
"Kakak, apa papa tidak menjaga kesehatannya selama ini dan selalu menyalahkan dirinya?" tanya Flower.
"Setiap malam papa hanya tidur selama satu jam, dan setelah itu dia terbangun dan duduk di ruang tamu hingga pagi," jawab Steve.
"Winz, bagaimana dengan papaku? apa dia akan sembuh?" tanya Flower dengan merasa sedih.
"Paman hanya kurang istirahat saja, ini tidak membahayakan paman, jangan khawatir!" jawab Winz dengan senyum.
"Tindakan apa yang harus kita lakukan untuk selanjutnya?" tanya Charles.
"Kita menunggu saja setelah paman sadar, dan aku akan selalu memantaunya!" jawab Winz.
"Charles, aku ingin berada di sini untuk menjaga papa dan menemani kakakku!" pinta Flower.
"Baiklah Flower! tidak apa-apa!" jawab Charles dengan senyum.
"Charles, apakah Flower aman berada di luar?" tanya Steve yang sambil mengelus kepala adiknya.
"Jika aku tidak di sini maka Cole yang akan melindunginya!" jawab Charles dengan senyum menatap ke arah Steve dan Flower.
"Jika butuh bantuanku katakan saja!" ujar Charles.
"Kau membiarkan adikku di sini ini sudah cukup membantuku, aku yakin di saat papa melihatnya dia pasti merasa bahagia," jawab Steve dengan senyum.
"Begini saja kalian berdua pergilah menemani paman, dan aku akan bicara dengan Winz sebentar!" kata Charles.
"Flower, mari kita ke kamar papa!" ajak Steve yang merangkul pundak adiknya dan melangkah menuju ke kamar tempat Vic yang sedang di rawat.
"Kelihatannya Flower sudah semakin bahagia berbeda dengan yang dulu," ucap Winz dengan senyum.
"Dia sudah lebih bahagia dari dulu, dan itu adalah keinginanku!" jawab Charles.
"Kau menjaganya dengan sangat baik, seharusnya dari awal kalian bertemu,"
"Aku tidak ingin kejadian yang tidak baik menimpa dirinya lagi, oleh karena itu aku mengawasinya dengan ketat,"
__ADS_1
"Aku merasa kagum padamu! kau bisa mencintai seorang gadis dengan sepenuh hati, di dunia ini tidak ada seorang gangster yang hanya memiliki satu wanita, dan kau adalah satu-satunya," kata Winz yang sedang berjalan bersama Charles.
"Untuk seorang pria seharusnya cukup hanya satu wanita, untuk apa harus bermain dengan wanita lain di saat hati mu sudah mencintai seseorang!"
"Tidak semua sepertimu, Charles. apa kau tahu beberapa hari yang lalu ada seorang mafia sepertimu juga, dia memutuskan kekasihnya yang sudah dia pacari selama dua tahun, dan kau tahu apa akibatnya? kekasihnya itu bunuh diri dengan cara memotong nadi pergelangan tangannya,"
"Mungkin saja cinta mereka sudah pudar, dan bisa saja pria itu jatuh cinta pada wanita lain!" ujar Charles yang melangkah masuk ke ruangan kerja Winz.
"Tidak tahu juga! wanita itu adalah pasienku, dan pria itu masih datang melihatnya, dan aku melihat pria itu ingin memutuskan dia dengan baik-baik, akan tetapi wanita itu emosi dan tidak bisa menerima," jelas Winz yang duduk di kursi kerjanya.
"Mengenai paman Vic bagaimana dengan kondisinya?" tanya Charles yang duduk berhadapan dengan Winz.
"Paman terlalu tertekan dan merasa bersalah, dia selalu saja menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa bibi Julia," jawab Winz.
"Bagaimana dengan kondisi kesehatannya?"
"Menurun! banyak pikiran sehingga mengabaikan kesehatannya, setiap manusia yang berusia kesehatan harus di jaga dengan baik, rutin minum obat, banyak istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran,"
"Apa yang harus kita lakukan untuknya?"
"Aku berharap paman cepat sembuh, aku mengira jika dia bercerai akan membuatnya lebih tenang menjalani hidupnya, tidak menyangka menjadi seperti ini,"ujar Charles yang merasa sedih.
