Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Dilema-3


__ADS_3

Tepat pukul 11 siang, Satria sampai dirumah Chandra. Pemuda itu sengaja membawa kerumah ayah mertua Hadi yang juga merupakan rekan bisnis diperusahaan.


Shinta sudah mempersiapkan makan siang menyambut kedatangan Ibu mertuanya. Ia sudah tak sabar menantikannya. Entah mengapa kehamilannya ini sangat aneh, Ia sangat suka memandangi wajah Ibu mertuanya.


Chandra yang mendengar kedatangan Mala, begitu sangat antusias, namun Ia mulai menata hatinya, menerima takdir, jika Mala bukan suratan untuknya.


Rasa lelah dan juga mengantuk menggelayuti mereka. Namun semua demi Hadi, agar Ia tak menjadi tersangka dalam hal ini.


Hadi dan Shinta sangat antusias menyambut Mala dan Satria. Tak henti-hentinya Hadi memeluk kakaknya itu, apalagi mengetahui Satria selamat dalam misinya.


Namun semuanya tercengang, dan Hadi melepaskan pelukannya, saat melihat seorang gadis cantik nan rupawan turun dari jok tengah mobil, begitu juga halnya dengan Shinta, Ia melepaskan pelukannya dari Mala, lalu melihat kearah sang gadis.


Sesaat Hadi memandang wajah kakaknya, seolah meminta penjelasan tentang siapa sang gadis.


"Siapa dia kak.? Apakah calon kakak iparku.?" ucap Hadi meluncur begitu saja. Pertanyaan itu membuat Satria kebingungan. "Emm.. Bukan, Ia hanya gadis yang tersesat dihutan dan mengalami amnesia, lalu kakak mengajaknya pulang, mana tau nanti suatu saat Ia menemukan keluarganya." jawab Satria berbohong.


"Oh.. Kirain." jawab Hadi dengan senyum penuh makna.


"Ayo Bu, kak.. Maru masuk, kita malan siang dulu.." ucap Shinta, mencairkan suasana. Meskipun Ia sendiri tidak begitu meyakini ucapan Satria barusan.


Lalu mereka masuk kerumah Chandra. Dan Shinta meminta masuk kedalam kamar tamu dan meletakkan barang-barangnya disana. Sementara itu, Shinta menata makan siang dimeja makan.


Mirna mengikuti Shinta, Ia memperhatikan apa yang dilakukan oleh wanita itu dalam menata makan siang tersebut.


"Kemarilah mbak, silahkan duduk." ucap Shinta berusaha ramah.


Mirna mendekatinya, lalu duduk dikursi seperti yang diperintahkan oleh Shinta, lalu berusaha tersenyum.


Tak berselang lama, Chandra keluar dari kamarnya, lalu mengambil kursi kosong didekat, Shinta, dan menatap kaget pada Mirna. "Siapa Dia...?" tanya Chandra penasaran.


Shinta menoleh kepada Papanya.."Bu Mala dan Kak Satria sudah tiba, katanya Gadis itu sahabatnya Kak Satria." jawab Shinta hampir berbisik.


Mendengar kata Mala sudah datang, ada debaran dihatinya, namun Ia berusaha untuk menguburnya, karena memaksakan sesuatu yang tidak dapat dimiliki adalah hal yang sangat menyiksa bathin, maka sudah seharusnya bersikap ikhlas, agar hidupnya lebih berkualitas.


Tampak Mala, Hadi dan Satria sudah menuju meja makan, dan mengambil kursi masing-masing. Chandra berusaha tersenyum ramah kepada Mala, dan segera memalinglingkan wajahnya kepada Satria. "Selamat datang Satria." Ucapnya ramah.


"Terimakasih Pa Chandra, sudah menyambut kami dengan sangat baik.." jawab Satria dengan sopan.

__ADS_1


Chandra menjawab dengan senyum tipis. "Mari kita nikmati makan siang ini." ajaknya, sembari mengambil piring dan menyendokkan nasi keatasnya.


