
"Itu tidak berarti apa-apa, hanya sebuah gelang saja," jawab Cole.
"Cole, kalau saja kak Liza tidak bisa sadar, apa yang harus kita lakukan?" tanya Flower dengan sengaja ingin menguji pria dingin itu.
"Mungkin saja itu sudah nasibnya," jawab Cole dengan cuek.
"Markas pasti akan sepi, tidak ada bunga lagi. dan juga tidak ada suara pertengkaran kalian. markas pasti sepi," ucap Flower dengan menunduk lesu.
"Nona, jangan berkata seperti itu. dokter tidak mengatakan jika dia tidak akan sadar," jawab Cole.
"Kalau saja dia meninggal bukankah Charles akan kehilangan salah satu anggota yang tangguh, dan aku juga akan kehilangan seorang teman yang baik. dan dirimu juga akan kehilangan lawan yang sering bertengkar denganmu. aku benar-benar tidak berani membayangkan jika sampai terjadi. kita semua pasti merasa sedih," ucap Flower dengan sengaja.
Mendengar ucapan Flower Cole hanya terdiam dan menunduk.
"Cole, apa kamu bisa jangan membenci kak Liza? sebenarnya dia sangat baik."
"Aku tidak membencinya sama sekali!" jawab Cole.
"Apa benar, tapi kenapa aku sering melihat mu sangat kasar padanya? bahkan di saat kalian bertarung kau juga tidak ragu untuk menyakitinya, membanting dan menendang dengan kuat, sehingga kak Liza mengerang kesakitan. aku yakin dia pasti mengira jika kamu sangat membencinya," kata Flower.
"Ini hanyalah kesalah pahaman dan bukan masalah besar. Nona, jangan di pikirkan!"
"Andaikan jika kak Liza sudah sadar, apa kamu akan bersikap kasar lagi?"
"Jika dia tidak melanggar peraturan maka aku tidak akan bertindak."
"Tapi dia hanya menyukai bunga, lalu kenapa tidak mengizinkan saja?"
"Karena itu tidak sesuai untuk markas. oleh karena itu melarang keras," jawab Cole.
"Dia sangat kasihan karena tidak memiliki keluarga, dan hanya kalian lah yang menjadi ahli keluarganya."
"Nona, jangan di pikirkan lagi! aku yakin dia pasti tidak apa-apa!"
"Aku berharap seperti itu juga, dan sebelumnya aku berencana ingin memperkenalkan dia dengan kakakku. karena aku merasa kalau dia menjadi kakak iparku maka aku pasti merasa sangat senang." kata Flower dengan sengaja.
"Maaf kak Steve, pinjam nama mu sebentar untuk menguji si kepala batu ini," batin Flower.
"Kakak ipar?"
"Iya, awalnya aku salah paham jika hubunganmu dengan kak Liza adalah sepasang kekasih, dan akhirnya aku baru sadar ternyata kalian saling bermusuhan," ujar Flower.
"Kami tidak saling bermusuhan!"
"Cole, apa pendapatmu jika kak Liza di jodohkan dengan kakakku?"
__ADS_1
"I-ini..aku tidak tahu, Nona," jawab Cole dengan terbata.
"Tidak tahu apakah kak Liza sudah ada yang punya apa belum? jika belum aku berharap jika dia sadar aku ingin Charles menjodohkan dia dengan kakak ku," ucap Flower.
"Cole, apa kamu akan setuju?" tanya Flower dengan sengaja mengusik Cole.
"Ke-kenapa bertanya padaku, Nona?"
"Karena kamu bisa di katakan adalah senior kak Liza!"
"Masalah pribadinya aku tidak bisa ikut campur, Nona,"jawab Cole.
"Cole, usiamu lebih tua dariku, panggil saja namaku! jangan memanggilku nona lagi!"
"Ini tidak baik! karena nona adalah calon istri bos!
"Memangnya kenapa kalau aku calon istri Charles, kamu tetap juga boleh memanggilku nama seperti kak Liza dan lainnya. Charles juga tidak akan menyalahkan kalian!" ujar Flower.
"Tapi, kami sudah terbiasa memanggil nona."
"Usiamu lebih tua dariku. dan aku malah ingin memanggilmu kakak. walau aku sudah memiliki seorang kakak yang baik, akan tetapi kamu juga seperti kakakku. apa boleh aku memanggilmu kakak?"
"No-nona, jangan.. ini tidak baik dan juga tidak pantas!" jawab Cole.
"Jika saja tuan Bared adalah ayahku, maka nona adalah adik sepupuku," batin Cole.
