Cruel Love Of Gangster

Cruel Love Of Gangster
Cole dan Liza di tahan


__ADS_3

"Tuan Cole, silakan," ucap Ekin dengan membukakan pintu untuk Cole dan Liza.


Cole dan Liza mengikuti mereka pergi menuju ke tempat tinggal Andrew.


Setelah beberapa saat kemudian mobil mereka tiba di depan rumah.


Ekin mempersilakan Cole dan Liza dengan sopan untuk menjumpai bosnya itu.


Mereka berjalan ke dalam rumah yang besar dan mewah sambil melihat ke sekeliling, di setiap sudut terdapat anggota yang sedang berjaga.


Ekin dan Cole beserta Liza menuju ke sebuah ruangan yang terdengar musik piano yang di mainkan oleh seorang pria yang di sana.


"Bos, mereka sudah tiba!" ucap Ekin yang berdiri di belakang bosnya yang sedang bermain piano.


Sesaat kemudian Andrew berhenti bermain dan bangkit dari tempat duduknya. ia menoleh ke arah dua orang yang berdiri di ruangan itu. lalu ia mengambil dua gelas berisi wisky dan berjalan menghampiri Cole


"Cole adalah pengawal andalan Charles Robertson, yang di kenal hebat dalam ilmu bela diri dan menembak. namamu sudah tidak asing lagi di dunia gangster. sangat mengagumkan!" ucap Andrew dengan memberikan gelas berisi wine kepada Cole.


"Terima kasih! ucap Cole yang menolak minuman tersebut dengan bersikap dingin


"Hahahaha...sikap dan nama sangat mirip, andaikan aku bisa memiliki pengawal seperti mu aku pasti akan merasa senang," kata Andrew.


"Katakan saja apa mau mu! jangan membuang waktuku!" ujar Cole tegas.


"Di dunia gangster aku sangat mengagumi Charles Roberson, selain kehebatannya, dari segi kesetiaannya terhadap temannya dia menolak tawaranku ini sangat membuatku salut!" ucap Andrew.


"Langsung ke poin saja!" kata Cole dengan cuek.


"Poinnya adalah berapa yang kamu minta agar tinggalkan Bared? dan jika aku ingin kamu membunuhnya berapa yang kamu minta?"


"Anda sudah salah orang, aku adalah kaki kanan Black Dragon. aku tegaskan tidak akan melakukan hal yang tidak terpuji seperti ini," jawab Cole.


"Tuan Andrew, apakah Anda sudah tidak ada cara lain untuk membunuh musuhmu itu sehingga ingin mengunakan anggota Black Dragon untuk membantumu?" tanya Liza dengan menyindir.


"Heheheheh...siapa yang mengatakan aku tidak ada cara lain? aku memiliki ribuan cara. hanya saja si tua itu terlalu beruntung. Charles Robertson selalu saja melindunginya. sehingga mengagalkan rencanaku," ujar Andrew.


"Kalau Anda memiliki ribuan cara maka lakukan saja dengan cara yang Anda miliki. karena kami sangat setia pada bos kami dan tidak akan melakukan hal seperti ini," ucap Liza.


"Kalian hanya memiliki dua jalan. jalan pertama terima tawaranku, itu adalah jalan keselamatan, aku akan membiarkan kalian pergi. dan jalan ke dua adalah jalan kematian, kalau kalian menolak tawaranku," ucap Andrew dengan ancaman.


"Kalau memang itu yang Anda inginkan, maka lakukan saja. aku tidak akan berpaling dari bos ku. walau harus kehilangan nyawa," jawab Cole dengan bersikap santai.


"Luar biasa...luar biasa...Charles Robertson sangat beruntung bisa mendapatkan pengawal setia sepertimu. ada yang mengatakan anggotanya setia sampai mati. dan hari ini aku mulai percaya dengan kabar angin yang ku dengar!" ucap Andrew.


"Akan tetapi aku tidak akan membunuh kalian. karena ini bukan tujuan utamaku. dan aku juga tidak akan menyakiti kalian," kata Andrew.


"Ekin, aturkan kamar untuk mereka berdua! layani tamu kita dengan baik," ucap Andrew.


"Baik Bos," jawab Ekin dengan menurut.


