
"Kita akan mengetahuinya setelah siang nanti," jawab Cole.
"Jika mereka adalah musuh, apakah Marcus juga termasuk musuh kita?"
"Tidak tahu pasti! bisa saja dia di ancam, dan jika memang iya maka kita harus serahkan dia kepada tuan Bared," jelas Cole.
Setelah tiga jam kemudian.
Marcus bersama dua puluh anggota baru menuju ke sebuah restoran yang telah di tunggu oleh bosnya di sana, dengan mengunakan mobil pick up.
"Apa kau yakin mereka tidak bercanda?" tanya salah satu anggota baru yang duduk di samping Marcus.
"Cole orangnya tidak suka bercanda, dia hanya sampaikan perintah bos," jawab Marcus yang sedang mengendarai mobil.
"Aku tidak sabar ingin membunuh Charles Robertson!" ucap anggotanya itu.
"Kenapa kalian ingin melakukan seperti ini? siapa yang kalian incar sebenarnya, Bared atau Charles?" tanya Marcus.
"Ini bukan urusanmu,. jika kau masih sayang nyawa sendiri, maka diam saja!" ketusnya.
Setelah dua puluh menit mereka masih di perjalanan. dan di saat mereka ingin melewati satu jalan yang kiri kanannya di pagari tembok pembatas, tiba-tiba saja Cole muncul di depan jalan itu sambil menodong pistol ke arah mobil pick up.
"Bukankah dia adalah Cole, kenapa bisa ada di sana?" tanya anggotanya.
Marcus yang melihat Cole yang sedang menodong pistolnya langsung menginjak rem dan berhenti di sana.
Tanpa menunggu Cole langsung melepaskan tembakannya.
DOR...DOR....DOR...DOR...DOR...DOR..DOR..
Tembakan yang di lakukan oleh Cole mengenai ban, kaca mobil hingga pecah dan menembus kepala anggota yang duduk di samping Marcus, sementara Marcus ketakutan sehingga berteriak.
"Aaarrghhh!" teriakan Marcus yang ketakutan.
Di saat Cole sedang melepaskan tembakan, semua anggota yang duduk di belakang turun dari mobil dan mengeluarkan senjata mereka masing-masing.
Liza yang muncul dari belakang tanpa mereka sadari langsung melepaskan tembakanya ke arah dua puluh anggota yang menyamar itu.
DOR....DOR...DOR...DOR....DOR...DOR...DOR..
Tembakan dari Liza yang menembus beberapa lawannya.
"Aaarrrghh!" teriakan mereka yang terkena tembakan.
Salah satu dari mereka yang ingin menembak ke arah Liza, dan di saat yang sama Cole menyadari gerakan lawannya itu langsung menembak ke arahnya.
DOR..
Tembakan tepat menembus kepala lawannya sehingga tergeletak tidak bernyawa.
"Apa hanya ini kehebatan kalian!" teriakan Liza yang sambil melepaskan tembakan.
DOR....DOR...DOR....DOR...DOR..DOR.
__ADS_1
Tembakan dari Liza berhasil menembus jantung beberapa lawannya.
"Aaarrgghhh!" teriakan mereka dengan serentak dan sesaat kemudian mereka tewas di tempat.
"Siapa yang mengirim kalian ke sini?" tanya Cole yang sambil membunuh mereka yang masih hidup.
DOR...DOR....DOR...DOR...DOR
"Aaarrgghh!" pekik mereka sesaat dan kemudian tergeletak tidak bernyawa.
Dan hanya tersisa satu yang tidak di bunuh Cole karena ingin mengorek informasinya.
"Keluar dari mobil!" teriak Liza yang sedang mengancam Marcus.
Marcus yang dalam ketakutan hanya bisa menurut dengan perintah Liza.
Cole menghampiri anggota yang menyamar itu dengan sambil menodongkan senjata ke arah mereka. di antara dua puluh orang yang menyamar sebagai anggota di pelabuhan, kini hanya sisa satu masih hidup dalam kondisi terluka di paha kirinya dan terkapar di jalan aspal itu.
"Katakan siapa yang mengirim kalian?" tanya Cole dengan nada tegas.
"Tidak ku sangka apa yang di katakan orang adalah benar, Black Dragon tidak mudah, aku sudah menganggap remeh kalian!"
"Siapa yang mengirim kalian ke sini?" tanya Cole lagi.
"Tentu saja orang yang ingin menghancurkan tuan Bared!"
"Marcus, apakah kau juga berkomplotan mereka?" tanya Liza yang sedang mengancam Marcus.
"Tidak! aku di ancam, aku tidak sengaja, aku tidak berniat ingin mengkhianati tuan Bared!" jelas Marcus yang merasa cemas.
"Tidak tahu!" jawab lawannya yang sengaja menyembunyikan kebenarannya.
