Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Kehadiranmu


__ADS_3

Satria memasuki perkampungan yang sudah terlihat sangat maju. Perkampungan itu sudah banyak tersentuh pembangunan.


Banyak terlihat bangunan ruko dipinggir jalan yang berdiri dengan berjejer.


Bangunan kantor pemerintahan dan fasilitas umum juga sudah tampak kokoh dan megah. Menandakan jika kampung tersebut sudah mengalami kemajuan.


"jika menurut alamat yang diberikan oleh Rianti, maka ini sudah benar. Aku hanya tinggal bertanya kepada orang-orang tentang orangtuaku." Satria berguman lirih dalam hatinya.


Ia menngendarai mobilnya dengan sangat lamban. Sembari melirik kekanan dan kekiri sepanjang jalan.


-----------*******--------


Sekelebat bayangan hitam memasuki kamar Roni dan Mala. Mengusik Roni yang sedang tertidur.


Bayangan hitam itu merasuk kedalam tubuh Roni melalui ujung ibu jari kaki kiri Roni. Seketika Roni terbangun dari tidurnya. Ia menatap tajam pada sekeliling ruangan kamarnya.


Roni berjalan keluar dari kamarnya. Mala yang masih sibuk dengan pekerjaan rumahnya, tidak menyadari jika Roni telah menyelinap keluar dari kamar.


Roni berjalan menuju jalanan utama desa. Ia berjalan menuju kearah barat dengan tatapan tajam dan penuh dendam.


Mala baru saja selesai dengan pekerjaannya. Tangannya yang masih basah karena baru selesai mencuci piring, Ia keringkan dengan sebuah celemek yang menggantung dilehernya.


Saat akan menuju meja makan, ekor matanya menatap ke pintu kamar yang dapat terlihat dari pintu penghubung.


"mengapa pintu kamar terbuka? Apa Hadi sudah pulang..?" Mala berguman dalam hatinya.


Mala merasakan perasaan yang sedikit tidak enak. Ia mencoba memeriksa kamar tersebut. Dan Ia dikagetkan saat mendapati kamar telah kosong.


"astaghfirullahal adzhim..." Mala membulatkan matanya. Ia melihat pintu depan juga terbuka. Seketika jantungnya terasa berhenti berdetak.


"bang Roni..?!" teriak Mala. Tak menghiraukan lagi ia masih memakai celemek, Ia berlari keluar untuk melihat Roni, suaminya.


Hatinya semakin kalut, saat Ia melihat Roni dijarak 600 meter berjalan dengan langkah cepat menuju arah barat.


"Ya Allah.. Bang Roni..?" Mala berguman lirih sembari menangis, lalu tanpa alas kaki Ia berusaha mengejar Roni yang langkahnya terlihat sangat kencang.


Orang-orang yang melihat Mala berlari menatap bingung. Saat itu Bimo lewat dengan sepeda motornya. "ada apa mbak Mala..? Koq sepertinya sedang terburu-buru.."tanya Bimo penasaran.


"Bim..tolongin Mbak, abangmu berjalan kearah Barat, tolong kejar Bim, dah jangan sampai ke arah jembatan" pinta Mala dengan nafas tersengal.


"haaah..?! abang koq bisa kabur mbak..?" tanya Bimo heran


"sudah..jangan banyak tanya, kejar abangmu sana..!" ucap Mala dengan wajah pucat.


Bimo akhirnya menancapkan gas motornya mengejar Roni yang berjalan dengan sangat kencang.

__ADS_1


---------******--------


Satria masih mengemudi dengan sangat lambat. Ia masih bingung dengan untuk bertanya kepada siapa tentang identitas orangtua kandungnya.


Mata Satria celingukan kesana kemari untuk mencari orang yang dapat ditanyainya.


Didepannya, tampak sebuah kerumunan orang sedang berkumpul. Sepertinya telah terjadi sesuatu keributan.


Banyak warga yang berkerumun dan mengelilingi seseorang. "bang ayo balik bang, kasihan mbak Mala nyariin abang." ucap Bimo mencoba merayu Roni.


Namun tatapan Roni seperti belati yang menikam. Meembuat Bimo merasa gentar.


Bebarapa warga mencoba memegangi Roni agar tidak berjalan terlalu jauh dari rumah. Namun siapa sangka jika tenaga Roni seorang diri mampu mengalahkan tenaga sepuluh orang pria dewasa.


Satria yang merasa penasaran dengan keributan itu, merasa terpanggil untuk melihatnya.


Satria menepikan mobilnya, lalu turun dari mobil, dan menyeberangi jalan.


