
"Steven, periksa panti asuhan yang dia katakan itu!" perintah Bared.
"Tuan Bared, panti asuhan itu sudah di tutup sejak pengurusnya meninggal," kata Cole yang sedang menahan tangan Rico.
"Sudah tutup? lalu, kemana Cool pergi?" tanya Bared dengan merasa kecewa.
"Siapa namanya saat di masukkan ke sana? apakah namanya Cool atau menganti nama lain?" tanya Cole yang menatap tajam ke arah Lonela.
"Dia tetap dengan nama Cool!" jawab Lonela.
"Aku tidak pernah mendengar nama ini di saat itu!" ujar Cole.
"Cole, apa kamu juga tinggal di sana?" tanya Bared.
"Benar! dari sejak kecil aku di sana dan tidak mendengar nama itu," jawab Cole.
"Apa ada sesuatu yang bisa kita gunakan untuk mencari dia? misalnya kalung, atau jam tangan atau tanda lahir yang ada di tubuhnya?" tanya Cole.
"Tidak ada! semuanya tidak ada!" jawab Lonela.
"Lonela, kalung yang di pakai oleh Cool apakah kau ambil?" tanya Bared.
"Dia sudah membuang kalung itu saat kami pergi dari rumah," jawab Lonela dengan sengaja.
"Kenapa dia membuangnya?" tanya Bared.
"Karena dia membenci mu, oleh karena itu dia membuang kalung itu."
"Apa yang kau katakan padanya sehingga dia membenciku? kau yang membawa dia pergi bukan aku yang mengusir kalian."
"Aku mana tahu apa pemikirannya, dia langsung membuangnya begitu saja," kata Lonela.
"Kalung itu ada pada Cool. jangan berharap aku akan mengatakan semuanya, kemana pun anak itu pergi bukan urusanku lagi, aku sudah menikah. jadi, aku tidak peduli mereka bisa bertemu atau tidak. biarlah dia menderita tidak menemukan anaknya," batin Lonela.
"Lonela, kau sangat mengecewakan ku. kau memang berniat ingin memisahkan kami. kenapa kau bisa berhati binatang!" bentak Bared.
"Bared, dia yang ingin membencimu bukan aku yang jadi batu api, dia membenci gangster, oleh karena itu dia mengatakan membencimu seumur hidup dan dia juga mengatakan memiliki ayah gangster sangat memalukan," ketus Lonela.
"Aku tidak percaya dengan semua perkataanmu itu, Cool bukan anak yang tidak pengertian. dia mengatakan padaku dia ingin seperti diriku dan dia sama sekali tidak takut dengan kehidupan ini," ujar Bared.
"Itu karena dia masih kecil di saat itu, anak kecil masih tidak tahu apa arti gangster," kata Lonela.
"Aku tetap tidak percaya dengan kata-kata mu. Lonela, kau bisa memisahkan kami berdua apalagi yang tidak bisa kau lakukan, kalung yang ku berikan apakah kau yang membuangnya?"
"Tidak ada! aku tidak membuangnya," bantah Lonela dengan kesal.
"Tuan Bared, kalung yang Anda berikan kepada anak Anda adalah kalung apa? dulu aku tinggal di sana mungkin saja aku pernah melihatnya," tanya Cole dengan penasaran.
"Kalung liontin, dalamnya jam yang sudah tidak berfungsi," jawah Bared.
"Kalung liontin jam? mirip denganku!" batin Cole.
"Nyonya Lonela, di mana Anda tinggal kan dia di saat itu?" tanya Cole yang menatap tajam ke arah wanita itu.
"Aku meninggalkan dia di depan panti asuhan itu," jawab Lonela dengan menatap sinis.
"Meninggalkan di luar, kalung jam yang sudah tidak hidup, tempat tinggal tinggal tuan Bared, semua sama dengan yang ku alami dan yang ku miliki. jangan-jangan mereka adalah orang tua ku," batin Cole.
Krek...
