
Nini Maru.. Datanglah.. Aku memanggilmu. Aku telah menyediakan tumbal janin yang manis untukmu." seru seorang pria sepuh nan kurus.
Lama Ia memanggil dengan panggilan bathinnya, namun tidak ada jawaban dari Nini Maru.
Bibir keriputnya komat kamit membaca mantra pemujaan. Matanya terpejam berkonsentrasi mencari keberadaan Nini Maru.
Saat itu, Nini Maru sedang menyatroni rumah satria yang terlihat sepi. "kemana si tu bocah tengil, kenapa rumahnya terlihat sepi? Jadi gak ada temen ngobrol." Nini Maru mengomel sembari nangkring diatas pagar balkon rumah Satria.
Saat Ia masih dalam kegundahan, tiba-tiba satu sosok sukma pria sepuh bertubuh ceking menghampirinya.
"Nini.. Ikutlah denganku, aku telah menyediakan tumbal janin yang manis untukmu." sapa sesosok pria bertubuh ceking.
"haah.. Aki.. Ngangetin saja" Nini Maru dikagetkan dengan sapaan pria sepuh itu.
Sukma pria sepuh itu melayang diudara. "ayolah Ni.. Aku sudah lama menunggu waktu ini.." rayu si Aki kepada Nini Maru.
Nini Maru tampak berfikir. "ada sesaji apa saja untukku?" tanya Nini Maru.
"Ada satu janin, kopi hitam pahit, kembang tujuh rupa, pisang, minyak duyung, dan lain-lain.. Pokoknya paket komplit lah Ni.." Ucap sukma pria itu menjabarkan semua isi sesaji.
"okelah kalau begitu, kita berangkat sekarang." jawab Nini Maru segera. Lalu mengikuti pria tersebut. .
Ada reader yang penasaran, minyak duyung seperti apa, ini visualnya ya. Minuak ini digunakan untuk memberi makan keris, ritual ghaib dan sebagainya. Aromanya sangat menyengat. Mengapa Author tau, karena minyak ini dijual bebas di kota kecil tempat saya sewaktu masih remaja.
Sesampainya dirumah si Aki, Nini Maru disambut aroma kopi pahit hitam yang membuat semangatnya bergelora.

Nini Maru mentap sesaji tersebut. "cuma telor doank Ki, gak pakai ayam goreng?" tanya Nini Maru sedikit kecewa.
Si Aki membulatkan matanya."aku sudah menyiapkan Janin untukmu, maka jangan protes" sela si Aki dengan nada penuh amarah.
Nini Maru sedikit menciut mendengar amarah dari si Aki.
__ADS_1
Dengan cepat Ia melahab sesaji yang diberikan untuknya.
Saat memakan janin itu, Ia merasakan tenaganya kembali pulih. Lama sudah Ia keluyuran tanpa arah, kini majikan lamanya merawatnya kembali.
Si Aki memejamkan matanya. Ia membakar dupa, menaburkan kemenyan, sembari mengambil keris yang tergeletak didepannya, mengoleskan minyak duyung kepada keris itu. lalu komat kamit membaca mantra.
"terimalah sesajiku Ni.. Dan jadilah pengikutku.. Maka patuhilah segalah perintahku..!!" ucap Si Aki dengan suaran lantang dan penuh penekanan.
"patuhi...patuhi..patuhilah... Nini.." ucapnya berulang kali.
Seketika Nini Maru kembali berubah wujud dengan penampakan yang sangat mengerikan.
"aku mematuhimu Ki.." ucap Nini Maru dengan patuh.
Si Aki terus membacakan mantranya. Membuat Nini Maru berada dibawah perintahnya.
"garis keturunan terpilihnya sudah datang.. Lama sudah aku menunggu waktu ini Ni.. Maka binasakanlah mereka semuanya. Jangan sampai ada yang tersisa. Mereka harus musnah.!!" perintah si Aki dengan lantang..
"titahmu adalah perintahku Ki.." ucap Nii Maru merunduk. Kini Ia berada dibawah kendali si Aki.
"pergilah.. Dan buat mereka sengsara.." titah Si Aki, dengan tatapan penuh dendam.
Nini Maru melayang, menembus kegelapan. Ia menuju rumah Roni. Namun Ia mengurungkan niatnya. Ia masih ingin memncerna dan meresapi apa saja yang batu di nikmatinya, hingga Ia lupa akan tugasnya.
