Cruel Love Of Gangster

Cruel Love Of Gangster
Mark di tahan oleh Bared


__ADS_3

Mendengar bujukan putranya Vic menenangkan emosinya sendiri, sehingga dirinya bersikap tenang secara perlahan.


Fannie dan Mona hanya bisa menerima nasib atas perbuatan di masa lalu mereka, mereka menjadi tersangka penyiksaan bagi Flower Clisten selama sepuluh tahun, sementara Mark Clisten menjadi tersangka pembunuhan, pemerkosaan, kekerasan rumah tangga terhadap istrinya, dan selain itu dia juga melakukan kekerasan tanpa berhenti terhadap Flower sejak dari usia 14 tahun.


Setelah beberapa menit kemudian persidangan di mulai. hakim memutuskan Mark Clisten di jatuhkan hukuman mati karena telah melakukan pembunuhan, serta penyiksaan yang cukup kejam sehingga menyebabkan trauma bagi korbannya, Flower Austin. selain hukuman mati Mark juga di denda atas semua tindakan kekerasan fisik maupun psikis terhadap korbannya.


Sementara Mona dan Fannie masing-masing di jatuhkan hukuman sepuluh tahun dan delapan tahun. atas kesalahan penyiksaan terhadap korban.


Mendengar keputusan hakim Vic hanya menarik nafas panjang, walau keputusan ini membuatnya puas akan tetapi rasa sedih atas kehilangan wanita tercintanya tetap membuatnya merasa tidak rela.


"Pa, semua telah berakhir. mereka yang melukai bibi dan adik telah mendapatkan pelajaran," ujar Steve yang menoleh ke arah ayahnya.


"Dua puluh empat tahun lamanya, akhirnya dendam terbalas, akan tetapi Ella sudah tidak akan kembali lagi," ucap Vic dengan merasakan kesedihan.


Fannie yang tidak bisa menerima kenyataan dia berteriak dengan meminta persidangan di ulang.


"Aku tidak bisa terima keputusan ini! aku tidak bersalah, ini semua karena pria tua ini, dia yang menyiksa anaknya dan tidak ada hubungan denganku!" teriak Fannie dengan kesal.


"Tuan hakim, saya mohon Anda mempertimbangkan lagi! kami tidak melakukan kekerasan terhadap korban, jika tidak percaya bisa bertanya secara langsung kepadanya!" pinta Mona yang sedang menangis.


Hakim yang mendengar teriakan dua wanita itu ia pun mengetuk palunya berkali-kali.


"Keputusan telah di tetapkan! kesalahan untuk ke dua tersangka harus menjalani hukuman yang sudah di terapkan!" tegas hakim


"Tuan Hakim, ini tidak adil!" bantah Fannie yang merasa kesal.


"Anda telah melakukan penghinaan yang bisa di katakan adalah penyiksaan psikis terhadap korban, pihak pengadilan memiliki semua bukti kesalahan yang Anda lakukan, laporan dari rumah sakit ada di tangan kami, karena siksaan yang kalian lakukan telah menyebabkan korban menjadi trauma dan hampir terkena gangguan jiwa!" kata Hakim dengan tegas.


"Keputusan Hakim tidak bisa ganggu gugat, bubar! ucap Hakim yang bangkit dari tempat duduknya.


Fannie dan Mona harus menerima nasib karena harus mendekam ke penjara selama bertahun-tahun lamanya. air mata keluar tanpa berhenti menangis dan sambil berteriak agar bisa mendapatkan perhatian para jaksa di sana, akan tetapi usaha mereka hanya sia-sia saja. salah tetap salah dan tidak bisa di elakkan.


"Apa kehidupanku tidak ada yang lebih buruk lagi? aku yang dulu adalah wanita tercantik, hidup dengan mewah dan elegan, kemana pun aku pergi banyak pria yang melirikku. akan tetapi hidupku hancur hanya karena si anak sampah itu. karena dia hidupku semakin terpuruk, ini tidak adil...ini tidak adil!" teriak Fannie yang histeris.


"Fannie Clisten, jaga mulutmu!" bentak Vic yang bangkit dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Anak sampah yang kau katakan itu adalah putri kandung papaku dan juga adikku, dia bukan anak sampah. tapi dirimu lah yang anak sampah!" bentak Steve dengan kesal.


"Kalian bertiga menghancurkan hidup putriku, dan hari ini semua sudah terbalas. apa yang sudah kalian lakukan akhirnya kalian mendapatkan balasannya," kata Vic dengan nada tinggi dan beranjak pergi meninggalkan tempat itu.


