Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Kepulangan-3


__ADS_3

Satria memandangi Mirna yang dengan berani membinasakan harimau tersebut.


Darah membasahi pakaiannya, apalagi gadis itu hanya menggunakan sebuah kemban saja.


"Sebaiknya kau ganti pakaianmu, tidak mungkin Kau tidur dengan bau amis darah harimau tersebut." titah Satria, Ia lalu membuka ranselnya, mencari pakaian dan celana panjang jeansnya.


Pakailah pakaianku ini, dan bersihkan dirimu dari amis darah itu.." ucap Satria dengan nada perintah.


Mirna mematuhinya, lalu menyalin pakaiannya dibalik pohon tersebut.


tak berselang lama, Satria kembali mengantuk, Ia pun memejamkan matanya. Dalam tidurnya, seperti bermimipi, seolah itu nyata.


"Sayang..." ucap Seorang wanita cantik sembari mengulurkan kedua tangannya.


"Mama.." ucap Satria, saat melihat wanita itu mengulurkan tangannya, sembari tersenyum manis kepadanya.


"Mama..." ucap Satria dengan lirih. Ia mengejar wanita itu, namun saat jarak mereka hampir dekat, seorang pria paruh baya memegang pundak sang wanita, lalu keduanya melambaikan tangan kepada Satria dan berbalik badan lalu beranjak pergi.


"Mamaaaa... Papaaa.." teriak Satria dengan sangat kencang. Ia berusaha mengejar keduanya, namun keduanya tak dapat menunggunya, lalu menghilang.


"Heeeei..." suara seorang gadis membangunkannya dengan cara menepuk pipi pemuda itu.


Satria tersentak, Ia sangat kaget saat memimpika Mama dan Papanya yang tak lain adalah Jayanti dan Bram.


Saat Ia tersadar, hari sudah hampir subuh. "Setelah selesai shalat subuh, aku akan melanjutkan perjalanan pulang.." ucap Satria.


"Aku ikut denganmu.." jawab Mirna lirih.


Satria tak menyahuti, Ia tak memiliki waktu untuk berdebat dengan gadis itu.


Setelah waktu subuh tiba, Satria segera melaksanakan ibadahnya, dan setelah selesai, Ia langsung beranjak pergi. Bahkan Ia tak memperdulikan Mirna yang terus mengekorinya dari arah belakang.


"Pasti ada sesuatu yang terjadi pada keluargaku.. Mengapa Mama dan Papa tiba-tiba hadir dalam mimpiku.." ucap Satria dengan penuh debaran.


Saat bersamaan, Ia melihat siluet bayangan Opa dan Omanya yang saat ini berada dirumahnya dikota.


"Opa dan Oma..?" Satria berguman lirih. Lalu Ia kembali mempercepat langkahnya.


Ia tampak tergesah-gesah, dan harus segera sampai kerumah.


Mirna mengimbangi langkah pemuda itu agar tak tertinggal jauh dari Satria.

__ADS_1


Sesampainya pertengahan jalan, hujan tampak akan turun, langit mendung tampak menggantung dilangit. Lalu suara gemuruh datang bersahutan, dan kilatan cahaya petir tiba- tiba meyambar dengan penuh kilatan yang maha dahsyat.


Satria menghentikan langkahnya, Ia mencari tempat berlindung. Mirna berlari dibawah pohon yang menjulang tinggi.


"Heeeei.. Jangan berlindung disana, petir akan menyambar benda yang lebih tinggi.. Kemarilah." teriak Satria kepada gadis itu.


Lalu gadis itu berlari menghampiri Satria. Pemuda itu segera melepaskan tas ransel dan piasu sangkurnya, karena tas ransel dan pisau sangkurnya mengandung benda logam.


Lalu Satria menarik pergelangan tangan Mirna menuju sebuah dataran rendah yang mirip sebuah undakan tanah.


Keduanya berlindung disana dari sambaran petir yang semakin menggila. "Tutup telingamu dan rundukkan kepalamu.." titah Satria kepada gadis tersebut.


Lalu Mirna kembali mematuhi perintah pemuda itu.


Sesaat suara gemuruh serta ledakan dan kilatan cahaya petir menyambar dilangit dengan sangat begitu kuatnya.


Mirna yang terkejut dengan kuatnya suara petir tersebut, tanpa sadar terpekik dan memeluk pemuda disampingnya.


Satria terperangah atas tindakan spontan yang dilakukan oleh sang gadis. Sesaat setelah suara sambaran petir itu berlalu, hujan datang dengan sangat derasnya.


Hingga keduanya basah kuyup terkena hujan tersebut.


Rasa iba membuat Satria membiarkan gadis itu memeluknya, hanya untuk memberikan rasa hangat agar gadis itu tak mati kedinginan.


