Cruel Love Of Gangster

Cruel Love Of Gangster
Persidangan


__ADS_3

"Selidiki lagi! aku yakin dia masih di london!" perintah Andrew.


"Baik! akan saya lakukan!" jawab Ekin.


"Sebesar apapun kota ini tidak mungkin seseorang bisa menghilang begitu saja," gumam Andrew.


Mansion Charles.


Charles dan Flower kembali ke tempat tinggal mereka setelah beberapa hari tinggal di markas.


"Flower, apakah persidangan besok kau akan pergi?" tanya Charles yang membuka kancing kemejanya.


"Tidak! aku tidak mau melihat mereka lagi, setiap melihat mereka aku akan mengingat semua kejadian di hari itu," jawab yang sedang duduk di kasur.


"Baiklah! kalau kamu tidak mau hadir! kalau kamu mau pergi aku akan menemanimu!" jawab Charles.


"Aku tidak mau memikirkan hal ini lagi, aku hanya berharap dia mendapat hukuman yang setimpal, lagi pula di saat itu mereka sudah mendapatkan bukti penyiksaan dari ku, dan untuk keputusan dari hakim cukup papa dan kakak saja yang hadir!" jelas Flower.


"Aku mengerti perasaanmu! jangan mengingat kejadian masa lalu lagi, dan ingat saja hidup kita sekarang dan masa depan, kita akan bahagia selamanya!" ucap Charles dengan senyum.


"Iya, aku tidak akan mengingatnya lagi!" jawab Flower.


"Mari kita mandi bersama!" ajak Charles yang mengendong Flower menuju ke kamar mandi.


Saat di kamar mandi Charles melepaskan semua pakaian pujaannya, dan kemudian menghidupkan shower dengan bermandi air hangat. ia mengosok setiap sisi tubuh pujaannya itu dengan mengunakan sponge sambil mencium bibirnya.


"Apa airnya cukup hangat?" tanya Charles dengan mengosok punggung kekasihnya itu.


"Cukup! Charles, biarkan aku melakukannya sendiri," kata Flower.


"Aku akan melakukannya untuk mu setiap hari," jawab Charles.


Charles melihat semua bekas luka yang ada di tubuh pujaannya membuatnya merasa perih, karena masih tidak bisa menerima betapa sulit dan menderitanya hidup sang pujaan hatinya di masa lalu.


Setelah selesai mandi Charles mengeringkan rambut Flower yang panjang lurus dan halus. ia melakukan sambil tersenyum, sementara Flower yang sedang duduk di depan meja rias melihat ke arah cermin mendapati Charles yang sedang tersenyum.


"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Flower dengan merasa heran.


"Karena aku merasa bahagia!" jawab Charles dengan senyum.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena aku memiliki kesempatan untuk melakukan semuanya untukmu!" jawab Charles yang melihat ke arah cermin.


"Melakukan semua untukku?"


"Iya! untuk ke depannya biarkan aku yang memandikanmu dan mengeringkan rambutmu," jawab Charles yang sambil mengeringkan rambut pujaannya dengan mengunakan hair dryer.


"Aku merasa tidak perlu! karena aku bisa melakukannya sendiri."


"Aku ingin melakukannya untukmu, dan aku ingin merawatmu dengan baik!"


"Kau sudah melakukannya dengan baik! dan aku dalam keadaan baik dan bahagia!" ucap Flower dengan senyum.


Charles meletakan hair dryer di meja rias dan memutarkan kursi Flower dan berhadapan dengannya.


"Serahkan hidupmu padaku! aku akan melindungimu, merawatmu, membuatmu bahagia setiap saat!" ucap Charles dengan mengecup dahinya Flower.


"Sejak aku bersamamu aku selalu bahagia, karena kamu selalu melindungiku dengan baik!" jawab Flower dengan senyum.


"Aku mencintaimu, Flower!" ucap Charles dengan mencium bibir pujaannya.


"Flower, aku ingin sesuatu darimu!" kata Charles yang melepaskan ciumannya.


"Aku ingin anak darimu!" jawab Charles.


"Apa kamu menyukai anak kecil?"


"Iya! aku menyukai anak yang dilahirkan dari rahimmu, oleh karena itu aku ingin anak darimu!" jawab Charles mencium bibir pujaannya


"Berapa orang anak yang kamu mau?" tanya Flower yang melepaskan ciumannya.


