
Keesokan harinya.
Bared mendatangi sebuah rumah yang sudah usang dan berhabuk di mana-mana, halaman berantakan tidak terurus, bunga layu dan pot bunga yang telah pecah berkeping-keping. rumput tinggi memenuhi seluruh halaman yang cukup luas itu.
"Tuan, apakah ini tempat tinggal Anda?" tanya Cole yang sedang berdiri di samping Bared.
"Rumah ini sudah terbiar, tidak terurus, semua yang ada di dalam termasuk kenangan telah di tutupi debu kotoran. dulu rumah ini adalah tempat tinggalku dan keluarga kecil ku, dan setelah itu semua telah sirna. sudah begitu lama aku tidak datang ke sini,"jelas Bared.
"Tuan Bared, apakah Anda bukan asli berasal dari spanyol?"tanya Cole.
"Bukan! aku mulai hidup baru di sana, london telah meninggalkan kenangan buruk bagiku, semua keluargaku hilang di sini. adikku satu-satunya, putra semata wayangku. walau sekarang hidupku sudah stabil akan tetapi aku tidak merasa bahagia. sekarang keluarga ku hanya tinggal Flower. andaikan aku bisa bertemu lagi dengan putraku maka aku sangat senang," kata Bared dengan merasa sedih.
"Tuan, bagaimana jika kita bersihkan tempat ini, dan kita cat ulang serta perbaiki yang rusak?" tanya Steven.
"Maksudmu adalah mau di perbaiki?"tanya Bared yang menatap ke arah Steven.
"Iya, kita bisa perbaiki yang sudah rusak, rumah ini adalah kenangan bagi Anda. sangat di sayangkan jika di biarkan begitu saja. apalagi ini rumah, Tuan," jawab Steven.
Cole memajukan langkahnya sambil melihat ke arah dalam rumah itu, seperti sebuah bayangan yang muncul dalam ingatan. bayangan dirinya yang masih kecil sedang berlari-lari dari dalam hingga keluar halaman. dengan penuh tawa ia bermain bersama dengan dua orang dewasa yang samar-samar wajah mereka, Cole tidak bisa ingat dengan jelas wajah dua orang yang sedang tertawa dan bermain dengan dirinya di saat itu.
"Kenapa aku tidak asing? apa di saat aku masih kecil aku pernah tinggal di sini? apakah pria dan wanita yang ada dalam ingatan itu adalah orang tuaku, dan kenapa di sini? apakah tuan Bared ada hubungan dengan orang tuaku?" batin Cole.
"Cole, ada apa denganmu, apa kamu baik-baik saja?" tanya Bared yang melihat Cole sedang termenung.
"Aku baik-baik saja, Tuan. Tuan, di sini selain keluarga Anda apakah ada keluarga lain yang tinggal di sini?" tanya Cole.
"Tidak ada! rumah ini sudah ku beli. kalau dulu aku kurang tahu. karena setelah aku membelinya hanya keluargaku yang tinggal di sini, dan setelah aku keluar dari penjara aku tidak pernah kembali ke sini lagi, karena sebelum aku di penjara istriku sudah pergi bersama anakku, dan baru hari ini aku kembali ke sini," jawab Bared.
"Ternyata begitu!" ucap Cole.
"Mungkin saja aku pernah tinggal di sini saat aku masih kecil dan sebelum di beli oleh tuan Bared. dan berapa usiaku di saat itu? kenapa aku tidak bisa mengingatnya," batin Cole.
"Mari kita pulang!" ajak Bared yang berjalan ke arah mobil.
Tidak lama kemudian mereka pergi meninggalkan rumah itu.
Dalam perjalanan.
Selama perjalanan Bared menatap keluar jendela mobil. ia hanya diam tanpa berkata sepatah katapun. sesaat kemudian ia tiba-tiba berteriak dengan berkata, "berhenti!"
Karena perintahnya Steven langsung menghentikan mobilnya.
Tidak tahu apa yang sudah di lihat oleh pria paruh baya itu sehingga raut wajahnya yang merasa tidak senang, dan kemudian ia keluar dari mobilnya.
"Apa yang sudah terjadi?" tanya Steven yang ikut turun dari mobil dengan di ikuti oleh Cole.
