
Widuri dengan sekejap mata sudah menghilang dari pandangan, tanpa sesiapapun yang melihatnya. Bukannya Ia tidqk bisa menghadirkan makanan dengan sihirnya, namun berarti itu adalah makanan yang berasal dari alam ghaib dan akan berbahaya jika dimakan oleh Satria, maka Ia lebih baik mencari makanan didunia nyata.
Ia terbang melayang menghampiri Satria yang tampak serius dalam menghafal rafal mantra tersebut.
Widuri mendarat sempurnah, tepat disisi kanan Satria.
"Makanlah.. Aku membawakan makanan ini untukmu, sisakan satu untuk kamu bersahur esok.." ujar Sang Peri dengan tenang, lalu membuka sebungkus nasi dan lauk pauk.
"Hari ini kamu masih bisa menikmati lauk pauk, namun esok dan 2 hari kedepannya, kmu hanya bisa menikmati nasi putih saja, tanpa lauk apapun.." ujar Widuri menjelaskan, sembari menyodorkan nasi tersebut kepada Satria.
Satria menerimanya."Terima kasih, tetapi dari mana kamu mendapatkannya..?" tanya Satria dengan penuh selidik.
Widuri menjawab dengan senyum renyah. " Dari seseorang, yang baik hati." jawab Peri itu dengan santai, sembari menatap lekat wajah tampan sang Pemuda yang kini mulai menyuapkan makanan kemulutnya.
"Bismillahirrahminirrahim.." ucap Satria, lalu menyuapkan makanan itu kemulutnya, saat lauk itu menyentuh lidahnya, Ia berhenti sejenak, lalu memandang Widuri dengan seksama. "Aku mengenal masakan ini, apakah Kau mendapatkannya dari seseorang..?" tanya Satria dengan tatapan meminta kejujuran dari sang Peri.
Widuri menganggukkan kepalanya dengan santai. "Ya.. Coba tebak dari siapa.." ucap Widuri berteka-teki.
"Apakah dia seorang wanita cantik..?" tanya Satria, lalu kembali menyuapkan makanannya. Dia sangat merindukan orang yang memasak makanan itu.
"Iya.." jawab Widuri datar.
"Dia Ibuku.." ucap Satria, lalu dengan lahab mengunyah makakanannya.
"Ya.. Dan kamu mengenali masakannya.? Sungguh luar biasa.." ucap Widuri kagum.
Ya.. Baginya Satria pemuda yang luar biasa.
Satria menoleh kepada Widuri." Apakah Kamu tidak ingin mencoba mencicipi masakan Ibuku..?" tanya Satria, lalu menyodorkan makanan itu kepada Widuri.
Dengan cepat Peri itu menggelengkan kepalanya, " aku tidak memakan ampasnya, namun hanya sarinya saja. Jawab Widuri dengan penuh seksama.
Maka tanpa permisi lagi, Widuri mengambil sebungkus makanan yang tersisa, dqn menyisakan satu milik Satria untuk bersahur.
__ADS_1
Peri itu hanya menyesap aromanya, dan menghisap sarinya. "Ampasnya akan aku berikan kepada hewan diluar sekitar goa.." ujar Widuri, lalu beranjak dan memunguti sisa sampah yang bekas makan Satria.
"Aku ingin kekolam, untuk mandi dan minum.." ujar Satria. tanpa menoleh kepada Widuri yang sibuk membersihkan lokasi bekas sisa mereka makan.
"Pergilah.. Aku ingin keluar sejenak.." jawab Widuri dengan dingin.
"Tidak mencoba ikut..?" tawar Satria.
"Jangan mencoba merayuku, itu akan membuatku khilaf.." jawab Widuri, lalu terbang mendahului Satria.
Pemuda itu menatap wajah sang Peri yang tampak malu-malu dan tersipu, lalu tak terlihat lagi.
Satria berjalan menyusuri lorong, untuk mencapai kolam yang ditemuinya waktu itu.
Sementara itu, Widuri keluar dari Goa, Ia meletakkan sisa makanan itu didekat sekitaran goa, berharap akan ada hewan liar yang memakannya.
Sayup-sayup Widuri mendengar suara senandung cinta milik Mirna, Ia memejamkan matanya, lalu mengerjapkannya kembali. Widuri terbang melayang menemui pemilik suara tersebut.
Sesampainya ditempat sang pemilik senandung, Widuri duduk disebatang ranting pohon dan memandangi sang gadis anak bunian yang tampak sedang berayun disulur phohon beringin.
