Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Gunjingan


__ADS_3

Mala berjalan menuju warung pak Joko. Ia berniat akan berbelanja. perutnya yang semakin membuncit diusia kandungannyabyang memasuki 5 bulan semakin memperlambatnya untuk melangkah.


sesampainya di warung pak Joko, disana sudah ada banyak ibu-ibu yang juga ingin berbelanja. mata para ibu-ibu menatap sinis kepada Mala.


dengan melirik sinis, "emmmm...pantesan saja kehamilannya bisa sampi sebesar itu, ternyata karena ada kandungan orang lain yang harus dijadikan tumbal." sindir Rumi dengan nada sinis kepada Mala sembari memilih belanjaannyaa.


Mala yang disindir menghentikan sejenak kegiatannya, menarik nafasnya dan menghelanya dengan berat.


Ia mencoba untuk menahan debaran didanya, dan menebalkan telinganya. berpura-pura tak acuh terhadap sindiran Rumi.


ibu-ibu yang lain ikut memandangnya sinis. mereka seoalah jijik dengan Mala dan keluarganya.


"ibu-ibu...jangan fitnah ya..? belum tentu juga kalau Mbah Karso yang melakukannya. jika Mbah Karso dijebak bagaimana?" ucap mbak Ratna, mencoba memberikan pengertian kepada ibu-ibu yang lain.


"halaaaah...mbak Ratna jangan sok jadi pahlawan kesianganlah." ucap Bu Dewi sedikit kesal. membuat mbak Ratna mengegelengkan kepalanya. lalu menyudahi belanjanya dan membayar dikasir, lalu beranjak pulang.


Mala hanya diam tak menanggapi sindiran ibu-ibu yang membuatnya tertekan.


sesaat mobil Reza tiba diwarung pak Joko, Ia turun dengan gagahnya. wajah tampan dan kekayaan yang dimilikinya, membuat siapa saja akan terpesona. Ia turun untuk membeli keperluan yang dibutuhkan.


ibu-ibu yang asyik memilih sayuran seketika tersihir dengan ketampanan Reza, bahkan mereka melongo menatapnya. Namun Mala hanya melirik sekilas, saat mata mereka beradu, Mala mencoba tersenyum tipis, lalu kembali fokus dengan belanjaannya.


Reza memasuki rak-rak yang tersusun berbagai bahan kebutuhan pokok. hatinya penuh debaran indah. tatapan mata Mala yang hanya sekilas pandang, membuat irama jantunya berdetak lebih kencang. "sssttt...Mala..tiada yang mampu menandingi kecantikanmu" ucapnya dalam hati. Ia melirik kandungan Mala yang Mulai membuncit. Reza merasa Mala terlihat sexy dengan tubuhnya yang sekarang.


Untuk menghindari sindiran para ibu-ibu, Mala mempercepat belanjanya. lalu membayar kekasir. setelah selesai Ia beranjak melangkah keluar dari warung pak Joko, terdengar suara dari kejauhan. "eh Mala..tunggu kamu." ucap mbak Lisa yang berjalan dengan tergesa-gesa dengan nada penuh emosi.


Mala memandang kearah suara yang memanggilnya. Lisa mempercepat langkahnya, mendekati Mala yang berdiri termangu memandangi kehadiran Lisa yang mendekatinya.


semua orang yang berada didalam warung keluar, mereka memiliki firasat yang tidak baik akan terjadi.


setelah jarak Lisa begitu dekat, dwngan sigap Ia menjambak rambut Mala, membuat Mala meringis kesakitan. "aaaww...sakit mbak.." ucap Mala dengan menahan sakit dipori-pori kulit kepalanya karena rambutnya yang ditarik oleh Lisa.


"ini belum seberapa, rasa sakit yang kualami lebih dari ini.." ucap Lisa semakin memperkuat tarikan dirambut Mala. "apa salah saya mbak..?" ucap Mala yang memegang tangan Lisa, memohon agar Lisa melepaskan cengkraman dirambutnya.


Lisa semakin berang mendengar ucapan Mala "apaaa...?! kamu bilang apa salah kamu..?! karena bapakmu aku mengalami keguguran." ucap Lisa dengan sengit.

__ADS_1


" tapi belum tentu bapak pelakunya mbak, bisa saja Bapak di fitnah orang lain" ucap Mala meringis kesakitan dan membela diri.


"apa kamu bilang?! belum tentu..?! buktinya sudah jelas, banyak warga yang melihat. kamu butuh bukti apalagi ha?!" ucap Mbak Lisa dengan sengit.


mbak Lisa memandang dengan tatapan penuh kebencian, lalu.."jika aku kehilangan janinku, maka kau juga harus kehilangan janinmu." mbak Lisa dengan refkleks memukul kandungan Mala. buuuk...dan Ia menolak Mala hingga terjatuh.


"aaaaaagggghhh.." teriak Mala kesakitan. Ia jatuh terlempar ditanah. Ia meringis memegangi perutnya yang sakit.


mendengar Mala menjerit kesakitan, Reza berlari menghampiri. Ia terperangah melihat Mala merintih kesakitan, Ia tak mengetahui kejadian ribut-ribu diluar warung pak Joko, karena berada diujung warung yang sibuk dengan belanjanya, Ia memilih penuh dengan banyak barang-barang belanjaan, dan seketika Ia mendengar teriakan Mala yang kesakitan.


"Maa..laa.." teriak Reza yang tak perduli menjadi sorotan mata orang yang menonton kejadian itu.


Ia dengan sigap menolong Mala, membantu Mala berdiri, namun Mala tak mampu untuk berdiri, perutnya teramat sangat sakit. lalu panfangannya menjadi gelap, Ia tak sadarkan diri. "siapa yang melakukannya..?!" ucap Reza dengan berang dan sorotan mata yang penuh amarah.