"Lonela..."teriak Bared yang menatap seorang wanita yang berdiri di pinggir jalan sana.
Wanita itu langsung melihat ke arah yang di mana suara panggilan itu berada.
Cole yang melihat wanita itu merasa tidak asing hanya saja dia tidak bisa mengingatnya lagi.
"Siapa dia, apakah aku pernah melihat dia sebelumnya?" batin Cole.
"Ternyata memang kamu!" ucap Bared yang menghampiri wanita itu dengan di ikuti oleh Cole dan Steven yang sedang melindunginya.
"Kenapa kau bisa berada di sini?" tanya Lonela dengan tatapan kesal.
"Katakan di mana anak kita!"
"Untuk apa kau peduli dengan semua itu?" tanya Lonela dengan tatapan benci.
"Lonela, kau pergi dengan membawanya dan tidak pernah lagi memberi kabar untukku, kau bisa saja pergi. tapi, kenapa kau membawanya jauh dariku?" tanya Bared dengan merasa kesal.
"Kenapa? kau masih bertanya padaku kenapa aku membawanya pergi, jika di saat itu aku tidak membawanya pergi dia pasti tidak akan bisa hidup tenang denganmu. kau seharusnya sadar diri. kau adalah gangster yang akan di bunuh kapanpun dan setiap saat ada musuh yang mencarimu," bentak Lonela dengan kesal.
"Dan sekarang dia di mana?"
"Dia sudah meninggal karena suatu penyakit!" jawab Lonela dengan ketus.
"A-apa, meninggal karena penyakit?" tanya Bared dengan perasaan hancur.
"Iya, dia sudah meninggal dan sudah tenang," jawab Lonela yang tanpa menoleh ke arah Bared.
"Kapan kejadiannya?" tanya Bared dengan mata berkaca-kaca.
"Saat dia berusia dua puluh tahun, apa kau sudah puas dengan jawabanku?"
"Di mana makamnya?"
"Aku kremasi dan membiarkan abunya terbang ikut angin," jawab Lonela dengan kesal.
"Kenapa kau melakukan itu? kenapa kau tidak memakamnya secara layak?" tanya Bared dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Kau tidak berhak untuk memprotes ku, hidup bersamamu sama aja membahayakan kami. seharusnya kau mencermin diri," ketus Lonela.
"Wanita ini berbohong, sorotan matanya memperlihatkan dia sedang menyembunyikan sesuatu!" batin Cole
"Aku tidak pernah memaksamu untuk menikah denganku, dan kau sudah tahu siapa aku dari awal, dan kenapa kau menyalahkan ku seakan-akan aku yang bersalah dalam hubungan ini. kau yang memilih pergi dan bukan aku yang mengusirmu," bentak Bared dengan kesal.
"Demi keselamatan aku dan Cool maka aku harus pergi meninggalkanmu," ketus Lonela dengan kesal dan kemudian melangkah pergi.
"Lonela," bentak Bared yang ikuti langkahnya dan menghalang dari depan.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Lonela dengan merasa cemas.
"Katakan padaku apa yang kau katakan tadi tidak benar, dia belum meninggal, bukan?"
"Dia sudah meninggal dan kau tidak akan bisa melihat dia lagi."
"Aku tidak percaya dengan semua itu!" kata Bared dengan tegas.
"Percaya atau tidak terserah, itu tidak ada hubungan denganku," bentak Lonela yang membalikan badan dan ingin melangkah pergi, akan tetapi langkahnya di hentikan oleh Cole yang sedang menghalangnya.
"Kau..." ketus Lonela yang terhenti di saat melihat Cole yang berwajah dingin itu.
"Kenapa pemuda ini agak mirip dengan Cool?" batin Lonela.
"Jelaskan semuanya baru pergi!" kata Cole dengan tegas.
Tidak lama kemudian muncul seorang pria yang sedang memanggil wanita itu.
"Lonela."
"Rico." balas panggilan Lonela yang melihat ke arah pria itu.
"Siapa mereka?" tanya Rico.
"Dia adalah mantan suamiku!" jawab Lonela yang menunjukan ke arah mantan suaminya itu.
