
"saya ingin kamu ceraikan Shinta cucu saya sekarang juga..!!" ucap Lili lantang.
Hadi tersenyum sinis. "jika saya tidak mau..?! Lalu apa yang akan Oma lakukan.?" tantang Hadi.
Wanita itu menatap dengan cibiran. "semua ada konsekuensinya..!!" ucap Lili dengan angkuh.
Chandra bagaikan buah simalakama. Disatu sisi menantunya, disisi lain ibunya.Ia tidak tahu harus berbuat apa. Jika saja kehadiran Mamanha akan menjmbilkan kegaduhan, mungkin Ia akan memilih tidak mengabari prihal keguguran Shinta. Alih-alih mendapatkan ketenangan, namun kekacauan yang ditimbulkan.
"Ma.. Sudahlah.. Itu masa lalu Mbah Karso..? Mengapa mama mengungkit kembali..?" ucap Chandra mencoba menenangkan masalah yang kian memanas.
Lili menoleh kepada Chandra dengan mensedekapkan kedua tangannya dibawah didada..
"mengapa kau begitu membelanya?! Atau kau masih menyimpan rasa untuk wanita itu..?! Jawab Mama..!!" teriak Lili dengan lantang.
Kali ini Hadi yang dibuat terperangah. Ia menatap Chandra sang papa mertuanya, dengan tatapan bingung dan penasaran. Chandra yang ditatap dua orang tersebut, dengan tatapan yang meminta penjelasan darinya, membuat Ia sangat gugup.
"emmm.. Sudahlah.. Jangan ungkit-ungkit masalah itu lagi.." ucap Chandra melemah. Ia sangat gugup memandang Hadi. Ia tidak membayangkan jika Hadi mengetahui kisah kasih tak sampai antara Ia dan ibunya, yang terpisah karena Lili.
"Jawabanmu sudah membuktika, jika kamu tidak dapat move on dari wanita itu..!! Jika begitu, mama akan memaksa Shinta untuk bercerai dengan garis keturunan menjijikkan ini." ucap Lili merendahkan.
"Ma.. mama tidak bisa egois dengan semua ini.. Cukup aku menjadi korban keegoisan mama..!! Namun jangan buat itu pada Shinta..!!" ucap Chandra mulai terpancing emosinya.
Lili menatap berang.
"Apa..?! Egois kamu bilang..?! Mama itu menyelamatkan kamu dari pengaruh buruk wanita yang bernama Mala itu..!! Jika kamu tidak Mama pisahkan, mungkin kamu juga bisa mati sama seperti kakakmu Nina yang dihisab habis darahnya oleh makhluk peliharaan kakeknya.!!" ucap Lili lebih emosi.
Duuuuuuaaaar...
Hadi bagaikan tersambar petir mendengar ucapan Lili yang begitu mengagetkannya.
"ibu.. Dan papa Chandra..? Mereka pernah menjalin cinta dimasa lalu? Lalu terpisah karena oma lili menuduh kakek melakukan praktek mu hitam yang merenggut nyawa dari anaknya yang bernama Nina?" Hadi berguman lirih dalam hatinya. Lututnya seakan-akan lemah mendengar semua itu.
"Mengapa semua ini harus terjadi.?" Hadi sangat terpukul dengan kenyataan yang baru saja didengarnya.
__ADS_1
Namun Ia melirik Shinta yang tampak tidak begitu syok dengan apa yang didengarnya.
"apakah Shinta sudah mengetahui hal ini sedari awal.? Lalu mengapa Ia mau menikah denganku jika Ia sudah tahu aku keturunan pengabdi ilmu hitam...? Bahkan sepertinya Ia mengetahui tentang kisah kasih antara Papanya dan Mala ibuku..?" Hadi seperti terombang ambing ditengah lautan tak bertepi, badai sedang menerjang biduk rumah tangganya.
Chandra mencoba mencari solusinya. "Mama.. Sudahlah.. Toh Mbah Karso sudah meninggal, tidak mungkin juga peliharaannya itu masih ada.. Tentu jin peliharaannya juga sudah ikut binasa." ucap Chandra mencoba menenangkan Lili.
Lili mencibir Chandra "jika kamu tidak ingin membuat Shinta menceraikan suaminya, maka kamu harus menerima konsekuensinya.!!" ucap Lili dengan nada ancaman.
"apa yang akan mama lakukan..?" tanya Chandra menantang.
Shinta yang sedari tadi mendengar pertengkaran itu, merasa sangat tertekan. Ia baru saja kehilangan calon anaknya, namun kini Omanya harus memaksa Ia kehilangan suaminya.
Jika saja kehadiran Omanya akan menimbulkan masalah, mungkin lebih baik jika Omanya tidak hadir disini. Bagaimana mungkin Ia dapat berpisah dari lelaki yang sudah tulus mencintainya dan menerima apa adanya.
Shinta merasakan perih dan da sesak didadanya yang kian mendera, dengan semua ucapan-ucapan yang di lontarkan oleh Omanya. Ingin rasanya Ia menyumpal mulut Omanya agar tak lagi berbicara.
