik, padaku?" tanya Rian dengan senyum sinisnya.


Maudi menelan salivanya susah payah. Ia menahan rasa sakit yang luar biasa dan turun dari mobil Rian. Membiarkan mobil itu berlalu, hanya sedetik setelah ia menutup pintu mobilnya.


"Aku benar-benar kecewa padamu Maudi," teriak Rian.


Ia memukul-mukul setir. Mengungkapkan kekecewaannya yang membuat hatinya hancur berkeping. Matanya memerah. Menahan amarah dan air mata.


Tenang Rian, tenang. Jangan sampai Papa tahu hal ini. Aku yakin kamu pasti bisa menyembunyikan semua ini.


Saat Rian sudah sampai ke rumahnya, ia berusaha untuk tidak memperlihatkan perasaannya saat ini. Ia segera masuk ke kamar dan mandi. Ia butuh ketenangan.


Di bawah guyuran air, Rian nampak mengepalkan tangannya sekencang-kencangnya. Rasa itu belum hilang. Masih terdengar jelas di telinganya saat Maudi mengaku dirinya keguguran.

__ADS_1


Lama. Mungkin ini adalah mandi terlamanya selama ini. Ia membiarkan dirinya untuk lebih tenang. Setelah merasa cukup tenang, Rian segera membersihan tubuhnya dan menemui Tuan Felix.


"Pah," sapa Rian saat melihat Tuan Felix sedang menonton televisi.


"Sudah pulang?" tanya Tuan Felix basa basi.


"Iya. Papa mau aku buatkan teh?" tanya Rian mengalihkan pembicaraan.


"Boleh," jawab Tuan Felix.


Rian segera membuat teh hangat untuk Tuan Felix. Mereka menimmati teh hangat bersama dan mengobrol. Tidak sedikitpun menyinggung tentang Maudi. Tuan Felix bersikap seolah-olah tidak tahu dan tidak mau tahu apa-apa tentang Maudi.


Banyak hal yang mereka bicarakan, namun sampai akhir obrolan Tuan Felix tidak sedikitpun bertanya tentang Maudi. Sampai ia pamit untuk ke kamar, Maudi tidak dibahas sama sekali.


Baguslah Papa tidak membahas Maudi. Aku bisa lebih tenang. Setidaknya aku tidak berbohong pada Papa hanya untuk menutupi apa yang terjadi pada Maudi.


Rian menghabiskan malam ini dengan kegelisahan. Ia tidak bisa menceritakan bebannya pada siapapun. Jika biasanya Mia adalah orang yang selalu tahu tentang semua bebannya, untuk beban yang ini Rian memilih untuk bungkam. Sekalipun pada Mia.


Pagi ini saat Rian mempunyai jadwal pagi, Rian merasa sangat malas. Ia tidak ingin pergi ke kampus. Ia tidak mau bertemu dengan Maudi dan Rey. Namun ia tetap memaksakan dirinya untuk pergi ke kampus.


"Ri," sapa Rey.


Senyum kaku mulai tergambar dari wajah yang tengah menyembunyikan kegelisahannya.


"Rey," sapa Rian.


"Tugasmu selesai?" tanya Rey sambil merangkul bahu Rian.


"Ya, tentu." Rian berusaha tetap santai.


Miris sekali melihat kebahagiaan Rey yang tidak tahu apa-apa soal Maudi. Seandainya bisa memilih, Rian juga ingin seperti Rey. Tetap bahagia tanpa tahu apa yang terjadi dengan Maudi.


Apa Rey belum tahu tentang Maudi? Kapan Maudi akan memberi tahu Rey soal semua itu?


Materi kuliah jam terakhir sudah usai. Rey buru-buru pulang.


"Kamu mau kemana Rey?" tanya Rian.


"Mau jenguk Maudi. Kamu mau ikut?" tanya Rey.


"Jenguk?" tanya Rian.


"Maudi lambungnya kambuh," jawab Rey.


Lambung? Maudi berbohong? Rian menjadi gelisah. Ia yang awalnya cemburu pada Rey, kini merasa kasihan. Ia melihat jelas bagaimana kekhawatiran Rey pada Maudi.


"Oh ya salamkan saja. Aku tidak ikut, ada urusan." Rian berusaha mencari alasan untuk tidak bertemu dengan Maudi.


"Ya sudah nanti aku sampaikan. Aku berangkat dulu ya!" ucap Rey.


Rian mengangguk dan menatap iba saat senyum lebar Rey menghiasi wajahnya. Ingin sekali ia memberi tahu Rey tentang Maudi. Tapi ia tidak ingin Rey salah paham. Ia hanya bisa berdoa agar Rey segera tahu semua ini.


"Mas Rian," panggil Riri.


"Pus," sapa Rian dengan malas.

__ADS_1


"Mas sakit?" tanya Riri.


"Tidak," jawab Rian.


"Tapi Mas beda. Apa mungkin Mas sedang ada masalah?" tanya Riri.


"Masalah? Tidak, tidak. Aku tidak punya masalah apapun," jawab Rian berbohong.


"Ya syukurlah kalau Mas tidak ada masalah apapun. Oh ya hari ini Mas ada acara tidak?" tanya Riri.


"Memangnya kenapa?" tanya Rian bingung.


"Mr. Aric sedang ke luar negeri. Aku punya banyak waktu. Kita main yuk!" ajak Riri.


"Main kemana?" tanya Rian.


"Kemana saja. Aku mau memanfaatkan waktu luangku selama tidak ada Mr. Aric," jawab Riri.


"Memngnya Mr. Aric sudah mulai bekerja?" tanya Rian.


"Bukan. Mr. Aric berobat di luar negeri. Katanya sudah banyak yang tahu tentang kabar sakitnya Mr. Aric. Makanya Mr. Aric pindah ke luar negeri," jawab Riri.


"Ya sudah. Nanti malam aku jemput kamu ya!" ucap Rian.


"Mas tidak bohong kan?" tanya Riri.


"Memangnya aku ada tampang tukang bohong ya?" ucap Rian.


"Ada sih Mas sekitar sepuluh persen," jawab Riri.


Rian menatap Riri.


Apakah Riri tahu jika aku sedang berbohong tentang perasaanku? Apa sebaiknya aku cerita semua ini pada Riri?


Rian bingung saat tidak bisa membagi perasaannya pada siapapun. Mungkin ajakan Riri untuk main ke luar bisa sedikit mengobati pikirannya yang sedang mumet.


"Nanti aku jemput jam tujuh ya!" ucap Rian.


"Iya Mas. Oh ya, aku boleh main ke rumah Mas tidak?" tanya Riri.


"Boleh," jawab Rian.


"Papa ada di rumah?" tanya Riri.


Rian melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.


"Sepertinya sebentar lagi Papa pulang," jawab Rian.


"Aku ke rumah Mas sekarang boleh ya! Sekalian minta izin buat main nanti malam," ucap Riri.


"Dih, kebalik." Rian menjitak kepala Riri hingga mengaduh.


"Apanya yang kebalik?" tanya Riri sambil mengusap kepalanya.


"Yang seharusnya minta izin itu laki-laki ke orang tua perempuan. Kamu tidak pernah kencan ya?" ejek Rian.

__ADS_1


"Ih, kita kan bukan mau kencan. Jadi aku yang minta izin tidak apa-apa. Aku kan yang mengajak Mas pergi," ucap Riri.


"Eh iya ya," ucap Rian malu sendiri.


__ADS_2