Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Harapan


__ADS_3

Tubuh Shinta lunglai, lalu melemah. Hadi yang mengetahui hal itu mendadak kaget.


"sayang.. Sayang.. Ayo sadar sayang.." ucap Hadi, lalu membaringkan dengan lembut tubuh Shinta. Membenahi letak posisjnya agar nyaman.


Hadi memeriksa jarum infus, yang mana darah tersebut hampir mencanpai kantong cairan infus, yang mana bisa membahayakan keselamatan Shinta.


Darah naik keselang infus Shinta cukup banyak, maka ini bisa meningkatkan risiko terbentuknya blood clot atau pembekuan darah. Clot tersebut dapat menghambat aliran cairan yang diberikan melalui selang infus.


Akibatnya, asupan cairan yang diperoleh tubuh bisa menimbulkan dehidrasi atau tidak optimalnya pengobatan yang diberikan, tergantung pada jenis cairan infus yang diberikan kepada pasien. Jika terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama, kondisi tersebut bisa menimbulkan reaksi infeksi, yang sering disebut dengan flebitisΒ  atau peradangan pembuluh darah.


Hadi yang sedang dilanda cemas, menggunakan keahliannya dalam ilmu kedokteran. Dengan cekatan Ia memperbaiki selang infus, lalu mengatur laju cairan tersebut.


Andai saja Ia terlambat mengetahuinya, Ia akan menyesalinya.


Chandra yang melihat Shinta tak sadarkan diri, seketika merasa panik. Lalu Ia menatap pada Lili Mamanya.


"Ma.. Maafkan Chandra.. Jika kunjungan Mama membuat Shinta dalam kondisi buruk, lebih baik Mama tidak usah berkunjung dan jangan pernah berkunjung, sebelum.Mama memperbaiki hati Mama. " ucap Chandra setenang mungkin.


"Chandra..!! Kamu sekarang menjadi pembangkang.?!" ucap Lili geram, bahkan Ia tidak memperdulikan kondisi Shinta yang memprihatinkan.


Chandra menghela nafasnya. "Dia puteriku.. Aku harus memikirkan kebahagiaannya, aku tidak ingin menjadi egois seperti Mama, yang rela menukar kebahagiaan anaknya, hanya demi tuduhan yang tidak jelas..!!" ucap Chandra sedikit menahan emosinya.


"Heh..!! Kita lihat saja nanti..!" ucap Lili kesal, lalu memutar balik tubuhnya, dan pergi meninggalkan kamar Shinta.


Ia tidak ingin menginap dirumah Chandra, Ia memilih untuk menginap di hotel, dam melakukan perjalanan kembali pulang keluar negeri.


Ia merasa sangat menyesal telah datang berkunjung, dan Ia juga sangat kesal karena mengetahui siapa besan dari Chandra.


"Sialan.. Mengapa bisa-bisanya Chandra berbesan dengan wanita itu.? Aku menghalangi jodoh Chandra dengan Mala, tetapi mengapa bisa berbalik Shinta dengan anak wanita keturunan sesat itu berjodoh."


"andai saja aku tau dari awal, mungkin aku bisa mencegahnya, namun Chandra sengaja menutupinya dariku. Lihat saja nanti. Dia kan menyesali menolak warisan dariku, dan akan memohon-mohon kepadaku." ucap Lili kesal.


Ia kini sudah sampai dihotel yang dipesannya secara online.


🐍🐍🐍🐍🐍🐍🐍


Hadi menatap wajah Shinta dengan penuh iba. Bagaimana mungkin Ia menceraikan wanita yang begitu sangat mencintainya. Bahkan wanita itu telah mengetahui latar belakang kehidupan keluarganya saat dikampung halaman ketika magang dulu.


Wanita itu juga menyaksikan bagaimana iblis betina itu menyerang Satria, dan merasuki ayahnya.


Shinta nuga mengetahui jika ayahnya mengalami skizoprenia.


Namun, Wanita itu tidak gentar masuk dalam lingkaran kehidupannya yang penuh dengan masalah. Lalu dimana lagi Ia akan menemukan wanita tangguh sepertinya.


Ia membelai wajah kekasihnya yang kini masih tak sadarkan diri.


Hadi meyakini jika Shinta sangat syok saat ini, atas kejadian yang baru saja terjadi.

__ADS_1


Chandra menghampiri menantunya itu. Lalu memegang lembut pundak menantunya.


"jangan pernah mengambilkan keputusan disaat kondisi kalut, karena akan berakhir penyesalan." ucap Chandra mengingatkan.


Semua ini akan ada jalan keluarnya. Jikapun benar itu karena ulah makhluk iblis itu, maka itu bukan masalahmu. Mari kita hadapi in bersama, Papa akan membantu memecahkan masalah ini." ucap Chandra meyakinkan Hadi.


Tatapan tulus Papa Mertuanya, tidak mungkin Ia dapat mengecewakannya. Hadi beranjak bangkit dari tepian ranjang. Lalu menatap sendu pada Pria yang sangat bijaksana tersebut. "lalu bagaimana dengan warisan Papa? Karena ku Papa akan kehilangan warisan itu.!" ucap Hadi merasa bersalah.


"lebih baik Papa kehilangan warisan, daripada kehilangan kebahagiaan dan semangat puteriku. Cukup Papa saja merasakan.." Chandra menghentikan kalimatnya, lalu menepuk lembut pundak Hadi..