"Oh...ternyata kau adalah preman kaki lima itu, kenapa, apa kau masih merindukan istriku? aku tahu istriku masih cantik akan tetapi dia sudah menikah denganku. dan hidup kami sangat bahagia,"kata Rico dengan mengejek.
"Aku bukan ingin bersatu dengannya, aku tidak berminat dengan wanita yang tidak bertanggung jawab," ketus Bared.
"Kau...." ketus Lonela.
"Aku hanya ingin tahu di mana anak kita, katakan padaku sekarang juga!" bentak Bared dengan merasa kesal.
"Ini bukan urusanmu dasar bajin.gan," bentak Bared.
"Bukan urusanku? apa kau sedang bercanda pak tua!" ujar Rico dengan mengejek.
"Seharusnya kau tidak berurusan denganku!" kecam Bared dengan tatapan tajam.
"Bared, apakah kau ingin mengunakan kekerasan?" tanya Lonela dengan kesal.
"Aku tidak suka jika dia ikut campur," bentak Bared.
"Dia adalah suamiku sekarang," ketus Lonela.
"Aku tidak peduli siapa suamimu, aku hanya ingin tahu di mana anakku?" tanya Bared dengan merasa kesal.
"Sudah ku katakan dia sudah meninggal!" jawab Lonela dengan ingin melangkah pergi dengan Rico.
"Sebelum menjawab pertanyaanku jangan berharap bisa pergi!" ketus Bared yang menghadang mereka berdua.
"Hei...hei...kenapa ha? aku adalah suaminya sekarang, jangan mengunakan anak sebagai alasan untuk menghampiri istriku!" bentak Rico dengan menarik kerah kemeja yang di kenakan oleh Bared.
Cole yang melihat perbuatan Rico terhadap Bared ia lalu maju dan menahan tangan Rico dengan kuat sehingga pria itu mengerang kesakitan.
"Aarghhh..." teriakan Rico yang wajahnya berubah menjadi merah karena kesakitan.
"Tanganku...tanganku..." teriakan Rico.
"Apa gurumu tidak pernah mengajarkan agar bersikap sopan dengan orang yang lebih tua," bentak Cole dengan menahan tangan pria itu dengan semakin kuat.
"Aarghh...."Teriak Rico yang kesakitan.
"Lepaskan tangannya! kalian ingin bertingkah seperti preman jalanan," teriak Lonela dengan ingin melayangkan tangan ke wajah Cole.
"Pasangan murahan!" ketus Cole yang menahan tangan wanita itu.
"Cole, lepaskan saja mereka!" perintah Bared.
"Tidak Tuan, aku tidak akan bersikap lembut pada orang seperti mereka, Nyonya Lonela, lebih baik Anda katakan di mana anak tuan Bared. jika tidak, maka tangan suami Anda akan ku patahkan!" kecam Cole dengan tatapan dingin.
"Bared, apakah anak buahmu begitu kurang ajar? apakah ini adalah didikanmu?" tanya Lonela yang ingin melepaskan genggaman Cole
__ADS_1
"Cole hanya ingin melindungiku saja. sebaiknya kau menuruti katanya, katakan di mana anakku. jika kau masih menutup mulutmu maka suamimu ini akan kehilangan tangannya," kecam Bared.
"Kalian ingin mengunakan cara gangster untuk mengancam kami?" bentak Lonela.
"Nyonya Lonela, kau tidak ada pilihan lain," kecam Steven.
"Aarghh..." teriakan Rico yang kesakitan karena tangannya di tahan ke belakang.
"Aku tidak ada kesabaran untuk bermain denganmu," bentak Cole.
"Lepaskan dia! jangan sentuh dia!" teriak Lonela yang sedang memukul Cole.
"Aargghhh...." teriakan Rico semakin kuat karena tangannya yang hampir patah.
"Jangan salahkan aku jika jari suami mu ini patah," kecam Cole yang sedang menahan jari-jari pria itu.
"Aaargghh...," teriak Rico yang mengeluarkan air matanya.
" Lepaskan dia!" bentak Lonela dengan nada keras.
Krek..
"Aaargghh...," teriakan Rico yang jarinya di patahkan oleh Cole yang sedang menahannya.
"Rico...."teriak Lonela.
"Sakit!" jerit Rico yang sedang kesakitan.
