
Disepertiga malam, Satria terbangun. Ia membersihkan dirinya. lalu berwudhu.
Setelah melaksanakan shalat sunnah Tahajjud, Satria duduk bersila, mengambil sebuah dzikir, lalu memulai dzikirnya. "Allah..Alllah..Allah.." mulut dan hatinya mencoba sinkron untuk melafazkan dzikir itu, tanpa putus.
Hingga saatnya, sukmanya tak lagi berada di raganya. Ia mencapai sebuah dimensi yang Ia tidak mengerti. Ia dapat melihat banyak peristiwa yang terjadi.
Sukmanya berjalan pada sebuah goa yang sangat pengap. Ruangan goa itu terlihat sangat lembab.
Satria menyusuri lorong goa yang tampak gelap.
Satria meraih sebuah suluh bambu yang terpasang disudut goa, Ia menggunakannya sebagai penerangan.
Dikejauhan Ia mendengar sayup-sayup suara rintihan meminta tolong. Suara itu semakin lama semakin jelas. Satria menajamkan pendengarannya, lalu mencari arah sumber suara tersebut.
Ia tiba disebuah ruangan yang sangat pengap. Ada beberapa kerangkeng besi terdapat disitu.
Satria terperangah melihat pemandangan yang sangat memilukan hati. Tampak 6 orang terkungkung dalam kerangkeng tersebut.
Di kerangkeng lain, tampak seorang pria dewasa yang menggunakan sebuah kaki palsu juga berada disitu."bukankah pria itu yang pernah kulihat di kampus waktu itu..? Mengapa Ia juga terkurung.?" Satria berguman lirih.
Ke enam kerangkeng lainnya tampak para tawanan yang diperkirakan usianya kebih tua darinya, menjulurkan tangan dari lubang kerangkeng untuk meminta dilepaskan.
Jeritan dan tangisan mereka begitu menyayat pilu. Satria mencoba mendekatinya, namun tiba-tiba saja Ia mendapat serangan mendadak. Sebuah tendangan keras mendarat dipunggungnya, membuatnya terlempar dilantai goa yang lembab dan tajam.
Luka memar dan darah segar mengalir di sudut bibirnya yang tergores lantai batuan cadas goa.
Satria mengerang kesakitan. Saat Ia melihat siapa yang menyerangnya, ternyata dia adalah Si Nini Maru. " siaaaall..!! Kenapa dia ada disini..?" Satria menggerutu, dan mencoba berdiri meski sedkit kesusahan.
Nini Maru menempel didinding, Ia tak suka jika Satria sampai mengetahui keberadaan tawanananya. Dengan cepat Ia merayap bagaikan cicak-cicak didinding. rambut panjangnya tergerai dengan menutupi wajahnya.
Kuku-kuku runcingnya tampak sangat tajam.
Satria mencoba meraih suluh bambu yang terlempar. "mengapa kau juga ada disini..?!" ucap Satria kepada Nini Maru.
Iblis betina itu hanya diam dan menggeram. Ia merayap dengan cepat, lalu melayang menyerang Satria. Dengan cepat Satria menahan serangannya dengan menjulurkan api suh bambu uang dipegangnya dengan gerakan melibas.
"awwwww.. Sakit.." teriak Nini Maru, sembari melihat lengannya yang terkena api suluh bambu.
Ada sedikit luka bakar disana. "pergilah..!! jangan coba-coba untuk datang lagi dan membebaskan tawananku.!!" titah Nini Maru kepada Satria.
"jika aku tidak mau..?!" jawab Satria sembari trus waspada. Karena Mini Maru bisa tiba-tiba menyerangnya.
__ADS_1
"aku terpaksa menghalanginya.." ucap Nini Maru dengan suara parau.
"kalau begitu coba saja.." tantang Satria sembati menyiapkan kuda-kuda pertahanan.
"dasar keras kepala..!!" ucap Nini maru. Seketika tubuhnya berubah. Wujud Aslinya yang begitu menyeramkan kini tampak sangat menakutkan.
Dua bola mata yang bulat sebesar bola tenis, mata merah, dengan luka daging yang terkelupas dan darah yang mengalir disetiap lukanya.
Satria bergidik memandangnya."serem amat wajahnya.." guman Satria dalam hati.
Nini Maru yang mendengar gumanan Satria merasa kesal. Ia tidak terima jika Sartia melakukan body shaming kepadanya, meskipun dalam hati saja.
Nini Maru menggeram, melakukan serangan dadakan yang membuat Satria tidak awas. Sebuah goresan dari kuku tajam nan runcing mengenai lengan Satria, meninggalkan rasa peri.