"apa yang akan Mama lakukan..?!" Chandra masih dengan pertanyaan yang sama.
"Mama akan mencabut hak waris untukmu.. Seluruhnya, dan mama akan kirimkan pengacara untuk mengurusnya..!!" ucap Lili dengan penuh ancaman.
"Baiklah.. Ma.. Kirimkan pengacara itu untukku.!!" jawab Chandra, memantabkan keputusannya. Kehilangan warisan tidak sebanding jika Ia harus kehilangan kebahagiaan dan semangat hidup Shinta, puteri semata wayangnya.
"Bagus.. Mama akan kirimkan besok pengacaranya, agar kamu tau rasanya tidak memiliki harta apapun.!!" ucap Lili dengan sinis.
Lili melangkah meninggalkan kamar dengan perasaan sangat geram dan kesal.
Saat Ia mencapai ambang pintu..
"tunggu...!!" suara seseorang menghentikannya.
Lili menghentikan langkahnya, tanpa menoleh kearah lawan bicaranya.
"aku akan menurutkan semua keinginan Oma, jika itu jalan yang terbaik, aku tidak ingin karena kehadiranku, keluarga ini terpecah belah, mungkin lebih baik aku yang mengalah dalam hal ini...!!" ucap Hadi dengan lirih. Sebenarnya hatinya sangat luka, bagaimana mungkin Ia harus melakukan hal ini, namun semua tak dapat Ia pegang secara bersamaan. Sebuah pilihan yang sulit. Ia harus memilih salah satunya.
__ADS_1
Chandra dan Shinta terperangah mendengar apa yang diucapkan oleh Hadi. Shinta sangat syok.
Lili berbalik arah menatap Hadi dengan senyum penuh kemenangan.
"Hadi.. Apakah kamu sudah benar-benar memikirkan keputusanmu..?" ucap Chandra menyela.
"saya tidak ingin menjadi orang yang telah merusak keutuhan keluarga ini Pa.. Maafkan dengan keputusan saya.." ucap Hadi lirih.
"Kamu jangan Naif Hadi.! bagi saya kehilangan harta warisan tidak sebanding dengan kehilangan kebahagiaan puteri saya..!!" ucap Chandra menegaskan.
Hadi menjadi plin plan.. Disatu sisi Ia mencintai Shinta, disatu Sisi Ia tidak ingin hubungan papa mertuanya renggang dengan Oma Lili hanya karena dirinya.
"tetapi Pa...!! Saya tidak ingin membuat hubungan papa dan Oma menjadi renggang, yang mana semua disebabkan oleh saya.." jawab Hadi dengan berusaha tenang, meskipun hatinya gugup dan terasa sakit.
Shinta merasakan dadanya bergemuruh.. "tidak..tidak.. Shinta tidak mau bercerai dengan sayang.. Tolong cabut keputusan itu.. Shinta tidak mau kita berpisah yank.." ucap Shinta sembari mengatupkan kedua tangannya didada, dengan nada menghiba.
Wanita itu merasa sangat nelangsa, disaat Ia membutuhkan dukungan dengan kehimangan janinnya, namun Ia harus mendapatkan masalah baru, yang membuatnya semakin syok.
"Maaf Kakak sayang, mungkin jodoh kita hanya sampai disini." ucap Hadi, sembari meraih kepala Shinta, memabwanya dalam pelukannya, sembari mengecup ujung kepala istrinya dengan perasaan pilu.
Mereka sedang dalam pengujian cinta, dimana orang yang saling mencintai harus dipaksa berpisah karena keegoisan ambisi seseorang.
Lili merasa menang. Ia menatap tanpa Iba sedikitpun.
"Tidak.. Shinta tidak mau berpisah dari sayang.. Tolong jangan tinggalkan Shinta.." ucap Shinta tersedu, sembari mengeratkan pelukannya ditubuh Sang suami yang kini ikut duduk ditepian ranjang.
"dengarkan Oma Shinta, apa yang Oma lakukan untuk kebakkanmu..!! Oma tidak ingin kamu mengalami nasib sial seperti almarhum Tantemu Nina.!!" ucap Lili dengan lantang.
Shinta terus menggelengkan kepalanya, berharap Hadi mencabut keputusannya. Ia tidak ingin berpisah dengan kekasih hatinya, karena semua prahara dimasa lalu.
Shinta menatap Chandra, meminta Papanya untuk membantunya. Tatapan penuh dengan kepiluan.
"Hadi.. Yakinlah.. Setiapa masalah akan ada jalan keluarnya, kita akan memecahkan masalah ini bersama-sama. Jangan mengambil keputusan saat sedang kacau.." ucap Chandra mengingatkan.
__ADS_1
tanpa sadar jarum infus tergeser yang melekat dipergelangan tangan Shinta. lalu darah naik kedalam selang infus. Mendadak Shinta tak sadarkan diri...
~bersambung...~