
"Pa, jangan pikir sembarangan dulu, kota ini sangat luas tentu saja kita membutuhkan waktu agar bisa mencari mereka sampai dapat" bujuk Steve yang berusaha menenangkan ayahnya
Tidak lama kemudian Julia kembali ke rumah dan berjalan menuju ke ruangan keluarga
"Mama, baru pulang" sapa Steve yang bangkit dari tempat duduknya
"Iya, mama ke pusat perbelanjaan, membeli semua kebutuhan rumah" jawab Yulia yang menghempaskan diri ke sofa
"Mama, kenapa tidak menyuruh pembantu kita saja, jadi mama tidak perlu kelelahan"
"Mama masih muda dan masih sanggup melakukanya, jadi kamu tidak usah khawatir" ujar Julia dengan senyum
"Apa kamu mau makan siang di sini?" tanya Julia yang menatap ke arah Steve
"Siang ini aku harus pergi belanja untuk kebutuhan pub, jadi tidak sempat makan di sini" jawab Steve yang duduk kembali ke sofanya
"Kau ini..selalu saja begini, lebih sibuk dengan kerja mu dari pada makan bersama kami" kata Julia dengan teguran
"Ma, lain kali aku akan menemani kalian makan bersama, aku berjanji" kata Steve dengan senyum
"Apa kau begitu sibuk, hingga tidak ada waktu?"
"Ma, semua urusan pub harus aku yang mengurusnya, lagi pula mama juga tahu sifatku, aku tidak bisa percaya pada siapapun oleh sebab itu aku ingin mengurus semuanya dengan sendiri"
"Steve, dirimu juga tidak muda lagi, lebih baik kamu mencari pasangan yang bisa menjalani hidup bersamamu, usia mu sudah tidak muda" kata Vic dengan berharap
"Pa, jangan khawatir tentang hal ini, aku tidak akan menikah jika aku belum bertemu dengan gadis pilihanku" jawab Steve dengan senyum
"Steve, bukankah dokter Winz adalah kenalan mu, kalian bisa mencoba untuk menjalin hubungan" ucap Vic
"Wanita sialan itu tidak berhak masuk ke keluarga kita"ketus Julia dengan kesal
"Kenapa kau tidak menyukainya?" tanya Vic yang menatap ke arah Julia
__ADS_1
"Di saat itu dia begitu berani mengancamku dan ingin menuntutku, tidak mungkin aku masih mengizinkan dia masuk ke rumahku" jawab Julia dengan nada kesal
"Itu hanyalah salah paham, lagi pula itu sudah berlalu untuk apa di pikirkan lagi, bagaimanapun Steve dan Winz adalah teman lama" kata Vic
"Aku tidak peduli, lain kali kau tidak perlu lagi berteman dengannya" ujar Julia dengan ketus dan menatap ke arah Steve
"Ma, sudahlah. masalah yang sudah berlalu tidak perlu lagi di ungkit, lagi pula Winz hanya ingin melindungi Flower yang adalah pasiennya di saat itu, Winz memang sangat tegas di saat jam kerja"
"Steve, kau tidak perlu membela wanita itu, dia bukan orang penting jadi tidak usah peduli dengannya lagi" ujar Julia
"Julia, jangan berdendam dengan masalah itu, Steve sudah mengatakan jika di saat itu Winz sebagai dokter hanya ingin melindungi pasiennya, lagi pula dia tidak mungkin juga ingin menuntutmu, karena dirimu adalah ibu dari Steve" jelas Vic
"Aku tahu kau selalu saja membela orang luar, dan selalu saja menyalahkanku" ketus Julia dengan merasa kesal
"Pa, Ma, sudah jangan membahas ini lagi" ucap Steve yang ingin meredakan emosi ibunya
"Steve, jangan mendengarkan kata papamu, Winz bukan wanita baik-baik, jadi kau tidak perlu lagi berteman dengan dia" ujar Julia
"Steve, apa yang kau katakan? kau mengatakan tidak penting? aku adalah mama mu, mama mu di ancam kau menganggap tidak penting?" bentak Julia dengan nada tinggi
"Kenapa harus di perbesarkan sesuatu yang sudah berlalu? kita ini adalah orang dewasa bukan anak kecil lagi" ujar Steve yang merasa risih atas sikap ibunya itu