"aaggkh.. Sialan si kunti, main kasar saja dia..!!" gerutu Satria. Ia mengerang menahan sakit dan juga meninggalkan rasa panas.
Satria berbalik menyerang, Ia mengayunkan suluh bambu kepada Nini Maru.
Satria menekankan api suluh bambu ke area perut Nini Maru,
"aaaaaarrrghk..." Nini Maru yang terkejut, melengking dengan sangat keras..
Satria menghampiri kerangkeng- kerangkeng itu, namun Ia tak menemukan kuncinya.
Satria tak mampu membukanya. Sebuah rantai besi dipasangkan di kaki setiap tawanan, dengan bola besi sebesar bola takraw.
para tawanan tampak begitu tersiksa. Satria memandang iba.
Samar-samar Satria mendengar suara seorang gadis bersenandung merdu.
Suaranya begitu lembut, sepertinya pemilik suara sedang dalam mood yang baik. Satria mencoba beranjak dari tempatnya, ingin mencari sumber suara yang sedang bersenandung indah yersebut.
Saat Ia akan melangkah, sebuah tangan mencekalnya. Lalu membawa sukma Satria menuju kepada raganya dan kembali pulang.
Setelah penyatuan raga dan dan sukmanya, Satria tersentak. Ia seperti seolah-olah sedang mengalami mimpi, namun Ia juga merasakan seperti nyata.
"siapa suara gadis yang bersenandung itu..?" Satria seolah tidak dapat menghilangkan dari ingatannya.
"apakah aku hanya berhalusinasi saja.?" Satria mencoba berusaha menepis dugaannya.
__ADS_1
Nini maru memegangi lengan dan perutnya. Rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya.
"dasar bocah sialan .!!" Nini Maru menggerutu.
Mirna menghampirinya, "mengapa bisa seperti ini Ni..?" ucap Mirna penasaran.
Nini Maru memandang Mirna dengan tatapan yang tak biasa. Ia hanya diam dan tak bergeming.
Luka bakar itu begitu sangat tidak nyaman baginya.
Nini Maru segera mengobatinya. Lalu Ia berjalan menyusuri lorong goa..
Nini Maru memeriksa jumlah tawanannya. Masih terlihat lengkap.
"Nini.. Lepaskan aku.." teriak jiwa Reza dalam sebuah kerangkeng besi. Kedua tangannya mencengkram besi tersebut.
Nini Maru memandangnya sinis. " kamu telah mengikat perjanjian denganku, maka kamu tidak bisa lepas dariku." Nini Maru tersenyum sinis.
"tetapi aku memberikan tumbal janin kepadamu sebagai balasannya. Lepas akau..! Aku ingin bebas..!" teriak Reza dengan suara yang sangat lantang.
"aku akan membebaskanmu, namun kau harus hidup bersamaku dan menjadi pelayanku selamanya...hihihihi" Nini Maru tampak senang dengan dapat menahan jiwa Reza.
Jiwa Reza merasa sangat kesal. Ia menendang besi yang telah mengurungnya. Namun kakinya terhalang pergerakannya, kakinya terpasang bandul besi sebesar nola takraw yang menghalangi Ia bergerak.
"sialan..kamu Nini!!" Reza menggeratakkkan gigi-gininya.
Nini Maru janya menanggapi dengan seringai liciknya.
------'
Mirna berbaring di ranjang batu yang terpahat. Pandangan matanya begitu sangat nanar. Ia sangat merasa bosan berada terus didalam goa.
Nini Maru melarangnya memasuki ruangan rahasia, dimana ada beberpa tawanan. Mirna mematuhi segala perintah Nini Maru, tanpa bantahan apapun.
Wajah cantiknya bersemu merah, membayangkan siapa jodohnya kelak. Sebagai makhluk bunian, tentu Ia sangat berharap, jika jodohnya seorang pria berparas tampan nan rupawan..
Mirna keluar dari goa.. Ia menaiki sebuah buaian yang terbuat dari sulur pohon beringin. Ia berayun dengan hati yang ceria. Menanti dengan cukup lama, sang pujaan hatinya berada didepan mata.
Senandung-senandung yang dilantunkannya, mengusik tidur sesosok pria berwajah seram, yang kini sedang terluntang lantung ditengah hutan.
Sosok itu merasakan jika seseorang yang sedang senandung itu begitu menyayat hati. Membuatnya merasa penasaran untuk mencarinya.
__ADS_1