Cruel Love Of Gangster

Cruel Love Of Gangster
Perdebatan


__ADS_3

Rumah sakit.


Setelah selesai di obati luka Charles dan Stallone maka mereka pun ingin meninggalkan rumah sakit itu


"Seharusnya kau inap di rumah sakit!" ujar Charles yang sedang berjalan bersama dengan Stallone sambil memegang tangan Flower.


"Untuk apa aku tinggal di sini, aku tidak cedera parah!" jawab Stallone dengan kesal.


"Iya tidak cedera parah!" ujar Charles dengan menahan tawa.


"Apa maksud dengan ekpresi mu itu?" tanya Stallone yang sedang melihat ekspresi wajah Charles.


"Aku hanya merasa lucu dengan bentuk wajahmu sekarang, lihatlah wajahmu yang merah dan bengkak kiri dan kanan itu, serta matanya mu juga bengkak. apa kau yakin wanita yang bersamamu itu masih mengenalmu!" jawab Charles sambil mengejek.


"Aku tetap adalah pria tertampan di kamboja!" ketus Stallone dengan kesal.


"Iya, kalau itu di saat wajahmu tidak terluka. sedangkan sekarang wajah mu lebih jelek dari badut, hahahahah!" balas Charles dengan tertawa dan melangkah pergi.


"Dasar brengs*k!" ketus Stallone.


Markas Black Dragon.


Cole yang kembali ke markas melihat halaman depan di penuhi dengan bunga berwarna-warni, raut wajahnya berubah dalam seketika


"Ehem...Cole, sebenarnya bunga ini lumayan cantik!" ucap Curry yang sedang berusaha ingin membujuk pria dingin itu


"Iya, kami sangat suka dengan hiasan ini!" ujar Yona.


"Siapa yang meletakkan bunga ini di sini?" tanya Cole dengan menahan emosi.


"Li-Liza!" jawab Curry.


"Kalian berdua kemari!" perintah Cole yang menunjuk ke arah dua anggotanya itu.


Dua anggota dengan menurut dan berjalan menghampiri Cole.


"Iya kak!"


"Lempar semua bunga ini ke laut!" perintah Cole dengan tegas.


"Lempar ke laut? Cole, bagaimana kita pindahkan saja ke belakang?" tanya Curry.


"Di sini adalah markas bukan rumah pribadi kita, sangat tidak masuk akal jika markas gangster di hias bunga. kalian sangat menyusahkan saja," bentak Cole.


"Kalian semua cepat lakukan perintahku!" perintah Cole.


"Baik Kak!" jawab mereka dengan serentak.


Anggota hanya bisa menuruti perintah dari Cole untuk mengangkat semua bunga yang menghiasi halaman depan markas. sementara Curry dan Yona tidak berdaya untuk melarangnya.


"Gawat, kalau saja Liza mengetahuinya dia pasti marah besar, dia butuh waktu seminggu untuk membeli semua bunga ini. dan sudah menghabiskan banyak waktu dan uang," ujar Curry dengan nada rendah.


"Benar katamu! aku tidak bisa membayangkan apa reaksi Liza setelah dia pulang nanti!" jawab Yona.


Setelah beberapa menit kemudian semua halaman itu telah tanpa hiasan bunga. dan kembali seperti semula.


Tidak lama kemudian Charles dan lainnya pulang ke markas, saat mereka semua turun dari mobil, Cole dan lainnya menyambut Charles dengan hormat.


"Bos," sambut Cole, Yona dan Curry dengan serentak.


"Bos, kenapa lengan mu terluka?" tanya Curry.


"Saat di stadion kami di serang oleh musuh Stallone, jumlah mereka lumayan banyak!" jawab Liza.


"Pria kamboja itu memiliki musuh di london, apa tidak salah?" tanya Yona.


"Dari kumpulan mana mereka? kenapa begitu berani melibatkan bos juga?"tanya Cole.


"Tidak ada yang tahu siapa mereka, bahkan Stallone sendiri juga tidak tahu siapa musuh mereka!" jawab Harry.


"Ini sangat aneh di serang dan tidak tahu siapa lawannya!" ucap Cole.


"Biarkan saja! ini adalah urusannya. Cole, bagaimana dengan paman Bared?"tanya Charles.


"Tuan Bared baik-baik saja! dia juga tidak mau ke mana-mana dan hanya di rumah!" jawab Cole.


