
"Aaaarrrgh..."
Suara erangan kesakitan keluar dari mulut seorang pria yang menyeramkan.
Pria itu merasakan sakit disekitar seluruh tubuhnya. Ia memaksa membuka matanya dengan susah payah.
Rasa sakit yang mendera disekujur tubuhnya, memaksanya untuk membuka mata dan melihat apa yang sedang terjadi.
Rey.. Ya pria itu akhirnya berhasil membuka matanya, Ia merasakan jika hewan-hewan kecil telah memenuhi tubuhnya. Mereka seakan berpesta pora menikmati tubuhnya yang terluka.
Rey mencoba untuk bangkit, rasa sakit dari bekas luka goresan-goresan ranting dan bebatuan cadas telah mengundang koloni semut berkerumun menikmatinya.
rasa sakit bercampur gatal yang amat sangat, memaksanya mengibas-ngibaskan tangannya agar hewan-hewan kecil itu segera menyingkir dari tubuhnya.
Koloni semut tak hanya saja mengikis darah yang mengucur, namun juga telah menggerogoti daging ditubuhnya melalui kulitnya yang terluka.
Tak sedikit daging diwajahnya yang sudah mereka gerogoti, hingga membentuk beberapa lubang kecil disana sini.
Rey segera bangkit, lalu mengibas-ngibaskan tangannya pada koloni semut tersebut agar segera menyingkir dari tubuhnya. Ia juga menjejak-jejakkan kakinya dengan kasar, agar koloni itu berjatuhan.
Rey merasakan perih dan gatal yang amat sangat, namun Ia berhasil menghalau seluruh semut-semut itu dari tubuhnya.
setelah berhasil menghalau binatang kecil tersebut, Rey beristirahat diatas sebuah bongkahan batu besar. Ia masih mencari sisa-sisa hewan mungil itu dari setiap lubang kecil ditubuhnya yang ditimbulkan oleh gigitan koloni semut.
Pesta pora mereka telah usai, dan mereka harus kembali lagi kesarangnya, melapor pada sang ratu semut, jika buruan mereka tak dapat dijadikan sebagai stok sumber pangan yang dijanjikan.
Rey tak hanya merasakan sakit dan gatal diseluruh tubuhnya, tetapi juga merasakan haus dan lapar yang sangat begitu menderanya.
Rey berjalan tertatih, menyibakkan bebatuan disetiap langkah kecilnya. Kakinya yang tampak kekar, menapaki langkah demi langkah jalanan dasar jurang yang dipenuhi batuan cadas.
Rey menajamkan pendengarannya, Ia mendengar suara gemericik air sungai. Seketika Ia tersenyum sumringah, Ia mencari sumber suara yang diyakininya sebagai sumber air untuk menghilangakan dahaganya.
Setelah berjalan dan penuh perjuangan, akhirnya Ia menemukan sumber air tersebut.
Rey masuk kedalam sungai tersebut. Ia membenamkan tubuhnya yang sangat kotor dan kelihatan berantakan sekali.
Rey menyelam sembari menggosokkan tubuhnya. Ia meminum air itu sepuasnya.
Setelah merasa cukup, Ia kembali naik kedaratan. Setelah rasa hausnya hikang, kini rasa lapar yang menyerang perutnya.
__ADS_1
Ia menginginkan asupan energi agar terus bertahan untuk sampai keatas tebing.
Rey mengedarkan pandangannya, mencari target untuk menjadi sasaran buaruannya.
Ia mencari ranting kayu yang akan digunakannya sebagai senjata untuk berburu.
Setelah menemukan ranting kayu yang sesuai untuk dijadikan senjata, Ia mematahkannya, lalu mengikisnya menggunakan batuan cadas sebesar genggaman tangan yang sedikit tajam.
Tak lupa Ia meruncingkan ujung tombak dadakannya, agar memudahkannya untuk berburu.
Setelah selesai dengan alat berburunya, Ia beranjak dari tempatnya, mencoba menyusuri dasar jurang dan mencari hewan yang akan dijadikan target untuk diburu.
Setelah cukup jauh berjalan, Ia melihat seekor babi hutan sedang mengorek-ngorek tanah mencari cacing.
Rey berjalan mengendap-ngendap, stelah mencapai targetnya, Ia dengan cepat menusukkan tombaknya keperut hewan liar tersebut.
Seketika hewan itu meringik kesakikatan, lalu berjalan terhuyung, dan ambruk ketanah.
Rey dengan segera memungutnya dan membawanya ke tepi sungai.