Lalu diikuti dengan yqng lain, dan mereka menikmati makan siangnya. Saat sedang asyik menikmati makan siang, terdengar suara ketukan dipintu...


Tok..tok..tok...


Suara ketukan dipintu, dengan diiringi suara panggilan "Permisi.." terdengar suara tegas dan keras dari arah depan pintu depan.


Hadi yang baru saja menyelesaikan makan siangnya, beranjak dari duduknya dan mencoba melihat siapa yang datang.


Saat Ia sudah berada didepan pintu, Ia berdiri terpaku saat menatap dua orang berseragam polisi sedang berdiri menghadapnya dan membawa sebuah surat penangkapan.


"Maaf, Pak.! Kami membawa surat penangkapan untuk atas nama Hadi." ucap pria berseragam polisi tersebut.


Seketika Hadi merasakan tubuhnya bergetar, Ia tidak tahu atas kesalahan apa yang diperbuatnya sehingga harus menaggung ini semua.


"Tetapi...!" ucap Hadi ingin membantah san menolak saat kedua polisi itu ingin menggiringnya keluar dari rumah.


"Nanti silah Bapak jelaskan dikantor polisi saja." Ucap seorang Polisi yang membawa surat penangkapan, sembari menggiring Hadi keluar dari dalam rumah.


"Lepaskan adik saya...!!" ucap seorang pria dengan suara tegas.


"Saya katakan lepaskan Adik saya...!!" Ucap Satria dengan sorot mata yang sangat tajam.


Entah karena apa, keduanya tiba-tiba diam tak bergeming. Tatapan Satria mampu melumpuhkan kesangaran mereka. "Tinggalkan tempat ini...!!" Gertak Satria dengan tatapan sarkash, sehingga membuat lawan bicaranya lemah seketika.


Sesaat kedua Polisi itu mematuhi segala ucapan Satria, mereka pergi meninggalkan rumah Chandra tanpa sepatah katapun.


Ternyata, ajian segoro geni yang dipelajari oleh Satria, juga berguna sebagai melumpuhkan lawan bicaranya, Ia memiliki kewibawaan yang kuat dan ditakuti. Semua lawannya akan tunduk dan patuh pada setiap kata-katanya.


"Tetaplah dirumah ini, Aku akan menemui Opa dan Oma." ucap Satria kepada semuanya.


Lalu Satria beranjak menemui Opa dan Omanya yang kini tinggal dirumah warisan Bram dan Jayanti untuknya.


Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ia tidak ingin memperlarut masalah tersebut. Bahkan Ia sudah mengambil keputusan besar, jika Opa dan Oma-nya bersikeras menuntut Hadi.


Setelah menempuh 30 menit perjalanan, akhirnya Ia sampai dirumah yang sudah lama Ia tinggalkan.

__ADS_1


Mobilnya memasuki pekarangan rumah, dan memarkirkannya disana.


Ia berjalan dengan berusaha tetap tenang, meskipun emosi sedang bersemayam dalam dirinya.


Saat Ia berada diambang pintu, Ia melihat Opa dan Omanya sedang berbincang dengan serius terhadap dua orang. Satu orang pengacara yang dulu pernah menandatangani hak waris Satria yang diberikan oleh Bram dan Jayanti, dengan hibah.


Lalu orang kedua yaitu dokter yang pernah melakukanntes DNA kepadanya. Maka Satria mengetahui dengan jelas apa yang diinginkan oleh Opa dan Omanya.


"Selamat siang Opa dan Oma." ucap Satria dengan suara tenang namun membuat keempat orang itu tersentak dengan kaget.


"Kamu...?! Akhirnya kembali juga. Kebetulan sekali kami sedang menunggumu.." ucap Rakesh dengan tatapan tak suka.


"Terimakasih Opa, sudah bersedia menantikanku. Semoga Opa dan Oma dalam kondisi sehat selalu." jawab Satria dengan berusaha tenang.


