
"Charles Robertson, apa kau sudah gila ya! dia sedang putus asa tapi kau malah melakukan ini padanya!" bentak Stallone dengan kesal.
"Charles, kau akan melukainya," ucap Flower yang ingin menghampiri wanita itu yang sedang kesakitan dan tepar di lantai itu.
"Flower, tidak usah dekat dengan dia! wanita ini jika ingin bunuh diri mana mungkin masih buang waktu lagi, orang yang ingin mati maka dia akan langsung melompat!" kata Charles yang sedang menahan lengan Flower.
"Sakit sekali! Tuan, aku tidak menyinggungmu, kenapa kau melakukan ini padaku?" erang Jesse yang sedang kesakitan.
"Aku hanya tidak suka melihat orang yang suka berakting, kalau kau mau mati, silakan saja," bentak Charles yang melangkah pergi sambil merangkul pundak Flower.
"Hei...kau ini...apa perlu kau bersikap kasar pada seorang wanita?" teriak Stallone.
"Apa kau tidak apa-apa, Nona?" tanya Stallone sambil menjongkok.
"Tubuhku sakit sekali! ini sudah tidak penting," jawab Jesse yang berusaha bangkit dan ingin berjalan ke tempat ia berdiri tadi.
"Hei....Nona, jangan melakukannya!" teriak Stallone yang menghadang Jesse dengan menarik tangannya.
"Jangan menghadangku, Tuan. hidupku sudah tidak berarti sama sekali. biarkan saja aku mati," kata Jesse yang sambil menangis dan melepaskan pegangan Stallone.
"Hei...jangan melakukan perkara bodoh, aku akan membantumu agar kau bisa pulang ke kampungmu, aku akan memberi biaya untukmu. kau tidak perlu putus asa begini," kata Stallone yang sedang menahan lengan Jesse yang sedang menangis dengan histeris.
"Tuan, aku sudah tidak ada tempat tinggal, kemana aku harus pergi?" ucap Jesse yang menangis dengan sedih.
"Untuk sementara kau tinggal saja di rumahku selama dua hari, setelah aku pesan tiketmu maka lusa kau bisa pulang ke kampungmu," jawab Stallone.
"Bagus! akhirnya aku berhasil. dua hari? yang ku inginkan bukan dua hari tapi selamanya, selama ini Andrew tidak ingin menyentuhku lagi setelah kejadian malam itu, padahal niatku adalah ingin hamil anaknya. akan tetapi jika aku berhasil hamil anak pria ini aku yakin dia pasti akan menikahiku. dia adalah gangster kamboja dan juga tampan, ke depannya aku akan menjadi istrinya," batin Jesse.
"Terima kasih, Tuan," ucap Jesse yang berlutut di hadapan Stallone.
"Sudah jangan berterima kasih padaku, berdirilah," sahut Stallone yang memapah wanita itu.
"Charles, kenapa tadi kau begitu kasar pada kakak itu?" tanya Flower yang sedang berada di kamarnya. dan duduk di ranjang.
"Flower, wanita itu hanya berpura-pura saja, jangan percaya padanya!" jawab Charles yang duduk di samping Flower.
"Bagaimana kau bisa tahu jika dia hanya berpura-pura saja? dan untuk apa dia melakukan itu?
"Aku tidak tahu apa niatnya, yang jelasnya niatnya memang tidak baik. seseorang jika ingin mengakhiri hidupnya maka dia tidak akan menunggu lagi, kau bayangkan saja kita berada di sana hampir setengah jam akan tetapi dia tidak melakukannya, bukankah ini sangat kelihatan dia hanya akting saja. mungkin saja Andrew sudah tahu niat wanita ini, oleh karena itu dia memutuskannya," jelas Charles.
"Untuk apa dia harus berpura-pura melakukan itu? Andrew juga tidak tahu jika dia melakukannya," ujar Flower dengan merasa penasaran.
Tidak lama kemudian Stallone bersama Jesse melangkah masuk ke kamar Flower.
"Untuk apa kau ke sini?" tanya Charles dengan bersikap dingin.
"Aku tidak sepertimu yang tidak punya hati nurani, nona ini akan ku bantu untuk dia pulang ke kampung," jawab Stallone.
"Itu urusanmu tidak ada hubungan dengan kami! untuk apa kau membawanya ke sini?" ketus Charles.
