
Mala dan Hadi yang tak henti-hentinya berdoa agar Hamdan berhasil membawa Satria kembali, perasaan mereka diliputi kecemasan.
Sedangkan Chandra merasa penasaran dengan apa sebenarnya yang terjadi.
Mala tak henti-hentinya melafazkan Doa dengan pengharapan dan keyakinan, semoga apa yang diinginkannya tercapai.
Wuuuuusssh....taaar..
Seketika semburat cahaya berwarna perak muncul dari pintu lemari yang terbuka lebar. sosok Satria lengkap sama saat Ia menghilang muncul dari balik cahaya tersebut, berjalan menuju kearah mereka yang sedari tadi menunggu.
Seketika Mala dan lainnya terperangah. Lebih-lebih Chandra yang merasa bingung dengan kemunculan Satria dari balik cahaya yang keluar dari dalam lemari.
Bersamaan dengan itu, tubuh Hamdan yang sedari tadi tidak bergerak, tiba-tiba saja sudah bergerak kembali.
kedua matanya mengerjap, sukmanya telah kembali dan bersatu dengan raganya.
Hamdan segera beranjak dari duduknya, lalu melangkah menghampiri Satria, dan dengan cepat menyambutnya.
Setelah Satria berhasil Ia bawa keluar dari dalam lemari itu, maka seketika semburat cahaya tersebut menghilang.
Mala dengan tak sabar mengahambur memeluk Satria dengan sangat erat. Rasa kehilangan sedari kandungan, masih begitu amat melekat dihatinya, lalu setelah dewasa juga menghilang dalam pandangan matanya, hal itu merupakan sebuah pukulan berat bagi hidupnya.
Mala menciumi pipi puteranya, semua bagaiakan serasa mimpi. Ia tidak pernah menduga, jika Satria kembali dalam kondisi selamat.
Hadi turut menghampiri, Ia yang melihat Satria dialam ghaib juga tak menyangka bisa menemukan Kakaknya kembali ke rumah. Ia memeluk erat kakaknya. Ia dapat merasakan betapa beratnya cobaan sang Ibu yang ditanggungnya dengan semua beban deritanya.
Satria menatap bingung melihat Hadi, Hamdan, dan juga Chandra yang berada disebuah kamar yang terlihat mewah. Bahkan Satria tidak menyadari jika kamarnya juga telah berubah.
Satria menatap heran. "Mengapa semua berkumpul disini..? ada apa sebenarnya..?" tanya Satria masih merasa bingung.
Hamdan meminta Hadi untuk membawa Satria duduk ditepian ranjang. Lalu Hadi membimbing Satria yang masih tampak bingung.
Setelah Satria duduk ditepian ranjang, Hamdan meminta Mala kembali mengambil segelas air putih untuk diberikan kepada Satria.
Mala segera mengambilnya. Chandra masih belum dapat mencerna apa yang baru saja dilihatnya. Semuanya tampak begitu cepat dan tak dapat dijelaskan oleh logikanya.
__ADS_1
Chandra menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia merasa begitu banyak rahasia yang disimpan oleh wanita cantik pujaannya.
Mala datang membawa segelas air minum yang diberikannya kepada Hamdan, dengan membacakan shalawat nabi, Ia menghembuskan air tersebut, lalu meminta Satria meminumnya.
Tampak sekali Ia seperti orang yang tidak minum dalam waktu yang cukup lama. Setelah meninum air tersebut, Satria menetralkan detak jantungnya, lalu mengatur pernafasannya.
Sesaat Ia memejamkan matanya, mencoba mengingat apa yang sedang terjadi. Namun bayangan-bayangan lain muncul dalam benaknya.
Hingga akhirnya Ia melihat Roni sang ayah berdiri kaku ditengah jalan, tampak olehnya Nini Maru telah mengunci kakinya agar tidak dapat bergerak, dan..
"Baaaang...Roooniiii..."
Teriakan ibunya itukah yang Ia dengaar sampai ke alam sana. Suara itu menggema ketelinga Satria saat sedang melakukan uji coba kelulusan.
Sssssstkkk..
Seketika Satria terhenyak. Ia membulatkan matanya. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, jika Ayahnya Roni ditabrak oleh sepeda motor yang melintas dengan sangat kencang lalu menabrak tubuh sang Ayah hingga terpental. Nafas Satria tersengal menyaksikan itu semua.
Ia menatap ibunya. Wajah cantik itu tampak ada lingkaran hitam dibawah matanya. Pertanda Ia mengalami kurang tidur dan banyak masalah.
Mala mengangguk lemah, lalu membawa Satria pada pelukannya.