"Dua! anak laki-laki dan anak perempuan," jawab Charles yang mengendong Flower dan menidurkannya ke kasur.


"Aku ingin anak perempuan kita mirip denganmu, dan anak laki-laki harus bisa melindungi semua orang yang di sisinya," kata Charles sambil melepaskan pakaiannya dan mencium bibir pujaannya.


Setelah tanpa sehelai benang pada tubuh mereka, Charles langsung melakukan penyatuan dan mencium kekasih pujaannya itu.


Di suatu tempat terdapat sejumlah pria yang bersenjata sedang berkumpul.

__ADS_1


"Tuan besar sudah lama meninggal akan tetapi kita masih belum berhasil membunuh orang yang menyebabkan kematian tuan besar," kata salah satu pria bersenjata itu.


"Dia sangat tangguh! sudah banyak saudara kita yang tewas di tangannya, kemarin saudara kita juga tewas dan tidak ada yang hidup lagi. dia selalu saja bernasib baik. kita harus mencari kesempatan untuk serang bersama-sama."


"Jumlah kita sekitar seratus lima puluh lagi, aku yakin kita akan bisa membunuhnya, di saat dia bersendirian."


"Kemana pun dia pergi pasti ada yang mengawalnya!"


"Kita akan muncul dan menyerangnya sekaligus, aku mau melihat apa dia bisa melawan dengan jumlah kita yang lebih unggul ini."


"Kita awasi saja setiap saat! kita akan menunggu waktu yang tepat, kali ini jangan ada kelalaian lagi. karena kita akan melakukan serangan bersama-sama."


"Mulai besok aku akan mengintai dari jarak jauh, setiap gerak-geriknya."


"Lakukan dengan hati-hati! jangan ketahuan oleh mereka, dia juga memiliki anggota yang hebat, jangan jatuh ke tangan mereka, jika sampai terjadi maka sama saja kalian harus mati!"


"Kami akan berhati-hati!"


Sebanyak seratus lima puluh pria bersenjata itu adalah pengikut Brad yang masih tersisa, selama ini mereka selalu saja ingin mencari kesempatan untuk membunuh musuhnya itu. akan tetapi nasib berkata lain, setiap teman mereka yang menyerang Charles tewas hingga tak tersisa, dan kini hanya sisa seratus lima puluh orang.


HARI SELASA.


Hari selasa adalah hari yang di mana hakim memutuskan hukuman untuk keluarga Clisten, di saat itu Vic hadir bersama Steve di pengadilan.


Di sisi lain Bared sedang menunggu di mobil, dirinya tidak ingin hadir di persidangan tersebut, karena memiliki rencana lain untuk menghadapi Mark Clisten.


"Tuan, kenapa kita tidak masuk saja?" tanya Steven yang sedang duduk di kursi supir.


" Aku tidak peduli alasan apa dia di hukum, aku hanya ingin mengambil nyawanya dengan caraku sendiri, dia harus di siksa sebelum di bunuh!" jawab Bared.


"Tuan, anggota kita sedang menunggu kesempatan untuk membawanya pergi, setelah selesai persidangan maka dia pasti akan jatuh ke tangan kita!"ujar Steven.


"Hm...kemunculan kita jangan di ketahui oleh siapapun," kata Bared yang sedang menatap keluar jendela.


"Di sini tidak ada yang mengintai, lagi pula dia berurusan dengan Vic Austin. jadi, tidak akan ada yang mengawasinya, karena Vic adalah pebisnis!"jelas Steven.


Dalam pengadilan semua telah hadir, tersangka pembunuhan Mark Clisten serta istri dan anak tirinya di hadapkan di pengadilan dalam kondisi di borgol ke dua tangannya.


Vic yang melihat ke arah pria yang telah membunuh kekasihnya merasa emosi terpendam dan mengepal ke dua kepalan tangannya.

__ADS_1


Steve yang duduk di samping melihat ayahnya yang sedang menahan emosi, dirinya pun berusaha ingin menenangkan ayahnya itu


"Pa, bersabarlah! jangan emosi. dia tidak akan lolos dia akan segera mendapat balasannya," bujuk Steve yang memegang tangan ayahnya.


__ADS_2