Saat sampai di lokasi, Satria mencoba menyibak kerumunan warga. Tampak seorang pria dewasa berusia sekita 40-an tahun sedang di cengkram beramai-ramai oleh warga.


Saat mata mereka beradu, seketika Roni membulatkan matanya hendak menyerang Satria.


"kaaauu.. Akhirnya kau datang juga..!" ucap Roni dengan suara parau.


Namun tatapan Roni seolah menaruh dendam yang amat dalam. Roni berusaha menyerang Satria dengan meronta-ronta ingin melepaskan diri dari cengkraman Warga.


Satria seperti mengenali suara parau tersebut.


Seketika Satria melihat sesuatu sedang merasuki diri Roni. "Dia..?!" Satria tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Sosok menakutkan itu kini bersarang ditubuh Roni. Tetapi Ia hadir dengan wujud yang sangat menyeramkan.


Seorang warga berinisiatif untuk mengikat tubuh Roni, agar tidak dapat melawan lagi.


Rasa iba dan juga prihatin merasuki jiwa Satria. Entah perasaan dari mana Ia ingin mendekap tubuh pria itu.


"maaf ya mas, abang kami sedang mengalami depresi, makanya sembarangan ngomong." Ucap Bimo kepada Satria.


Satria hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum datar.


Bimo membawa Roni pulang kerumah, ditemani oleh seorang warga yang memegangi dari belakang terlihat sangat kesusahan.


"kalau sulit, biar saya tawarin tumpangan bang." ucap Satria menawarkan bantuan kepada Bimo.


"gak apa-apa koq bang, cuma dekat sajanya. jawab Bimo.

__ADS_1


Namun Roni semakin meronta meminta untuk dilepaskan. Sehingga Bimo kehilangan keseimbangan, dan mereka terjatuh dari sepeda motor.


"biar saya bantu bang.." Satria mencoba menawarkan diri kembali.


Atas kesepakatan warga, akhirnya Roni dibawa ke dalam mobil Satria.


Dua orang Warga ikut berada didalam mobil untuk menjaga jika sewaktu-waktu Roni dapat melepaskan diri dari ikatannya akan membahayakan Satria. Selain itu juga untuk penunjuk jalan kerumah Mala.


Satria mengemudikan mobilnya. Menuju kearah yang ditunjukkan warga.


Mala yang berlari terengah-engah sampai ditempat kerumunan.


"bang Roni sudah dibawa pulang mbak, tadi ada pemuda tampan yang memberikan tumpangan." ucap Bimo kepada Mala.


"anterin Mbak kerumah Bin, mbak khawatir dengan kondisi bang Roni." ucap Mala yang masih mengatur nafasnya.


"ayo mbak, naik.." Bimo menegakkan sepeda motornya yang tadi terguling.


--------****--------


"yang itu rumahnya Mas.."ucap Seorang warha yang ikut membawa Roni didalam mobil Satria.


"oh..iya pak.." ucap Satria, sembari memasuki halaman rumah Mala.


Setelah mobil berhenti, mereka membawa Roni kedalam rumah Mala dengan cara dipaksa.


Roni meronta-ronta seolah hendak menerkam Satria.


"mengapa Dia ada disini..? Dan wujudnya mengerikan sekali, berbeda dengan saat dikota." Satria berguman lirih dalam hatinya.


"Mas, kami tinghal dulu ya, masih ada keperluan lain, dan sudah dijemput teman. Istrinya sebentar lagi sampai, sedang menuju kemari, tadi kita berpapasan saat dijalan" ucap seirang warga menjelaskan.


"mengapa tidak dibawa sekalian tadi pak.?" ucap Satria sangat menyayangkannya.


"gak kefikiran Mas. Soalnya tadi juga lagi bingung. Ya sudah, kami pulang duluan ya Mas, nitip bentar jagainnya." ucap Mereka, lalu pergi meninggalkan Satria yang kimi Malah bingung sendiri.


Roni meronta-ronta ingin melepaskan dirinya. "akhirnya kau datang juga..hahaha.." ucap Roni dengan saura parau dan senyum seringainya.


Satria menoleh kearah Roni yang seperti orang sedang menyimpan dendam terhadapnya. "mengapa kau merasuki tubuh pria ini..?" tanya Satria dengan selidik.


"hahahaha... Kau merasa penasaran..? Ini semua Karena aku membenci keluargamu..!!" ucap Roni dengan geraman dan penuh penekanan.


"apa maksudmu..?!" tanya Satria bingung.


Sebelum Roni menjawab.. Terdengar suara Mala diluar sana, yang sedang mengucapkan terimakasih kepada Bimo yang telah mengantarkannya.

__ADS_1


__ADS_2