
Tidak lama kemudian seluruh pengikut Brad berlari keluar dan menodong senjata ke arah kumpulan Harry.
"Apa kau takut? jumlah kami begitu banyak, ternyata Charles Robertson tidak sehebat yang kami bayangkan. dia bahkan tidak berani muncul di sini," ujar salah satu pengikut Brad dengan menghina.
"Siapa yang mengatakan aku tidak berani muncul, untuk menghadapi kalian mana mungkin aku tidak muncul!" ucap Charles yang muncul di hadapan mereka.
"Kau datang hanya untuk mengantar nyawa, Charles Robertson."
"Kalian tidak perlu sombong! kami datang untuk menghapus kalian semua, dan tentu saja anggota yang datang bersama kami tidak hanya jumlah segini," ujar Stone.
Prok...prok...prok...
Tepukan tangan Charles yang memberi kode kepada anggotanya, ia dan Harry serta lainnya memundurkan langkah mereka.
Kumpulan Liza dan Yona melepaskan tembakan dengan beruntun
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
Tembakan di lakukan oleh Liza, Yona dan semua anggotanya.
"Aarrghh...." teriakan para pengikut Brad yang langsung di tembak secara tib-tiba.
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
Tembakan yang di lakukan Liza, Yona.
Teriakan mereka dengan serentak karena di tembus oleh puluhan peluru dan tumbang satu persatu.
Kumpulan Charles melakukan tembakan dengan tanpa berhenti sehingga lawan tidak sempat untuk membalas.
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
__ADS_1
Tembakan dari Charles, Harry dan Stone.
Jeritan mereka yang terkena tembakan dan tidak lama kemudian mereka tergeletak dengan tidak bernyawa.
Pihak pengikut Brad yang ingin membalas tembakan sama sekali tidak memiliki kesempatan tersebut.
Charles beserta Harry, Stone, Liza dan lainnya sama-sama melepaskan tembakan.
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
Teriakan kumpulan pengikut Brad dengan serentak dan tumbang tergeletak tidak bernyawa.
Baku tembak terjadi selama hampir satu jam, kumpulan musuh mereka yang berjumlah sebanyak seratus lima puluh orang tidak sempat untuk membalas. dan dalam satu malam mereka harus tewas hingga tak tersisa.
"Bos, apakah masih ada pengikut lainnya?" tanya Harry yang sedang melihat semua korban yang tergeletak di atas tanah.
"Tidak ada lagi seharusnya, akhirnya anggota Brad sudah kita pangkas ke akar-akarnya," jawab Charles yang menyimpan senjatanya.
"Mari kita pergi!" ajak Charles yang melangkah pergi dengan di ikuti anggotanya.
Mansion Charles.
Charles yang kembali ke rumahnya langsung melangkah masuk ke dalam rumah dan menemui pujaannya yang sedang berada di dapur.
"Flower," panggil Charles yang menghampiri Flower yang sedang memasak.
"Charles, kamu sudah pulang!" sahut Flower dengan senyum.
"Apa yang kamu lakukan di dapur, bukankah seharusnya di kerjakan oleh orang lain!"
"Aku mau masak sendiri! pergilah mandi dulu! nanti kita makan bersama!"jawab Flower.
"Perlu bantuanku?" tanya Charles dengan senyum.
"Tidak perlu! cepat pergi mandi dulu!" jawab Flower dengan senyum.
"Iya, akan ku lakukan perintahmu, sayang!" jawab Charles dengan mengecup dahinya Flower.
Makan malam bersama.
"Charles, beberapa hari ini aku tidak melihat Cole, kemana dia?" tanya Flower yang sedang menyantap makanan.
"Aku menyuruhnya melindungi paman untuk sementara, Andrew sering saja mengincarnya aku khawatir paman akan dalam bahaya!" jawab Charles sambil minum air putih.
__ADS_1
"Apakah Andrew begitu kejam sehingga ingin membunuh paman terus? dia memiliki dendam apa sehingga ingin kematian pamanku?"
"Dunia gangster memang banyak musuh, jadi sudah tidak heran."
"Paman usianya sudah tua, tapi dia tidak memiliki sesiapapun di sisinya, dia pasti kesepian!" ucap Flower dengan merasa iba.
"Flower, jika kamu merasa rindu padanya, maka besok kita bisa pergi melihatnya," ujar Charles dengan senyum.
"Boleh juga! aku mau melihat paman, dan aku ingin memasak untuk dia!" ucap Flower.
"Baiklah, kita akan pergi besok!" kata Charles.
Tempat tinggal Bared
Cole duduk bersendirian di halaman sambil mengingat kembali setiap ucapan Bared dan mantan istrinya.
"Apa benar wanita itu adalah ibuku? jika benar maka dia sudah melakukan kesalahan besar, aku harus melakukan tes DNA, jika tuan Bared adalah ayahku maka aku sudah tahu apa sebabnya aku menjadi anak yatim piatu selama ini," batin Cole.
Bared yang sedang berjalan di halaman itu langkahnya di hentikan karena melihat Cole yang sedang duduk di depan sana.
"Cole tidak ragu untuk melukai sesiapapun, bahkan terhadap Rico saja dia mematahkan jari-jarinya, dan sikapnya terhadap Lonela sangat beda," batin Bared.
"Cole, sudah malam pergilah istirahat!" seru Bared yang menghampiri Cole yang sedang duduk di halaman.
Mendengar suara Bared, Cole langsung bangkit dan menoleh ke arah pria paruh baya itu yang sedang menghampirinya.
"Tuan Bared, aku hanya tidak bisa tidur!" jawab Cole dengan sopan.
"Apa yang menganggu pikiranmu?" tanya Bared yang duduk di kursi.
"Tidak ada, hanya tidak bisa tidur saja!" jawab Cole yang kembali duduk di kursinya.
"Maaf! atas kejadian siang tadi harus melibatkanmu," ucap Bared.
"Tidak masalah! aku tidak menyimpan dalam hati," jawab Cole.
"Dia sudah berubah dan bukan yang dulu lagi, bukan seorang wanita yang lembut dan sayang anak. sekarang dia sudah berubah drastis!" ucap Bared dengan mengeluh.
"Apa yang akan Anda lakukan jika bisa bertemu kembali putra Anda?" tanya Cole dengan penasaran.
"Aku ingin meminta maaf padanya, aku berharap dia bisa memahamiku," jawab Bared.
"Cole, kelihatannya kau sangat marah terhadap Lonela, dan Rico dia...."
"Dia bukan pria baik, lagi pula bukankah mantan istri Anda demi pria itu dia meninggalkan anak kandung sendiri."
"Iya juga! kesalahannya tidak bisa di maafkan," jawab Bared dengan merasa kecewa.
"Kesalahan terbesar bagi orang tua adalah menelantarkan anaknya, dan kesalahan terbesar bagi seorang anak adalah durhaka pada orang tuanya," Kata Cole.
"Cole, apa kamu sangat kecewa terhadap orang tua mu?"
"Rasa kecewa sudah tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata, dan aku memilih tidak mau memikirkannya."
__ADS_1
"Apa yang akan kamu lakukan jika suatu saat kamu bertemu kembali dengan orang tuamu?"
"Jika saja alasannya tidak bisa di terima, maka aku juga tidak alasan untuk menerimanya lagi," jawab Cole.