
Warga berkumpul didepan rumah Bayu. Mereka tampak marah dan begitu emosional karena menyaksikan Makhluk iblis betina itu masuk kerumah Bayu.
"Jangan-jangan makhluk itu peliharaan orang tersebut. Karena jelas masuk kedalam rumahnya." ucap seorang warga pria dengan kesal, sembari memainkan goloknya.
"ayo Kita masuk saja..."ujar seorang diantaranya.
[Iya..iya..] suara sahutan dari beberapa warga membenarkan ucapan pria tersebut.
Lalu warga meringsek masuk kedalam perkarangan rumah Bayu.
Sementara itu, Pria itu mengintai dari jendela kamarnya. Ia merasakan jika ada terjadi sesuatu yang membuat para warga merasa marah hingga harus berbondong-bondong kerumahnya dengan membawa segala persenjataan.
Terdengar suara teriakan dan seruan agarbsang pemilik rumah itu segera keluar dan menampakkan dirinya.
Pria itu memakai topinya, lalu menurunkan sedikit kepala topinya itu hingga menutupi sebagian wajahnya. Ia turun menapaki anak tangga, dan menuju lantai dasar lalu mencoba menuju kearah pintu utama.
Dengan perasaan yang tenang, Ia membuka pintu tersebut, lalu melihat begitu banyak warga yang sudah tampak emosi dan penuh kecurigaan terhadap Bayu kini menjadi tertuduh atas perbuatan yang tidak Ia lakukan.
"Hei.. Kamu.. Kemana kamu sembunyikan iblis betina yang telah memangsa calon bayi warga kami..?" terdengar suara teriakan dari seorang warga yang tampak sangat marah.
"Iya.. Kamu pasti punya pesugihankan..? Jawab saja, ayo mengakulah.." gertak seorang warga lainnya dengan wajah yang tidak bersahabat.
Sementara itu, Nini Maru kini berada didalam kamar lantai 3 yang dulunya tempat pemujaan untuknya. Namun kini kamar itu sudah berdebu dan tak terurus lagi.
Ia begitu menikmati sajiannya, Ia tidak memperdulikan apapun. Jikapun Bayu harus jadi tertuduh atas perbuatan yang dilakukan olehnya, itu sudah menjadi sesuatu yang lumrah baginya, karena Bayu juga sudah mulai membangkang kepadanya. Maka Nini Maru berharap mendapatkan ganjaran yang setimpal atas pengkhianatannya.
Nini Maru telah menghabiskan seluruh janin buruannya. Ia tampak merasa puas dan membersihkan sisa darah yang menempel disetiap sudut mulutnya dan sela-sela jemarinya. Bahkan ceceran darah dilantai juga tak luput dari sapuan lidahnya.
Disisi lain, Bayu harus berhadapan dengan puluhan warga yang sudah tampak emosi dengannya, namun Bayu masih tetap bungkam akan semua pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.
"Heei. ! Kenapa kau masih diam saja..?! Dimana kau sembunyikan iblis betina itu ha..?! Teriak seorang warga dengan geram.
__ADS_1
"Ayo.. Paksa dia suruh mengaku, karena sudah jelas iblis itu tadi tampak masuk kedalam rumah ini.." ujar yang lainnya.
Lalu Mereka berusaha menghampiri Bayu, dan ingin mencengkram lengan pria itu.
Namun dengan cekatan, Bayu menahan tangan warga tersebut, lalu menepisnya dengan hentakan yang kasar, sehingga membuat warga itu tersgeser beberapa langkah.
"Pergilah daru rumahku.. Aku tidak melakukan apapun, lalu atas tuduhan apa apa kalian memfitnahku.." jawab Bayu dengan tenang.
"Kami menyaksikan jjka iblis itu masuk kedalam rumahmu, dan membawa jani hasil curiannya yang diambil dari seorang warga yang tengah mengandung." ujar warga setengah baya tersebut.
Seketika Bayu terdiam, Lalu mencoba mencerna setiap ucapan warga tersebut.
"Apakah benar yang diucapkan mereka jika Nini Maru menyelinap kerumahku..? Jika benar ini sungguh suatu masalah yang sangat besar." Bayu berguman dalam hatinya.
Perbuatan Bayu yang tampak menantang dan tidak bisa diajak kompromi, membuat warga semakin marah.
Sementara itu, Nia, Rumi, dan Danang yang mendengar suara berisik diluar rumah merasa terganggu. Lalu mereka keluar dari kamarnya untuk melihat apa yang terjadi.