Menjelang sore hari, Nini merasakan arkma tubuh Satria berada dekat disekitar desa. Ia melihat dikejauhan, mobil Satria sedang menuju pada takdirnya. Tak lama lagi Ia akan menemukan keluarganya.
Ia memilih yang terlemah, yaitu Roni. Kondisi fisik dan mentalnya yang sedang terganggu, membuatnya sangat mudah untuk merasuki Roni.
Ia masuk melalui ubun-ubun Roni. Sudah lama Ia tak berkunjung kerumah Mala, dan kali ini Ia akan membuat kegaduhan.
Mantra yang dibacakan oleh si Aki, membuat Nini Maru merubah wujud aslinya.
Saat Ia merasuki tubuh Roni, Seketika membuat Roni bertindak diluar nalarnya. Ia akan mengikuti apa yang di perbuat oleh Nini Maru.
Saat Ini Ia melihat Satria yang berada diufuk barat, sedang menuju mengendarai mobilnya.
Nini Maru memerintahkan Roni agar menjemputnya dan mencelakai Satria.
__ADS_1
Tubuh Roni yang dalam kendali Nini Maru mengikuti saja apa yang diperintahkan olehnya. Tanpa sadar Ia berjalan menuju ujung desa, ganpa alas kaki. Ia berjalan sangat cepat.
Namun rencananya gagal dikarenakan warga yang berkerumun mencegahnya. Mereka mengikat tubuh Roni, sehingga membuatnya sulit bergerak.
Sesampainya dirumah Mala, Ia merasakan ada dorongan untuk melukai Satria dan Mala.
Ditempat lain, si Aki terus saja membacakan mantra dan membakar dupa, memerintahkan kepada Nini Maru untuk menyerang Satria.
Tujuannya Ia memasuki Roni Ialah agar mereka melukai Roni karena menyerang Mala, maka jika sampai mereka terbawa emosi, tentu mereka akan melukai Roni dan berbalik menyerang.
Jika mereka sampai kebabalasan , maka nyawa Roni akan melayang. Ibarat sebuah pepatah, "sekali mendayung, dua tiga pualu terlampaui. Hanya dengan merasuki Roni, maka semua akan terkena imbasnya.
Nini Maru mendapatkan perintah agar menyerang Satria, Ia ingin mencekiknya. Namun Mala berusaha membantu. Dan akhirnya Ia berbalik menyerang Mala.
Bisikan si Aki yang terus mengendalikanya membuat Ia semakin bringas.
Namun teriakan Mala kembali membuat kerumunan warga. lalu sebagian warga ikut membantu menolong Mala dan satria.
Si Aki terus mengontrol Nini Maru dengan merafalkan mantranya, sehingga mampu membuat Nini Maru memberontak dari cengkraman Warga.
Namun sial.. Hadi datang dan menyuntikkan obat penenang, sehingga membuat Roni melemah. Pengaruh obat tersebut, membuat kerja otot Roni tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya Nink Maru memilih pergi.
Ketika saat menjelang Malam, Ia kembali memasuki tubuh Roni lagi. Si Aki terus gencar merafalkan mantranya. Membuat Nini Maru tak mampu menolak perintahnya. Setelah mendapatkan kopi hitam pahitnya, Ia kembali bekerja sesuai perintah.
Kini Nini Maru memancar cahaya merah pada bola matanya. Membuat tubuh Roni semakin tak terkendali. Berulang kali Nini Maru membuat keluarga itu hampir celaka. Namun kesialan kembali dialaminya, saat Hadi membacakan suratil An nas ditelinya.
Ayat suci itu membuatnya sangat lemah, mengalahkan mantra si Aki. Mana mungkin kekuatan Sang Pencipta mampu Ia lawan.
Tubuh Nini Maru merasakan sangat panas. Lalu Satria melumpuhkan tubuh Roni dengan mengikatnya menggunakan sarung.
Dan hal yang membuatnya sangat paling menyakitkan Ialah, ketika Satria memaksanya keluar dari tubuh Roni. Tekanan pada jempol kaki Roni sangat menyiksanya. Meskipun Si Aki membantunya dengan mantra dari kejauhan, namun Ia tak mampu melawannya.
Dzikir yang dilakukan Satria, dan serangan dari khadam milik Satria, memaksanya harus segera meninggalkan tubuh Roni, sebelum Ia hancur berkeping-keping.
Dengan membawa rasa sakit yang sangat luar biasa, Nini Maru terpaksa keluar dari tubuh Roni.
Pertarunganya melawan dzikir dan khadam milik Satria, membuatnya harus kehilangan banyak energi..
__ADS_1