Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Menjadi yang Tertuduh


__ADS_3

Bu Jumi, ibu Lisa yang juga berada didalam kamar, mencoba membantu menenangkan Lisa, Ia menguatkan hati anaknya yang sedang putus asa. Ia duduk disisi ranjang, menatap nanar anaknya yang sesenggukan. netra matanya tak mampu membendung air matanya.


tangan Jumi mengelus rambut Lisa, Ia dapat merasakan kepedihan puterinya. seharusnya malam ini malam kebahagiaan bagi mereka karena tengah merayakan hari pernikahan mereka yang ke 5 tahun.


namun malam yang seharusnya berbahagia, menjadi duka.


"sabar sayang..semua pasti ada hikmahnya" ucap bu Jumi sembari menyeka air mata Lisa, lalu meraih tubuh Lisa dalam pelukannya. memberikan rasa nyaman pada puterinya.


segala kata nasehat yang diberikan tak mampu membalut luka hatinya. hatinya bagai tersayat sembilu, Lisa menggigit bibirnya, sembari sesenggukan.


beberapa para wanita yang hadir dalam kerumunan mencoba menerobos masuk kedalam kamar. mereka juga ikut menangis turut merasakan kepedihan yang dialami Lisa.


Rumi yang juga merupakan sahabat Lisa, yang menjadi salah satu orang yang diundang untuk merasakan kebahagiaan perayaan pernikahannya, kini turut menangis melihat kondisi sahabatnya.


bu Sabri, ibu mertua Lisa mendekati bidan Sri. lalu berkata " sebaiknya kita menyegerakan fardhu kifayah janin ini. kita mandikan, kafani dan segera kita kuburkan." ucap bu Sabri kepada bidan Sri. Ia juga bersedih atas kehilangan calon cucunya. namun Ia lebih terlihat tegar dari yang lainnya.


Bidan Sri menyerahkan janin yang dipegangnya, seketika Lisa berteriak tidak rela jika janinnya dikebumikan, emosinya tidak terkontrol. Ia berteriak-teriak melihat ibu mertuanya membawa janinnya yang sudah berbentuk hampir sempurnah.


"Lisa, kamu ikhlaskan anakmu ya sayang, Insaya Allah akan ada gantinya." ucap bu Sabri dengan senyum datar. Ia pun sebenarnya tak sanggup melihat menantunya yang begitu histeris.


beberapa orang memegangi Lisa dan mencoba mengontrol emosi Lisa. tiba-tiba saja Lisa mendadak pingsan, rasa syok yang dialaminya membuatnya hilang kesadaran.


bu Jumi memeluk anaknya, membaringkan tubuh lisa dengan benar. membersihkan darah yang merembes keluar. lalu menyalin pakaian dan memakaikan pembalut untuk menampung pendarahannya dengan menggunakan kain sarung yang dibentuk menjadi pembalut.


Bu Sabri memanggil beberapa warga untuk menyiapkan bahan yang akan digunakan memandikan calon bayi yang sudah tak bernyawa tersebut.


"Bimo, dan paijo, tolong carikan daun jeruk purut dan daun bidara untuk memandikan jasad janin Joni. " ucap bu Jumi tegas.


dan tolong yang lainnya carikan kain kafan yang ada diperserikatan kemalangan dirumah pak Joko, ucap Bu Jumi mengambil perintah. karena Joni juga dalam kondisi berkabung.


semuanya mematuhi perintah bu Sabri dan bergerak cepat, mencari semua yang diperlukan.


bu Jumi meletakkan jasad janin calon cucunya dalam wadah bersi yang beralasakan kain bersih. Ia memerintahkan Rumi dan bu Dewi untuk mempersiapkan air bersih dalam wadah baskom untuk memandikan janin.


Bu Jumi melihat jendela dapur yang terbuka, berniat menutupnya, lalu meletakkan jasad janin tersebut diatas meja makan. sedangkan wanita yang lainnya membantu apa saja yang bisa mereka kerjakan, seperti mengiris daun pandan dan bunga-bunga yang mereka temukan disekitar halaman rumah.


sesaat akan menutup pintu..


