Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Usaha Jayanti untuk pencabutan Skorsing Satria


__ADS_3

[kriiiiing...] suara handphone berdering. satu panggilan masuk dari nomor tak dikenal.


"Hallo..dengan siapa saya bicara..?" ucap Jayanti dengan suara parau karena baru terbangun dari tidurnya.


"Maaf Bu, jika saya menggangu waktu ibu."


"Saya Dr. Prambudi yang bertugas sebagai Dekan fakultas sekaligus Dosen di kampus Satria." ucap Seseorang disana yang mengaku sebagai Dekan fakultas Satria dengan sopan.


Jayanti yang masih terbaring karena masih mengantuk, seketika langsung melek mendengar ucapan Dekan tersebut.


"i..iya..pak..ada apa ya dengan anak saya..?" ucap Jayanti dengan terbata dan penasaran. apalagi saat ini masih sangat pagi.


Prambudi diam sejenak. lalu melanjutkan ucapannya." kalau Ibu ada waktu, mungkin sebaiknya kita bertemu untuk membahas masalah ini." ucap Prambudi dengan nada berat. seperti ada beban yang sedang dipikulnya.


"ba..baik..pak.. saya akan segera kesana." ucap Jayanti, yang langsung beranjak bangkit dari ranjangnya.


"baik bu.. saya tunggu diruangan saya." ucap Prambudi, sembari mengakhiri sambungan telefonnya.


Jayanti bergegas kekamar mandi, membersihkan dirinya.


***


Jayanti menjenguk Satria dikamarnya, pemuda itu masih tertidur, mungkin pengaruh obat pasca penyembuhannya.Ia mendekati Satria, membelai rambut pemuda itu dengan lembut. luka dibagian wajahnya tampak masih membekas.


Ia mengecup lembut kening Satria. "Mama kekampus dulu yan sayang." ucapnya lirih. sembari berjalan meninggalkan kamar Satria.


******


Jayanti mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia merasa was-was dengan apa yang akan disampaikan oleh sang dekan.


selama ini. Ia belum pernah menghadap kepala sekolah atau dekan karena suatu kasus, sejak Satria masih PAUD. karena Satria adalah anak yang baik. jikapun Ia menghadap kepala sekolah ataupun Dekan, itu karena Satria mendapat prestasi yang membanggakan.


namun kali ini, nada bicara Prambudi berbeda, seperti ada sesuatu yang sangat penting dan mendesak.


Jayanti telah sampai di kampus. Ia memarkirkan mobilnya. setelah itu bergegas mencari ruangan Dr pambudi.


Hadi sedang berjalan dikoridor kampus, Ia masih memikirkan kondisi Satria."mengapa Kak Satria tidak menjengukku..? apakah dia sudah melupakanku..? bahkan nomornya sudah tidak aktif lagi.


saat Itu, tanpa sengaja, Jayanti menabrak tubuh Hadi yang sedang berjalan sembari melamun.

__ADS_1


"aaaaw.." rintih Jayanti, saat tubuhnya bertabrakan dengan Hadi.


"Sory tante..tidak sengaja.." ucap Pemuda itu dengan sopan.


Jayanti melirik pemuda itu dan menatapnya dengan seksama. [deeegh..] degub jantungnya berdetak kencang "mengapa pemuda ini memiliki kemiripan wajah dengan Satria..?" Jayanti berguman dalam hatinya.


[kriiiiiiing..] panggilan telefon masuk lagi. " i..ya pak. saya sudah berada dikampus." ucap Jayanti dengan terbata.


"dik..ruangan Dekan Prambudi diamana ya..?" ucap Jayanti kepada Hadi, pemuda yang ditabraknya tanpa sengaja.


Hadi menjelaskan letak dimana ruangan Dekan Prambudi dengan sangat jelas.


Jayanti mengangguk mengerti.."terima kasih ya..?" ucap Jayanti sembari tersenyum.


"sama-sama tante.." ucap Hadi sopan.


sepanjang perjalanan menuju ruangan Prambudi, Jayanti masih memikirkan tentang pemuda tadi. "mengapa bola mata pemuda itu sangat mirip dengan Satria..?" Jayanti berguman lirih.


"mungkin hanya kebetulan saja.." ucap Jayanti menepis rasa penasarannya.


Ia telah sampai didepan ruangan Dr Prambudi. ada nama tertulis diatas pintu.


"masuk.." ucap Prambudi dengan sarkas.


Jayanti masuk dengan langkah anggun.


"silahkan duduk" ucap Prambudi dengan ramah.


Jayanti mengangguk dan duduk dikursi yang tepat berada didepan Prambudi yang terhalang oleh meja kerjanya.