"Aaarrgghh...." teriakan Rico yang kesakitan karena jari lainnya di patahkan oleh Cole.
"Kenapa kau menyakitinya lagi? lepaskan dia, dasar brengs*k. apakah ibumu tidak mengajarkan mu menghormati orang ya, bagaimana caranya ibumu itu mendidikmu," bentak Lonela dengan nada keras.
"Dirimu saja bisa meninggalkan anak sendiri di panti asuhan demi pria ini, lalu, apakah kau mengira jika dirimu itu masih layak memarahiku!" bentak Cole.
"Nyonya Lonela, aku paling benci melihat orang tua yang menyiksa anak sendiri ataupun meninggalkan anak mereka begitu saja. cermin diri Anda sendiri sebelum ingin mengkritik orang lain," ketus Cole.
"Steven, bawa dia pergi! setelah aku mendapatkan putraku kembali, baru aku lepaskan dia," perintah Bared.
"Baik Bos," jawab Steven.
"Bared, jangan sembarangan! aku tidak akan ikut denganmu!" teriak Lonela.
"Setelah aku mendapatkan Cool. maka aku ingin pastikan apakah yang kau katakan adalah benar atau tidak!" ketus Bared dengan kesal.
"Tidak... aku tidak mau ikut denganmu!" teriak Lonela yang di tarik oleh Steven dengan paksa.
"Hei....kalian lepaskan dia! kalian semua memang brengs*k," ketus Rico.
Krek...krek...krek...
"Aaarrghhhh...," teriakan Rico yang terduduk di jalan karena merasakan sakit yang luar biasa.
"Rico...." teriak Lonela yang menoleh ke arah suaminya itu yang sedang tepar dan kesakitan.
"Kau brengsek," bentak Lonela dengan kesal yang menatap ke arah Cole.
Cole yang mengabaikan teriakan ibu kandungnya itu ia menginjak pria yang sedang mengerang kesakitan.
"Pria ini membuatmu tergila-gila padanya, sehingga kau meninggalkan anakmu sendiri. bagaimana jika aku membunuhnya?" gertak Cole yang mengeluarkan pistolnya.
"Jangan melakukannya! jangan menembak! ini salahku bukan salah dia!" teriak Lonela dengan histeris.
"Apa kau menyesal karena meninggalkan putramu? demi pria ini kau meninggalkan dia, kau adalah wanita hebat," bentak Cole.
"Aku menyesalinya, aku mohon jangan melukai dia. aku mohon padamu," pinta Lonela dengan sambil menangis.
__ADS_1
"Mohon padaku apa gunanya, seharusnya kau meminta maaf pada anak yang sudah kau tinggalkan itu," ujar Cole yang menyimpan kembali senjatanya.
"Sepuluh jari suamimu sudah patah semua, dan kini kau hanya memiliki seorang suami yang cacat dan tidak bisa lagi menghidupimu. semoga saja di saat kau bertemu dengan anakmu dia masih ingin mengakuimu. jika tidak, maka kau hanya bisa bergantung pada diri sendiri di masa tua," bentak Cole yang menghampiri wanita itu dan kemudian ia masuk ke mobil.
Tidak lama kemudian mereka meninggalkan jalan sana dan membiarkan Rico yang sedang kesakitan dan tepar di jalan itu.
"Kalian ingin membawaku ke mana?" tanya Lonela yang sedang duduk di bersama Bared.
"Demi anak, aku tidak akan melukaimu. jadi, kau tidak perlu takut!" jawab Bared.
"Kau sangat brengs*k, kalian tanpa ragu melukai Rico dan meninggalkan dia di sana. jika dia ada apa-apa kalian tidak bisa bertanggung jawab," bentak Lonela.
"Tanggung jawab apa yang kamu inginkan? aku yang melukainya. aku bisa mematahkan jari-jarinya dan juga bisa mematah tulang lehernya," ujar Cole yang sedang duduk di depan.