Lalu sebagian warga mengintrogasi para wanita yang kini sudah berada disisi Bayu. Mereka mempertanyakan kepada keduanya tentang keberadaan makhluk mengerikan itu.
Ingin rasanya mereka mengungkapkan segala apa yang terjadi dirumah ini.
Namun, karena selama ini majikannya selalu memberi mereka kenyamanan dan juga materi, akhirnya mereka memilih untuk bungkam.
"Tarik saja pria itu, bawa kerumah pak RT, paksa Ia untuk mengakui semuanya..!" ucap seorang warga dengan suara lantangnya.
Sesaat kemudian, tampak Nini Maru yang baru saja selesai menyantap sajian janinnya itu terbang melayang melintasi bubungan rumah Bayu, lalu sembari tertawa cekikian Ia bertengger dahan pohon jambu madu yang berada diperkarangan rumah Bayu. Sontak hal ini mengalihkan perhatian warga.
Semua warga memandang kepadanya, dengan tatapan geram.. "Hei setan laknat, enyahlah kau dari kampung ini.." teriak warga yang sudah emosi terhadap Nini Maru.
Warga kemudian mencoba mengepung Nini Maru sembari mengacungkan senjatanya dan ditujukan kepada Nini Maru sebagai bentuk ancaman.
__ADS_1
Lalu dengan mudahnya Nini Maru melintasi para warga dengan terbang dari satu dahan ke dahan lainnya. Namun naas, saat melintasi para warga, seorang diantara warga itu menarik ujung pakaiannya yang terjuntai. Lalu perbuatan warga tersebut membuat Pakaian Nini Maru terlepas, dan menampakkan tubuhnya yang polos dengan lekuk tubuh aslinya.
Semua mata terperanjat, menyaksikan tubuh keriput penuh daging terkelupas. Sorot mata iblis itu tampak marah, lalu dengan cepat Ia menghampiri warga yang menarik pakaiannya tersebut, dan mendaratkan sebuah cakaran didiwajah warga tersebut.
Pria yang menjadi sasaran kemarahan Nini Maru mengejang, lalu jatuh tak sadarkan diri. Dengan cepat nini Maru mengambil kembali pakaiannya dan mengenakannya.
Seorang warga melemparkan goloknya kepada Nini Maru, lalu mengenai lengan iblis betina tersebut, dan dengan seringainya, Nini Maru berbalik, lalu kembali memungut golok itu dengan lentikan tangannya, dan mengangkatnya ke udara, lalu kembali Ia lemparkan kepada warga yang mencoba melukainya tadi.
warga tersebut terkena lemparan golok itu tepat juga dilengannya.
"Aaaaargh.." erangan kesakitan dari warga itu membuat yang lainnya bertambah kalut.
Sedangkan Bayu masih diam mematung, Ia menyaksikan warga sedang berusaha untuk melakukan perlawanan terhadap Nini Maru.
Sesaat Ia Bayu mengambil sebuah kerikil yang tampak berada di perkarangan rumahnya. Lalu menjentikkannya kepada Nini Maru, dan menegenai kepala iblis betina tersebut.
Nini Maru lalu berbalik hendak menyerang Bayu, namun Bayu kembali mengambil sebilah golok yang dipegang oleh salah seorang warga dan mengayunkannya kepada Nini Maru.
Dengan cekatan, Nini Maru terbang melayang membelah kegelapan malam, dengan menyisakan suara cekikikannya yang membuat bulu kuduk merinding.
Lalu Bayu melemparkan golok itu keatas perkarangn rumahnya yang terbuat dari batu cetakan yang disusun rapi.
Prraaaank...
Suara dentingan golok beradu dengan batuan yang tersusun itu terdengar sangat kentara.
Para warga saling bertatapan, mereka tidak tau harus berbuat apa. Apakah mereka tetap harus menuduh Bayu atau sebaliknya. Kini mereka fokus untuk membawa para teman mereka yang terluka.
Sementara itu, Bayu beranjak pergi masuk kedalam rumah dan diikuti oleh Nia, Rumi dan juga Danang.
Tanpa Bayu sadari, ke tiga Asisten rumah tangganya itu sedari tadi sudah ketakutan dan hampir saja pingsan saat menyaksikan Nini Maru kembali muncul dihadapan mereka. Para asisten rumah tangga itu masih menyimpan trauma yang mendalam atas perlakuan Nini Maru kepada mereka.
__ADS_1
Diisisi lain, para warga membawa teman mereka yang terkuka karena serangan Nini Maru barusan.