Prambudi mengambil nafas berat dan menghelanya dengan kasar.


" sebenarnya saya memanggil ibu karena ada sesuatu hal sangat penting" Prambudi menggantung ucapannya.


"kita tahu Satria adalah mahasiswa berbakat dan banyak menuai prestasi. bahkan mengharumkan nama baik kampus ini."


"Namun.. pertikaian Satria dengan salah satu anak dari pemilik saham dikampus ini, membuat Satria harus diskorsing." ucap Prambudi dengan berat.


Jayanti membulatkan matanya, Ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

__ADS_1


"a..aapa pak..? anak saya terlibat pertikaian..? setau saya, Satria itu anakanya tak banyak tingkah. jangankan musuh, teman saja dia tidak punya." ucap Jayanti dengan kesal. Ia tidak terima jika pihak kampus menuduh puteranya sebagai penyebab akar masalah.


"tapi ini benar bu, dan banyak saksinya." ucap Prambudi menjelaskan.


"Anak saya tidak mungkin melakukan itu jika tidak ada yang memulainya.." ucap Jayanti sedikit meninggikan nada bicaranya.


Prambudi menghela nafasnya dengan kasar. "tapi ini sudah menjadi keputusan pihak Rektor bu.." ucap Prambudi lirih.


"tetapi tidak semerta harus dilimpahkan semuanya kepada Satria donk..?! mengapa anak yang terlibat pertikaian dengan Satria tidak juga diusut apa penyebabnya..?! mengapa hanya Satria yang dipersalahkan?!" ucap Jayanti yang mulai emosi.


Prambudi mencoba setenang mungkin mengahadapi lawan bicaranya yang mulai tersulut emosinya. "keputusan ini tidak dapat diubah lagi.." ucap Prambudi dengan lirih


"tidak begitu dong pak..?! selama ini Satria sudah banyak mengikuti ajang prestasi bahkan memenangkan lomba sains yang diadakan di korea." Jayanti menjeda ucapannya.


"apakah semua presatasinya itu tidak dapat meringankan hukumannya.?" cecar Jayanti.


"buuu..!" sergah Prambudi. "ada satu cara agar anak ibu bebas dari hukuman ini." ucap Prambudi sarkas.


"apa itu..?" ucap Jayanti dengan cepat.


"Temui ibu Rere, dan meminta ampunanlah untuk mencabut hukuman tersebut." ucap Prambudi dengan lirih dan penuh penekanan disetiap katanya.


Jayanti terdiam, Ia berfikir sejenak. ada hal yang harus dipertaruhkannya, harga dirinya. namun disisi lain, Ia sangat menyayangi puteranya.


"mungkin tak ada salahnya aku mengorbankan harga diriku, hanya untuk meminta maaf dari orang itu..demi untuk Satria aku rela melakunnya" Jayanti berguman dalam hatinya.


Jayanti memandang dengan tatapan dingin kepada Prambudi. "berikan saya nomor Nona Rere, saya akan menemuinya" ucap Jayanti dengan sedikit kecewa. karena selama ini Satria telah banyak mengharumkan nama kampus ini dengan berbagai prestasi, namun hanya dengan sebuah kesalahan yang belum tentu Satria melakukan kesalahn itu seluruhnya, pihak Kampus memberikan keputusan sepihak.


ibarat sebuah pepatah 'kemarau setahun, dihapus hujan sehari' yang artinya, kebaikan yang teramat banyak, hilang dalam sekejap karena sebuah kesalahan kecil saja.


Prambudi mencatat nomor Nona Rere dan menyerahkannya kepada Jayanti.


Jayanti meraihnya dengan kesal. lalu beranjak meninggalkan ruangan Prambudi dengan hati yang sangat kesal. bahkan mereka tidak bersimpati sedikitpun kepada Satria yang sedang mengalami kecelakaan.


Jayanti melangkah dengan sangat tergesa-gesah. Ia saat ini sangat kesal sekali. Ia menapakai anak tangga dengan hentakan sepatunya yang terdengar keras.


saat Ia akan menuju parkiran, Ia bertemu lagi dengan Hadi. Ia menatap pemuda itu lekat. Ia mencoba mengabaikannya, karena saat ini Ia ingin segera menemui orang yang bernama Rere.


Ia sangat begitu penasarannya dengan sosok dibalik nama Rere, yang mana perintahnya tak terbantahkan. bahka pihak kampus tak mampu menolak perintahnya. "apakah Ia memiliki kekuasaan yang sangat kuat? sehingga apa yang dikatakannya harus dipatuhi." Jayanti berguman dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2