
"Cole, apa benar kamu tidak berharap bertemu dengan mereka?"
"Semua ini tergantung jodohnya saja, andaikan tidak berjodoh walau berharap juga sia-sia," jawab Cole dengan cuek.
"Tuan Bared, bagaimana ingin mencarinya karena sudah terlalu lama dan bahkan hanya jam liontin saja yang dia miliki."
"Tidak tahu, Cole. ini lebih sulit dari pada kita mengalahkan musuh," jawah Bared.
Keesokan harinya.
Charles dan Flower mendatangi tempat tinggal Bared.
"Paman," sapa Flower yang melangkah masuk ke dalam rumah.
"He....Flower, keponakanku!" sahut Bared dengan senyum.
"Kalian sudah datang, duduklah!" sambut Bared dengan merasa gembira.
"Bos," sapa Cole dengan hormat.
"Cole, aku sudah mendapat kabar dari paman Bared, kemarin kau melakukan dengan baik!" ucap Charles sambil menepuk pundak anak buahnya itu.
"Charles, pengawalmu ini telah menyelamatkanku dua kali, dia sangat luar biasa!" ujar Bared dengan tertawa.
"Hahahaha...Cole memang selalu melakukan tugasnya dengan baik," jawab Charles dengan tertawa.
"Paman, Cole, aku memasak sop walet untuk kalian. kalian harus habiskan ya!" kata Flower yang sedang menuang sop ke mangkuk dari rantangnya.
"Hahahaha...terima kasih Flower, kamu sangat perhatian," ucap Bared dengan tertawa.
"Silakan diminum, paman!"kata Flower yang menyerahkan mangkok berisi walet kepada pamannya.
"Akan paman habiskan, hehehehe!" ucap Bared.
"Cole, ini sopnya habiskan ya!" ujar Flower yang memberikan mangkok berisi walet itu kepada Cole.
"Terima kasih Nona," ucap Cole dengan sopan.
"Bos, bagaimana dengan pengikut Brad, apakah sudah di kalahkan?" tanya Cole yang sedang duduk bersama dengan mereka di sofa.
__ADS_1
"Semalam mereka sudah tewas, dan aku yakin tidak ada lagi yang tersisa," jawab Charles.
"Semasa hidup Brad selalu saja membuatmu kesulitan, dan tidak menyangka di saat dia sudah tidak ada masih saja menyulitkanmu, memang seperti hantu gentayangan saja dia!" kata Bared.
"Dia memiliki banyak anggota yang tersembunyi di masa hidupnya, selama hidup dia tidak percaya pada siapapun dan selalu merasa curiga pada orang sekitaran. sehingga dia tega melakukan hal yang menyakiti orang," ucap Charles.
"Nasib kita menjadi gangster harus kehilangan semuanya, terutama ahli keluarga," ujar Bared dengan raut wajah yang sedih.
"Paman, jangan bersedih! paman dan kakak sepupu pasti akan bertemu kembali, percayalah!" ucap Flower.
"Paman percaya dengan katamu, gadis kecil!" jawab Bared dengan membelai kepala keponakannya.
"Paman berharap hubunganmu dengan Charles akan kekal selamanya, apapun yang terjadi paman berharap tidak ada perpisahan di antara kalian, jangan seperti paman dan istri paman, bahkan harus terpisah dengan anak sendiri!" ujar Bared dengan berharap.
"Paman, jangan khawatir! Flower adalah istriku satu-satunya dan kami akan selalu bahagia," ucap Charles dengan senyum.
"Iya, Paman, jangan mencemaskan kami! paman tenang saja. kami akan selalu bahagia," lanjut Flower.
"Hahahahah...baik...baik...paman percaya dengan kalian," jawab Bared dengan tertawa.
"Paman, bagaimana dengan urusan Andrew, apakah belum ada rencana untuk menyelesaikan nya?" tanya Charles.
"Paman tidak ingin berseteru dengan dia, ini sangat membosankan. usiaku sudah tidak muda lagi, sudah tiga puluh tahun paman hidup di dunia gangster, dan terkadang juga sudah lelah," jawab Bared.
"BUKA PINTUNYA...BUKA PINTUNYA....." teriak Lonela yang suaranya terdengar dari kamar.
