Cruel Love Of Gangster

Cruel Love Of Gangster
Hukum Yang Sadis


__ADS_3

Sebuah mansion mewah yang di jaga oleh beberapa anggota yang berpakaian jas hitam.


Seorang pria yang kepalanya botak dan berpenampilan rapi sedang bermain golf di dalam ruangannya. pria itu berbadan tinggi dan besar serta memiliki tato harimau di bagian lengan dan lehernya.


"Bos, langkah pertama sudah berhasil," kata seorang anak buahnya dengan sopan.


"Bunuh dia malam ini! jika kau gagal maka kau harus mengantikan nyawanya!" perintahnya dengan tegas


"Baik Bos," jawab anak buahnya itu dengan menurut.


Tidak lama kemudian tiga bawahannya melangkah masuk ke dalam ruangan bos mereka.


"Bos," sapa mereka dengan serentak.


"Kalian sangat mengecewakan," ketusnya sambil memegang tongkat golf.


"Maafkan kami!" ucap mereka dengan menunduk.


"Dua hari kalian mencarinya dan tidak membuahkan hasil," ujarnya dengan nada kesal.


"Kami akan segera menangkapnya," jawab mereka yang sedang gemetaran.


"Berlutut!"perintah bosnya.


Mendengar perintah bosnya mereka bertiga pun berlutut di hadapan bosnya itu.


Pria yang di panggil bos oleh mereka adalah pria yang di kenal sangat sadis dan kejam. selalu membunuh anak buahnya yang gagal dalam bertugas.


"Kalian sudah mencarinya selama dua hari dan tidak ada jawaban sama sekali, apa kalian tahu hukuman apa yang pantas kalian terima?" tanya bos mereka yang sedang berjalan mengelilingi mereka bertiga sambil memegang tongkat golf.


Mereka yang sudah mengerti dengan ucapan dari bosnya merasa cemas dan gemetaran di sekujur tubuh karena mereka sadar situasi mereka sedang di ambang kematian.


"Tongkatku ini sedang mencari mangsa," ucapnya yang langsung memukul kepala salah satu anak buahnya yang sedang berlutut.


Bruk...


"Arrghh..."


Bruk...


"Arrghh..."


Bruk...


"Arrghh..."

__ADS_1


Pukulan demi pukulan di lakukan olehnya sehingga membuat anak buahnya itu tewas dan kepalanya mengeluarkan darah yang banyak sehingga mengotori lantai.


Kematian anak buahnya itu menakutkan dua anak buahnya yang lain, yang masih sedang berlutut seakan sedang menunggu kematian.


"Kalian sudah melihat akibatnya jika gagal dalam bertugas," kata bos mereka yang mengambil pisau yang ada di mejanya sementara tongkatnya di lempar entah kemana.


"Pisau ini sudah lama tidak minum darah," ucapnya yang berdiri di belakang salah satu anak buahnya yang sedang berlutut sambil mendekatkan pisaunya di bagian


leher.


"Bos, ampuni aku! aku akan berusaha untuk menangkapnya," pinta anggotanya yang sedang ketakutan.


"Tidak ada lain kali," ketusnya yang langsung memotong leher anggotanya dengan perlahan sehingga darahnya menciprak kemana-mana.


Srek....srek...


"Aaarrghh..." teriakan anak buahnya yang di tahan dari belakang dan menanggung rasa sakit yang sangat luar biasa.


Tidak lama kemudian anak buahnya tewas dengan mengenaskan. lehernya hampir terpisah dari tubuhnya, darah berserakan di ruangan itu. anak buahnya yang masih hidup berkeringat dingin dan ketakutan sehingga lemas di tubuhnya karena melihat dua temannya tewas di bunuh dengan cara yang kejam.


Bosnya yang sudah membunuh dua anak buahnya itu lalu menghampiri sisa satu yang masih hidup dan sedang menangis dalam ketakutan.


"Sehari kalian ikut denganku, maka nyawa kalian adalah milikku. jika gagal maka kematian ada di depan mata. jika berhasil maka usaha kalian tidak akan sia-sia," ketusnya yang kemudian menikam mata kanan anak buahnya itu.


"Dari awal kalian harus tahu akibatnya gagal, aku tidak suka dengan kegagalan. aku hanya suka hasil yang memuaskan," ketusnya yang menikam mata kiri anak buahnya itu.


"Aaarrrghh...."


