
"Papa, mama, dendam kalian sudah ku balas, Brad Robertson sudah tewas dengan kumpulannya, di dunia ini tidak akan ada Red Lion lagi, semua sudah berakhir," batin Charles.
Setelah beberapa menit kemudian Charles bersama anggotanya meninggalkan tempat itu, sebuah tempat yang meninggalkan luka bagi Charles, di sana adalah tempat dia di besarkan, tempat dia bertarung dengan sesama saat dia masih kecil, demi berjuang untuk hidup, dan selain itu dia juga harus kehilangan keluarganya karena posisi ketua di Red Lion, bagaikan mimpi buruk yang telah ikut terbakar dalam kobaran api yang marak.
"Selamat tinggal masa lalu, mulai hari ini aku adalah Micheal Care dan bukan lagi Charles Robertson, semua kenangan telah menjadi abu bersama Red Lion," batin Brad.
Setelah beberapa hari kemudian.
Markas Black Dragon
"Hiak...hiak...hiak...hiak...hiak!" jerit Liza yang sedang menyerang lawannya tanpa berhenti.
"Apa hanya ini jurusmu? sangat membosankan?" ketus Cole yang sedang menahan tangan Liza.
Liza membalikkan badannya dengan membelakangi Cole dan ingin menghantam tubuh Cole dengan sikunya, karena bisa membaca gerakan lawannya Cole langsung memundurkan langkah ke belakang, dan kemudian melayangkan kakinya ke arah tubuh Liza sehingga membuat gadis itu merasa sakit.
Bruk.
"Aaargh!" jeritan Liza.
Liza lalu mengeluarkan dua senjata tajamnya menyerang lawannya itu, serang atas bawah dan kiri kanan, Cole yang berusaha mengelak dan lalu melompat tinggi sambil membalikkan badan, kemudian dia membalas serangan Liza dengan tanpa berhenti.
"Dasar kurang waras!" ketus Cole dengan kesal dan sambil menyerang lawannya sehingga membuat Liza harus mengelak dengan cepat.
"Kau yang kurang waras!" bentak Liza dengan emosi.
Di saat mereka sedang bertarung Harry hanya menonton aksi mereka sambil menikmati minuman favoritnya. dan tidak lama kemudian Curry dan Yona yang mendengar ada keributan di luar markas langsung berlari keluar.
"Kenapa mereka bertarung lagi?" tanya Curry dengan kebinggungan.
"Harry, kenapa kau hanya duduk diam di sini?" tanya Yona yang menghampiri Harry.
"Lalu, kau ingin aku melakukan apa jika aku tidak duduk di sini?" tanya Harry.
"Setidaknya kau menghalang mereka!" ujar Curry.
"Curry, Yona, mereka itu bukan hanya sama-sama kepala batu, tapi juga tidak waras, hanya karena masalah kecil saja mereka sudah bertarung!" ucap Harry.
"Memangnya karena masalah apa?" tanya Curry dan Yona dengan serentak.
"Hanya karena menanam bunga," jawab Harry.
"Ada apa dengan menanam bunga?" tanya Yona dengan merasa heran.
__ADS_1
"Liza ingin menanam bunga di depan markas, sementara Cole melarangnya dan terjadilah perdebatan, saat aku masih di sini mereka hanya berdebat, kemudian aku masuk ke dalam hanya mengambil minuman sebentar, dan baru hanya dua menit saja aku masuk, dan saat keluar mereka sudah begini," jelas Harry yang panjang lebar.
"Hanya masalah kecil menjadi begini?" tanya Curry.
"Makanya aku mengatakan jika mereka sama-sama tidak waras!" ucap Harry merasa kesal dengan sikap temannya itu.
"Apakah mereka tidak bisa saling mengalah?" tanya Yona.
"Kalau si kepala batu itu tidak akan mengalah, terutama terhadap wanita," jelas Harry.
"Tidak mungkin kita biarkan mereka begini terus, nanti Liza terluka lagi," ucap Curry.
" Kalau kalian ikut campur aku yakin kalian yang akan terluka," kata Harry.
"Kenapa?" tanya Curry dan Yona dengan serentak.
" Karena yang satu kurang waras dan yang satu lagi kepala batu, jadi mereka sama-sama menjadi tidak waras!" jawab Harry.
