
Jika Chandra menggil karena hujan yang membasahinya, Mala menggigil karena harus menghadapi kenyataan jika Ia akan mengganti pakaian suami barunya.
"Hadi dan Hamdan kurang kerjaan banget sih.. Masa iya aku yang harus mengganti pakaiannya.." Mala berguman lirih. Namun melihat wajah pucat Bayu yang terkena air hujan rasa tak tega menghampiri hatinya.
Mala mengambil handuk, lalu kembali menghampiri Bayu yang masih tak sadarkan diri.
Mala mulai melepaskan satu persatu pakaian pria itu. Hingga akhirnya Ia harus terpaksa melepaskan uderware sebagai penutup terakhir Bayu dengan memejamkan matanya.
Alangkah kagetnya Ia melihat sesuatu milik pria itu yang tak pernah dilihatnya. "Haaah..!" Mala terpekik tertahan, menghadapi kenyataan jika senjata milik Bayu ternyata dua kali lebih besar dari milik almarhum suaminya meski dalam kondisi tertidur.
Mala kebingungan. Lalu segera melemparkan handuk tepat berada diarea sensitif Bayu. Seketika Mala bergidik merinding membayangkannya. Lalu menepuk keningnya, dan segera mengganti pakaian Bayu.
Setelah selesai, Ia memungut pakaian Bayu, dwn meletakkannya di keranjang kotor pakaian.
Mala keluar dari kamar, celingukan mencari Hadi. Tampak ketiga pria itu sedang duduk berbincang di ruang TV sembari minum kopi dan mengemil.
"Sudah selesai Bu..?" tanya Hadi kepada Mala yang berdiri mematung diambang pintu.
Lalu Hadi berdiri beranjak dari duduknya. "Paman, bantu saya angkatkan Pak Bayu keatas ranjang." ucap Hadi kepada Hamdan yang masih menyeruput kopinya whitenya.
"Iya.." ucap Hamdan, dan segera mengikuti Hamdan.
"Haaaah..? A..apa..? Bayu harus seranjang denganku..?" Mala semakin gemetar. Bahkan Hadi tak meinta persetujuannya terlebih dahulu.
"Ta..tapi.." ucap Mala semakin gugup.
"Tak mengapa Bu, kasihan pak Bayu dilantai, lihatlah karpetnya basah, bekas terkena pakaiannya yang basah, nanti masuk angin kan Ibu juga yang repot.." ucap Hadi, lalu mengangkat tubuh berat Bayu yang dibantu Hamdan menuju ranjang Ibunya.
Mereka sengaja meletakkannya sedikit ketengah, lalu meninggalkannya begitu saja.
Kini Hadi dan Hamdan keluar dari kamar Mala dan melanjutkan obrolannya.
Ketika keduanya telah sampai diruang TV, tampak Chandra sudah tertidur meringkuk kedinginan.
"Hadi.. Segeralah tidur.. Karena esok kamu harus segera kembali pulang kekota." titah Hamdan dengan tenang.
__ADS_1
"Mengapa harus terburu-buru Paman..? Rasa kangen sama Ibu saja belum hilang, dan harus kembali esok.." jawab Hadi sembari mengunyah camilannya.
"Masalah besar sedang menghadangmu, mengenai perusahaan yang kamu pimpin." ucap Hamdan mengingatkan.
Deeeeegh..
"Maksud.. Paman..? Apakah aku akan mengalami kebangkrutan..?" cecar Hadi tak sabar.
Hamdan menggelengkan kepalanya. "Bukan.. Namun semua ini ada kaitannya dengan Satria.. Jika semua itu nanti terjadi, maka kamu harus ingat, hubungi Ayah barumu.. Karena hanya Ia yang dapat menyelesaikannya." ucap Hamdan memberikan peringatan.
"To the point sajalah Paman, jangan membuat Hadi menjadi penasaran.." ucap Hadi tak sabar.
"Kamu akan tahu sendiri nanti, dan ini adalah masalah besar, maka bersiaplah." ucap Hamdan, sembari menyeruput habis sisa kopinya.
"Tapi.." ucap Hadi tercekat ditenggorokannya. Namun Hamdan sudah beranjak dari duduknya, dan mengambil posisi dikarpet tebal, dan bantal yang tersedia, lalu menarik selimut dan tidur.
Kini tinggal Hadi yang bergelut dengan fikirannya. Ia memikirkan hal apa yang sedang dibicarakan oleh Hamdan.
Namun, Ia juga sudah sangat merasa kantuk yang sangat luar biasa. Hadi memasuki kamar, dan menuju peraduannya, membaringkan tubuhnya disisi Shinta yang sudah terlelap dengan dengkuran halus.
