
Steve yang merasa kesal dengan sikap ibunya ia pun menarik wanita itu keluar dari kamar
"Hei...ada apa denganmu? seharusnya kau usir wanita jal*ng itu" ketus Julia yang berada di luar kamar Vic bersama Steve dan tidak lama kemudian Winz pun ikut keluar dari kamar itu
"Apa masih belum cukup karena ulahmu papa hampir meninggal? dan sekarang masih saja mau ribut di rumah sakit?" ketus Steve dengan kesal
"Steve, kenapa kau harus membiarkan orang luar berada di kamar papamu?"
"Ma, Winz bukan orang luar, dia adalah dokter di sini dan juga teman ku, lagi pula walau orang luar memang kenapa? dia tidak menyakiti papa atau ribut dengan papa, tidak seperti dirimu yang datang tahunya hanya marah-marah saja" bentak Steve dengan kesal
"Bibi, aku berada di sini hanya ingin melihat paman tidak ada niat jahat, dan aku bukan wanita jal*ng" ujar Winz dengan menahan emosi
"Apa kau mengira aku tidak tahu niat mu untuk mendekati Steve, kau ingin mengambil hati putra ku dan suamiku agar kau di terima di keluarga kami, karena keluarga kami adalah keluarga yang kaya raya" kata Julia dengan nada ketus
"Hahahaha...Nyonya Austin, apa yang kamu katakan semua salah, aku juga putri dari seorang pengusaha yang kaya raya, aku memiliki papa yang memiliki bisnis yang di eropa dan asia, jadi kekayaan keluargaku tidak kalah dari keluarga Austin, aku rasa Anda sudah terlalu percaya diri hingga mengira aku ingin menjadi menantu keluargamu" jawab Winz dengan sengaja
"Apa maksudmu? kau menghina ku?"
"Nyonya Austin, aku juga tidak mau memiliki seorang suami yang memiliki bisnis pub, karena pria yang ku inginkan adalah pria yang tampan dan tinggi serta harus lebih kaya dariku, jika aku adalah dokter maka profesinya harus lebih cemerlang dariku, dan bukan seorang pengelola bisnis pub" jelas Winz dengan sengaja
"Kau sangat...?" ucap Julia yang terpotong
"Dan juga aku ingin memiliki mertua yang normal, oleh sebab itu keluarga Austin tidak cocok untuk levelku" lanjut Winz dengan senyum
Mendengar perkataan Wins, Steve hanya menahan tawa karena sudah tahu sifat temannya itu yang tidak pernah mau kalah dalam berdebat
"Dasar..?"
"Sudah tidak usah marah lagi, Nyonya Austin. semakin dirimu marah maka kulit mu semakin berkerut, apalagi di usia sudah tua begini jika saja wajahmu semakin berkerut maka paman pasti tidak akan melihatmu lagi, apalagi zaman sekarang banyak sekali janda yang berusia 40 hingga 50 tahun mereka semua sangat cantik, bahkan jauh lebih cantik darimu, jangan sampai paman merasa kecewa dengan sifatmu dan kemudian berpaling ke janda-janda itu, dan jika sampai terjadi maka menyesal tidak ada gunanya lagi" kata Winz dengan mengejek
"Oh iya, paman sangat kaya, jadi jika paman ingin menikah lagi ini sangat mudah baginya, andaikan jika paman bisa menikahi wanita yang bisa menjaganya serta wanita yang lembut dan tidak suka melawan aku yakin paman pasti akan sangat sangat mencintai wanita itu, dan di saat itu Anda sudah di singkirkan, jangan salah pria menyukai istri yang lembut, sedangkan Anda sangat kasar dari rambut hingga jari kaki Anda" kata Winz dengan senyum sinis
"Steve, aku pergi dulu, jika tidak mama mu pasti akan lebih cepat tua karena memarahi ku terus, dan aku sarankan kamu harus membawa mama mu melakukan perawatan wajah lihatlah kerutannya sudah muncul" ucap Winz dengan tertawa dan melangkah pergi
"Kau ini...?" ucap Julia yang menyentuh wajahnya