"Apakah istrinya masih di sana?" tanya Charles


"Iya, wanita itu setiap hari berteriak!" jawab Cole.


"Bos, ada yang ingin ku bicarakan padamu!" ucap Cole.


"Baiklah, kita bicarakan di dalam ruangan!" jawab Charles yang melangkah masuk ke dalam markas.


Ruangan pribadi Charles


Cole berada di dalam ruangan itu berduaan dengan Charles.


"Cole, apa kamu ada masalah?" tanya Cole yang sedang duduk bersamanya.


Cole melepaskan kalung yang di pakai selama ini dan berikan kepada bosnya itu.


"Kalung ini milikmu?" tanya Charles yang menerima kalung tersebut


"Benar bos!" jawab Cole.


Charles membuka liontin dan melihat ada jarum jam yang sudah tidak berfungsi.


"Liontin ini seperti yang di katakan oleh paman Bared, putranya memiliki kalung ini. bagaimana benda ini ada di tanganmu?"


"Saat di panti asuhan aku menemukannya di depan kamarku. hingga sekarang aku tidak tahu siapa yang meletakan di depan, ataupun secara tidak sengaja dia menjatuhkan kalungnya. dan aku mengutip dan kemudian memakainya selama ini," jelas Cole.


"Lalu, apa kamu mencurigai jika kalung ini adalah milik putra paman Bared?"


"Benar! dan satu hal lagi. Lonela yang mengatakan jika dia meninggalkan anaknya di luar panti asuhan. di saat itu aku juga di tinggalkan begitu saja. hanya karena di saat itu aku masih kecil, maka aku tidak ingat wajah orang tuaku!"


"Kejadian mu sama seperti Cool. dan jika kamu adalah putra paman Bared, mungkin saja kalung ini adalah Lonela yang meninggalkan di depan kamarmu," ujar Cole.


"Aku ingin mengujinya!"

__ADS_1


"Lakukan saja! jika dia memang adalah orang tuamu, maka kamu sudah bisa bersatu dengan orang tuamu, ini adalah hal yang mengembirakan," kata Charles


"Aku tidak tahu ini hal yang mengembirakan atau tidak! jika Lonela adalah ibuku aku sangat kecewa," jawab Cole.


"Tapi setidaknya kau masih memiliki seorang ayah yang selama ini peduli padamu. maka lakukanlah dengan cepat. agar semua terungkap. dan mengenai Lonela kau jangan bertindak gegabah. bagaimanapun dia adalah wanita yang mengandungmu selama sembilan bulan."


"Aku mengerti, Bos."


Di sisi lain Liza terdiam karena melihat semua hiasan bunganya lenyap dari halaman itu.


"Sebentar lagi akan terjadi peperangan!" kata Harry dengan nada kecil.


"Apa segitu parah hanya karena bunga?" tanya Flower.


"Iya, yang satu suka menghias bunga dan yang satu membenci bunga," jawab Yona


"Kemarin mereka bertarung juga karena bunga," ujar Curry.


"Siapa yang memindahkan bungaku ini?" tanya Liza dengan menahan emosi.


Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Liza yang emosinya sedang memuncak.


"Katakan padaku siapa yang memindahkan bungaku?" tanya Liza dengan nada kesal dan menatap ke arah Yona dan Curry.


"Aku yang pindahkan!" jawab Cole yang melangkah keluar dari markas.


"COLE BRENG.SEK, KENAPA KAU BEGITU MENYEBALKAN?" teriak Liza dengan nada tinggi.


"Wanita yang tidak punya akal sehat!" ketus Cole yang ingin melangkah pergi.


"Siapa yang mengizinkanmu pergi? katakan di mana bunganya?" bentak Liza dengan menahan lengan Cole.


Cole menepis dengan kasar tangan wanita itu dan berkata," bunga itu sudah ku lempar ke laut."


"Cole, kau selalu saja mencari masalah denganku. kau sangat tidak masuk akal sama sekali!" bentak Liza.


"Wanita yang menyebalkan, di sini adalah markas dan bukan tempat tinggal pribadimu. jadi, kau tidak bisa seenaknya menghias bunga di halaman ini!" bentak Cole dengan kesal.


"Kau menyia-nyiakan usahaku dan waktuku. kau sangat keterlaluan!" bentak Liza dengan kesal dan menendang kaki pria dingin itu.


BRUK...


Cole menahan sakit pada kakinya dan kemudian membalas menendang kaki wanita itu.


BRUK...


