
"Coba saja kalau kau berani aku pasti akan menghabisimu juga!" bentak Lonela yang merasa cemas.
"Wanita sepertimu apa yang tidak bisa kau lakukan, demi pria itu kau menjadi orang yang paling bodoh di dunia," bentak Cole dengan kesal.
"Steven, bawa dia masuk! jika dia masih berani bising maka sumbat saja mulutnya!" perintah Bared.
"Iya, Bos," jawab Steven dengan menurut.
Steven menarik lengan Lonela dengan kasar dan berjalan menuju ke kamarnya.
"Lepaskan aku!"
"Cepat lepaskan aku!"
"Kalian semua adalah baji.ngan!"
"Kurang ajar!"
"Bared, kau tidak akan bisa lagi bertemu dengan anakmu, dia pasti membencimu!" teriak Lonela tanpa berhenti.
"Wanita ini benar-benar tidak bisa di selamatkan lagi," ngeluh Bared.
"Paman, bibi dia...?" tanya Flower.
"Iya, sifatnya sangat keras. dia bahkan tidak menyesal dengan semua perbuatannya. dia sudah bukan bibimu yang dulu," jawab Bared.
Flower lalu bangkit dari tempat duduknya dan berdiri di depan Bared dengan berkata, "Paman, jangan di pikirkan lagi. paman tidak sendirian, paman masih ada kami."
"Gadis kecil, paman tidak sedih mengenai wanita itu lagi. paman hanya berharap bisa segera bertemu dengan kakak sepupumu," jawab Bared dengan mengelus ujung kepalanya Flower.
"Paman pasti bisa bertemu dengan kakak dalam waktu dekat," ucap Flower yang berusaha menenangkan pamannya itu.
"Benar...benar...hahahaha....," jawab Bared dengan tertawa.
"Jika tuan Bared memang orang tua ku maka nona Flower adalah adik sepupuku, jika memang iya, pantas saja dari awal aku sudah merasakan dia seperti adikku. aku akan mencari kesempatan untuk rmengambil sampel dari tubuh tuan Bared agar bisa melakukan tes DNA," batin Cole.
Mansion Andrew.
Prak...
Hentakan meja yang di lakukan oleh Andrew.
"Semua anggota yang kita kirim tidak ada yang berhasil, semuanya tidak berguna sekali. mereka hanya kirim nyawa," bentak Andrew dengan kesal.
"Bos, aku akan kirim lebih banyak anggota," ujar Ekin.
"Selama ini sudah berapa banyak anggota dan semuanya gagal, bahkan tidak bisa menyentuh sehelai rambut pria itu," ketus Andrew.
"Bos, rencana kita di gagalkan oleh Cole. jika tidak, maka rencana kita pasti berhasil," ucap Ekin.
__ADS_1
"Aku tidak mau mendengar omong kosongmu lagi, yang aku mau adalah nyawanya. apa saja yang dia lakukan belakangan ini?"
"Dia pergi ke suatu tempat, dan di sana ada rumah yang sudah lama tidak ada yang tempati. mungkin saja sana adalah tempat tinggalnya dulu," jelas Ekin.
"Ternyata dia ada kenangan di sini. pantas saja dia menetap lama di london. tapi, kemana pun dia pergi aku tetap tidak akan membiarkan dia hidup." ujar Andrew dengan tegas.
"Bos, apa yang harus kita lakukan, apakah kirim anggota lagi?"
"Lakukan saja! jika gagal maka teruskan kirim yang lebih banyak anggota!"
"Baik Bos," jawab Ekin.
Mansion Charles.
Di malam hari Charles sedang melakukan hubungan dengan pujaannya.
Flower yang harus melayani Charles berkali-kali ia hanya bisa menahan perih akibat gesekan yang tanpa berhenti. Charles yang sangat menyukai pujaannya melakukan dengan penuh na*su dan mencapai puncak berulang kali.
"Charles, ke-kenapa aku belum hamil lagi? kita sudah sering melakukannya?" tanya Flower yang sedang menahan rasa perih.
"Mungkin belum waktunya! kita harus bersabar saja ya!" jawab Charles yang sedang melakukan pergerakan di bawah sana.