__ADS_1
"Apa yang dia katakan sangat benar, pria tidak suka wanita kasar, termasuk aku dan papa, aku tidak tahu betapa kecewa hati papa karena dirimu selalu saja bertengkar dengannya, sehingga menyebabkan dirinya harus berbaring di ranjang pasien" ujar Steve dengan merasa kecewa dan melangkah masuk ke kamar ayahnya
"Tidak, tidak mungkin, wanita itu hanya bicara sembarangan" gumam Julia
Di sisi lain Charles, Flower bersama Cole dan Harry telah tiba ke Villa Robertson
"Flower, mari kita istirahat dulu" ujar Charles yang mengendong Flower menuju ke kamar
Setelah di kamar Charles tidur dengan memeluk pujaan hatinya
Malam hari
Charles yang tidak bisa memejamkan matanya langsung menuju ke ruangan kerjanya, sementara Flower telah ketiduran karena merasa lelah
"Bos, sudah malam Anda tidak bisa tidur?" tanya Cole yang baru masuk ke ruangan itu bersama Harry
Aku tidak bisa memejamkan mataku, setiap membayangkan foto ayahku bersama Albert" jawab Charles yang sedang menuangkan minuman ke gelasnya
"Bos, sedang memikirkan perkataannya?" tanya Harry
"Apa rencana kita untuk menyelidiki kasus ini?" tanya Cole
"Menjumpai salah satu tetua" jawab Charles yang meneguk minumannya
"Siapa?" tanya Harry
"Cannon! dia adalah salah satu tetua yang seangkatan dengan tuan besar, jadi dia pasti tahu masa lalu ku" jawab Charles
"Jika dia sudah memihak ke tuan besar, apa mungkin dia akan mengatakan semuanya?" ujar Harry
"Kita gunakan saja cara kita" jawab Charles
"Cole, kau tahu apa yang harus di lakukan?" tanya Charles yang menatap ke arah pengawalnya itu
"Saya mengerti, Bos" jawab Cole dengan menunduk
__ADS_1
Keesokan harinya
Sarapan pagi
"Flower, paman Vic masuk ke rumah sakit, nanti siang aku ingin melihatnya, apa kamu mau ikut denganku?" tanya Charles yang sedang menyantap makanannya
"Mau! aku ingin pergi bersama mu" jawab Flower
"Iya, nanti siang kita pergi bersama" kata Charles dengan senyum
Rumah sakit
"Papa, bagaimana dengan mu?" tanya Steve yang sedang berdiri di samping ranjang
"Aku pingsan lagi" kata Vic dengan memijit dahinya
"Pa, dokter sudah menjelaskan jangan terbawa emosi dan tertekan, jadi jangan di pikirkan lagi"
"Setiap hari melihat wanita itu mana mungkin hidupku bisa tenang, dan kamu juga sudah melihat sikapnya itu selalu saja ingin menang" ujar Vic yang bangkit dan duduk bersandar di ranjang
"Pa, bagaimana jika papa tinggal di tempat ku dulu, aku bisa menjaga mu, dari pada mama setiap kali mengajak ribut dengan mu"
"Mengelak sehari tapi tidak bisa selamanya"
"Papa..?"
"Steve, ajukan penceraian, panggilkan William untuk mengurus surat penceraian"
"Bercerai?"
"Iya! Steve, kau sudah melihatnya, bagaimana sikapnya terhadapku, dia sudah keterlaluan, papa tidak ingin lagi bertemu dengannya, setelah William mengurus surat penceraian maka papa akan langsung tandatangan"
"Aku tidak bisa melarang keputusan papa, karena aku sudah melihat sikapnya dari kecil hingga dewasa, bahkan aku yang sebagai anaknya saja tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, dari aku kecil hingga dewasa dia tidak pernah menjagaku di saat aku sakit, dia hanya tahu pesan pada pembantu untuk menjagaku, sementara dia malah sibuk dengan temannya pergi shopping" kata Steve yang juga merasa kecewa
"Ini semua salah papa dan sudah melibatkanmu" ucap Vic dengan merasa bersalah
__ADS_1
"Pa, jangan berkata seperti itu, setidaknya aku masih memiliki papaku yang baik padaku selama ini, dan juga aku pernah merasakan kasih sayang dari bibi itu, jika saja bibi masih hidup aku sangat berharap papa dan bibi bisa bersatu kembali, dan aku bisa menjaga dan melindungi adikku" kata Steve dengan senyum