Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Keributan-3


__ADS_3

Wajtu Maghrib hampir tiba. Maryam terburu-buru kekamar mandi. Ia teringat jika dirinya belum mandi. Yusuf yang saat itu melihat sang istri membawa handuk tampak marah. "Sayang.. Maghrib sudah tiba, jangan lagi kamu mandi, itu sangat tidak baik buat wanita hamil sepertimu.." Yusuf mencoba mencegah istrinya yang ingin mandi maghrib ini juga.


"Aku sangat gerah Mas.. Nanti akan membuatku tidak bisa tidur karena kegerahan.." bantah Maryam, yang tidak mengindahkan ucapan suaminya. Sementara itu, Yusuf hanya bisa mengelus dadanya mencoba bersabar atas kekerasan kepala istrinya.


Maryam terus saja masuk kekamar mandi. Melucuti pakaiannya, dan mandi dengan santainya, dimana saat itu adzan maghrib juga berkumandang.


Sesaat setelah selesai mandi, Maryam ingin kembali kekamarnya, untuk menyalin pakaiannya. Namun Ia teringat akan underwarenya yang Ia masukkan kedalam keranjang sebelum disetrika dan dilipatnya.


Saat Ia mengambil pakaian dalamnya itu, Ia kembali mencium aroma semerbak kembang kenanga, yang terus mengikutinya hingga kedalam kamar.


Namun sikap Maryam yang merasa masa bodoh tidak begitu memperdulikan hal-hal yang dianggapnya tahayul.


Maryam masuk kedalam kamarnya. Lalu melepaskan handuknya, Ia bercermin memandangi perubahan tubuhnya yang mulai kentara. Perutnya yang dulu langsing, kini berubah menjadi membuncit, karena usia kandungannganya yang sudah menginjak empat bulan.


Maryam mengenakan pakaian dalamanya dengan lembut. Lalu..


Wuuuuuuush...


Desiran angin serasa masuk kedalam rahimnya bersamaan terpasangnya secara sempurna pakaian dalamnya, lalu Ia menggunakan penutup dua bukit kembarnya, dan menggunakan daster kesayangannya.


Sesaat Maryam merasakan gelitik-gelitik diperutnyanya yang terasa sedkit aneh. Namun Ia mencoba mengabaikannya.


Hari ini perasaan malas untuk menunaikan ibadah shalatnya begitu sangat kuat, sehingga Ia mengabaikannya. "Kenapa persaanku begitu sangat malas untuk shalat.." Maryam berguman lirih dalam hatinya, dan beranjak ketepian ranjang.


Ia mencoba berselunjuran disana, dan menyandarkan tubuhnya disandaran ranjangnya.


Sesaat Ia mendengar suara Yusuf memanggilnya. "Sayang.. Buatkan mie tumis donk.." ujar Yusuf dengan manjanya, dari luar kamar .


Lalu dengan sedikit malas, Maryam beranjak dari ranjangnya menuju dapur untuk memasak mie tumis permintaan suaminya.

__ADS_1


Saat sedang memasak, ada sedikit perasaan yang berbeda didalam hatinya. Ia merasakan jika kurang bersemangat saat ini. sesaat Ia mendengar suara nyanyian burung hantu yang terus saja berkeliling disekitar rumahnya.


Maryam akhirnya menyelesaikan masakannya, lalu menghidangkan sajiannya kepada Yusuf yang duduk diteras rumahnya.


Tampak suaminya itu menyantap masakannya dengan begitu lahab. Sementara Maryam merasakan perutnya sedikit memulas, dan Ia membelai lembut perutnya, lalu kembali masuk kedalam kamar.


Sesaat Ia merasakan ingin buang air besar, lalu beranjak kekamar mandi yang merangkap dengam toilet.


Lama Ia berada disana, namun tanda-tanda buang air besar Ia tak jua tampak. Ia akhirnya memutuskan untuk kembali kekamar. Tanpa Ia sadari, sebuah bercak darah tertinggal di pakaian dalamnya saat Ia beranjak dari kamar mandi.


Rasa mulas didalam perutnya begitu sangat berirama, kadang datang dan juga kadang hilang. Hingga akhirnya Ia menyimpulkan jika itu hanya memulas ingin buang air besar saja.


Maryam memutuskan untuk tidur, Ia mencoba menghilangkan rasa khawatirnya dan menganggapnya hal yang biasa, namun tidak mencoba memberitahu Yusuf suaminya.