"Iya sudah, aku tidak ingin menganggu mu istirahat. aku ingin menemui Charles dan paman, mereka menemui Winz untuk bertanya mengenai kondisi kak Liza," ujar Flower yang bangkit dari tempat duduknya.
Tidak lama kemudian Charles dan Bared kembali ke kamar Cole.
Klek.
"Paman, Charles, apa kata Winz, bagaimana dengan kak Liza?"
"Winz mengatakan Liza belum ada perkembangan, dia masih dalam kondisi lemah dan sangat butuh ldukungan kita," jawab Bared.
"Apa pihak rumah sakit tidak ada cara lain?" tanya Flower.
"Kita hanya bisa menunggu dia sadar, dokter juga sudah melakukan upayanya," jelas Charles.
"Ini sama saja kita harus menunggu keajaiban," ucap Flower.
"Kira-kira beginilah kondisinya," lanjut Charles.
Malam hari.
__ADS_1
Mansion Stallone.
Di kamar yang luas dan gelap Stallone sedang melakukan hobinya dengan seorang wanita cantik bayaran. tanpa sehelai benang di kedua insan tersebut, wanita itu mende.sah sambil menarik selimut dengan menikmati gesekan demi gesekan yang di lakukan oleh Stallone, pria itu mengoyangkan pinggulnya dengan cepat sambil menekan pinggang wanita cantik yang memiliki tubuh seksi itu. tangan Stallone sesekali meremas dua gundukan besar dan kenyal sehingga membuatnya semakin bergairah.
"Tuan, Anda hebat sekali. aku benar-benar pasrah denganmu, bagaimana dengan ku?" tanyanya dengan sambil menarik selimut.
"Tidak sia-sia aku membayarmu dengan mahal, mulai hari ini aku ingin kau tinggal di sini! setiap aku menginginkannya aku tidak perlu menunggu lagi!"jawab Stallone dengan menarik pinggang wanita itu sambil melakukan gerakannya.
"Aku akan ikuti perintahmu."
"Tapi ingat rawatlah dengan baik! agar aku tidak cepatbosan!" ucap Stallone dengan melakukan gesekan dengan cepat.
"Iya, aku akan merawatnya dengan baik."
Setelah mencapai puncak kenikmatan beberapa kali Stallone masih belum merasa puas, ia membalikkan tubuh seksi itu dan kemudian dia memasukan lagi pusakanya ke dalam va.gina wanita itu sedalam-dalamnya. dan mulai melakukan pergerakan tanpa berhenti.
Di saat ia sedang menikmati tubuh wanita itu, handphone miliknya sedang berbunyi. nama panggilan masuk yang tak lain adalah Juve.
"Tuan, handphonemu di jawab dulu!".ujar wanita itu yang sedang mulai kelelahan.
"Tidak perlu! menganggu saja," jawab Stallone yang sedang semakin cepat gerakannya.
Selama melakukan hubungan handphonenya berdering tidak berhenti. Stallone mengabaikan panggilan karena sedang mencapai puncak berulang kali.
Wanita cantik itu kelelahan karena harus melayani Stallone yang sudah dua jam lamanya, walau dia meminta berhenti akan tetapi pria itu mengabaikannya. sekali demi sekali senjata Stallone mendapatkan kenikmatan dari wanita itu.
"Aaarghh..."
"Tu- tuan, apa bisa kita istirahat sebentar!" pinta wanita itu yang sedang bertelungkup.
"Tidak bisa, di saat aku sedang menikmatinya maka aku tidak bisa berhenti," jawab Stallone yang mengerang nikmat.
Hubungannya terus berlanjut, Stallone lalu membalikan tubuh wanita itu dengan berbaring. dan kemudian dia melanjutkan aksinya. sementara wanita cantik itu hanya bisa pasrah dan membiarkan pria itu terus-menerus melakukan pergerakannya.
Saat sedang ingin mencapai puncak kenikmatan untuk kesekian kalinya tiba-tiba saja~✓
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
Tembakan yang di lakukan oleh sekumpulan orang yang di luar rumah sehingga menembus kaca jendela kamar. Stallone langsung mengeluarkan pusakanya dan bersembunyi di samping tempat tidur dalam kondisi tanpa pakaian.
Prang...
"Aaargghh...." teriakan wanita itu yang sedang ketakutan.
"Dasar kurang ajar! kenapa tidak menunggu aku selesai baru kalian bertindak..ha? apa kalian tidak melihat adikku ini masih kelaparan!" teriak Stallone dengan kesal dan berlindung di samping tempat tidurnya.
__ADS_1