"Bared, apakah dia adalah pengawal yang kau didik, kenapa bisa begitu kurang ajar!" bentak Lonela.
"Nyonya Lonela, lebih baik kau diam dan jangan membuat keributan, jika tidak maka aku akan membawa kepala suami mu itu ke hadapan mu," gertak Cole.
Mendengar gertakan Cole Jolena hanya bisa terdiam dengan merasa kesal.
"Lebih baik aku mengambil sesuatu dari tuan Bared untuk melakukan tes DNA, sebelum aku memastikan aku tidak akan mengatakannya," batin Cole
"Kenapa Cole bisa begitu membenci Lonela dan Rico, Cole tinggal di panti asuhan yang sama dengan Cool. apakah dia adalah putraku atau hanya karena dia memang membenci orang tua yang menelantarkan anaknya, karena dirinya juga menjadi korban dari orang tuanya yang tidak peduli padanya," batin Bared.
Di saat mobil mereka melewati salah satu jalan besar tiba-tiba saja mobil mereka di tabrak dari belakang.
BRAK...
"Aarghh..." teriakan Lonela yang terkejut dan terguncang tubuhnya sehingga menghantam kursi depan.
"Siapa mereka?" tanya Steven yang sedang menyetir sambil melihat spion.
"Hadang dia! jangan sampai dia mendahalui kita!" perintah Cole yang sedang mengeluarkan senjatanya.
"Tuan Bared, menunduk!" ucap Cole yang melihat mereka ingin melepaskan tembakan lewat spion.
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
Tembakan yang di lakukan oleh musuh mereka yang dari belakang mengenai kaca mobil. Bared dan Jolena menunduk mengelak dari peluru tersebut.
Steven melajukan mobilnya dan menghadang mobil belakang yang ingin melewati mereka.
BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...
Mobil yang di belakang itu berusaha ingin melewati mobil depannya akan tetapi mereka kesulitan karena di hadang terus menerus oleh Steven.
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
Bared kesulitan untuk melepaskan tembakan akibat tembakan mereka yang tanpa berhenti.
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
Steven menunduk sambil menyetir belok ke kanan dan ke kiri, sementara Cole ingin mencari kesempatan untuk melepaskan tembakannya.
"Mereka menembak terus, kita tidak bisa membalas," kata Steven.
"Siapa yang mengatakan kita tidak bisa, buka atap mobil!" pinta Cole yang bersiap untuk berdiri dan menembak ke belakang
Steven menekan tombol untuk membuka atap mobilnya.
"Hati-hati!" seru Bared yang sedang menunduk.
Cole berdiri dan langsung melepaskan tembakannya ke arah mobil yang menyerang mereka.
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
Tembakan yang di lakukan oleh Cole menembus supir dan orang yang di sampingnya.
"Aargghh..." jeritan mereka dengan serentak dan kemudian mobil mereka menabrak tiang.
BRAK...
Tabrakan mobilnya yang menghancurkan mobil mereka, sementara pembunuh yang berada di dalam mobil telah tewas akibat terkena tembakan dari Cole.
"Tuan Bared, Anda tidak apa-apa?" tanya Cole yang duduk kembali ke kursinya.
"Aku baik-baik saja, apa kau terluka?"
"Tidak, Tuan!" jawab Cole.
"Turunkan aku di sini!" teriak Lonela yang ketakutan
"Kalau kau mau turun ke sini silakan saja! dan tunggu mereka datang mengambil nyawamu, karena mereka sudah melihat kau berada di dalam mobil kami," ketus Cole dengan nada kesal.
"Sial sekali bersama kalian!" ketus Lonela.
"Nyonya Lonela, jika aku masih mendengar suaramu jangan salahkan aku memotong lidahmu!" kecam Cole yang mengeluarkan pisau tajam.
__ADS_1
Setelah setengah jam kemudian Bared tiba ke rumahnya.
Steven menarik Lonela dengan secara kasar dan mengurungnya ke kamar.