"Aarghh...." jerit Liza yang kesakitan.


"Kurang ajar!" ketus Liza dengan kesal.


"Mulai lagi," ucap Harry.


Liza yang merasa kesal menyerang Cole tanpa berhenti. serang atas bawah dan kiri kanan dengan emosinya yang sedang memuncak.


Cole mengelak dan sambil melompat untuk mengelak tendangan dari lawannya. ia langsung menahan tangan wanita itu dan kemudian menendang kakinya.


BRUK...


"Hari ini aku akan membunuhmu!" bentak Liza dengan kesal dan sambil menyerang tanpa berhenti. saat ia ingin menyerang wajah pria itu niatnya gagal karena lawannya mengelak ke kanan, dan tangannya langsung di tahan, kemudian Cole menarik tangan Liza dan membanting tubuh wanita itu ke lantai


BRUGH...


Hentakan tubuh Liza yang kuat ke lantai.


"Aaarghh...." jeritan Liza.


"Apa kita biarkan saja mereka bertarung? kak Liza akan terluka karena Cole tidak bersikap lembut dan tidak mau mengalah!" ujar Flower.


"Si kepala batu itu tidak akan bersikap lembut pada wanita. jadi, pertarungan ini hanya akan merugikan Liza!" jelas Harry.


"Apa kita mencoba menghentikan mereka saja?" tanya Yona.


"Tidak bisa! jika Liza nekat ingat ingin mengalahkan Cole!" jawab Curry.


"Apa hanya ini jurusmu? semua jurus yang kau gunakan sama sekali tidak mempan bagiku. memalukan sekali karena Black Dragon memiliki anggota sepertimu," ketus Cole dengan menghina.


"Aku tidak akan kalah darimu!" bentak Liza yang mengeluarkan dua pisau tajamnya.


Liza menyerang dengan mengunakan dua senjata tersebut. ia berusaha menyerang wajah lawannya itu, akan tetapi lawannya tetap bisa mengelak ke kiri dan ke kanan dan memundurkan langkahnya. dan kemudian Cole menendang ke arah pergelangan tangan Liza sehingga senjatanya terjatuh ke lantai.


"Aarghh...." pekik Liza.


"Percuma walau kau memiliki dua senjata! karena kalau kalah dariku kau tetap kalah walau mengunakan senjata," ketus Cole.


"Sia.lan! aku tidak akan kalah. kau harus menganti semua yang sudah kau lakukan!" bentak Liza.


"Menganti semuanya? apakah uang maksudmu? jika hanya uang ini bukan masalah bagiku," bentak Cole yang mengeluarkan dompetnya dan mengambil lembaran uangnya.


"Berapa nominal yang harus ku ganti?" sepuluh dollar atau tiga puluh dollar?" tanya Cole sambil menunjukan uang kertas.


"Kau membuang waktu dan tenagaku, apa dengan uang bisa menyelesaikan semuanya!" teriak Liza dengan kesal.


"Aku bisa menganti dengan uang, berapa kau minta? cepat katakan! jangan membuang waktuku aku masih ada tugas lain," kata Cole dengan tegas.


"Kau tidak manusiawi!" ketus Liza.


"Kau wanita yang menyebalkan," bentak Cole yang memegang telapak tangan Liza dengan erat.


"Aaarghh!" jerit Liza yang merasa sakit.


Cole meletakan lembaran uang di telapak tangan Liza.


"Ambil ini dan jangan mengangguku lagi!" ketus Cole.


"Dan ingat satu hal! aku tidak mau melihat ada bunga jelek yang di halaman ini lagi. jika tidak, maka aku tetap akan membuangnya!" kecam Cole yang kemudian melangkah pergi.


"Berhenti!" teriak Liza.


Cole mengabaikan panggilan Liza yang sedang ikuti langkahnya dari belakang.

__ADS_1


"Jangan pergi! uangmu ini tidak bisa menyelesaikan masalah kita!" bentak Liza yang tidak mau mengalah.


Cole masuk ke dalam mobilnya dan menghidupkan mesin. ia mengabaikan wanita itu. dan tidak lama kemudian Liza yang masih kesal masuk ke dalam mobil Cole dan duduk di sampingnya.


"Keluar!" bentak Cole dengan tegas.


"Tidak mau!" jawab Liza dengan tegas.


"Kau akan menyesalinya!" ketus Cole tanpa menoleh ke arah Liza yang sedang duduk di sampingnya.