Sementara itu, Mala masih mondar mandir dikamarnya, Ia bingung apakah harus tidur seranjang dengan pria itu. Namun Ia juga sudwh mengantuk berat.
Dengan perasaan bercampur aduk, Mala akhirnya memaksakan dirinya tidur ditepuan ranjang, membelakangi Bayu yang masih tak sadarkan diri.
Tiba-tiba Bayu menggigil kedinginan, meracau tak jelas. Mala membuka matanya kembali. Lalu mengambil selimut bed covernya dan menyelimuti pria itu.
Lalu Ia kembali tertidur menjemput mimpinya.
******
Adzan subuh berkumandang, Bayu mengerjapkan matanya. Ia melihat interior kamar yang tak asing baginya.
Seketika Ia dikagetkan oleh seorang wanita cantik nan rupawan sedang tertidur lelap disisinya. Bayu mencoba mengingat terakhir Ia berada diluar halaman rumah, melqjukan ritual penutusan hubungan buhulnya dengan warisan ilmu hitam leluhurnya.
Dan tiba-tiba saja hujan turun dengan sangat lebatnya mengiringi penutusan buhulnya dengan makhluk ghaib, lalu Ia tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Siapa yang membawaku keranjang ini..? Tidak mungkin Mala yang mengangkatnya.." Bayu berguman lirih dalam hatinya.
"Jika Hadi dan pria berjanggut itu yqng mengangkatnya, Apakah Hadi tidak membenciku karena menikahi ibunya dengan cara yang tiba-tiba..?" Bayu berperang dengan hatinya.
Adzan subuh yang berkumandang dengan syahdu, membuat Bayu yergerak hatinya untjk melaksanakan ibadah subuh.
Ia beranjak bangkit dari ranjangnya dengan sangat hati-hati, Ia takut jika wanita itu sampai terbangun.
Saat menuju kamar mandi, Ia melihat pakaian basahnya berada dikeranjang pakaian kotor. "Haah..? Berarti Dia mengganti pakaianku..? Astaga.. Jangan-jangan Mala sudah melihatnya.." Bayu berguman dalam hatinya. "Akh.. Biarlah.. Toh juga pada akhirnya dia akan melihatnya juga.." Bayu berguman lirih. Lalu masuk kekamar mandi, dan hendak bersuci.
Mala menggeliatkan tubuhnya, Ia tersentak bangun saat mendengar sayup-sayup suara seorang pria sedang mengucapkan takbir.
Mala melirik kearah sudut kamarnya. "Bayuuu.." gumannya lirih dalam hatinya. Ia melihat pria itu sedang menunaikan ibadah shalat subuhnya.
Mala memandanginya dengan perasaan yang tak tau itu apa. Lalu Ia beranjak dari ranjangnya, dan ingin membersihkan dirinya, untuk juga shalat subuh.
Saat Ia keluar dari kamar mandi, Bayu ternyata sudsh selesai, kini Mala yang berganti menggunakan sejadah yang sama.
"Jika terbangun subuh, bangunkan saya, biar shalat berjamaah.." ucap Mala ketus semabri mengenakan mukenanya.
"Bayu tercengang mendengar ucapan Mala. "Em..Iya.. Maaf, esok akan saya bangunkan.." jawab Bayu terbata.
Ada bunga-bunga indah mengisi relung hatinya yang selama ini gersang, sebuah air mengalir sejuk menyentuh kalbunya. "Aku bersiap menjadi imammu yang baik.. Hingga ke jannah." Bayu berguman mantab dalam hatinya.
Bayu memandangi wanitanya yang tampak khuysuk dalam ibadahnya.
"Kecantikanmu luar biasa, meskipun terkadang kamu bersikap jutek padaku, namun aku tahu itu hanya bentuk kekesalanmu dengan pernikahan kita yang begitu amat mendadak.. Namun, aku akan membuatmu jatuh mencintaiku sepenuh hatimu.. Dengan perlahan, namun pasti.." janji Bayu dalam hatinya.
Mala telah selesai dalam ibadahnya, Ia melipat mukenanya. "Apaa..? Kenapa kamu melihati saya seperti itu.." tanya Mala dengan ketus, meski sebenarnya Ia sangat grogi.
"Terimakasih sudah menyalinkan pakaian saya yang basah, dan diijinkan tidur diranjangmu.." ucap Bayu dengan tulus.
"heeem.. " jawab Mala malas, Ia mencoba menghindari tatapan Bayu yang terus memandanginya.
Bayu merasa sangat geli melihat tingkah Mala, yang mirip Abege dimasa pubertas saat ditatap oleh lawan jenisnya. Alias salah tingkah.
__ADS_1