"Buka pintunya! jangan mengunciku di sini!" teriak Lonela sambil mengedor pintunya tanpa berhenti.
"Buka pintunya! ini adalah penculikan aku bisa melapor kalian!" teriak Lonela yang berkali-kali mengedor pintu.
Tidak ada yang menyahut dengan teriakan wanita itu.
"Cole, untung saja tadi kamu di sampingku, jika tidak mungkin aku sudah tewas di jalan itu!" ucap Bared.
"Apakah mereka adalah utusan Andrew?" tanya Cole
"Mungkin saja, selain dia tidak ada yang mengincarku," jawab Bared.
"Keselamatan Anda harus di perketatkan lagi, mereka bisa muncul di manapun dan kapanpun," ujar Steven.
"Benar sekali! mereka ada di mana-mana! aku sangat ingin langsung menyerang sarang mereka," ujar Bared.
"Tuan Bared, kita tidak bisa menyerang ke sarang mereka, karena itu sama saja kita mengantar nyawa," kata Cole.
"Andrew termasuk kumpulan besar, sebelum ada rencana kita tidak bisa melakukan apapun," kata Steven.
"Tuan Bared, kita harus selidiki berapa semua jumlah anggotanya itu. dan kemudian kita harus menyusun rencana dulu!" ucap Cole.
"Betul kata kalian, kita tidak bisa gegabah!" jawab Bared.
Di sisi lain Charles bersama anggota lainnya menuju ke tempat persembunyian pengikut Bard.
Stone yang selama ini mengawasi kumpulan itu telah memastikan bahwa kumpulan itu adalah pengikut Brad. di malam itu Chares datang dengan sejumlah anggota Harry, Liza, Curry dan Yona serta anggota lainnya. sebanyak seratus lima puluh yang bersiap ingin menyerang.
"Liza, kumpulanmu keluar di saat kami sudah menyerang, kepung mereka agar mereka tidak bisa melarikan diri!" perintah Charles.
"Yona, kau ikuti Liza. sama-sama melakukan pengepungan!" perintah Charles.
"Baik, Bos," jawab Liza dan Yona dengan serentak.
Liza dan Yona berpencar dengan seratus anggotanya. sementara lima puluh anggota di pimpin oleh Harry dan Stone yang menyerang dari depan.
"Maju!" teriak Harry yang berlari ke arah tempat tinggal para pengikut Brad sambil memegang pistol masing-masing.
"Siapa kalian!" teriak salah satu pengikut Brad.
Mereka yang menyadari kemunculan anggota Charles langsung keluar dari sarang mereka dan melepaskan tembakan.
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
Tembakan dari kedua belah pihak.
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
Tembakan beruntun di lakukan oleh Harry dan anggotanya.
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
Tembakan dari musuh mereka dengan serentak.
"Jumlah kalian hanya sedikit dan berani sekali menyerang kami, siapa kalian?" bentak salah satu dari mereka.
"Bukankah selama ini kalian ingin membunuh kami? dan malam ini kami yang mendatangi kalian. jadi, kalian tidak perlu bersusah payah lagi mendatangi kami!" ujar Harry.
"Kalian adalah anggota Charles Robertson?" tanya salah satu lawannya itu.
"Benar sekali!"jawab Harry dengan senyum.
"Kau datang dengan jumlah yang sedikit, apa kau yakin bisa mengalahkan kami," kata mereka dengan mengejek.
"Hahahaha....apa kau yakin jumlah kami hanya segini? apa kalian mengira Black Dragon sangat lemah. tidak seperti kalian yang adalah pengecut!" ketus Harry dengan tertawa.
"Kurang ajar!" bentak mereka yang melepaskan tembakan ke arah Harry.
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
"Aaargghh...." teriakan anggota Harry dengan serentak yang di tembus oleh peluru
"Apa hanya ini jumlah kalian, kalau bisa keluar semua dan melawan kami!" gertak Harry sambil melepaskan tembakan.
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
__ADS_1