Cole yang melihat pria itu tidak ingin menjawab lalu dia pun melepaskan tembakannya.
DOR..
"Aaarrrgghh!" pekikan pria itu yang paha kanannya di tembus peluru.
" Tidak apa- apa jika kau tidak ingin mengatakannya!" ketus Cole yang sambil melepaskan tembakan lagi.
DOR..
"Aaarrgghh!' jerit pria itu yang kesakitan karena peluru itu menembus pundak kirinya.
"Apa kau masih memilih diam?" tanya Cole.
" Bunuh saja aku!" pintanya yang sedang kesakitan.
"Tidak semudah itu! aku tidak akan membiarkan mu mati dengan begitu mudah!" jawab Cole dengan melepaskan tembakannya lagi.
DOR...
"Aaaarrgghhh!" jeritannya yang merasa kesakitan karena peluru yang menembus pundak kanannya.
__ADS_1
"Kau tidak akan mati, tapi kau akan setengah mati!" ucap Liza.
"Kakak Cole, tolong lepaskan aku, aku di ancam oleh mereka, jika saja aku menolak maka keluargaku akan dalam bahaya, jadi aku terpaksa!" pinta Marcus dengan merangkak menghampiri Cole sambil memohon.
"Itu akan menjadi urusanmu dan tuan Bared, ini bukan aku yang akan mengambil keputusan!" ketus Cole.
"Aku tidak bersalah sama sekali, aku hanya di ancam, aku juga merasa bersalah terhadap tuan Bared!" kata Marcus dengan merasa menyesal.
"Kami tidak akan membunuhmu, hanya saja kau harus berhadapan dengan tuan Bared, karena bagaimanapun kau harus pertanggungjawabkan atas kejadian semua ini!" kata Liza dengan tegas.
"Dan kau bocah ingusan, apa kau yakin tidak ingin mengatakannya?" tanya Cole yang menatap ke arah pria itu yang sudah terluka beberapa tembakan.
"Bunuh saja aku!" ketusnya yang tidak takut.
"Kau sangat setia, tapi tidak berguna, karena jika kau mati aku akan mendatangi keluargamu!" kecam Cole dengan sengaja.
"Jangan menyentuh mereka!"
"Kau akan mati jika kau menyembunyikan kebenarannya, aku tidak suka membuang waktu, aku akan langsung membunuhmu dan mencari keluargamu, dan mereka akan menyusul langkahmu setelah aku mengetahui siapa yang mengirimmu ke sini!" kata Cole dengan mengancam.
"Tidak! jangan temui mereka, mereka tidak tahu apa-apa!" teriak pria itu dengan khawatir.
"Kau mengetahui semuanya, akan tetapi kau malah memilih diam dan jangan salahkan aku jika harus melibatkan keluargamu!" kecam Cole dengan senyum.
"Orang yang mengirim kami adalah saingan dengan tuan Bared, dan ingin kami menghancurkan semua barang-barangnya malam ini, tapi tidak menyangka kalian sudah tahu kehadiran kami di sini!" jelasnya dengan terpaksa.
"Siapa namanya?" tanya Liza.
"Andrew! dia selama ini adalah pesaing Bared, bos kami sangat membencinya, dan setelah dia tahu jika Bared adalah pemilik pelabuhan X ini. lalu dia memperintahkan kami untuk bekerja di sini dengan penyamaran, dan ingin kami hancurkan semua barang yang baru masuk."
"Dan kau sudah salah masuk ke tempat kami, kalian hanya cari mati saja!" ketus Liza.
"Andrew dia akan mengutuskan anggota untuk membunuh Bared!"
"Kapan?" tanya Cole.
"Belum tahu, yang ku tahu adalah dia sudah berencanakannya, hanya saja aku tidak tahu kapan."
"Suara apa itu?" tanya Liza yang melihat kesekitaran sana karena mendengar sesuatu.
"Kita akan di datangi oleh sejumlah tamu!" ujar Cole yang menekan tombol di jam tangannya, tentu saja jam tangan yang dia pakai bukan jam yang biasa, melainkan untuk menghubungi bosnya di saat terjadi sesuatu.
"Siap-siap untuk menghadapi mereka!"kata Cole yang mengisi peluru ke pistolnya begitu juga dengan Liza.
"Perkiraan mu berapa jumlahnya?" tanya Liza.
"Lima puluh ke atas!" jawab Cole,
"Aku menebak lima puluh, jika aku menang maka kau tidak bisa menghalangku untuk menanam bunga di depan markas."
"Jika kau kalah aku akan membantumu mendaftarkan dirimu!" ketus Cole.
"Mendaftarkan diriku untuk apa?"
__ADS_1
"Untuk menjadi pasien resmi di rumah sakit jiwa!" jawab Cole dengan kesal.
"Kau...." ucap Liza yang terhenti.