
"Orang tua itu memang sudah biasa dan tidak heran lagi, selama ini dia tidak percaya padaku. dalam hatinya selalu saja mencurigaiku," kata Charles.
"Apakah kita harus diam saja?" tanya Cannon.
"Kita tidak perlu melawan sama sekali, kalau saja dia suka biarkan saja dia melakukan sampai dia puas. yang penting kita tetap waspada saja dengan setiap langkah kita," jawab Charles.
"Baik, Bos," jawab Cannon.
Villa Cliste
"Cepat keluar...," teriak Mark yang pada putrinya.
Flower yang kesakitan dan kelaparan harus bertahan dan memaksa kerja walau dirinya sangat menderita.
"Cepat jalan! jangan membuang waktuku! tidak berguna. kenapa kau tidak pernah seperti kakakmu," bentak Mark sambil menghantam kepala Flower.
Bruk..
"Tidak tahu apa gunanya memiliki anak sepertimu, seharusnya aku tidak membersarkanmu di saat itu," bentak Mark dengan kesal.
"Pa, jangan salahkan aku terus! aku dikurung sehingga tidak bisa melakukan apapun, papa selama ini tidak membiarkan aku bekerja di luar dan hanya memaksa kerja di dalam rumah. lantas, bagaimana aku bisa bekerja di luar," jawab Flower.
__ADS_1
Plak..plak
Dua tamparan yang dilakukan oleh Mark sehingga membuat Flower terkapar.
Bruk.
"Kau masih saja berani melawan, kurang ajar. kalau saja aku tidak memberimu makan. apakah kau masih bisa hidup hingga saat ini," bentak Mark yang menjambak rambut putrinya.
"Selama ini papa hanya memberiku makanan basi, roti basi dan sayuran yang sudah busuk, apakah semua makanan itu layak dimakan," bentak Flower
"Apakah kau tahu, kau sangat menjijikan seperti pela.cur, kau hanya layak makan makanan basi dan busuk. karena itulah harga dirimu sebusuk makanan itu," bentak Mark dengan menghina.
"Lakukan tugasmu sekarang juga! kalau tidak, aku tidak akan segan menghukummu dengan cara yang lebih sadis," bentak Mark.
"Karena aku memang ingin menyiksamu, karena penderitaanmu adalah kebahagian istri dan putriku," jawab Mark.
"Hanya demi mereka aku harus menjadi korbanmu," tangisan Flower yang penuh rasa kecewa.
"Iya, asal mereka bahagia aku rela melakukan apa saja, suka atau tidak kau harus menerimanya," jawab Mark.
Flower sangat sakit hati di saat mendengar ucapan ayahnya itu, tidak di sangka hanya demi istri keduanya dan anak tirinya, dirinya yang harus menjadi korban siksaan.
__ADS_1
Di sisi lain Mona dan putrinya Fannie sedang berada di kamar.
"Ma, wanita itu sangat panjang umur, dia bisa saja bertahan begitu lama walau setiap hari menerima siksaan. aku sangat kagum padanya," ucap Fannie.
"Fannie, dia tidak bisa berbuat apapun karena hanya rumah inilah tempat tinggalnya, walau disiksa ataupun dibunuh dia hanya bisa pasrah," kata Mona.
"Kalau saja aku di posisinya aku rela bunuh diri dari pada menerima nasib seperti ini, bayangkan saja makanan basi seperti roti dan sayuran serta daging ayam yang sudah membusuk dia harus paksa menelannya," kata Fannie.
"Biarkan saja dia! lagi pula ada dia yang urus rumah ini kita bisa hemat uang untuk membayar upah," kata Mona.
"Mama, sangat pintar mengoda pria itu sehingga mampu membuatnya patuh pada setiap perkataanmu," ucap Fannid dengan senyum sinis.
"Soal pria sangat mudah untuk di tangani, lagi pula ini masalah kecil bagiku," jawab Mona dengan senyum.
"Ma, besok teman bisnis papa ulang tahun, aku dan papa harus hadir," ujar Fannie.
"Baguslah kalau begitu, tunjukan pesonamu agar bisa menarik perhatian pria di sana. mungkin saja kau bisa mendapatka pria kaya," kata Mona.
Pesta ulang tahun
Acara malam itu diramaikan oleh sejumlah pebisnis. Mark ditemani oleh Fannie menghadiri pesta malam itu.
__ADS_1
Di saat itu tatapan Fannie fokus pada seorang pria tampan yang tak lain adalah Charles Robertson yang sedang berbincang dengan sahabatnya.