
Satria mengantarkan Jayanti ke Bandara. Dalam hatinya penuh dengan kekalutan. Ia masih terngiang ucapan Rianti tempo hari, yang mana Rianti menyatakan jika Ia bukanlah anak kandung Jayanti.
Bahkan pertemuannya dengan dokter Fadly, menambah kecurigaannya semakin besar.
Namun, wanita yang Ia panggil Mama ini sedang menderita penyakit yang sangat mengancam jiwanya.
Satria penuh dengan dilema. Disatu sisi, Jayanti begitu tulus kepadanya, disisi lain, perasaannya ingin mengetahui siapa jati dirinya sebenarnya sangat begitu besar.
"Mama ada keperluan apa ke Jepang..?" tanya Satria basa-basi.
"ada keperluan yang sangat penting" jawab Jayanti, dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
Satria menatap nanar wanita yang Ia sebut mama. "bahkan Ia menyembunyikan penyakitnya dariku.." Satria berguman lirih dalam hatinya.
"berapa hari Mama disana..?" ucap Satria dengan penasaran.
Jayanti terdiam sejenak. Lalu menghela nafasnya dengan kasar.
"belum tahu, jika sudah selesai, mama akan segera kembali." jawabnya lirih.
Mereka telah sampai dibandara. Satria mengantarkan Jayanti hingga batas saja pengantaran saja.
Kini pesawat yang ditumpangi Jayanti telah take of. Satria meninggalkan bandara.
Satria menuju kembali kerumah. Sesampainya dirumah, Ia memasuki kamar Jayanti.
"maafin Satria jika lancang memasuki kamar Mama.." Satria berguman lirih.
Ia mulai melakukan pencarian sample untuk dijadikan sebagai tes DNA.
Satria melihat sikat gigi yang pernah digunakan oleh alm. Bram masih tersimpan rapih. Satria mengambilnya, dan Ia menemukan helaian rambut milik Jayanti yang berada disisir rambut.
Setelah mendapatkan barang yang diinginkannya, Satria kembali merapihkan semuanya kembali. Lalu Ia menutup kembali pintunya.
Satria menuju kamarnya. Lalu tujuannya adalah laboratorium mini yang Ia ciptakan sendiri disebuah ruang rahasia miliknya. Ia memulai melakukan pengujian dengan menggunakan sample keduanya secara bergantian.
Dan membutuhkan waktu seminggu lamanya untuk mengetahui hasilnya. Satria harus bersabar menunggu hasilnya.
Satria keluar dari kamarnya. Lalu menuju dapur dan hendak makan malam. Saat sedang menikmati makan malam ala kadarnya, Satria merasakan aroma kembang kenanga menyeruak diseluruh ruangan.
Satria merasakan hawa negatif sedang berada disekitarnya.
__ADS_1
Seketika tubuhnya merasa meremang. Saat itu Ia melihat Nini Maru sedang menempel didinding dapur.
"haaaah..!!" Satria tersentak dari kursinya Nini Maru merayap kedinding satunya, dengan menjulurkan tubuhnya, Ia semakin mendekat dan menuju ke atas meja makan.
"Dasar sial.!! Bisa-bisanya dia muncul saat aku sedang makan. !" Satria menggerutu.
aaarrrgh...
Suara geraman keluar dari mulutnya. Ia mendekati Satria dengan memamerkan gigi-gigi runcing dan kukunya yang tajam.
"kalau datang itu jangan pas waktu orang lagi makanlah, buat badmood saja" Satria menggerutu.
Nini Maru menatap tajam kepada Satria "kamu kenapa tidak takut denganku?" ucap Nini Maru penasaran.
"Biasa sajalah. Ngapain juga aku harus takut sama kamu? Karena pada dasarnya kami Manusia lebih mulia dibanding kalian para iblis" jawab Satria santai.
"enak saja, jadi kau ingin mengatakan jika kami ini hina, begitu..?" Nini Maru berang.
"kan memang Iya, kalian itu diusir dari surga karena sifat kalian yang pembangkang, dan Allah sudah menjelaskan jika kami bangsa manusia lebih mulia dibandingkan dengan kalian..!" ucap Satria sembari menatap tajam Nini Maru.
Nini Maru merunduk ditatap seperti itu oleh Satria. "ya jangan gitu jugalah natapnya, keq bener sajapun."jawab Nini Maru.
"lagian kamu ini ngapain sih ngekori aku terus? Kamu naksir ya sama aku..?" ucap Satria dengan selidik.
"a...apaa..!! Kamu meminta aku mencarikan tumbal Janin?! Emang bener-bener kamu ya jadi setan..!!" ucap Satria sembari beranjak bangkit dari duduknya.