"Apa maksud mu adalah aku bersifat seperti anak kecil?" ketus Julia yang bangkit dari tempat duduknya
"Sudah! kalian jangan bertengkar lagi" ucap Vic yang berusaha mendinginkan suasana
"Vic, apakah kau sedang membelanya? demi wanita murahan itu dia memarahiku, apa kau begitu juga?" bentak Julia yang sedang emosi
"Ma, apa belum puas kau ajak bertengkar selama ini? hanya masalah kecil saja harus di perbesarkan, sehingga terjadinya pertengkaran dalam keluarga, aku sudah dewasa dan usia ku sudah 30 tahun ke atas, dari kecil aku melihat mama sering berteriak walau hanya masalah kecil, untuk apa semua ini? kita adalah sekeluarga apa tidak bisa hidup dengan damai" bentak Steve yang sudah kehilangan kesabarannya
"Kau berani sekali meninggikan suaramu, aku adalah wanita yang melahirkanmu" bentak Julia dengan nada tinggi
"Sebuah keluarga tenteram atau tidak adalah tergantung dirimu, jika mama selalu saja suka berdebat maka keluarga ini hanya akan hancur" ketus Steve dengan merasa kesal
__ADS_1
"Steve, aku tidak menyangka jika kau sudah bisa melawan ku, demi wanita yang belum menjadi kekasih mu kau sudah membelanya mati-matian" teriak Julia dengan nada memenuhi satu ruangan
"Dia bukan wanita murahan, dia adalah seorang sarjana kedokteran, Mama terlalu sering prasangka buruk pada orang lain, dan selalu saja berdendam dengan setiap orang walau hanya masalah kecil"
"Keluaaar" teriak Julia dengan kesal
"Cukup!" bentak Vic yang sedang emosi
"Julia, Steve adalah putra kita, kenapa dengan putra mu sendiri kau juga buat perhitungan, dia sudah dewasa, dengan siapa dia ingin bergaul itu bukan urusan kita, selagi pergaulannya tidak buruk, kau adalah ibunya seharusnya kau mendukungnya dan bukan sembarangan menuduh Winz " ketus Vic dengan marah besar
"Kau berani sekali membentakku, apa kau sudah lupa anak ini aku yang melahirkannya, kenapa aku tidak berhak mengatur hidupnya?" ketus Julia
"Julia, aku tidak mau bertengkar lagi denganmu, karena aku masih sayang dengan nyawaku" ujar Vic dengan menahan emosi dan ingin melangkah pergi akan tetapi langkahnya di hentikan oleh Julia
"Apa maksud dengan perkataanmu ini? kau mengabaikan ku?" tanya Julia dengan ketus sambil menahan lengan suaminya
"Julia, aku tidak bermaksud untuk mengabaikan mu, aku hanya tidak mau berdebat lagi dengan hal yang tidak penting, kau tahu jika kondisi ku sangat lemah selama ini, jadi aku berharap kau bisa mengerti" ujar Vic dengan menahan emosi
"Vic, apa kau sengaja dan biarkan aku kelihatan seperti orang gila? aku berhak mau marah apa saja selagi aku suka" teriak Julia dengan kesal
"Ma, sudah cukup. jangan ribut lagi, biarkan papa istirahat"
"Kalian sama-sama keterlaluan, anak durhaka dan suami tidak berguna, kau selalu berpenyakitan dan menyusahkan" ketus Julia yang menatap ke arah Steve dan suaminya
"Ma, jangan keterlaluan" bentak Steve dengan nada kesal dan mengagetkan Julia
"Menyusahkan? apa selama ini kau yang menjagaku? selama ini kau hanya hidup dengan berfoya-foya, di saat aku sakit Steve yang menjagaku, dan sementara dirimu hanya tahu keluar dengan temanmu yang tidak berguna itu" teriak Vic yang dengan emosi tinggi sehingga wajahnya memerah dan sesaat kemudian ia pingsan dan terhempas ke sofa
"Paaaa" teriak Steve yang merasa cemas dan menghampiri ayahnya itu
"Papa, Papa" teriak Steve yang menepuk wajah Vic dengan pelan
"Apakah ini yang kau mau? melihat papa pingsan karena mu? jika papa ada apa-apa aku tidak akan memaafkan mu selamanya" kecam Steve yang merasa kesal dengan sifat ibunya
__ADS_1