"Aaarrrghh...."


Setelah membutakan mata anak buahnya, pria sadis itu membaringkan anak buahnya yang sedang mengerang kesakitan dengan dua matanya yang sudah rusak dan berdarah.


Tidak sampai di situ pria sadis itu membuka kancing kemeja anak buahnya.


"Tolong...jangan membunuhku!" pintanya yang sedang menahan sakit tak terhingga.


"Sehari sudah menjadi anggotaku, maka nyawamu adalah milikku. jika aku menginginkan matamu maka kau harus berikan padaku. dan jika aku menginginkan ususmu maka kau harus berikan padaku juga," ketusnya yang langsung menikam tubuh korbannya sambil mencongkel sehingga usus dan semua organ dalamnya keluar dari tubuhnya.


"Aaarrrghh...."


Teriakan pria itu yang meronta kesakitan dan tidak lama kemudian ia tewas dengan tanpa memejamkan mata.


"Buang mereka ke sungai untuk di jadikan santapan bunya!" perintahnya dengan sambil menjilat pisaunya yang ada bercak darah.


"Baik Bos," jawab anggotanya yang mengangkat jasad mereka bertiga.

__ADS_1


Pria sadis itu yang tak lain adalah Fernando gangster asal kamboja. ia sangat di kenal sadis dan kejam tanpa ampun terhadap setiap anggotanya yang gagal melakukan tugas yang di berikan kepadanya.


"Bos," ucap asistennya dengan menyerahkan handuk untuk bosnya itu


"Dengan siapa saja dia bergaul di kota ini?" tanya Fernando yang sedang lap pisaunya


"Charles Robertson! selama di sini dia sering mencari Charles Robertson untuk bertarung," jawab asistennya dengan sopan.


"Tidak menyangka gangster kamboja mencari Charles Robertson yang dari Red Lion," ujar Fernando.


"Bos, Red Lion sudah berakhir di tangan Charles Robertson, dan Charles Robertson sendiri dia mendirikan markas di spanyol selama ini. dan kini markasnya ada di London."jawab asistennya


"Apa hubungan mereka?"


"Tidak begitu baik dan juga tidak buruk, Stallone mencarinya hanya karena ingin bertarung dengannya. karena pernah di kalahkan oleh Charles Robertson, oleh sebab itu Stallone merasa tidak puas dan kemudian ingin membalasnya sehingga ke london hanya karena hal itu."


"Apa kau yakin orang itu bisa di percaya?"


"Dia tidak ada pilihan lain selain bekerja sama dengan kita. jika tidak maka dia akan kehilangan tangan dan kakinya."


"Bunuh saja jika ada yang terlibat dengannya, siapapun yang membantunya akan menjadi musuhku," kata Fernando dengan tegas.


"Baik Bos," jawab asistennya.


"Apakah kita akan melibatkan Charles Robertson?" tanya asistennya.


"Tidak perlu sama sekali! dia dan Stallone bukanlah teman, lagi pula siapa yang tidak mengenal seorang Charles Robertson yang sudah terkenal di dunia gangster. aku berharap dia tidak akan ikut campur dalam hal ini," ucap Fernando.


"Seharusnya Charles Robertson tidak ikut campur dalam hal ini, karena hubungan dia dengan Stallone sama sekali bukan teman," jawab asistennya.


"Aku berharap juga seperti itu,"ucap Fernando.


Hotel tempat tinggal Stallone.


"Bos, maafkan aku," ucap Juve yang baru sadar dan sedang berbaring di sofa.


"Aku menunggu kabarmu selama kau menghilang, ini salahku juga karena tidak menjawab panggilanmu," jawab Stallone.


"Bos, cepat kembali ke kamboja! di sini sudah tidak aman!"


"Situasi sekarang aku tidak bisa kemana-mana, perjalanan ke kamboja justru sangat membahayakan. pembunuh itu ada di mana-mana. jadi, mereka pasti akan menunggu di bandara, pelabuhan atau terminal. aku juga gangster jadi aku pasti tahu rencana mereka," jawab Stallone


"Tinggal di sini juga bukan jalan yang terbaik, bos harus mencari tempat yang aman. apakah anggota kita sudah tiba?" tanya Juve


"Belum, selain Borey, Boren, Chan, Guty, Atith, yang lain belum tiba," jawab Stallone.

__ADS_1


__ADS_2