"Apakah Anda ingin mengunakan cara ini untuk mengurung kami?" tanya Liza


"Sebenarnya tidak bisa di katakan mengurung, ini hanyalah mengundang. niatku hanyalah ingin mengundang kalian tinggal di sini selama beberapa hari," kata Andrew.


"Tidak apa-apa! kita jangan menolak udangan tuan Andrew, karena ini sangat tidak sopan!" ucap Cole dengan santai.


Setelah beberapa saat kemudian Ekin mengantar Cole dan Liza menuju ke salah satu kamar di lantai atas. saat berjalan Cole dan Liza sambil memerhatikan pengawal-pengawal Andrew yang sedang berjaga di setiap sisi rumah itu.


"Silakan," ucap Ekin yang mempersilakan Cole dan Liza masuk ke salah satu kamar yang luas.


Cole dan Liza menginjak masuk ke kamar itu, setelah mereka masuk Ekin menutup pintu kamar. Cole yang melihat pintunya di tutup ia langsung melempar ke sesuatu ke lobang kunci tersebut.


Klek...


Ceklek..


Suara kunci pintu yang di lakukan oleh Ekin dari luar.


"Untuk apa mereka ingin kita tinggal di sini? kenapa tidak membunuh kita saja?" tanya Liza yang menghampiri jendela dan melihat ke arah luar


"Dia akan mengambil tindakan membunuh Bared atau dia akan mengunakan kita untuk memancing Bared ke sini!" jawab Cole yang duduk di ujung kasur.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Liza yang menoleh ke arah Cole.


"Hanya satu cara!" jawab Cole.


"Kita di kunci dari luar, mana mungkin kita bisa kabur dan juga tidak mungkin kita menerima tawarannya. selain itu kita tidak memiliki senjata."


"Yang kau katakan semuanya memang tidak mungkin. tapi ada satu yang mungkin," jelas Cole.


"Bos, wanita itu bernama Liza, hubungan mereka tidak begitu baik selama ini. dan tidak pernah akur, jika saja mereka di kurung satu kamar bukankah ini...." ujar Ekin.


"Mereka ada di tempat kita, sekaligus walau mereka bermusuhan juga tidak mungkin bertarung di sini!" jawab Andrew.


"Benar juga!" jawab Ekin.


Mansion Stallone.


Di siang itu Stallone sedang berdiri di balkon masih sedang merasa kesal dengan kejadian yang menimpa dirinya.


"Bos, anggota kita akan selidiki kumpulan itu!" ujar Juve


"Cepat dapatkan informasi! aku ingin segera mengetahui siapa pelakunya, sekumpulan orang asing dengan begitu mudah bisa mengetahui posisiku!" perintah Stallone.


"Iya, Bos."


Tempat tinggal Bared.


"Lepaskan aku, breng.sek. walau kau mengurungku di sini juga tidak berguna. kau tetap tidak bisa mendapatkan anak mu!" teriak Lonela sambil mengedor pintu.


"Lepaskan aku....lepaskan aku!" teriak Lionela tanpa berhenti.


Bared yang sedang berada di halaman mengabaikan teriakan mantan istrinya itu.

__ADS_1


"Tuan, nyonya Lonela sudah berteriak dari pagi hingga sekarang!" ujar Steven.


"Biarkan saja! dia akan diam kalau sudah lelah!" jawab Bared dengan cuek


"Tuan, sebenarnya untuk apa kita mengurungnya di sini, karena dia juga tidak tahu kemana putra Anda pergi."


"Aku berharap setelah bertemu Cool kembali, dia bisa menjelaskan semuanya agar Cool tidak salah paham denganku!" jelas Bared.


Tidak lama kemudian handphone milik Bared berbunyi.


"Hallo," sahut Bared yang menjawab panggilan itu.


"Tuan Bared, bagaimana kalau kita bertemu," kata seorang pria yang di seberang sana.


"Andrew, kenapa tiba-tiba saja kau menghubungiku?"


"Pengawalmu yang dingin itu menjadi tamu di rumahku, dan tentu saja aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk berkumpul denganmu!"


"Hahahahah....Andrew, apakah karena kau gagal untuk membunuhku, sehingga harus mengunakan cara ini menemui ku?"


"Bared, jangan di anggap terlalu serius, Cole dan Liza dengan suka rela menjadi tamu kami tanpa paksaan. dan tentu saja kami akan melayaninya dengan baik."


