
"Vic, kita sudah menikah selama 35 tahun, putra kita juga sudah dewasa, tidak mungkin kita harus mengakhiri pernikahan kita di saat kita sudah tua," ucap Julia.
"Julia, coba saja kamu mengingat kembali selama 35 tahun ini apakah pernah kita merasa bahagia walau hanya satu hari saja? selama ini kau selalu saja ingin menang, aku selalu mengalah padamu, tapi kau mengatakan aku menganggapmu sebagai orang bodoh, saat aku merah kau menyalahkan aku tidak menganggapmu sebagai istriku. menurutmu apa yang harus ku lakukan agar kau merasa puas? pernikahan ini adalah satu penderitaan bagiku" kata Vic.
"Penderitaan? kita sudah bersama selama 35 tahun kau menganggapnya sebagai penderitaan? suka duka kita hadapi bersama dan sekarang kau ingin mencampakanku setelah kau sukses?" ucap Julia.
"Julia, aku tidak pernah menyulitkan hidupmu selama ini, dari awal kita bersama hidupmu sangat mewah, saat dulu perusahaan ku sedang bangkrut dan aku berhutang pada karyawan dan pihak Bank aku harus meminjam uang ke sana ke mari seperti pengemis, setelah uang itu sudah ku kumpulkan kau dengan sesuka hati mengunakan uang itu untuk membeli baju, kosmetik, dan lain-lain tanpa sepengetahuanku, padahal kau tahu uang itu aku harus untuk membayar gaji para karyawan dan melunasi hutangku. tapi kau tetap tidak ada pengertian sama sekali. di saat aku sedang menghadapi masalah kau malah tidak peduli dengan kondisiku. apa kau tahu bagaimana perasaan ku di saat itu? aku ingin mengakhiri hiudupku karena sudah putus asa. aku sangat kecewa denganmu di saat itu. tapi aku memilih bertahan agar tidak melakukan perkara bodoh, kalau saja aku sampai melakukannya itu artinya aku tidak bertanggung jawab terhadap karyawan ku dan juga putraku," ucap Vic.
"Pa, aku tahu kejadian perusahaan tapi aku tidak tahu kalau masalahnya begitu besar," ujar Steve.
"Julia, kau tidak pernah merasakan kekurangan apapun, tapi yang ku rasakan hanya kekecewaan saat bersamamu," kata Vic.
__ADS_1
"Kita sudah bersama selama 35 tahun," ucap Julia dengan sedih.
"Kau bersamaku hanya ingin menikmati kemewahan, apa kau tahu apa tanggung jawab sebagai seorang istri?"
"Vic...."
"Apakah selama ini kau pernah peduli padaku? di saat aku berbaring di ranjang pasien, kau masih saja ingin bertengkar, di matamu hanya kemewahan. sama sekali tidak memandangku sebagai suamimu."
"Aku berjanji akan berubah!"
"Apakah kamu benar-benar akan bercerai denganku?"
__ADS_1
"Jerry akan mengirim surat pencerai untukmu, kau pulang saja!"
"Aku tidak ingin bercerai, jangan melakukan itu padaku!" pinta Julia.
"Ma, biarkan papa istirahat dulu!" ujar Steve yang menarik lengan Julia keluar dari kamar itu.
"Steve, nasehatilah papamu, dia pasti hanya sekadar emosi saja, dan tidak berniat ingin bercerai," ucap Julia.
"Sudahlah, Ma. jangan melakukan sesuatu yang menyakiti papa lagi, kesehatan tidak baik dan tubuhnnya juga papa sangat lemah, aku tidak ingin melihat dia pingsan lagi. Ma, jangan salahkan papa! dia hanya melakukan yang terbaik untuk kita semua," ujar Steve.
"Ma, selama ini mama selalu saja menimbulkan keributan sehingga penyakit papa kambuh berkali-kali. untuk kali ini saja aku memohon padamu jangan memaksa dia lagi!" ucap Steve.
__ADS_1
"Steve, mama mengaku salah, keluarga kita tidak boleh terpecah. mama tidak akan bertengkar lagi dengan papamu," kata Julia
"Setelah kalian bercerai papa akan tinggal bersamaku, aku tidak ingin papa hidup dalam tekanan lagi. Ma, jangan khawatir. orang bilang walau ayah dan ibu pisah jalan, hubungan anak dengan orang tua akan tetap terjalin. aku tetap akan berbakti padamu. aku tetap putrmu," ucap Steve yang kemudian melangkah masuk ke dalam kamar ayahnya.