Di sisi lain Flower sedang duduk bersama dengan Steve di sofa kamar ayah mereka.
"Kakak, maafkan aku selama ini aku tidak menjaga papa," ucap Flower dengan merasa bersalah.
"Flower, tidak perlu meminta maaf. kakak mengerti kondisimu, kau juga tidak bisa bebas karena ini akan membahayakanmu," kata Steve dengan senyum.
"Seharusnya di saat itu aku menemani papa dan bukan meninggalkan dia begitu saja, aku sangat tidak berguna," ujar Flower dengan menyesal.
"Flower, kamu dan Charles tidak bisa di pisahkan, kakak mengerti soal ini, dan kali ini papa jatuh sakit bukan karenamu, jadi jangan menyalahkan diri sendiri," kata Steve dengan mengelus ujung kepala adiknya.
"Kakak, kali ini biarkan aku di sini membantumu menjaga papa ya!"
"Iya, dan papa pasti merasa sangat gembira jika melihatmu di sini,"
__ADS_1
"Kakak, bagaimana dengan hasil persidangan itu, apakah mereka akan mendapat hukumannya?"
"Selasa depan baru ada hasilnya, setelah semua bukti di kumpulkan keluarga Clisten sudah kalah telak, kemungkinan besar Mark Clisten akan di hukum mati, sementara Monica dan Mona harus duduk di penjara selama bertahun-tahun," jelas Steve.
"Apa gunanya menikmati kemewahan di masa lalu dengan cara menyiksa orang, dan pada akhirnya mereka harus menerima balasannya, hukum mati mungkin saja terlalu mudah bagi seorang pria yang membunuh istrinya dengan cara yang kejam,"
"Apa kamu masih belum bisa melupakan kejadian itu?"
"Kejadian itu sangat jelas di dalam kepalaku, aku melihatnya melakukan kekerasan terhadap mamaku, tidak mungkin aku bisa melupakan kejadian itu begitu saja,"
"Kakak mengerti perasaanmu! apa kamu tahu selama ini papa selalu saja melihat barang-barang peninggalan bibi, papa meneteskan air mata, dia duduk di kamar dan aku melihatnya dari luar pintu, aku hanya bisa membiarkan papa meluahkan kesedihannya, dan aku yakin papa pasti sangat sedih setelah mengetahui kematian bibi yang begitu tragis, sebelumnya aku memikirkan ingin menjalani hidup bersama papa, bibi dan kamu. tapi semua harapan ku tidak tercapai, karena bibi sudah tidak ada. walau begitu kami masih memilikimu, bayi mungil yang lucu yang ku lihat di saat itu," kata Steve.
"Kakak, kemunculanmu dan papa telah merubah hidupku, aku yang dulu tidak merasakan kasih sayang dari keluarga, dan setelah bertemu dengan kalian aku merasakan semuanya, dan aku sangat bahagia," ucap Flower dengan senyum.
"Dan ingat satu hal, kakak dan papa ingin melihatmu mengenakan gaun pengantin, dan kakak yakin adik kakak yang manis ini pasti menjadi pengantin yang paling cantik dan bahagia," ucap Steve dengan menyubit pipi adiknya.
"Aku bahagia karena aku memiliki papa dan kakak yang baik, serta calon suami yang menyayangiku," kata Flower dengan senyum.
"Kakak, aku ingin ke kamar kecil sebentar!"
"Hati-hati ya!"
"Iya, kak" jawab Flower yang melangkah keluar dari kamar.
Setelah beberapa saat kemudian Flower keluar dari kamar kecil dan ingin kembali ke kamar ayahnya itu, saat ia berjalan ke arah kanan dirinya menabrak seseorang.
Brugh..
"Aargh...maaf! aku tidak sengaja!" ucap Flower yang menyentuh dahinya.
"Hm..." jawab pria itu dengan dingin dan melangkah pergi, sambil mengeluarkan tangannya dari saku celana, ia tidak menyadari jika ada sesuatu yang keluar dari sakunya itu
"Tuan, sebentar!" panggilan Flower yang sedang mengutip selembar cek dan mengembalikan pada pria itu
Pria itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Flower yang menyerahkan selembar cek kepadanya.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak ambil saja? cek ini sudah di cap oleh pemiliknya," tanya pria itu dengan penasaran