"Tidak mungkin!" jawab Liza.


"Apa yang kau inginkan? uang sudah ku ganti!"


"Minta maaf padaku dulu! dan aku akan keluar dari sini!" jawab Liza.


"Jangan berharap! aku tidak akan minta maaf. keluar!"bentak Cole.


"Kalau kau tidak mau berminta maaf padaku, maka jangan berharap masalah ini sudah selesai," tegas Liza dengan kesal.


"Membosankan!" ketus Cole.


"Keluaaar! kalau tidak, aku akan menendang mu keluar dari sini!" teriak Cole.


"Aku tidak akan keluar," kata Liza dengan tegas dan sambil memasang


Safety Belt.


"Baiklah! kau jangan menyesalinya! ketus Cole yang menginjak gas dan memperlajukan mobilnya.


BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...


"Apa mereka akan baik baik saja?" tanya Flower.


"Mereka memiliki dendam yang sangat dalam," ujar Yona.


"Apa yang akan terjadi di perjalanan mereka?" tanya Curry.


"Dengan Sikap si kepala batu itu aku yakin dia akan mengunakan kecepatan yang tinggi untuk menakuti Liza, sehingga Liza mengaku kalah maka dia akan berhenti," jelas Harry.


"Lalu, bagaimana jika Liza tidak mengaku kalah?" tanya Flower, Yona dan Curry dengan serentak.


"Maka, hanya mereka yang tahu!" jawab Harry.


Perjalanan.


BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...


Cole memperlajukan mobilnya sambil melewati beberapa mobil di depannya, tanpa menurunkan kecepatannya Cole melewati mobil-mobil yang di depannya. Liza yang ketakutan memegang handle mobil bagian atas dengan erat.


"Dasar gila! apa kau tidak bisa jangan terlalu laju!" bentak Liza.


"Takut, kau bisa lompat saja!"


"Kau memang gila!"


"Sudah ku katakan kau akan menyesal!" ujar Cole yang sedang melewati beberapa mobil depan.


BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...


"Cepat hentikan!" teriak Liza yang guncang ke kiri dan kanan. karena Cole yang membelok ke sana ke sini.


BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...


"Aku bersumpah akan membunuhmu!" ketus Liza dengan kesal.


BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...


"Kalau kau sanggup maka tadi kau sudah berhasil melakukannya, kau tidak bisa dan tidak berkemampuan untuk membunuhku," bentak Cole.


"Hentikan sekarang juga! dan kita bertarung lagi!" teriak Liza yang pusing kepalanya akibat guncangan.


BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...


Cole melewati semua mobil yang ada di hadapannya, dengan sengaja membelok ke kiri dan ke kanan. sehingga membuat Liza ikut terguncang di sepanjang jalan.


BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...


Perjalanan mereka selama setengah jam lamanya, dan tiba suatu tempat Cole harus memperlahankan mobilnya karena melihat sekumpulan pria yang berpakaian hitam ada di depan sana.


"Siapa mereka?" tanya Liza yang mengeluarkan senjatanya.


"Turun saja dan tanyakan pada mereka!"


"Kenapa bukan kau saja yang turun?"


Sekumpulan pria yang berjas hitam menghadang mobil Cole untuk melewati jalan sana. masing-masing dari mereka memiliki senjata.


"Mereka ingin mengincar Bared!" ujar Cole.


"Lalu, kenapa dia mengincar kita sekarang?"


"Karena aku telah membunuh anak buah mereka!"


"Bunuh atau kabur?"


"Ikut pergi bersama mereka!"


"Apaaaa?" tanya Liza dengan merasa kaget.


"Kalau kau takut jangan ikut."


"Kalau tidak ikut pasti mati, maka aku tidak akan begitu bodoh mati sia-sia di tangan mereka!" ketus Liza yang menyimpan kembali senjatanya.


Cole turun dari mobil dan berjalan menghampiri mereka dengan di ikuti oleh Liza.


"Tuan Cole, bos kami mengundang Anda ke rumahnya!" ucap salah satu pria yang tak lain adalah Ekin.


"Apa ingin membunuhku? jika iya maka silakan saja melakukannya di sini!" jawab Cole.

__ADS_1


"Ada yang mau di bicarakan oleh bos kami, beliau sangat berminat berunding sesuatu dengan Anda!" kata Ekin.


"Kelihatannya aku tidak bisa menghindar!" ujar Cole dengan senyum.


__ADS_2