Setelah dua jam terguyur air hujan, Satria akan beranjak bangkit, namun Mirna tampak tak bergeming. "Heei.. Tepuk Satria diwajah sang gadis, namun tak ada jawaban. Satria memeriksa pernafasannya, namun masih ada tanda-tanda kehidupan.


"Sepertinya Ia pingsan." Satria berguman lirih.


Lalu Ia membopong tubuh gadis yang basah kuyup tersebut kebawah pohon, karena memastikan kondisi sudah aman.


Sesampainya disana, Ia melihat gadis itu menggigil kedinginan.


Satria bagaikan buah simalakama menghadapi kenyataan yang ada.


Akhirnya Ia mengambil keputusan yang amat berat. Ia melepaskan pakaiannya, lalu membawa gadis itu kedalam dekapannya, menghantarkan rasa hangat yang berasal dari tubuhnya.


Sesaat gadis itu mulai meraskan dengusan nafasnya yang beranjak normal, dan masih dengan mata yang terpejam.


Rambut hitam lurus dan panjang itu tergerai basah. Begitu sangat kontras dengan kulitnya yang putih halus bak pualam.


Satria memandangi wajah ayu nan rupawan tersebut.

__ADS_1


Setelah sekian lama, akhirnya Mirna tersadar. Lalu terkejut, karena mendapati pemuda itu sedang memeluknya. Ia menengadahkan wajahnya dan memandang pemuda itu.


Tatapan keduanya beradu, dalam sebuah goresan yang tak dapat dimengerti.


"Kamu sudah sadar.." tanya Satria mencoba tenang. Lalu melepaskan dekapannya, diiringi anggukan sang gadis.


"Jika begitu, bersiaplah, kita akan melanjutkan perjalanan pulang, aku memiki banyak urusan." titah Satria, lalu memungut tas ranselnya yang basah kuyup dan kembali menyarungkan pisau sangkurnya.


Mirna mengikuti langkah pemuda itu, meskipun Ia tak tahu kemana Satria akan membawanya.


Setelah hari hampir senja, keduanya sampai ditepi hutan. Suara deru mesin kendaraan sudah terdengar dengan jelas, begitu juga sorot cahaya lampu bohlam yang berasal dari rumah penduduk sudah terlihat.


"Kita hampir sampai. Namun kita tidak bisa melewati jalanan umum, Aku tidak ingin ada yang melihatmu bersamaku, kita harus melewati semak belukar untuk mencapai rumah Ibuku." ucap Satria menjelaskan.


Mitna hanya menganggukkan kepalanya, Ia hanya dapat melakukan itu, dan mematuhi segala apa yang diperintahkan oleh sang pemuda.


Sementara itu, Hadi yang sudah sangat pusing, akhirnya membuang gengsinya, Ia memberanikan diri menghubungi Ibunya, Ia menceritakan semua yang terjadi. Ia bahkan menceritakan kepada Ibunya tentang pesan Hamdan yang harus meminta bantuan kepada Bayu.


Mala tercengang mendengarnya. Ia tidak mengerti mengapa Bayu harus menjadi kunci dari segala permasalahan ini.


Meskipun Ia belum memiliki kedekatan dengan suami barunya, namun Ia mencoba mempercayai ucapan mantan abang iparnya tersebut.


"Emmm.. Mas.. " Ucap Mala kepada Bayu, yang saat itu baru saja selesai mandi dan baru pulang bekerja.


Mendengar panggilan kata 'Mas' yang keluar dari mulut Mala membuat hati pria itu sangat berbunga, bagaikan mendapat sebuah keberuntungan.


"Iya.. Ada apa..?" tanya Bayu, yang masih membenahi pakaiannya.


Mala tampak ragu untuk menceritakan apa yang tengah dihadapi oleh Hadi.


"Katakan saja.. Mungkin Mas dapat membantumu.." ucap Bayu meyakinkan.


"Hadi ingin meminta bantuanmu.." ucap Mala lirih.


Bayu menoleh kepada Mala.."Oh, Ya.. Bantuan apa yang dapat ku berikan untuknya.." tanya Bayu dengan penasaran, sekaligus senang, karena merasa dibutuhkan.


"Opa dan Oma Satria datang dari Osaka, Jepang. Mereka mempertanyakan kebenaran tentang siapa Satria sebenarnya." ucap Mala lirih.


Deeeeegh...


Bayu terdiam membisu. Akankah Ia mengungkapkan kejadian sebenarnya..? Jika Ia menjadi saksi bahwa Bram dan Jayanti melakukan Pujon atas diri wanita yang kini menjadi istrinya, bahkan pelakunya adalah Ki Kliwon, yang tak lain adalah leluhurnya.

__ADS_1


__ADS_2