"Charles sudah melakukannya dengan berulang kali, aku masih merasa perih walau sudah sering kami melakukannya," batin Flower.
"Tubuh gadis ini membuatku tidak ingin berhenti," batin Charles yang sedang mencapai puncak kesekian kalinya.
Setelah beberapa saat kemudian karena merasa lelah Flower akhirnya tertidur, sementara Charles berbaring di sampingnya dengan memeluk pujaannya itu.
Keesokan harinya.
Charles yang bangun duluan memasak sarapan pagi untuk dirinya dan Flower. setelah selesai memasak ia pun membawa ke kamarnya.
"Boneka ku tidur dengan pulas," ucap Charles yang mengecup dahinya Flower.
"Flower, sudah pagi. mari kita sarapan dulu!" panggil Charles dengan berbisik di telinga Flower.
"Charles, selamat pagi!" ucap Flower yang baru membuka matanya.
"Selamat pagi, sayang!" balas ucapan Charles dengan senyum.
"Aku sudah menyiapkan sarapan, ayo kita makan dulu!"ajak Charles dengan senyum.
"Aku mau cuci muka dulu!" ujar Flower yang bangkit dari tempat tidurnya.
Setelah beberapa menit kemudian. Charles bersarapan bersama dengan Flower.
Mansion Stallone.
"Bos, apa kita akan tetap tinggal di sini? kita sudah lama di london!" tanya Juve yang sedang berdiri di samping bosnya itu.
__ADS_1
"Lucy belum juga sadar walau sudah beberapa hari. aku tidak bisa pergi begitu saja,"jawab Stallone yang sedang menyantap makanannya.
"Bagaimana dengan ibunya?" tanya Stallone.
"Dia masih belum mengetahui kebenarannya."
"Jika gadis itu meninggal aku akan merasa bersalah seumur hidup, tidak tahu bagaimana caranya untuk memberitahu ibunya!"
"Bos, kondisi Lucy memang tidak stabil, dokter juga mengatakan kemungkinan kecil dia bisa sadar. dan berharap pihak keluarga siap mental."
"Mereka semua tidak berguna! cari dokter terbaik dari negara lain! berapapun biayanya aku akan menanggungnya!" perintah Stallone.
"Baik Bos," jawab Juve.
"Bos, nona Sandy ingin bertemu dengan Anda!"
"Katakan saja aku sedang keluar," jawab Stallone yang sedang menyantap makanannya.
"Baik Bos," jawab Juve.
"Urusanku dengan Charles belum selesai, aku ingin segera bertarung dengannya," ucap Stallone sambil meneguk air putih.
"Apakah bos masih ingin menjumpainya?"
"Tentu saja! itu tujuan utama ku ke london," jawab Stallone.
Stallone mengeluarkan handphone miliknya dan menekan nomor yang ingin dia hubungi.
"Hallo, kau di mana?" tanya Stallone yang sedang bicara dengan orang di seberang sana.
"Aku di tempatku, kenapa kau ingin menjumpaiku lagi? sahut Charles yang di seberang sana.
"Charles Robertson, urusan kita belum selesai dan ini sudah waktunya kita akhiri," ujar Stallone.
"Hidupmu sangat membosankan ya, sehingga suka menganggu kehidupan orang!"
"Aku tidak peduli kau setuju ataupun tidak, aku tetap ingin bertarung denganmu, jika kau tidak datang aku yang akan mendatangimu," kata Stallone dengan tegas
"Atur saja tempatnya!"
"Aku akan atur tempat yang sepi tanpa siapapun, aku tidak mau lagi pertarungan kita di ganggu oleh musuh-musuhmu."
"Kalau begitu kau atur saja sesuai keinginan mu, anggap saja aku sedang mengalah pada anak kecil."
"Siapa yang kau katakan anak kecil...ha?" teriak Stallone dengan merasa kesal.
"Kalau bukan kamu siapa lagi, kau sudah kalah berkali-kali tapi masih saja ingin bertarung!"
"Aku tidak puas dan aku belum kalah, di saat itu musuh-musuh mu datang menganggu, jadi pertarungan kita belum berakhir," ketus Stallone.
__ADS_1