
Mansion Charles
Charles yang sedang ingin melepaskan hasratnya, dengan berhati-hati ia melakukannya, ia mencium setiap inci tubuh pujaannya agar bisa membuat kekasihnya terbiasa dan tanpa merasa takut
Sementara Flower hanya bisa pasrah walau dirinya masih merasa cemas, karena rasa sakit yang di malam itu masih terlintas di ingatannya dengan begitu jelas
"Apakah masih akan merasa sakit seperti di malam itu? aku tidak boleh takut. jika aku takut dan menolak, maka aku akan mengecewakan Charles, aku harus bertahan" batin Flower
"Flower, aku akan memulainya" ucap Charles dengan mencium bibir pujaannya sambil memainkan bagian inti pujaannya itu
Flower yang merasakan sentuhan di bagian bawahnya ia mengenggam erat sprei dengan ke dua tangannya itu, dan tidak lama kemudian Charles mulai memasukan miliknya dengan perlahan dan lembut, di saat miliknya baru mengusai bagian inti milik pujaannya itu, rasa sakit masih di rasakan oleh Flower
"Aarrghhh" jerit Flower yang memejamkan matanya
"Flower, apa begitu sakit?" tanya Charles yang merasa tidak tega
"Iya" jawab Flower dengan menahan sakit
"Aku akan melakukannya dengan lembut, jika tidak bisa menahannya, beritahu aku ya"
"Iya"
Charles mencium bibirnya Flower dan belum melakukan pergerakan di bawah sana, karena ia tidak ingin terburu-buru, sehingga membuat pujaannya merasa menderita
"Flower pernah di jahit di saat itu, jadi ini sama seperti pertama kali baginya, aku harus bersabar dan tidak boleh kasar" batin Charles
"Aneh! kenapa seperti pertama kali ya? padahal kami sudah pernah melakukannya, sakit sekali." batin Flower
Setelah mencium Flower selama beberapa menit, Charles mulai melakukan pergerakan dengan perlahan, mendorong masuk miliknya sehingga sedalam-dalamnya dan membuat Flower harus menahan rasa sakit yang luar biasa itu, dan kemudian Charles berhenti sejenak karena tidak tega melihat pujaannya yang sedang kesakitan
"Flower, apa kamu bisa bertahan?" tanya Charles yang menatap dekat pada Flower yang berada di bawahnya
"Iya" jawab Flower dengan menarik nafas panjang
"Aku mencintaimu, Flower" ucap Charles dengan melanjutkan ciumannya dan mulai melakukan pergerakannya dengan perlahan, padahal dirinya ingin segera menuntaskan hasratnya yang sudah mengebu-ngebu, akan tetapi karena tidak mau menyakitkan bagian inti pujaannya itu, ia hanya bisa bersabar untuk melakukannya
"Sakit" keluh Flower yang mengeluarkan air matanya
"Aku akan berhenti" kata Charles yang merasa tidak tega dan menghentikan pergerakannya. walau dirinya sedang sangat menderita karena tidak bisa mencapai puncak kenikmatannya
Saat Charles ingin mengeluarkan miliknya, Flower langsung memeluk Charles, karena ia tahu hasrat pria itu yang sedang menuncak
"Lakukan saja, aku tidak apa-apa" kata Flower dengan memeluk tubuh Charles dengan erat
__ADS_1
"Apa kau yakin ingin aku meneruskannya?" tanya Charles dengan mengusap air mata Flower
"Iya, lakukan saja, Charles. kau adalah calon suamiku, buat aku menjadi dewasa" jawab Flower dengan mencium bibir Charles
Charles membalas ciuman pujaannya dengan sangat dalam dan melanjutkan pergerakannya di bawahnya.
Selama melakukan hubungan itu Flower harus menahan rasa sakit, ia tidak ingin mengecewakan Charles, dan memilih membiarkan pria yang dia cintai menuntaskan hasrat pada dirinya, walau mimpi buruk di malam itu masih melanda dirinya.
Setelah beberapa menit kemudian
Charles melakukan pergerakan tanpa berhenti dan sambil mencium leh*r pujaanya itu
"Flower, panggil namaku" ucap Charles yang melakukan pergerakannya dengan semakin cepat
"Charles" sebut Flower yang menahan sakit dan perih karena gerakan yang semakin cepat di lakukan oleh Charles
Keringat bercucuran membasahi tubuh Charles yang sedang menguasai sepenuhnya milik pujaannya itu, semakin lama semakin cepat gerakannya, dan tidak lama kemudian ia mencapai puncak kenikmatan dan pada akhirnya hasratnya berhasil di tuntaskan di malam itu.