"Bahkan Ia tidak menungguku.." ucap Satria dengan rasa kesakitan yang luar biasa dihatinya. Pilu bagaikan sayatan sembilu, namun Ia harus menerima dengan apa yang sudah ditakdirkan.
Namun Mala merasa lega, jika akhirnya Satria kembali dengan selamat. "Kamu terlalu lama menghilang, kami tidak dapat menunggumu untuk menguburkan Jasad ayahmu, dan itu hal yang tidak mungkin. Malam ini adalah malam Ke tujuh meninggalnya ayahmu, maka kamu harus menerimanya dengan lapang dada." ujar Mala dengan lirih.
Lalu Mala melepaskan pelukannya, dan menatap lekat wajah puteranya.
Satria menatap bingung. "Haah...! Malam ke tujuh..? Apakah sudah seminggu lamanya aku menghilang tanya..? Satria dengan selidik.
Mala menggelengkan kepalanya.."Bukan.. Kamu menghilang bukan selama seminggu, tetapi tepatnya 37 hari. " jawab Mala.
"Apa...? 37 hari..!! Selama itukah aku menghilang..?!!" tanya Satria tak dengan rasa tak percaya. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi..? Jika Ia merasakan hanya sehari saja berada ditempat khadam tersebut.
"Sudahlah.. Yang penting kini kamu sudah kembali. Dimana ada banyak hal yang harus kamu selesaikan. Selain itu, esok pagi pergilah mengunjungi makam ayahmu, kirimkan doamu untuknya. Karena doa seorang anak yang shaleh yang sangat diinginkan oleh kedua orang tua yang sudah meninggal dunia." ucap Hamdan mencoba memberikan tausiah kepada kedua keponakannya.
__ADS_1
Satria menatap Hamdan. Ia belum pernah sekalipun bertemu dengan pria ini. Namun Ia sadar jika pria ini adalah yang membawanya kembali pulang ke dunia, dan menyatakan dirinya adalah saudara kandung almarhum Ayahnya.
seolah mengetahui isi hati Satria, Hamdan mengulurkan tangannya. "perkenalkan, aku Hamdan, aku adalah Pamanmu, dan almarhum Ayahmu adalah adikku satu-satunya." Hamdan menjabarkan siapa dirinya, agar Satria tidak lagi bimbang akan dirinya.
Satria menyalim tangan pamannya, alangkah senang hatinya, jika Ia memiliki seorang Paman yang dapat menggantikan Ayahnya yang sudah meninggal dunia, sebagai pembimbingnya.
Namun, bagaimanapun, rasa kehilangan ayahnya tentu sangat terasa.
Chandra yang melihat semua itu seakan merasa terancam. Ia merasa jika Hamdan adalah saingan yang perlu diwaspadainya.
Seketika obrolan mereka terhenti karena suara lantunan adzan subuh.
"Marilah bersiap, kita laksanakan shalat subuh berjamaah dimushollah.." titah Hamdan kepada semuanya.
Lalu mereka mengangguk bersamaan, terkecuali Chandra yang merasa sangat kesal dengan Hamdan, karena merasa semua orang mematuhinya.
Lalu Hadi dan Mala segera beranjak dari kamar Satria, begitu juga Chandra yang mengekori dari arah belakang.
Hamdan masih memilih untuk berada dikamar Satria. Ia memiliki sebuah rahasia yang mana hanya Ia dan Satria saja yang bisa mendengarnya, tidak dengan mereka.
Hamdan mengunci pintu kamar, setelah yang lainnya keluar.
"Masih ingatkah kamu akan pesah Khadam itu? Ia memintamu untuk melakukan tirakat. Namun kamu harus pergi kesebuah hutan, dimana disana ada sebuah goa yang mengarah ke barat, maka bertirakatlah disana. Kehadiranmu harus tetap dirahasiankan dahulu dari para warga lainnya." Hamdan berucap sembari setengah berbisik.
Satria masih belum mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Pamannya.
"Maksudnya.. Aku harus mengembara menemukan goa itu..?" tanya Satria bingung.
Hamdan menganggukkan kepalanya."Ya.. Disana ada sebuah kitab tua yang tersimpan dibalik sebuah dinding goa tersebut. Kamu harus mempelajari ilmu Ajian 'Segoro Geni'. Ajian ini dapat memusnakan dan menghancurkan Nini Maru yang setiap saat semakin merajalela." ujar Hamdan dengan tegas.
"Lalu bagaimana aku menemukan jalan kwgoa itu..?" Tanya Satria penasaran.
"Firasatmu yang akan membawa langkahmu kesana." tegas Hamdan.
"Sekarang, bersucilah, lalu kita ke mushallah.." ucap Hamdan sekali lagi.
__ADS_1
Satria menganggukkan kepalanya, pertanda mengerti.