"saya...emangnya apa urusannya sama kamu?! ini balasan untuk ayahnya yang sudah menumbalkan janin saya." ucap Lisa menantang Reza.


mata Reza menatap kearah Lisa dengan penuh amarah." jika sampai Mala keguguran, kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu..?! ucap Reza dengan amarah yang meledak.


Lisa semakin kesal. "emang kamu suaminya? trus bayi dalam kandungan Mala bayi kamu..?! kenapa kamu yang sewot?!" ucap Lisa dengan sengit.


Reza menggeretakkan giginya, Ia menyimpan dendam pada Lisa. "tunggu saja pembalasanku" ucap Reza dalam hati.


Reza membopong tubuh Mala dengan cekatan, membawanya masuk kedalam mobilnya, meletakkannya di jok tengah mobil. lalu Ia menyetir membawanya segera ke bidan Sri.


orang-orang yang menatap tingkah Reza menaruh kecurigaan. tidak biasanya Reza bersikap peduli kepada orang-orang di desa. mereka mengenal watak Reza yang dingin, dan tidak pernah peduli terhadap kesulitan orang lain.


bahkan saat mbah Karso dihakimi massa, Reza datang menyelamatkan mbah Karso.


mereka menggunjing Reza dan Mala jika mereka memiliki hubungan khusus. bahkan menerka-nerka jika bayi yang dikandung Mala adalah anak hasil hubungan perselingkuhan mereka.


***


Reza sampai dirumah bidan Sri. suasana sepi karena tidak ada pasien hari ini.


Reza tergesah-gesah membopong tubuh Mala, masuk kedalam ruangan praktek bidan Sri.

__ADS_1


"bu bidan..tolong Mala..selamatkan anaknya." ucap Reza dengan nada panik. Ia terlihat seperti gelisah, seolah-olah janin yang dikandung Mala itu adalah anaknya. bidan Sri menatap aneh.


"apa yang terjadi pada Mbak Mala, pak?! mengapa bisa bersama bapak..?!" ucap Sri bingung.


"tadi terjadi keributan denhan mbak Lisa diwarung pak Joko, lalu mbak Lisa menolaknya hingga terjatuh." ucap Reza menjelaskan.


"oooo..." jawab Bidan Sri. "ternyata duda yang dingin ini baim juga ya.." Sri berguman dalam hatinya.


tidak dipungkiri, setiap wanita didesa itu sangat mengagumi ketampanan Reza, begitu juga bidan Sri. Ia sangat mengagumi ketampanan duda tersebut. selama Ia bertugas di desa ini, jarang sekali Ia melihat Reza berbicara.


melihat sikap Reza yang begitu perhatian dengan Mala, Ia membayangkan Reza adalah calon suami idaman. dimana akan menjadi suami siaga disaat istrinya kelak mengandung. dengan orang lain saja Reza perhatian, apalagi dengan istrinya kelak. begitukah khayalan bidan Sri yang single..


bidan Sri memeriksa kondisi Mala, Ia memastikan kandungan Mala baik-baik saja. "bagaimana kondisi kandungan Mala, bu..?" ucap Reza khawatir.


"alhamdulillah baik-baik saja koq, pak.." nanti saya beri obat penguat kandungan." ucap Bidan Sri dengan tersenyum manis. wajah cantiknya kian berlipat dengan senyum manisnya.


Ia meracik obat untuk Mala, matanya melirik tubuh Reza yang begitu sempurnah, dengan wajah dan kekayaan yang berlimpah. "pria idaman banget.." ucapnya dalam hati. baru kali ini Ia berbicara langsung dengan Reza. hatinya merasa ada getaran yang begitu mengusiknya.


"ini obat untuk mbak Mala, pak. aturan minumnya sudah ada disini ya."ucap bidan Sri menjelaskan.


Reza menhangguk mengerti. Bidan Sri yang menatap mata Reza yang begitu memukaunya. pria ini begitu tampan sekali." bathinnya.


Reza menangkap signal yang menguntungkan. ternyata ketampanan dan kekayaannya akan mudah menjerat wanita manapun. Reza membalas tatapan bidan Sri dengan seringai.


sepertinya Ia akan mendapatkan mangsa baru.


"terimakasih bu bidan yang baik dan cantik.. lain waktu jika saya memerlukan suntikan bu bidan, saya akan datang kemari." ucap Reza dengan senyum memikat.


Sri yang mendengar pujian dari Reza seketika tersanjung hatinya. Ia begitu sumringah.


Reza membayar harga perobatan Mala, Ia sengaja memberi uang lebih dari harga obat sebenarnya. uang 2 juta rupiah diberikannya dengan cuma-cuma.


"kenapa banyak sekali pak..? harga obatnya hanya 50 ribu.?" ucap bidan Sri terperangah.


gajinya sebagai bidan didesa ini terbilang kecil, namun Ia sengaja mengabdikan dirinya didesa dengan tulus.

__ADS_1


"tidak apa-apa bu bidan, seperti yang saya katakan tadi, jika saya butuh suntikan, saya akan datang menemui bu bidan." ucapsembari menyentuh jemari bidan Sri saat menyerahkan uang tersebut. lalu Ia membopong tubuh Mala yang masih tak sadarkan diri. hati Reza berlonjak girang, lebih banyak tumbal janin, lebih kecil resiko kandungan Mala menjadi target tumbal Nini Maru.


Reza harus memiliki banyak wanita yang akan dijadikan tempat untuk membuahi. dengan semakin banyak janin yang dikorbankan maka kekayaannya akan semakin berlimpah, hingga saat menunggu kelahiran calon anaknya dari rahim Mala.


__ADS_2