"Tuan, Nona, maaf. atas ketidaknyamanan ini, aku telah merepotkan kalian!" ucap Jesse dengan menunduk.
"Kami tidak butuh permintaanmaafmu. pergilah jangan muncul di hadapanku,"ketus Charles.
"Charles Robertson, apa kau perlu bicara seperti ini? kenapa kau tidak bisa jaga mulutmu!" bentak Stallone dengan kesal.
"Di hadapan orang berpura-pura aku tidak akan bisa menjaga mulutku, dan aku juga tidak sebodoh dirimu yang termakan dengan rayuan air mata wanita, sudah kalian pergi sana. jangan muncul di sini lagi!" ketus Charles.
"Kau ini sangat keterlaluan!" bentak Stallone dengan kesal.
"Dari pada kau yang sudah dewasa tapi bodoh sehingga bisa masuk ke dalam perangkap rubah," ketus Charles.
"Sia- sia bicara denganmu! niat dia datang untuk minta maaf denganmu, tapi kau malah begitu kasar," ketus Stallone.
"Aku tidak butuh! kalian sudah boleh pergi dan aku yakin kau pasti akan menyesal, dan kau adalah pria yang suka bermain dengan wanita, jadi kalian sangat serasi," ucap Charles.
"Sudah! mari kita pergi saja! percuma bicara dengan orang seperti dia!" ketus Stallone.
"Urusan kita berdua belum berakhir," kata Stallone dengan tegas.
"Aku akan melayanimu di saat kau sudah siap mental!" jawab Charles.
"Aku tidak takut padamu! hari ini karena Flower masih di sini maka aku lepaskan dulu niatku untuk bertarung denganmu."
"Aku tidak akan mengucapkan terima kasih padamu dengan perkataanmu itu, dan kau belum tentu bisa mengalahkan ku juga," jawab Charles.
"Kalian jangan bertengkar lagi! di sini adalah rumah sakit," kata Flower yang ingin menghentikan perdebatan mereka.
"Flower, kalau begitu aku pulang dulu! lain waktu aku akan ke sini lagi!" ujar Stallone.
__ADS_1
"Terima kasih!" ucap Flower dengan ramah.
Tidak lama kemudian Stallone dan Jesse meninggalkan rumah sakit.
"Kenapa kalian selalu saja bertengkar? apa dendam kalian begitu dalam sehingga tidak bisa berdamai?" tanya Flower.
"Dia yang selalu ingin mencari masalah denganku, biarkan saja!" jawab Charles dengan senyum.
"Apakah kakak itu sangat jahat sehingga kamu begitu kasar padanya?"
"Aku bisa menilai seseorang dengan sifatnya, dan aku yakin si brengs*k itu pasti akan menyesalinya," jawab Charles.
Setelah beberapa menit kemudian Bared datang menemui keponakannya itu.
Klek
"Flower," sapa Bared yang baru melangkah masuk ke kamar.
"Paman," balas sapaan Flower.
"Tuan Bared, Anda datang," sapa Charles dengan ramah dan bangkit dari tempat duduknya.
"Charles, kau adalah calon suami keponakanku dan kau harus memanggilku paman," kata Bared dengan senyum.
"Selama bertahun-tahun aku memanggilmu tuan Bared dan kini aku harus membiasakan diriku untuk memanggilmu paman," kata Charles dengan tertawa kecil.
"Hahahaha...aku sangat tidak menyangka kita berteman sudah begitu lama, ternyata kau adalah calon suami keponakanku. ini adalah kejutan bagiku," ujar Bared dengan merasa gembira.
"Flower, paman terlambat untuk datang membawamu keluar dari keluarga Clisten, sehingga dirimu di siksa selama ini. paman sangat lalai mengenai mamamu, paman juga gagal melindunginya," ucap Bared dengan merasa bersalah.
"Ini semua sudah berlalu, Paman. jangan di pikirkan lagi, sekarang kita bisa berkumpul, ini adalah hal yang sangat mengembirakan," kata Flower dengan senyum.
"Flower, apa kamu tidak menyalahkan paman atas sikap paman terhadap mamamu?"
"Tidak! paman tidak menyetujui hubungan mama dan Mark karena demi kebaikan mama juga, ini tidak bisa menyalahkan paman. semua ini adalah salah pria itu," jawab Flower.
"Flower, mulai hari ini paman akan selalu menjaga mu, katakan apa permintaanmu akan paman kabulkan!"