Setelah dua jam kemudian Mark Clisten yang harus di pindahkan ke penjara besar untuk menjalani hukuman, ia di bawa oleh polisi naik ke mobil tahanan. beberapa polisi yang mengawalnya di dalam mobil tersebut. di sisi lain mereka di ikuti oleh anggota Bared dari jarak jauh.


Dalam perjalanan.


Mark yang hanya bisa pasrah duduk dengan wajahnya yang kusut.


"Tidak menyangka aku bisa berakhir seperti ini! dari awal aku membunuh Ella di sana aku sudah berjalan menuju kegelapan, dan aku juga menyiksa anak itu, dulu aku sangat bangga pada diri sendiri karena mampu menjalankan bisnisku sehingga berkembang, dan sekarang aku jatuh ke tangan Charles dan Vic Austin. ini adalah karmaku," batin Mark.


"Pak polisi, apakah sebelum aku di jatuhkan hukuman mati aku bisa menemui seseorang?" tanya Mark kepada polisi yang sedang mengawalnya.


"Mengenai permintaanmu ini harus di sampaikan kepada pihak yang menangani kasusmu," jawab polisi dengan tegas.


Tidak lama kemudian mobil mereka tiba-tiba saja di tabrak dari belakang.


PRAK...


Tembakan dari anggota Bared yang sedang mengikuti mobil tahanan sehingga mengenai dua polisi yang duduk di depan mobil


"Aargghh!" jerit mereka yang sesaat kemudian tewas karena kepala mereka di tembus oleh peluru.


Mobil yang membawa Mark membelok ke sana ke mari karena tanpa di kendalikan oleh seseorang.


Polisi yang duduk bersama Mark berusaha ingin mengambil ahli mobil tersebut akan tetapi ia di tembak oleh kumpulan yang sedang mengikutinya.


DOR...DOR.


Tembakan tepat mengenai kepala polisi itu dan akhirnya tewas tak tersisa.


"Siapa mereka dan apa yang mereka inginkan? apakah orang Charles?" gumam Mark yang merasa ketakutan.


Mobil tahanan yang tanpa di kendarai siapapun, akhirnya menabrak tiang.

__ADS_1


BRAK...


Tabrakan mobil yang hancur bagian depannya.


"Aaarghh..." jerit Mark yang tubuhnya menghantam kursi depan.


Tidak lama kemudian pintu belakang mobil tahanan di buka oleh seseorang, ia langsung menarik Mark dengan kasar keluar dari mobil tersebut.


"Siapa kalian?" tanya Mark yang di tarik paksa oleh pria itu.


"Mark Clisten!" ucap Bared dengan tatapan aura membunuh.


Mark yang melihat pria yang sedang berdiri di hadapannya merasa terkejut seakan tidak percaya jika orang yang sudah sekian lama tidak muncul, kini muncul di hadapannya dengan tiba-tiba.


"Apa kau sudah tidak mengenalku?" tanya Bared dengan tatapan tajam.


"Ke-kenapa kau bisa berada di sini?" tanya Mark dengan merasa tidak percaya.


"Kenapa aku tidak boleh berada di sini? apa kau mengira bisa lolos dariku setelah apa yang kau lakukan padanya?"


"Tidak! tidak seperti yang kau pikirkan!" jawab Mark yang sedang merasa cemas.


"Di mana dia?" tanya Bared yang mengeluarkan senjatanya dan menodong ke arah Mark.


"Siapa?"


"Putri Ella!"


"Tidak tahu! aku tidak tahu!" jawab Mark yang memundurkan langkahnya.


"Katakan jika kau tidak mau mati!" kecam Bared dengan mendekatkan senjatanya ke kepala Mark.


"Aku tidak bisa mengatakannya! jika dia tahu di mana anak itu berada maka dia pasti akan membunuhnya, dulu dia pernah bersumpah ingin membunuh anak itu, aku sudah melakukan kesalahanku karena sudah menyakitinya selama ini. kali ini walau aku harus mati aku juga tidak akan mengatakan di mana dia berada. Flower, maafkan aku. hanya ini yang bisa ku lakukan untukmu, aku akan mengunakan nyawaku untuk melindungimu!" batin Mark.


"Katakan di mana dia!"

__ADS_1


"Aku sudah lama tidak bertemu dengannya, dia sudah pergi sejak Ella meninggal," jawab Mark.


__ADS_2