Widuri mendengarkan Mirna yang masih terus bersenandung lagu tentang rindu dan cinta dalam sebuah penantian.
Setelah Mirna selesai, bersenandung, Ia dikejutkan oleh seseorang yang sedari tadi ternyata sedang memandanginya.
Mirna mengernyitkan keningnya, memandang kepada sosok peri didepannya yang tampak begitu sangat serius memandangnya.
Sesaat Widuri turun dari ranting tersebut, lalu menghampiri Mirna sang gadis bunian.
"Siapa Kau..? Apa yang sedang kau lakukan didaerah kekuasaanku..?" tanya Mirna dengan lembut, sembari menatap tamu yang tak diundang.
"Maaf jika aku lancang, aku hanya terpana mendengar suara merdumu, lalu aku ingin bertemu langsung dengan pemiliknya.. Apakah kau keberatan..?" tanya Widuri dengan senyum ramah.
"Tentu saja tidak.." jawab Mirna tenang. Bagai mungkin Ia bisa marah, jika selama ini Ia hanya hidup sendirian dan tanpa teman. Lalu baru kali ini dia kedatangan seseorang yang mengajaknya ngobrol.
__ADS_1
Widuri lalu membuat simpul sulur pohon beringin dan ikut juga berayun bersama Mirna.
"Siapakah yang sedang kau tunggu..?" tanya Widuri dengan penuh selidik.
Mirna yang ditanya terdiam, Ia menghentikan buaiannya. "Aku tidak tau.. Namun aku merasakan jika orang tersebut sudah sangat dekat." jawqb Mirna dengan pandangan menerawang.
"Bagaimana mungkin kau bisa menunggu seseorang yang belum pernah engkau temui..?" tanya Widuri kembali berayun dengam lembut.
"Aku juga tidak tahu, namun hatiku dapat merasakan Ia begitu sangat mengagumkan." jawab Mirna dengan sangat yakin.
Widuri menghentikan buaiyannya, lalu menatap lurus kedepan.."Sepertinya akan ada seorang lagi yang lain juga sedang menuju kepadamu, Ia ingin menemui juga, namun dengan rupa yang amat menyeramkan.. Apakah kau sanggup untuk menemuinya kelak..? " tanya Widuri masih dengan tatapan nanarnya.
"Bagaimana kau bisa tahu..?" ganya Mirna penasaran.
Widuri tersenyum datar "Ya aku tahu.. Sebab aku bisa melihatnya" jawab Widuri dengan santai.
Mirna menoleh kepada Widuri. "Benarkah..? Apakah kau bisa memperlihatkannya untukku..?" tanya Mirna dengan penuh penasaran.
"Bisa.." jawab Widuri singkat, tanpa ekspresi.
"Benarkah..? Kalau begitu perlihatkan padaku.." ucap Mirna dengan raut wajah tak sabar.
Widuri tersenyum renyah. "Biarkan menjadi kejutan untukmu.." jawab Widuri, lalu terbang tepat dihadapan Mirna. "Aku permisi pulang, lain kali Aku akan mengunjungi, Mu.." Ucap Widuri, lalu mengepakkan sayapnya dan terbang sedikit tinggi.
"Selamat, tinggal.." ucap Widuri, lalu terbang melayang dan menghilang dari hadapan Mirna yang kini diliputi perasaan penasaran tentang siapa yang kini disebutkan oleh Widuri.
suasana hati Mirna kini penuh dengan rasa penasaran "Siapakah seorang lagi..? Yang dikatakan oleh.." Mirna menggantung ucapannya. menepuk keningnya, karena lupa menanyakan siapa nama gadis yang baru saja menemuinya tadi.
Mirna turun dari buaiannya, lalu menuju goa. Ia menyusuri lorong goa, saat ini Ia mendengar suara rintihan dari dalam jeruji besi tempat para tahanan yang kini dalam tawanan Nini Maru.
"Siapa sebenarnya para tawanan itu..? Mengapa mereka begitu lama berada disini..?" Mirna mencoba mencari jawaban dari apa yang selama ini menjadi pertanyaan dalam hatinya.
Ia mencoba menemui para tawanan yang tampak sangat memohon untuk dilepaskan.
__ADS_1
Jiwa mereka seakan ingin lepas kembali kepada tempat yang seharusnya.
Di salah satu kerangkeng besi itu, tampak sebuah Jiwa yang berkaki palsu. Mirna mencoba menghampirinya, lalu menatapnya lekat, seolah merasakan sesuatu yang berbeda, begitu amat dekat. Namun Mirna tidak mengetahui apa alasan Nini Maru menahan jiwa orang tersebut.