"Flower hanya ada satu permintaan, yaitu semua orang yang di sisiku harus hidup dengan baik dan selalu bahagia," jawab Flower dengan senyum.
"Hahahaha....jadi hanya ini keinginanmu?"tanya Bared dengan tertawa.
Bared duduk di hadapan keponakannya itu lalu memeluknya dengan rasa bahagia.
"Keponakanku yang baik! dirimu sangat mirip dengan Ella," kata Bared yang sambil memeluk Flower.
"Paman, aku ingin mendengar tentang mama di saat dia masih muda dulu, apa paman bisa ceritakan tentang mama!" pinta Flower.
"Paman akan menceritakan semua yang kamu ingin tahu," jawab Bared.
Setelah satu jam kemudian.
Bared telah menceritakan semua mengenai Ella di masa mudanya, Flower yang selama ini tidak mengetahui banyak tentang sang ibunya kini ia telah mengetahui semua kehidupan yang di lalui oleh ibunya di masa lalu.
"Dulu paman dan mamamu hidup saling bergantung, di keluarga kami hanya sisa kami berdua. kakek mu juga adalah gangster. suatu malam datang sekumpulan orang yang bersenjata mendatangi rumah kami, di saat itu paman baru berusia dua puluh tahun dan mamamu tujuh belas tahun, kami melihat orang-orang itu membunuh kakek dan nenekmu. karena jumlah yang banyak demi melindungi mamamu, maka paman bersembunyi di lemari bersama mamamu, kakek dan nenekmu di bantai puluhan orang dan meninggal langsung di tempat. setelah itu paman dan mamamu pergi meninggalkan rumah. paman bersumpah akan membalas dendam. dan kemudian paman berhasil," jelas Bared.
"Tidak menyangka mama adalah keturunan gangster juga," ujar Flower.
"Paman tidak mau mamamu terlibat dengan semua urusan gangster, oleh karena itu mamamu hanya belajar di kampus dan tidak tahu bagaimana caranya dia memilih pria itu menjadi suaminya, siapa yang menyangka menikah dengan pria itu sama seperti bunuh diri." ujar Bared dengan merasa kecewa.
"Dan kenapa di saat itu paman bisa di penjara?"tanya Flower dengan penasaran.
"Paman terlibat dalam perseteruan antara gangster, di saat polisi datang paman masih fokus membantai mereka, dan paman menyesal karena jika di saat itu paman tidak di penjara maka mamamu tidak akan di bunuh, dan si brengs*k itu juga tidak akan hidup hingga sekarang."
"Paman, jangan menyesal lagi! semua ini sudah berlalu," kata Flower.
"Flower, anak baik. setidaknya sebelum paman meninggal paman masih bisa melihatmu dan kamu sudah bahagia bersama Charles. dan paman juga tidak akan merasa khawatir lagi. hanya saja paman masih ada penyesalan tentang satu hal," ucap Bared.
"Mengenai apa, Paman?" tanya Flower.
"Mengenai putra paman yang telah terpisah dari sejak dia kecil," jawab Bared.
"Paman, apakah hingga sekarang belum ada kabar?" tanya Charles.
"Belum ada kabar! tidak tahu istriku membawanya kemana dan mereka ada di mana," jawab Bared dengan mengeleng kepala.
"Paman, apa dia adalah kakak sepupuku?" tanya Flower.
"Iya, dia lebih tua dari mu, usianya tiga puluh tahun sekarang, dan masih belum di temukan!"jawab Bared.
__ADS_1
"Kenapa bisa terpisah?" tanya Flower.
"Bibimu takut hidup bersama paman, karena hidup di dunia gangster sangat tidak mudah, oleh karena itu dia membawa pergi anak paman, sudah sekian lama tidak ada kabar mereka. tidak tahu mereka ada di mana!" jelas Bared.
"Apakah ada petunjuk agar lebih mudah untuk mencari keberadaannya?" tanya Charles.
"Kalung! sebuah kalung liontin. di saat dia di lahirkan aku memberikan dia kalung liontin. akan tetapi sangat sulit jika hanya mengandalkan kalung itu," jawab Bared dengan menarik nafas panjang.
"Paman, apakah ada memiliki foto bibi dan kakak sepupu?" tanya Flower.
"Paman tidak memiliki foto mereka sama sekali!" jawab Bared dengan merasa sedih.