"Kamu harus tahu siapa yang kalian singgung jika mereka berdua ada di tanganmu."


"Seharusnya Anda tahu apa yang harus kamu lakukan, tentu saja Anda tidak ingin jika mereka berdua menjadi tamu yang harus berakhir di sini," kata Andrew dengan ancaman


Bared memutuskan panggilan sambil menahan emosinya.


"Tuan, apa yang sudah terjadi?" tanya Steven.


"Cole dan Liza di tahan!"


"Dia mengunakan mereka untuk mengancam Tuan?"


Benar!"


"Apa yang harus kita lakukan?"


"Dia ingin aku ke sana menemuinya, aku akan turuti permintaannya!"


"Bukankah ini sangat bahaya jika Anda pergi? tujuannya memang menginginkan nyawa Tuan!"


"Tidak bisa lagi memikirkan hal itu! aku tidak boleh membiarkan Cole menanggung sendirian. tugasnya hanya melindungiku, lakan tetapi dia menjadi sasaran musuhku. jika dia terjadi sesuatu aku akan menyesal."


"Kita akan menghubungi Bos Charles."


"Kirim pesan untuk Charles! tidak boleh di ketahui oleh Andrew. jika tidak, maka Cole dan Liza akan dalam bahaya, kita main belakang saja" kata Bared.


"Baik aku mengerti, Tuan!" jawab Steven.


"Andrew tidak sadar dia sudah bermain api, Cole adalah anggota kesayangan Charles. tapi dia malah beraninya menahan Cole.aku harus menemuinya untuk ulur waktu. tidak boleh membiarkan Cole terjadi sesuatu," batin Bared.


Markas Dragon Black.


Tidak lama kemudian Harry dan Stone masuk ke ruangannya.


"Bos," sapa mereka berdua.


"Cole dan Liza di tahan oleh Andrew," kata Charles.


"Mereka pasti bermain dengan jumlah yang banyak!" ujar Harry.


"Untuk apa dia menahan Cole dan Liza? jika karena Cole melindungi tuan Bared maka dia sudah salah besar, karena yang dia tahan adalah bagian dari kita!" ucap Stone.


"Dia ingin bertemu dengan Bared, dan malam ini Bared akan menuju ke tempatnya!" jelas Charles.


"Jika tuan Bared pergi bukankah ini hanya akan membahayakan nyawanya," kata Harry.


"Tidak akan terjadi apa-apa padanya!" jawab Charles.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Stone.


"Cole pasti akan mencari cara untuk keluar dari sana. asalkan dia dan Liza sudah bebas maka kita bisa menyerangnya!" jawab Charles.


"Bagaimana jika Cole dan Liza sudah terluka, mereka tidak akan bisa keluar dari sana!" ujar Harry.


"Info yang di dapatkan Cole dan Liza ikut dengan sukarela. jadi, mereka seharusnya tidak terluka. karena tanpa pelawanan," kata Charles.


"Mungkin saja mereka di hadang di tengah jalan, dan Cole tidak melawan karena jumlah mereka lebih banyak," ucap Harry.


"Dia tidak akan mengambil resiko, dan mungkin saja jika dia hanya sendirian dia pasti akan melawan," ujar Stone.


"Benar! Cole dia bukan tipe yang akan mengalah. dia akan melawan di saat dia bersendirian," jelas Charles


"Bukankah akan lebih mudah mengalahkan musuh jika dia bersama Liza!" ujar Harry


"Cole bisa membaca kecepatan tangan Liza. karena dia tidak yakin oleh karena itu dia memilih mengalah, akan tetapi dia tidak diam saja. dan aku yakin dia punya rencana sendiri, tengah malam adalah waktu yang tepat untuk kita bertindak. karena aku yakin dia juga akan bertindak dari dalam," jelas Charles.


"Kalau begitu kita akan bersiap," kata Harry.


Malam hari.


Mansion Andrew.


Liza sedang melihat keluar jendela dan mendapati banyak anggota yang sedang berjaga di luar rumah. sementara Cole sedang berbaring dengan santai dan memejamkan matanya.


"Hei...ini dalam situasi apa, kenapa kau masih bisa bersikap santai?" bentak Liza.


