Cruel Love Of Gangster

Cruel Love Of Gangster
Vic bersedih, Flower menangis


__ADS_3

"Steve, maafkan papa karena tidak mampu menjaga hubungan ini dengan mamamu, dari kecil kamu harus melihat pertengkaran kami " ucap Vic yang merasa bersalah pada putranya.


"Aku mengerti apa yang sudah terjadi, dari kecil aku melihat sifat mama selalu saja ingin menang dan suka bertengkar dengan papa. mana mungkin aku menyalahkan papa," ucap Steve.


"Baguslah kalau kamu mengerti," kata Vic..


"Karena aku sudah memahami sifat mama, oleh sebab itu aku tidak ingin tinggal di rumah," jawab Steve.


"Papa mengerti! jantung papa ini bisa kambuh kapanpun, dalam hidup papa hanya ada satu penyesalan yaitu bibimu dan adikmu belum ditemukan."


"Aku yakin kita pasti bisa bertemu dengan mereka, papa bersabarlah!"


"Hati papa sangat sedih di saat memikirkan mereka, tidak tahu mengapa di saat memikirkan mereka perasaan ini sangat takut, takut mereka kedinginan, takut mereka kelaparan, takut mereka hidup tidak baik. dan takut kalau suaminya mengetahui jika adikmu bukan putri kandungnya, tindakan apa yang akan dilakukan oleh pria itu. sayang sekali papa tidak tahu siapa nama suaminya. andaikan tahu kita bisa cari tahu kehidupan adikmu."


"Kehilangan mereka adalah penyesalanku seumur hidup," ucap Vic.


"Pa, ini bukan salahmu, saat itu bibi tidak ingin menganggu hubungan papa dan mama. oleh sebab itu dia memilih pergi," kata Steve.


"Sama-sama adalah wanita, tapi sifat mereka sangat jauh berbeda, setiap bertengkar dengan mamamu, papa teringat bibimu," ujar Vic.


"Pa, jangan bersedih lagi! asalkan kita tidak putus asa kita pasti akan menemukan mereka suatu saat nanti."


Villa Robertson


"Flower, mari kita pergi!" ajak Charles yang baru melangkah masuk ke kamar.


Flower sama sekali tidak menjawab dan hanya duduk di kasur dengan mengeluarkan air mata, tidak tahu apa sebabnya gadis itu menangis.


"Flower, kenapa kau menangis?" tanya Charles yang menghampiri pujaannya.


"Tidak tahu!' jawab Flower sambil mengusap air mata.


"Flower, apa kamu merindukan mamamu, atau kamu ada yang merasa tidak nyaman?" tanya Charles yang memeluk pujaannya.


"Aku tidak tahu!"


"Lalu, apa Flower merindukan papamu?"


"Tidak juga!"

__ADS_1


"Flower, katakan padaku kenapa kamu menangis?" tanya Charles yang mengelus rambut gadis itu.


"Tidak tahu!"


"Tidak tahu? Flower, apa yang membuat kamu merasa sedih?" tanya Charles yang melepaskan pelukannya.


"Charles, aku benar-benar tidak tahu, perasaanku ingin menangis, aku sama sekali tidak tahu penyebabnya," jawab Flower dengan mata berkaca-kaca.


"Baiklah, menangislah! jangan simpan di dalam hati!" bujuk Charles yang memeluk Flower dengan erat.


Flower menangis dengan terisak di dalam pelukan Charles selama beberapa menit.


"Ada apa dengannya, kenapa tiba-tiba menangis ?" batin Charles.


Setelah satu jam kemudian Charles dan Flower mendatangi rumah sakit dengan ditemani oleh Cole.


"Steve, paman berada di kamar nomor berapa?" tanya Charles yang sedang berbicara dengan Steve di handphonenya


"Nomor 168, apa kau sudah tiba?"


"Sudah! aku datang bersama Flower," jawab Charles dan sesaat kemudian merekapun memutuskan panggilannya.


"Charles, Flower, kalian sudah datang," sapa Steve yang menghampiri mereka berdua.


"Flower, bagaimana denganmu, apa kamu baik-baik saja?" tanya Steve yang menatap ke arah Flower.


" Aku baik-baik saja, Kak Steve. terima kasih!" ucap Flower dengan ramah.


"Steve, bagaimana dengan kondisi paman?" tanya Charles.


"Sekarang sudah membaik, hanya saja papa tidak ingin makan, karena memikirkan masalahnya dengan mama," jawab Steve dengan khawatir.


"Perasaan paman pasti sangat sedih,.kan, apa bibi ada ke sini?" tanya Charles.


"Ada, tapi aku melarangnya untuk bertemu dengan papa, aku tidak mau lagi penyakit papa kambuh lagi karena ulahnya, dan papa juga sudah buat keputusan untuk bercerai."


"Bercerai? apakah sudah tidak bisa lagi berbaikan lagi sehingga harus bercerai?"


"Iya, tapi aku mendukungnya, karena sikap mama sudah keterlaluan."

__ADS_1


"Charles, bagaimana kalau aku belikan makanan untuk paman?" ujar Flower.


"Flower, papaku tidak mau makan, tadi aku sudah membelikan makanan untuknya, tapi dia menolak untuk makan," kata Steve.


"Kak Steve, aku akan coba menyuruh paman makan, biarkan aku pergi membeli makanan untuk paman ya?" ucap Flower yang menatap ke arah Charles dan Steve.


"Baiklah Flower!.biarkan Cole menemani mu pergi!" jawab Charles yang mengelus rambut pujaannya.


"Iya," jawab Flower dengan senyum.


"Cole, temankanFlower" perintah Charles yang menatap ke arah Cole.


"Baik Bos," jawab Cole dengan patuh.


Di saat mereka pergi tinggallah Charles dan Steve yang sedang berbincang.


"Apa kau memarahinya, kenapa dia menangis?" tanya Steve.


"Tidak, aku mana mungkin tega memarahinya," jawab Charles.


"Dia gadis yang baik dan malang, hanya kau saja satu-satunya bisa membuatnya keluar dari kehidupan pahit. lindungi dan sayangi dia!"


"Aku akan melakukan apa saja demi Flower," ujar Charles.


Setelah beberapa menit kemudian Charles dan Flower menemui Vic yang sedang berada di kamarnya.


"Paman," sapa serentak Charles dan Flower yang baru melangkah masuk ke kamar


"Charles, Fower, kalian sudah datang," balas sapaan Vic yang sedang duduk bersandar di ranjang.


"Paman, bagaimana kabar paman?" tanya Charles yang berdiri di samping ranjang.


"Paman sudah baikan, terima kasih kalian sudah mengunjungiku," ucap Vic dengan senyum.


"Paman, aku membelikan sarapan untuk paman," ucap Flower yang mengeluarkan makanan yang di belinya tadi.


Flower membuka mangkok yang berisi bubur dan memberikan kepada Vic.


"Flower, anak yang baik. terima kasih atas perhatianmu," ucap Vic dengan menatap senyum.

__ADS_1


"Sama-sama! Paman, harus menghabiskan sarapannya" kata Flower dengan ramah.


Vic menyantap sarapan yang dibeli oleh Flower dengan begitu lahap, sikapnya yang tiba-tiba berubah membuat Steve dan Charles merasa heran dan saling memandang antara satu sama lain


__ADS_2