"Paman, jangan bersedih! pasti suatu saat paman akan bertemu kembali dengan kakak sepupu, seperti aku bertemu dengan papa. setelah terpisah sekian tahun," ucap Flower yang berusaha memenangkan pamannya itu.
Bared yang melihat keponakannya itu dengan tersenyum dan mengelus ujung kepalanya.
"Benar katamu, Flower. hubungan anak dan orang tua tidak akan terpisah, paman yakin suatu saat kami pasti akan berkumpul kembali," jawab Bared dengan senyum.
"Paman, di dunia ini banyak yang memiliki kalung liontin, dan bagaimana bisa membedakannya? apakah ada perbedaan kalung liontin dengan yang lainnya?"tanya Charles.
"Dalam liontin adalah jam, sebelum bibimu membawanya pergi, jam yang di dalam liontin sudah tidak berfungsi atau tidak bisa jalan lagi jarumnya, jika aku melihatnya sekarang aku masih bisa mengenalnya, walau sudah lama. hanya saja apakah dia masih membawanya atau tidak," jawab Bared.
"Paman, siapa nama kakak sepupu?" tanya Flower.
"Namanya ada Cool!" jawab Bared.
"Cool?" tanya Flower dengan merasa penasaran.
"Iya, di saat kakak sepupu mu berusia dua bulan, paman dan bibimu membawa dia menemui seorang penilik untuk mencari nama yang sesuai untuknya, si penilik itu mengatakan jika kakak mu itu sifatnya sangat dingin seperti salju dan keras seperti batu, oleh sebab itu dia di berikan nama Cool," jelas Bared.
"Aku penasaran di mana kakak sekarang berada," ujar Flower.
"Seperti yang kamu katakan kami pasti akan bertemu kembali di saat jodoh kami sudah tiba," ucap Bared.
Tidak lama kemudian Cole dan Harry melangkah masuk ke kamar.
Klek.
"Bos," sapa Cole dan Harry dengan serentak.
"Cole, Harry, ada apa?" tanya Charles.
"Bos, ada anggota kita mengatakan jika mereka melihat sekumpulan orang yang bersenjata yang tinggal suatu tempat agak terpencil di hutan sana!" jawab Cole.
"Anggota kita mengikuti mereka, jumlahnya sekitar seratus lima lebih," lanjut Harry.
"Apakah mereka adalah pengikut Brad yang masih hidup?" tanya Charles.
"Kami mencurigai mereka adalah pengikut Brad! Bos, apa yang harus kita lakukan?" tanya Harry.
"Awasi dulu jangan bertindak sebelum memastikan!" perintah Charles.
"Charles, apa butuh bantuan anggotaku?" tanya Bared.
"Untuk saat ini aku bisa mengatasinya," jawab Charles.
"Jumlah mereka tidak sedikit, kau harus berhati-hati!" kata Bared.
"Selama ini aku memang sedang mencari mereka, dan jika yang di lihat anggotaku adalah pengikut Bared maka kami akan bertindak langsung," ujar Charles.
"Stone sedang menuju ke sana bersama anggota lainnya untuk memastikan, dia akan menghubungi kita setelah sudah mendapatkan kepastiannya," kata Cole.
"Kita menunggu saja kabar mereka!" ucap Charles.
"Baik Bos," jawab Cole dan Harry dengan serentak.
Mansion Stallone.
Di malam itu Jesse sedang menyiapkan makan malam di dapur, sementara Stallone masih sedang menikmati minuman favoritnya di ruangan.
Jesse yang sudah selesai memasak mengambil bungkusan kecil dari sakunya, ia membuka bungkusan tersebut yang berisi serbuk putih dan kemudian dia mencampurkan ke mangkok yang berisi sop dan hidangan lainnya. setelah selesai dia mengaduk semua lauk hingga merata lalu dia membawa lauk-lauknya ke meja makan.
"Tuan Stallone, mari kita makan!", ajak Jesse.
"Kenapa kau memasak? bukannya tadi aku sudah mengatakan jika aku pesan makanan luar saja!"
"Hari ini tuan sudah banyak membantuku, setidaknya biarkan aku membalas kebaikanmu," ucap Jesse.
"Baiklah! kalau begitu, mari kita makan bersama," jawab Stallone yang duduk di kursi makan.
__ADS_1
Stallone makan dengan begitu lahap setiap lauk yang di atas meja tanpa merasa curiga, tidak ada yang tahu obat apa yang telah di campur oleh wanita itu.