"Flower, terima kasih" ucap Charles yang mengecup dahinya Flower
Flower merasa lemas karena sakit yang dia rasakan selama Charles menguasai bagian intinya, tidak ada kenikmatan yang dia rasakan, akan tetapi ia merasa gembira karena bisa memuaskan pria yang dia cintai itu.
"Apa rasanya sakit sekali?" tanya Charles yang merasa tidak tega ingin melakukan untuk ke dua kali, padahal dirinya masih sangat menginginkannya
"Aku mencintaimu, Flower. untuk selamanya" ucap Charles dan mencium bibir pujaannya
Charles lalu bangkit dan mengendong Flower menuju ke kamar mandi, saat di kamar mandi Charles merendamkan Flower ke dalam Bathub, ia memandikan pujaannya di malam itu. setelah selesai mandi Charles kembali mengendong Flower ke kamar dan menidurkannya ke atas kasur, karena ia tahu luka yang di alami oleh pujaannya itu sangat menyakitkan
Setelah berpakaian mereka pun tidur dengan saling berpelukan
"Aku tidak sabar untuk menikahimu, aku ingin segera mendirikan rumah tangga denganmu, kata Charles yang mengecup dahinya Flower
"Selama kita bersama, kapanpun kita menikah tidak ada masalah" ujar Flower yang di dalam pelukan Charles
"Aku tidak akan mengecewakanmu" ucap Charles
Di malam itu Cole sedang berdiri di halaman depan rumah sambil memandang ke arah bulan purnama yang menerangi seluruh halaman di sana, tidak lama kemudian Liza berjalan menghampiri pria yang di kenal sangat cuek itu.
"Sudah malam kenapa masih di sini?" tanya Liza yang menghampiri Cole
"Seharusnya aku yang bertanya padamu" balas Cole yang sambil memandang bulan yang indah di malam itu
"Memang kenapa denganku?" tanya Liza
__ADS_1
"Tempatmu di markas, bukan di sini" jawab Cole dengan cuek
"Antar aku pulang ke markas, aku tidak ada kendaraan di sini"
"Jalan kaki saja" ujar Cole dengan sambil fokus ke arah bulan
"Kau gila ya? malam-malam begini kau ingin aku berjalan kaki, jarak dari sini ke markas cukup jauh" ketus Liza dengan merasa kesal
"Itu urusanmu" balas Cole yang lagi-lagi fokus ke bulan purnama
"Kau..? apa kau tidak punya hati ya? bagaimanapun aku adalah seorang gadis, bahaya jika aku pulang sendiri" bentak Liza dengan berdiri di hadapan Cole
"Aku mengira kau adalah pria, karena sikapmu mirip dengan pria" ucap Cole yang tanpa menatap Liza
"Kau sangat keterlaluan, memang kau bisa mengalami kerugian jika mengantarku pulang?"
"Iya, aku rugi banyak" jawab Cole dengan cuek
"Apanya yang membuat mu rugi?" tanya Liza dengan merasa kesal
"Jika aku mengantarmu pulang, maka telah membuang waktuku, jadi baiknya kau pulang sendiri saja" jawab Cole yang lagi-lagi memandang bulan
"Sudah malam begini mana mungkin aku jalan kaki" bentak Liza
"Panggil taksi"
"Di sini tidak ada, aku sudah melihat tadi"
"Jalan saja sampai ke simpang jalan sana"
"Di luar sangat gelap, untuk menuju ke jalan simpang sana cukup jauh, apa kau tidak bisa mengantarku ke sana?"tanya Liza dengan menahan emosi
"Tidak bisa" jawab Cole dengan cuek
"Kenapa?"
"Pekerjaan yang melelahkan" jawab Cole yang sambil melihat bulan
"Apakah di saat kau bicara denganku kau tidak bisa melihatku ya?" tanya Liza yang ingin meledak emosinya
"Bulan adalah pemandangan yang sangat indah, siapapun ingin melihatnya, jika aku melihatmu hanya membuat mataku sakit" jawab Cole yang tanpa menatap Liza yang berdiri di hadapannya, Cole memang di kenal sangat sulit di dekati oleh wanita manapun, walau Liza dan wanita lainnya adalah satu kumpulan dengannya, akan tetapi sikap Cole yang dingin tidak akrab dengan mereka
"Cole breng.seeeeek" teriak Liza dengan kesal sambil menghentakan kakinya
__ADS_1