"Kalau tidak santai kau mau melakukan apa, berteriak agar mereka melepaskanmu?" balas Cole tanpa melihat ke arah Liza yang berdiri di samping kasur.


"Kenapa kau tidak mencari cara agar kita bisa keluar dari sini dengan mudah!"


"Bukankah di kepalamu juga terisi otak, gunakan saja otakmu untuk berpikir!"

__ADS_1


"Kau gila! aku merasa aneh kenapa tadi siang kita tidak melawan saja?malah kita ikut mereka ke sini!"


"Kalau kau merasa kau sanggup melawan lima puluh senjata itu kenapa kau tidak melawan saja?"


"Kan dirimu yang mau ikut mereka, dan aku yakin jika kita bekerja sama, maka belum tentu kita akan kalah," kata Liza dengan kesal.


"Kalau aku hanya sendiri aku bisa mengunakan caraku untuk mengalahkan mereka."


"Apa maksud mu dengan perkataanmu ini? kau menyalahkanku!" bentak Liza.


"Aku tidak berminat berdebat dengan wanita gila!" ketus Cole yang tanpa menoleh ke arah Liza.


"Kau berani mengatakan aku gila!" teriak Liza dengan melempar bantal ke arah Cole.


"Apa kau gila ya, kau adalah wanita yang paling kasar," ketus Cole dengan melempar bantal ke arah wanita itu.


Karena merasa kesal Liza mengambil bantal itu memukul Cole tanpa berhenti.


Bruk...bruk...


Pukulan bantal mengenai tubuh Cole yang sedang berbaring.


Cole yang merasa kesal langsung menarik tangan Liza dan menekannya ke kasur dengan kuat.


"Dasar cabul!" ketus Liza yang berada di bawah pria itu.


"Cabul? walau di dunia ini sudah tidak ada wanita aku juga tidak berminat denganmu," jawab Cole dengan menekan kuat ke dua tangan wanita itu ke kasur.


Liza yang berusaha melawan lalu dia menendang Cole yang berada di atasnya.


Bruk..


Tendangan Liza mengenai punggung Cole sehingga pria itu jungkir balik dan kemudian Liza langsung bangkit dan melayangkan pukulan ke wajah pria itu.


Di malam itu terjadilah pertarungan di atas kasur.


Bruk...bruk...bruk...bruk...bruk...bruk...


Pukulan demi pukulan yang terdengar hingga keluar.


"Apa yang mereka lakukan di dalam sana?" tanya salah satu anggota yang berjaga di pintu


"Seperti sedang bertarung!"jawab teman lainnya.


"Apa di biarkan saja?"


"Biarkan sajalah! kalau kita melihat ke dalam nanti mereka kabur!"


Bruk...bruk...bruk...bruk...bruk...bruk...


"Cole kurang ajar," ketus Liza dengan nada tinggi.


"Wanita gila!" bentak Cole dengan kesal.


Bruk...bruk...bruk...bruk...bruk...bruk...


"Hiaaaak!" jerit Liza yang menekan ke dua tangan Cole ke kasur.


Cole yang kesal membalas dengan membentur kepalanya mengenai kepala Liza


Brugh...


"Aarghhh...." jerit Liza yang melepaskan tangannya dan berbaring di kasur sambil memegang dahinya yang sakit akibat benturan kepala yang di lakukan oleh Cole.


Liza melayangkan pukulan dengan tangan kiri ke arah Cole yang di sampingnya. pria itu langsung menangkis serangan dan mengunci ke dua tangan wanita itu. sehingga membuat Liza tidak bisa bergerak.


"Lepaskan!" teriak Liza dengan kesal.


"Tidak!" jawab Cole yang mengunci tangan lawanya.


"Lepaskan!".


"Tidak!"


"Lepaskan!"


"Tidak!"


"Lepaskan!"


"Tidak!"


"Lepaskan!".


"Tidak!"


"Lepaskan!".


"Tidak!"


Sementara di luar anggota Andrew mendengar suara keributan dari dalam.


"Ada apa dengan mereka?"


"Tidak tahu!"


"Apa mereka bermusuhan!"


"Tidak tahu!"


"Apa mereka sedang buat anak?"


"Kalau mau tahu kenapa kau tidak masuk ke dalam saja!"

__ADS_1


Inilah pembicaraan di antara dua penjaga di luar yang berjaga di luar pintu.


__ADS_2