Rey menguliti hewan tersebut dan segera memakannya. Ia menghabiskan hewan itu dengan begitu sangat rakusnya.
Rey duduk dibongkan batu, memandang tebing yang berdiri kokoh dihadapannya. Ia ingin memanjat tebing itu, agar dapat melihat siapa yang menjadi pemilik senandung lagu tersebut.
Hari menatap senja, kondisi mulai meremang, Ia tidak mungkin mendaki tebing dalam kondisi gelap.
Rey memutuskan untuk melanjutkan pendakiannya esok hari, dan mencari tempat berlindung dari serangan hewan buas.
Rey beranjak dari duduknya, berjalan mendekati didinding tebing, mencari pepohonan untuk dijadikan tempat untuk tidurnya malam ini.
Setelah menemukan pohon yang memiliki dahan kuat untuk sebagi penopang tubuhnya, Rey mulai memanjatnya, lalu segera nangkring didahan tersebut.
Rey mulai memejamkan matanya, rasa lelah dan kesakitan disekujur tubuhnya, membuatnya begitu sangat mudah tertidur.
saat Ia sedang tertidur, suara sayup-sayup juga kian terdengar.
Suara lantunan senandung yang sedang didendangkan itu mengusik tidur lelapnya. Rey mengerjapkan matanya, mencoba berkonsentrasi mendengarnya.
Senandung itu bagaikan maghnet yang menariknya untuk sampai kesana. Debaran dihatinya kian mendera.
__ADS_1
Liriknya menggugah hatinya yang kesepian. Rasa ingin dicinta, danjuga penasaran membuatnya begitu kuat untuk menemukan pemilik senandung tersebut.
Rey menatap langit kelam, tanpa satupun bintang disana.
Rey merasakan malam ini akan sangat gerah, Pertanda hujan akan segera turun.
Reh meringkuk dibagian pangkal dahan, mencoba memeluk batang pohon tersebut.
Rey merasakan jiwanya kesepian. Tiada teman dan juga keluarga. Bahkan Rey dicampakkan oleh ibunya karena rasa hasrat naluri memakan manusia saat itu.
Seketika Rey mengingat masa-masa sat berada dirumahnya. Dimana Ia menikmati para gadis, dan bahkan juga memakan dagingnya.
"Shinta.. Ya Gadis itu.. Apa kabarnya sekarang..?" tiba-tiba Rey teringat akan gadis yang juga dulu menjadi tempat sebagai pelampiasan hasratnya yang menggebu.
Sesaat Rey mengingat gadis itu. Gadis cantik yang sudah menjadi budak hasratnya. Namun diantara para tawanan, Ia tak ingin memakan gadis itu, Ia sebisanya menghindari Shinta untuk menjadi korban kanibalismenya.
"Shinta.. Dimana kamu..? Apakah kau masih hidup atau sudah melarikan diri dari ruang tawanan." Rey berguman lirih.
Sesaat Ia membuang jauh tentang bayangan Shinta, lalu fojus oada seandung yang dilantunkan dengan suara merdu nan lembut mendayu-dayu..
Rey kembali memejamkan matanya, menepis semua kenangan dimasa itu. Ia ingin menjemput masa kininya. Rasa sangat ingin bertemu pada pemilik senandung tersebut begitu sangat kuat. Ia tau jika pemiliknya berada diatas tebing yang ada dihadapannya kini.
Semilir angin dan nyanyian serangga malam serta senandung cinta itu membuatnya tergoda untuk segera bertemu.
Rey memejamkan matanya, mencoba tertidur dan meraih mimpinya dalam kesatuan rasa yang sangat menggebu.
"aku akan menemukanmu wahai gadis.. Tunggu aku disana" guman Rey lirih dengan suara baritonnya.
Rey akhirnya terlelap dalam tidurnya, merajut mimpi yang begitu indah.
🐛🐛🐛👻👻🐛🐛🐛
Rey terjaga dari tidurnya. Sinar mentari diufuk timur menyentuh kulitnya yang penuh luka.
Aroma amis keluar dari tubuhnya yang penuh dengan luka.
Rey menggerjapkan matanya, lalu menggeliatkan tubuhnya serta menguap.
Rey merenggangkan.otot-otot tubuhnya. Ia merasakan jika tubuhnya begitu sudah sedikit membaik.
__ADS_1
Rey berusaha kembali menuruni pohon, dan berniat untuk segera menaiki dinding tebing yang menjulang tinggi mencapai perkiraan sekitar 300 meter dari permukaan dasar.