Ia berjalan menuju kearah 4 orang yang sudah menunggunya. Tampak pengacara dan dokter tersebut merasa sungkan dan juga bingung harus mengatakan apa.


Pengacara itu lalu memulai pembicaraannya. "Saudara Satria, disini Tuan Rakesh akan menarik semua perusahaan yang diwariskan kepada Anda, karena dalam tes DNA, anda dinyatakan negatif dan tidak ada gen dari Tuan Bram dan Nyonya Jayanti." ucap Pengacara itu, sembari mengeluarkan secarik kertas yang akan ditanda tangani oleh Satria.


Lalu dokter disebelahnya juga mengeluarkan surat yang tes hasil DNA yang dikeluarkan olehnya yan menyatakan hasilnya adalah negatif, sebagai kuat dugaan jika Satria bukanlah darah daging Bram dan Jayanti.


"Baiklah... Dimana saya akan menandatanganinya? Namun dengan syarat agar Opa dan Oma menarik semua tuntutan terhadap adik saya Hadi. Jika itu sudah Opa lakukan, maka saya akan menandatanginya." ucap Satria dengan sedikit ancaman.


Ucapan Satria membuat Rakesh sedikit bergetar. Ia tidak tahu jika anak itu memiliki aura yang begitu amat tegas, dengan segera Ia menghubungi kantor polisi, lalu mencabut semua tuntutan yang ditujukan kepada Hadi.


"Berarti benar dugaanku, jika keluargamu telah memanfaatkan harta kekayaan anakku." ucap Rakesh dengan berapi-api.


Seketika Satria menatap tajam pada Opanya. "Maaf, Opa... Jangan membawa keluargaku dalam hal ini, jika Opa sendiri tidak mengetahui kejadian yang sesuangguhnya. Dan seharusnya Opa bersyukur, ditangan kepemimpinan Adikku, perusahaan almarhum Papa dan Mama mendapat kemajuan yang sangat Pesat." ucap Satria sarkash.


"Jangan sebut Bram Papamu begitu juga dengan Jayanti.. kamu hanyalah anak pungut, dan tidak berhak mewarisi semua harta warisannya.!" sergah Ayunda dengan berang.


"Maaf Oma, lalu dengan apa aku memanggilnya...?"Satria balik bertanya. "Aku hanya anak pungut, namun aku dilahirkan dari rahimnya, dan pernah singgah sebentar menetap dirahim wanita yang ku sebut Mama. Lalu apakah Aku tidak boleh memanggilnya Mama.?" Satria berkata dengan sedikit pemekanan.


Rakesh dan Ayunda tercengang mendengar penuturan dari Satria. "Apa maksudmu dari kata pernah singgah dirahim Jayanti dan Ia yang melahirkanmu..?" tanya Rakesh dengan sedikit penasaran.


"Jika Satria jelaskanpun tidak akan mampu Opa dan Oma terima, karena orang midern seperti Opa dan Oma tidak akan memahaminya." ucap Satria, sembari menarik kertas yang sodorkan kepadanya. Ia dengan segera menandatangani kertas tersebut, tanpa meminta mereka untuk menunjukkan dimana Ia harus membubuhkan tanda tangan


"Ini, Opa dan Oma. Sesuai keinginan kalian. Aku sudah mendatanganinya. Sekarang aku permisi, jaga kesehatan ya.." ucapnya dengan senyum seramah mungkin.

__ADS_1


Lalu beranjak dari tempat duduknya. "Tunggu.. Apa maksudmu jika Jayanti benar yang melahirkanmu, lalu mengapa tes DNA menyatakan kamu bukan anak mereka." ucap Rakesh dengan sedikit berteriak.


"Aku tidak perlu menjelaskannya Opa... Jika ingin tahu penjelasannya, maka carilah dokter Fadly. Ok Opa.. Good bye.. See U.." ucapnya, lalu beranjak pergi.


__ADS_2