[wuuuuuussss]..desiran angin menerobos dari celah jendela yang hampir tertutup rapat. lalu masuk mendekati janin yang diletakkan diatas meja. lalu angin tersebut menjelma menjadi makhluk yang menyeramkan. Dengan cekatan tangan keriput dan kukunya yang panjang meraih janin tersebut, lalu memakannya, meninggalkan setengah tubuh janin nan mungil.


darah menyembur dari mulutnya, karena gigitan tubuh mungil janin tersebut terpotong menjadi dua bagian, gigi taringnya mencabik-cabik daging janin nan mungil didalam mulutnya.


saat bu Sabri berbalik setelah selasai menutup jendela matanya terbelalak melihat pemandangan mengerikan didepan matanya, lalu.."aaaaaakkkkkhhh..." teriakan histeris dari mulut bu Sabri menggema hingga keluar rumah.. antara takut dan panik Ia pingsan melihat makhluk yang menyeramkan tengah mencabik-cabik daging janin nan mungil, bagian tubuh bawah janin itu masih berada dalam genggaman tangannya yang berkuku tajam.


teriakan bu Sabri mengundang warga yang masih berada dirumah dan dihalaman rumah berbondong-bondong mencari tau apa yang tengah terjadi.


Rumi dan beberapa wanita yang tengah sibuk dengan tugasnya, berteriak ketakutan dan lari berhamburan dari dapur. suasana panik dan ketakutan membuat hiruk pikuk dirumah Joni.


para pria mencoba mengecek apa yang terjadi, saat mereka melihat makhluk menyeramkan tersebut dengan mulut berlumuran darah, mata bulat besar dan memerah serta menyeringai menunjukkan taring-taringnya, Nini Maru menatap penuh amarah, kearah para pria yang berkerumun didepan pintu penghubung antara dapur dan ruangan lainnya.


para pria mencoba keberanian untuk mendekati makhluk itu dan mengepungnya. mereka membawa alat apa adanya, seperti penyapu, batang kayu dan senjata apa saja yang mereka temui. bahkan sutil alat memasak juga mereka pakai untuk mempersenjatai diri mereka.


merasa terancam, Nini Maru yang mencari celah untuk menyelamatkan diri. Ia melihat celah didalam kerumunan,terbang melayang menerobos pintu penghubung ruangan menuju halaman luar, para pria mengejarnya, begitu juga warga yang berada diluar mencoba ikut mengejar Nini Maru yang terbang melayang diudara.

__ADS_1


warga melihat Nini Maru menuju arah pohon nangka yang berukuran besar. Nini Maru menyeringai.


Mbah Karso yang sedari tadi mengintai dari pohon nangka tersebut tergagap, karena Nini Maru menuju kearah persembunyiannya. lalu menerjang mbah Karso yang sedang berdiri dan tidak waspada.


mbah Karso yang mendapat serangan mendadak menjadi limbung kekiri, hingga jatuh terjerembab ditanah yang ditumbuhi rerumputan."aaarrgh.." Ia berteriak kesakitan. mulutnya meringis karena bagian tangannya tertusuk duri rerumputan.


dengan cepat, Nini Maru melemparkan potongan daging janin yang berlumuran darah kearah Mbah Karso, lalu menghilang dikegelapan malam.


warga yang melihat arah tempat Nini Maru menghilang serta suara seseorang terjatuh segerah menuju lokasi tersebut. dengan menggunakan penerangan lampu senter, mereka mendapati mbah Karso sedang berada dibawah pohon mangga.


pria sepuh tersebut didapati jatuh terjerembab ditanah, dengan sepotong daging sisa tubuh janin nan mungil. darah segar memenuhi tangannya. serentak warga terkejut, wajah mereka menatap marah kepada mbah Karso.


saat itu Joni yang penasaran keluar kamar dan melihat apa yang terjadi. Robi yang emosi menarik tubuh mbah Karso yang masih kesakitan untuk berdiri. Ia melayangkan tinjunya kewajah mbah Karso.


"aaaargh.."mbah Karso mengerang kesakitan. Ia tidak mengerti mengapa dirinya diperlakukan dengan sadis. darah mengucur dari bibirnya, karena pukulan yang sangat kuat tersebut mengenai giginya dan tanggal satu.


beberapa warga juga ikut memukul mbah Karso yang tidak berdaya. sesaat pak Joko datang melerai semua warga agar tidak terbawa emosi.