"Lonela, kau tahu jika aku adalah gangster yang selama ini tanpa ragu mengambil nyawa orang, aku tahu kalau kau sedang berbohong. kau harus ingat, Lonela. kau yang membawanya pergi dan bukan aku yang mengusir kalian ataupun aku yang meninggalkan kalian," bentak Bared dengan merasa kesal.
"Bared, kau sangat kejam," teriak Lonela
"Kejam? siapa yang lebih kejam? anakku masih hidup, kan? dan kau mengatakan jika dia sudah meninggal, aku tidak peduli kau sudah menikah. aku hanya peduli pada anakku," bentak Bared.
Krek...
"Aargghh...." teriakan Rico yang merasa kesakitan karena jarinya lagi-lagi di patahkan oleh Cole.
"Aargghh...Rico..." teriak Lonela yang merasa cemas.
"Nyonya Lonela, aku tidak ada kesabaran menghadapi orang sepertimu. dan jika kau masih memilih diam maka seterusnya leher dia yang akan ku patahkan," kecam Cole.
"Dia tidak meninggal!" teriak Lonela yang histeris sambil menangis.
"Katakan di mana dia?" tanya Bared.
"Aku meninggalkan dia sebuah panti asuhan," jawab Lonela sambil menangis tidak berhenti.
"Kau meninggalkan dia di sana?" tanya Bared dengan kesal sambil mengenggam tangan mantan istrinya itu dengan erat.
"Aarghh..." jerita Lonela yang merasa kesakitan.
"Katakan cepat! di panti asuhan mana kau tinggalkan dia?" tanya Bared dengan emosi tinggi.
"Panti asuhan yang bernama Sosial," jawab Lonela dengan histeris.
"Kau sangat keterlaluan! kau membawanya pergi dan meninggalkan dia di panti asuhan, dia masih kecil dan tidak bersalah. kau menyalahkan ku karena hidupku adalah gangster, akan tetapi aku tidak pernah mengabaikan keluargaku, apa lagi anakku. dan kau bisa begitu kejam meninggalkan dia di sana, kenapa?" bentak Bared sangking kesalnya.
"Aku juga memiliki kehidupan ku sendiri, aku harus menikah dan ingin hidup bahagia. jika aku meninggalkan dia di sana maka dia bisa menemukan keluarga baru yang akan mengadopsinya. jika dia ikut denganku maka hidup ku akan hancur!" teriak Lonela dengan nada keras.
Karena merasa kesal Bared melayangkan tamparan ke wajah Lonela.
Plak...
Tamparan kuat yang di lakukan oleh Bared.
"Aaarghhh..." teriakan Lonela.
"Kau sangat egois, kau memisahkan dia dariku, dan kau malah melantarkan dia!" bentak Bared dengan emosi.
"Aku adalah wanita yang butuh seorang pria untuk kehidupanku di masa tua, aku tidak merasa aku bersalah. karena setidaknya aku sudah melindungi dia darimu. jika dia bersamamu dia akan hidup dalam bahaya setiap saat," ujar Lonela yang menyentuh wajahnya yang bekas tamparan tadi.
"Alasan yang tidak masuk akal, aku memiliki sejumlah anggota. tidak ada yang bisa menyentuh keluargaku. semua ini hanya alasanmu untuk mengelak dari kesalahan saja," ketus Bared dengan merasa kesal.
"Apa karena pria ini kau meninggalkan cool di panti asuhan?" tanya Bared dengan sambil menahan emosi.
"Katakan!" bentak Bared dengan kesal.
"Iya...aku melakukannya demi diriku. demi kabahagiaanku. aku menikah dengannya dan meninggalkan Cool di panti asuhan. aku harus melakukannya dan kau tidak berhak menyalahkanku!" teriak Lolena yang tidak mengaku bersalah.
"Lonela, kau wanita yang paling brengs*k. jika kau ingin menikah dengan pria yang bukan dari kalangan gangster kau bisa pergi saja. aku tidak akan memohon padamu untuk tinggal. akan tetapi kau malah mengorbankan anak kita dan memilih pria ini. kenapa kau bisa begitu kejam!" bentak Bared.
"Panti bernama sosial? itu adalah tempat tinggalku di masa kecil," batin Cole
__ADS_1