"Paman, siapa dia?" tanya Flower.
"Dia adalah bibimu yang pergi membawa pergi kakak sepupumu,"jawab Bared dengan sambil mengeleng kepala.
"Paman, sudah bertemu kembali dengan bibi, ini adalah kabar baik!" ucap Flower.
"Ini tidak baik sama sekali, Flower. dia memberiku berita buruk sehingga aku harus mengurungnya di dalam!" jawab Bared.
"Paman, bukankah Cool di bawa bibi, jadi kenapa paman merasa tidak senang?" tanya Charles.
Bared lalu menceritakan semua kejadian yang sebenarnya.
Setelah beberapa menit kemudian.
__ADS_1
"Paman, lalu untuk apa mengurung bibi di sini jika saja dia juga tidak tahu di mana keberadaan kakak sepupu?" tanya Flower.
"Paman hanya ingin meluruskan beberapa hal, paman berharap bisa bertemu kembali dengan Cool. dan menjelaskan semua yang sudah terjadi, paman tidak ingin Cool membenci ayahnya sendiri. karena semua ini adalah salah ibunya," jelas Bared.
"Paman, bagaimana caranya ingin mencari keberadaan Cool? apakah ada petunjuknya?" tanya Charles.
"Tidak ada petunjuk sama sekali!" jawab Bared.
"Tanpa petunjuk agak sulit untuk mencarinya!" ujar Charles.
"BUKA PINTUNYA...BUKA PINTUNYA...." teriak Lonela yang tanpa berhenti.
"Tuan, nyonya Lonela sudah berteriak dari tadi!" kata Steven yang baru menuju ke ruang tamu.
"Keluarkan dia!" perintah Bared.
"Baik Tuan," jawab Steven yang melangkah menuju ke kamar wanita itu.
Setelah beberapa saat kemudian.
Lonela yang keluar dari kamar sambil berjalan menuju ke ruang tamu dengan berteriak, "BARED, KAU SANGAT KURANG AJAR DAN BUKAN MANUSIA, SEMALAMAN KAU MENGURUNGKU DI DALAM KAMAR, AKU BISA SAJA MENUNTUTMU," teriak Lonela dengan nada setinggi langit.
"Apa kau sudah puas berteriak? ingin menuntutku, lakukan saja jika kau sanggup. aku juga bisa menuntutmu menelantarkan anak di panti asuhan," bentak Bared dengan kesal.
"Itu bukan salahku, itu semua salahmu!" ketus Lonela
"Menelantarkan anak kecil begitu saja kau mengatakan tidak bersalah? apa kau masih waras dan tidak punya akal sehat? Lonela, aku sangat menyesal menikah denganmu!" bentak Bared.
Di saat mereka sedang bertengkar hebat Charles dan Flower hanya bisa terdiam dan duduk di sofa ruangan itu, sementara Cole yang masih merasa ragu dengan hubungannya dengan Bared dan Lonela hanya bisa menahan emosi walau sebenarnya ia sangat ingin menghajar wanita itu.
"Kau berani berkata seperti itu, dulu kau yang mengejarku dan ingin merayuku, jangan lupa dulu aku sangat bodoh karena memilihmu. seharusnya aku tidak menikah denganmu," ketus Lonela.
"Aku menyesal karena tidak tahu sifat aslimu, sehingga aku tertarik padamu yang di saat itu bersikap lembut. tapi sekarang sikap mu berubah menjadi wanita kasar dan tidak punya hati yang tega membuang anak sendiri demi seorang pria," bentak Bared dengan nada kesal.
"Aku ingin pulang!" teriak Lonela yang ingin melangkah ke pintu besar akan tetapi di hentikan oleh Steven.
"Anda tidak izinkan pulang!" kata Steven dengan tegas.
Lonela yang merass kesal ingin melayangkan tangannya ke wajah pria itu akan tetapi tangannya di tahan oleh Cole dari belakang.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan, lepaskan tanganku!" teriak Lonela dengan menatap ke arah Cole
"Kalau kau membuat keributan lagi aku berjanji akan segera mengambil kepala suami mu itu ke depan matamu," kecam Cole yang melangkah maju sehingga membuat Lonela merasa cemas dan memundurkan langkahnya.