"stoooop...tolong jaga emosi kalian, jangan main hakim sendiri. mengapa kalian menghajar mbah Karso yang sudah sepu, apa kalian tidak malu atau kasihan" ucap Pak Joko selaku ketua RT dilingkungan tersebut. Ia mengetahui ada peristiwa duka saat Bimo dan Paijo datang meminta kain kafan perserikatan kemalangan yang disimpan dirumahnya.


sebagai ketua RT tentu Ia berempati kepada warganya yang sedang berduka, namun saat Ia sampai, Ia mendapati Mbah Karso sedang menjadi bulan-bulanan warga.


"mbah Karso sudah menjadikan janin Lisa sebagai tumbal peliharaannya, Dia kan dukun hitam, jadi Ia sedang mencari tumbal" ucap Robi yang tadi mendaratkan bogeman mentah kewajah mbah Karso.


"tapi belum tentu Ia pelakunya" ucap Pak Joko mencoba menenangkan warga.


"kami melihat buktinya, sepotong daging janin yang dipegangnya itu bekas gigitan jin peliharaannya. kami melihatnya sendiri tadi didapur." Ucap Rafi membenarkan.


"tolong dulu tenang, kita belum tau seperti apa penjelasan mbah Karso" ucap Pak Joko.


"ya... ya.... ya.." gumanan warga yang berkumpul mencoba ikut membenarkan ucapan Robi.


mbah Karso yang yang tak mampu menahan sakit, karena ada seseorang yang memukul kepalanya dari arah kiri, tiba-tiba Ia tak sadarkan diri. Ia ambruk tumbang ketanah. warga yang melihat kejadian itu saling pandang dan terdiam.


Mala yang tiba-tiba datang, Ia dijemput mas Paijo memberikan kabar padanya bahwa mbah Karso sedang dihajar warga, Ia berteriak.."baapaaak..." Ia menangis meratapi bapaknya yang tak sadarkan diri.


warga mengalihkan pandangan mereka kepada Mala yang berlari kecil kearah tubuh Mbah Karso yang jatuh ditanah. Ia memeluk kepala mbah karso dan meletakkan dipangkuannya. Ia menangis pilu.


"kalian kejaaaam..apa salah bapak sampai kalian perbuat seperti ini" ucap Mala sembari mentap satu persatu warga yang berada dalam kerumunan. air matanya mengalir membasahi pipi mulusnya.


"jin peliharaan bapakmu telah memakan janin mbak Lisa" ucap Robi dengan sinis.


"apa buktinya?" ucap Mala dengan sorot mata penuh amarah.


"sepotong daging bagian bawah janin milik bang Joni ada ditangannya. itu cukup membuktikan bahwa bapakmu terlibat." ucap Rafi menimpali.


"ini fitnah. tidak mungkin bapak melakukan hal sekeji ini. bapak sudah bertaubat sejak 12 tahun yang lalu. Ia tidak memiliki atau menganut ilmu hitam lagi." ucap Mala parau. Ia begitu sakit mendapati bapaknya lebam-lebam.


saat itu Reza muncul ditengah kerumunan, ternyata sedari tadi Ia sudah berada ditempat itu. Ia tak menyangka wanita pujaannya sampai datang kemari. Ia berjalan mendekati Mala. seluruh warga yang berkerumun memandanginya.


warga tidak menyadari kehadiran duda tampan tersebut. selama ini Reza, orang yang tertutup. namun Ia dipandang dan disegani karena seorang jutawan, tak ada yang berani mengusiknya, karena hampir seluruh warga yang memiliki lahan perkebunan kelapa sawit menjual hasil panennya ke tempat Reza.


warga terdiam dan terperangah, melihat Reza menghampiri Mala, lalu meraih tubuh mbah Karso dan membopongnya untuk dibawa kedalam mobilnya. warga hanya bisa menatap tertegun dan tidak berani mencegahnya.

__ADS_1


Mala yang lagi membutuhkan bantuan untuk membopong tubuh bapaknya merasa Reza adalah pahlawan kemalaman, disaat warga tidak ada yang sudi menolongnya.


Mala mengikuti Reza yang sedang membopong bapaknya, memasuki mobil milik Reza dan duduk disamping Reza yang sedang memangku tubuh mbah karso yang masih tidak sadarkan diri.


"jalan pak.." ucap Reza kepada supirnya.