Akhirnya Maryam terlelap juga. Tanpa Ia sadari, sebuah bahaya besar telah mengincarnya. Yusuf yang asyik bergadang di depan rumah, tidak menyadari apa yang terjadi pada sang istri. pria itu terus berjaga sepanjang malam, untuk menghindari adanya gangguan iblis betina yang sudah membuat warga merasa resah akan keselamatan ibu-ibu yang sedang mengandung.


Setelah menyeduh kopinya, Ia mencoba kembali melihat istrinya yang tampak terlelap tidurnya. Ia kembali menutup pintu kamarnya, lalu duduk di ruang tamu, sembari bermain phonselnya dan berseluncur di aplikasi novel untuk membaca novel favoritenya, dan menghilangkan rasa jenuhnya untuk ngeronda dirumahnya sendiri.


Sesaat Ia mendengar suara Bimo dan Paijo yang sedang berkeliling untuk meronda.


"Kang Yusuf.. Amankan dirumah akang..?" teriak Bimo yang memperlambat laju jalannya.


"Alhamdulillah aman mas Bimo..." jawab Yusuf dengan yakin.


"Baiklah kang, kami keliling dulu.." jawab Paijo lalu ingin melanjutkan ronda mereka.


Namun langkah Paijo terhenti, saat melihat satu sosok berkelebatan dari ventilasi kamar Yusuf yang terbang melayang seperti membawa sesuatu.


"Kuntilanak... Kuntilanak pemakan janin.." Teriak Paijo dengan apa yang baru saja dilihatnya. Hal ini sontak saja membuat Bimo mengarahkan pandangannya yang ditunjuk oleh Paijo.

__ADS_1


Sementara itu, Yusuf yang mendengar suara teriakan kedua peronda itu seketika terbatuk dan menyemburkan kopi yang baru saja diminumnya secara tidak sengaja.


Ia meraih golok yang sedari tadi dipersiapkannya, lalu bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi.


Saat berada diluar, Ia melihat beberapa warga berkumpul karena terprovokasi teriakan Paijo yang begitu menggema.


"Dimana kuntilanak itu kang..?" ucap Yusuf yang berlari keluar dari pintu ruamahnya menuju kerumunan warga.


"Kang.. Coba lihat kondisi mbak Maryam, soalnya kuntilanak itu sepertinya keluar dari ventilasi kamar kang Yusuf.


"A...apa..? Seketika Yusuf merasa melemah mendengar penuturan Bimo.


Dengan cepat Ia bergegas menuju kamar untuk melihat kondisi Maryam yang sedari tadi tertidur lelap.


Sesaat Ia menghampiri istrinya. Namun Ia begitu sangat dikejutkan oleh pemandangan yang sama sekali tak pernah Ia bayangkan sebelumnya. "Tidaaaak... Maryaaaam..." teriak Yusuf menggemparkan malam yang kelam.


Seketika warga yang berkumpul diluar merasa penasaran dengan apa yang terjadi didalam rumah Itu.


Sesaat mereka menyaksikan Maryam yang sedsng dipangku Yusuf sudah bersimbah darah. Bahkan Yusuf tidak menyadari sejak kapan istrinya itu mengalami kejadian teesebut. Saat Ia memeriksanya beberapa waktu yang lalu, Ia melihat istrinya itu seperti sedang terlelap tidurnya dan Ia mengira jika istrinya terlelap tidur.


Seseorang menghampiri Yusuf yang tampak linglung saat memangku Maryam yang tampak diam dan tak berkutik.


Pria yang tak lain adalah Amran ayah Syafiyah itu mencoba memeriksa denyut nadi wanita yang tampak lunglai tersebut.


Lalu Ia menggelengkan kepalanya.. "Innalillahi wa inna ilahi raji'un.." ucap Amran lirih.


Seketika warga tercengang, begitu juga dengan Yusuf yang sedari tadi menyadari jika Maryam telah meregang nyawa sejak beberapa jam yang lalu.


Seketika Yusuf merasakan dunianya berputar, Ia bagaikan tak bertenaga, menyaksikan kenyataan yang ada.."Tidak..tidak mungkin.. Ini tidak mungkin terjadi.. Maryaaaam... Jangan tinggalkan aku sayang.." suara Yusuf seakan tercekat ditenggorokannya, Ia memeluk erat tubuh istrinya yang kini sudah tak lagi bernyawa, bahkan tanpa sepengetahuannya kapan sang istri telah pergi, tanpa pesan apapun jua.

__ADS_1


__ADS_2