"tenangkan Shinta saat Ia sadar, Papa ingin meninjau laporan pembangun proyek itu." ucap Chandra mengalihakn ucapannya, sembari tersenyum datar.


Chandra melangkah keluar daribkamar Shinta. Saat Chandra berada diambang pintu..


"Pa..." ucap Hadi..


Chandra menghentikan langkahnya..


"ya.." jawabnya singkat tanpa menoleh.


"terimakasih..." ucap Hadi, sembari menatapi punggung kekar pria tampan tersebut.


"ya..." jawabnya lirih.. Lalu beranjak pergi.


Hadi kembali ketepian ranjang, memandang wajah ayu wanita yang kini terbaring lemah di ranjang tersebut.


Hadi menyalinnya, membersihkan sisa darah yang menempel diarea sensitif milik Shinta dengan cinta kasih, tanpa merasa jijik sedikitpun.


Setelah selesai menyalinnya, Ia membenahi pakaian Shinta.


Ia kembali duduk ditepian ranjang, mengecup lembut ujung kepala wanitanya.


Sesaat Shinta mengerjapkan matanya, pandangannya samar, lalu mengerjapkannya berulang kembali.


Ia melihat wajah Hadi tepat didepannya. Seketika Ia menatap sendu lelaki pujaannya.


"jangan ceraikan aku yank.." ucapnya lirih dan tersedu dengan memohon, matanya kembali sembab oleh air matanya.


Hadi meraih jemari yang terpasang infus, lalu mengecupnya lembut, lalu beralih kekenkng Shinta.


"Tidak akan.. Kita akan selau bersama, dan tetap bersama untuk selamanya.. Maukah kau berjuang bersamaku melewati semua masalah ini..?" ucap Hadi berbisik lembut ditelinga Shinta.


Wanita itu mengangggukkan kepalanya, dan tersenyum penuh semangat.


Hadi kembali mengecup lembut kening wanitanya. Sangat lama Ia bertahan disana, sehingga tanpa sadar air matanya jatuh tepat dipipi Shinta.


Shinta memejamkan matanya, meresapi setiap kehangatan bulir bening milik Hadi yang membasahi pipinya.

__ADS_1


Ia dapat merasakan kehangatan cinta disana, lalu Hadi menyeka air matanya. "I Love U forever.." ucapnya, sembari menatap lembut pada wajah wanitanya.


Seketika dunia Shinta berubah. Ia bagaikan berada disebuah taman bungan dengan keindahan dan keharuman cinta yang begitu agung.


"I love U to.." jawab Shinta dengan senyum penuh cinta.


Hadi menyambar bibir indah yang sedang tersenyum tersebut. Lama Ia menikmatinya, sampai akhirnya Shinta menepuk punggunnya.


Hadi lalu melepaskan pagutannya. "sayang... Nakal !! Aku masih Nifas yank.." sungut Shinta dengan manja. Ia mencoba mengingatkan Hadi yang main serobot saja.


Hadi terkekeh mendengar ucapan Shinta.


"abisnya kamu menggemaskan, bagaimana mungkin aku sanggup hidup tanpamu..? apakah kamu tau hal yang paling menakutakan untukku..?" tanya Hadi dengan lembut..


"apa..?" tanya Shinta manja..


"aku takut kehilanganmu..!" ucap Hadi, sembari menatap lembut Shinta.


"lalu mengapa tadi mengatakan kngin menceraikanku.?" tanya Shinta dengan nada kesal.


"emang tadi kakak ada ngomong kata cerai..? Kan cuma bilang akan memenuhi keinginan Oma, bukan menceraikan ayank..". Ucap Hadi seenaknya.


"lalu mengapa mengatakan itu..? Bukankah maksudnya sama saja." ucap Shinta sebal.


"kakak hanya ingin tahu isi hatimu, apakah kamu akan memilih kakak atau warisan nenekmu." ucap Hadi menggoda ditelinga Shinta.


Seketika wajah Shinta merona merah, menahan malu. Bukankah hal konyol jika itu sampai dilakukan oleh Hadj untuk menguji cintanya.


Ia mencubit lengan Hadi dengan gemas menggunakan tangannya yang masih terpasang jarum infus. "Ayank Nakal.." rengek Shinta manja.


"Nakal tapi kamu sukakan..?" jawab Hadi sok imut.


"gak lagi deh.. Nge-prank gituan ma Shinta.." ucap Nya dengan kesal.


"Iya sayang.. kakak janji.. Tapi masalah ini harus kita selesaikan. Kakak akan mengabari kak Satria untuk meminta bantuannya." ucap Hadi meyakinkan Shinta.


Shinta tersenyum penuh semangat. "Iya yank.. Kiat harus mencari solusinya. Masa mita makhluk sempurnah dan mulia harus kalah dengan makhluk iblis seperti itu.." ucap Shinta dengan yakin.


Hadi menatap lembut kekasihnya.


"terimakasih sayang.. Sudah tetap berada disisiku, meskipun kamu mengetahui segalanya." ucap Hadi tulus.


"terimakasih juga, telah mencintaiku, meski ayank mendapatkanku dalam kondisi.." Hadi mengunci mulut Shinta dengan menarik kedua bibir itu dengan jemarinya.


"sekali lagi ngomong itu, kakak ikat ini bibir pakai karet.." ucap Hadi menatap dengan gemas.


Shinta menepiskan jemari Hadi yang mengatupkan kedua bibirnya

__ADS_1


__ADS_2