Seketika Nini Maru terperanjat melihat Satria sudah berdiri. Nini Maru dengan cepat kembali menempel didinding. Jemarinya yang keriput dengan kuku-kuku runcingnya seperti magnet yang dapat melekat didinding.
"kenapa kamu yang jadi emosi..? Seharusnya aku yang marah padamu karena kau telah merusak semua mesin penghasil janinku." Nini Maru menatap marah kepada Satria.
Satria melongo mendengar ucapan Nini Maru.
"sudah berapa banyak korban yang kau jadikan tumbal?" tanya Satria dengan penasaran.
"banyak.. Dan korban terbanyak adalah ibumu yaitu kakakmu yang lain dan jiwa mereka sedang aku tawan..! Hihihihi.." Nini Maru cekikikan dengan suara yang sangat menyeramkan.
Satria terperangah mendengar ucapan Nini Maru.
"a..apa..? Ibuku..? Bukankah ibuku sebelumnya mandul dan tidak pernah hamil sebelum aku..? Lalu siapa yang kau sebut dengan ibuku" tanya Satria dengan gugup dan penasaran.
Hihihihihihi..
"dia bukan ibumu..! Dan jika kau ingin tau siapa ibumu, maka sediakan tumbal janin untukku. Aku akan memberikan informasi yang akurat padamu.!" jawab Nini Maru mencoba bernegosiasi.
__ADS_1
Satria menatap Marah pada Nini Maru. "Kau sudah terlalu jauh tersesat. Apakah aku sebaiknya membinasakanmu sekarang?" ancam Satria kepada Nini Maru.
Nini Maru merubah posisinya, kini Ia nangkring diatas lemari kristal milik Jayanti, dan mencoba duduk santai.
"Jika kau membinasakan ku sekarang, maka ke 6 jiwa kakakmu yang masih tertahan dikerangkeng besi tidak akan kulepaskan..hihihihi.." Nini Maru terkikik dengan senyum mengejek.
"dimana ibuku sebenarnya.?! Tanya Satria dengan penasaran.
"kepo banget kamu.. Carikan aku tumbal, agar kujual informasi ini padamu..!" ucap Nini Maru.
Satria memandang kesal kepada Nini Maru. "jika aku tidak mau..?" pancing Satria.
"aku tidak akan mengatakan kepadamu siapa ibumu..?" balas Nini Maru dengan santai.
Satria semakin kesal. Ia menatap tajam Nini Maru dengan penuh kekesalan yang teramat sangat.
"gak gitu jugalah menatapnya.." ucap Nini Maru sembari merundukkan kepalanya.
"pergilah dari hadapanku, aku akan mencari tahu sendiri tentang kebenaran ini..! Dan jika nanti aku menemukan kau terlibat dalam hal ini, maka, aku akan melenyapkanmu dengan sangat menyakitkan.
Nini Maru membulatkan matanya. Menatap marah pada Satria. Dengan segera Ia menghilang dari hadapan Satria.
Satria kembali duduk dikursi. Ia mencoba mencernah kata-kata iblis kuntilanak barusan.
"ibuku pernah menjadi korban tumbal janin olehnya? Jika begitu ibuku orang yang subur, bukan mandul?" Satria berguman lirih.
"dan iblis tersebut mengatakan jika Ia menahan jiwa ke 6 orang kakakku dalam sebuah kerangkeng besi..? Tapi dimana Ia menahannya.?" Satria masih terus bertanya pada dirinya sendiri.
"seperti apa rupa ibuku sebenarnya..?" Satria terus berfikir dengan keras.
Ia meletakkan piring makan malamnya, lalu pergi kekamarnya.
Sesampainya didalam kamar, Ia kembali membuka laci nakas. Mengeluarkan secarik kertas yang penuh goresan sketsa wajah seorang wanita cantik.
"mengapa wajahnya sangat mirip dengan wanita yang aku temui waktu itu..? Apakah ada hubungannya dengan mimpi-mimpiku selama ini?" Satria merasakan kegelisahan yang sangat dalam.
Tiba-tiba saja, muncul sosok bersorban putih setengah ular tampak seperti bayangan.
Satria terperanjat, lalu sosok itu merunduk kepada Satria.
"hamba adalah Khadam penjagamu wahai tuanku, hamba akan membimbingmu untuk mencapai ilmu kanuragan tingkat tinggi, dan hamba bersedia membantu menemukan keberadaan ke 6 jiwa kakak tuan yang tertahan." ucap sosok itu dengan tenang.
Satria bingung dengan apa yang diucapkan sosok itu. "bahkan dia mengetahui ke 6 jiwa kakakku? Siapa aku sebenarnya?" Satria masih dengan kegelisahan.
__ADS_1