"kemana pak?" kerumah Mala." ucap Reza yanpa persetujuan Mala. seharusnya Mbah Karso dibawah pulang kerumahnya, agar dirawat mbok Darmi. bukan kerimah Mala anaknya.


namun Mala tak dapat membantah, Ia sedang kalut, dan baginya keselamatan bapak adalah pilihan satu-satunya.


Mala masih terisak menahan kesedihan, melihat bapaknya yang sudah sepuh dihajar massa.


Reza mengecek detak jantung mbah Karso, pria sepuh itu masih hidup, hanya sekedar pingsan saja.


jalanan berbatu menuju rumah Mala, membuat laju mobil tak dapat melaju kencang. terkadang berguncang kekiri dan kekanan karena ban mobil menginjak batu yang menyembul dijalan.


goncangan tersebut membuat tubuh Mala tidak simbang, dan.."aaarrgh.." Mala berteriak kecil saat sopir mengerem mendadak karena melihat seekor kucing melintas ditengah jalan dan ban mobil menabrak batu kecil yang membuat tubuh Mala limbung kekanan.


dengan refleks, tangan Mala memegang paha Reza yang duduk disampingnya, tanpa Ia sadari, Ia sedang mencengkram paha tersebut dengan kuat agar tubuhnya tidak jatuh menimpa Reza.


saat tersadar Mala menarik tangannya dengan cepat, lalu menatap mata Reza yang memandanginya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"maaf mas, saya tidak sengaja" ucap Mala dengan wajah bersemu merah.


Reza hanya membalas dengan senyum menyeringai.


Mala merasa jantungnya berdetak kencang. sorot mata Reza menghipnotisnya. Ia gelisah dan menata hatinya.


Reza mengalami hal yang sama, tubuhnya panas dingin, cengkraman tangan Mala dipahanya yang yang tanpa sengaja, membuatnya oleng. bayangan tubuh indah yang pernah Ia jamah tanpa sepengetahuan pemiliknya, menari-nari dipelupuk matanya. Ia membayangkan kejadian malam itu. mencari cara agar dapat mengunjungi janin miliknya yang sedang dikandung Mala.


***


Mobil Reza memasuki halaman rumah Mala, Supir membuka pintu kanan belakang. Reza keluar dengan membopong tubuh mbah Karso. Ia telah merencanakan sesuatu. dan tindakannya malam ini menyelamatkan tubuh mbah Karso, menjadi awal yang baik untuk mendapatkan hati Mala.


Ia dapat menebak bahwa Mala menganggapnya sebagai pahlawan kemalaman yang menolongnya saat ini.


Mala membuka pintu rumah, lalu mengarah kekamar kosong sebelah kamar Mala. kamar itu biasa digunakan mbah Karso dan istrinya saat menginap dirumah Mala.


Tubuh kekar milik Reza membaringkan tubuh mbah Karso yang sedang pingsan keatas ranjang tersebut. tanpa sadar Mala mengangumi tubuh Reza yang terlihat sempurnah.


namun dengan cepat Ia membuang fikiran kotor yang ada dibenaknya.


"suamimu dimana? " ucap Reza kepada Mala yang menatapnya.


"eeemmmm..anu.. dia balik malam. biasanya pukul 22.00 wib baru sampai rumah." ucap Mala tergagap. dan informasi yang diberikan Mala sangat berguna bagi Reza dalam mengatur siasatnya.


Reza mengangguk. "baiklah, aku pulang dulu. nanti aku akan minta bidan Sri kemari untuk menyadarkan bapakmu dan mengobati lukanya." ucap Reza dengan lembut yang membuat Mala bergetar.


"terimakasih mas, atas bantuanmu." ucap Mala tersenyum manis. dan senyuman itu membuat Reza melambung tinggi.


"ya, sudah sepantasnya saling menolong sesama." lalu Ia beranjak pergi meninggalkan Mala yang masih diam mematung. Ia melangkah dengan tegap dan penuh pesona.


sepeninggalan Reza, Mala menutup pintu rumahnya. "mengapa Mas Reza betah menduda? apakah ada wanita yang sedang ditunggunya?" ucap Mala lirih sembari melangkah menuju kamar yang ditempati Mbah Karso.

__ADS_1


didalam mobil, Reza meraba pahanya yang tersentuh Mala tanpa sengaja tadi. jemari lentik milik Mala masih terasa hangat disana. Ia memejamkan Mata, membayangkan wajah Mala nan cantik rupawan dengan dua bola mata nan indah.


__ADS_2