Brugh..
Tendangan Cole mengenai kaki Liza sehingga menyebabkan Liza jatuh terpelanting.
Bruk..
" Aargh!" jerit Liza yang merasa kesakitan.
"Sudah ku katakan dia tidak akan mengalah sama wanita," jelas Harry
"Apa teman mu itu memang begitu sifatnya?" tanya Yona.
"Iya, jangankan dengan wanita dewasa, sedangkan dengan anak perempuan kecil saja dia tidak mau mengalah," lanjut Harry.
"Apa yang terjadi di antara Cole dan anak perempuan itu?" tanya Curry dengan penasaran.
"Di hari itu kami sedang mencari alamat seseorang di gang kecil dan sangat sempit, dan kami berpapasan dengan anak perempuan sekitar berusia 12 tahun, karena gang itu sangat sempit, maka kami harus mengalah agar anak kecil itu bisa lewat, akan tetapi beda yang di lakukan oleh si batu itu, dia mengendong anak itu dan menarohkan ke atas pagar tembok orang, dan kemudian dia berjalan pergi dengan tanpa rasa berdosa, sementara anak itu menangis karena duduk di tempat ketinggian," jelas Harry.
" Dia memang payah!" ujar Yona.
" Dia memang begitu, jika bukan karena kami sudah lama bekerja sama, maka aku akan mengira jika dia adalah homo," kata Harry.
" Kurang ajar!" bentak Liza yang ke dua tangannya di tahan oleh Cole.
"Jika kau masih mau menggila jangan menyalahkanku mematahkan tanganmu!" bentak Cole dengan memeluk pinggang Liza dan menghempaskan ke lantai.
__ADS_1
Brugh...
"Aarghh!" pekik Liza yang tergeletak dan menahan sakit.
" Hah...bukankah ini akan mengakibatkan luka dalam," ucap Yona.
" Baik kalian bawa pergi teman kalian itu, dari pada nanti si batu itu mengantung teman kalian di atas pohon!" kata Harry.
" Liza," panggil Curry dan Yona yang sama-sama menghampirinya.
" Sudah! jangan bertengkar lagi!" pinta Yona yang berusaha ingin mendinginkan suasana.
"Jaga baik-baik teman kalian, sebelum aku memasukkan dia ke rumah sakit jiwa!" ketus Cole yang merasa kesal dan melangkah pergi.
"Kau gila!" teriak Liza.
"Sudah! jangan bertengkar lagi!" ucap Curry.
Tidak lama kemudian Flower berjalan keluar dari markas dan melihat Liza yang sedang di papah oleh Curry dan Yona.
"Kak Liza, ada apa denganmu?" tanya Flower yang menghampiri tiga wanita itu.
"Tidak ada apa-apa!" jawab Liza dengan menatap kesal ke arah Cole yang sedang duduk bersama Harry.
"Tapi, kenapa tubuhmu seperti sedang cedera?" tanya Flower.
"Tadi aku hanya bertemu dengan penjahat kela.min!" jawab Liza dengan sengaja menyinggung Cole yang sedang santai minum bersama dengan Harry.
"Di sini adalah markas, apa mungkin penjahat kela.minnya berani muncul di sini?" tanya Flower yang tidak mengerti apa-apa.
"Tentu saja dia berani! karena dia adalah orang tidak waras!" jawab Liza dengan sengaja.
"Wanita yang suka main kasar adalah wanita yang tempramental, dan seharusnya dia tinggal di rumah sakit jiwa!" balas Cole dengan tanpa menoleh ke arah Liza.
"Pria yang berkepala batu adalah pria yang tidak normal!" balas Liza dengan sindiran.
"Harry, apa kau tahu nomor ambulan?" tanya Cole.
"Tidak tahu, untuk apa?" tanya Harry.
"Selidiki nomor ambulan dan suruh mereka ke mari dan membawa wanita itu pergi, jiwanya sudah mulai terganggu!"
"Hah...." ucap Harry yang dengan binggung.
__ADS_1
"Sebelum dia mengigit orang, maka harus segera masukkan ke sana, agar yang lain tidak tertular penyakitnya!" jawab Cole dengan santai.
"Cole brengs*k!" bentak Liza.