Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Kaget


__ADS_3

Shinta berjalan dengan perutnya yang semakin membuncit. Tampak gurat lelah diwajahnya.


"Sayang.. Kamu tinggal dirumah saja ya sama Papa, Aku ada keperluan mendadak dikampung halaman." ucap Hadi memberitahukan kepergiannya terbilang mendadak dan tiba-tiba.


"Lho.. Koq mendadak Sayang.. Emangnya ada apa dengan Ibu..?" tanya Shinta yang penasaran.


Hadi terdiam, Ia masih ingin merahasiakan apa yang terjadi pada Ibunya, sebelum Ia mendengar langsung dari ibunya dengan sangat jelas.


"Ada sesuatu yang sangat penting sayang.. Nanti setelah pulang dari sana Aku beritahu ya.." ucap Hadi, sembari membelai lembut perut istrinya.


"Aku ikut yank.. Aku juga ingin jenguk Ibu.." Rengek Shinta dengan manja. Ia merasa bosan dirumah, sebab Hadi selalu sibuk bekerja.


Hadi bingung harus berbuat apa.. Jika berkata jujur, ini akan membuat syok Shinta.


Hadi menarik nafasnya dengan dalam.. "Ibu sudah menikah lagi.. Dan itu karena fitnahan semata.." jawab Hadi dengan lemah.


"Apa...? Benarkah itu Sayang..?! Alahmdulillah.. " ucap Shinta kegirangan. wajahnya terlihat sangat senang membuat Hadi merasa bingung sikap sang Istri. "Aku ikut.. Aku ingin melihat siapa Ayah mertua baruku.." ucap Shinta bersemangat.


Hadi mengernyitkan keningnya, Ia tidak menduga, jika kejujurannya mengakibatkan goodmood dari sang Istri.


Sementara itu, Chandra yang tak sengaja mencuri dengar pembicaraan antara anak dan menantunya, tiba-tiba Syok dan tak mampu berkata-kata apalagi.


Ia bagaikan tak menginjak bumi, langit bagaikan runtuh saat mengetahui wanita pujaannya telah diambil orang.. Bahkan telah menikah dengan begitu cepatnya.


Chandra mencengkram pegangan tangga dengan sangat kuat, tubuhnya gemetar bagaikan terkena thremor, lidahnya keluh karena tak mampu mengucapkan sepatah katapun.


"Mala.. Mengapa begitu sulitnya memilikimu.. Bahkan saat dirimu telah sendiri pun Aku tak jua mendapatkanmu.." Chandra berguman lirih dalam hatinya.


Perasaannya hancur berkeping-keping. Ia tak mampu menggambarkan bagaimana rasanya tertikung dengan cepat.


Namun, Pria itu ingin ikut ke kampung halaman, Ia ingin melihat siapa pencuri hati Sang pujaan hatinya.


"Aku harus ikut, Aku ingin melihat Siapa Pria itu..?" Chandra berguman lirih. Meskipun Ia menyadari hatinya akan hancur saat berada disana, namun Ia harus menyaksikan sendiri tentang kebenaran cerita yang Ia dengar.

__ADS_1


Chandra menguatkan hatinya, menuruni anak tangga, menyiapkan beberapa helai pakaian untuknya berganti disana. Ia memasukkan pakaiannya dalam sebuah tas ransel kecil. Tanpa Ia sadari, setitik bulir bening jatuh membasahi pipinya.


Pria paruh baya itu segera menyekanya, Ia tidak ingin jika Shinta melihatnya hancur, karena Ia tahu, orang yang paling berbahagia atas kepatah hatiannya adalah Shinta.


Namun Ia tak ingin membenci puteri kesayangannya itu, karena tentunya sang Puteri memiliki alasan atas ketidak setujuannya atas perasaannya dengan Mala, namun Ia juga memiliki alasan yang kuat untuk mempertahankan cintanya.


Chandra mendengar derap langkah kaki Shinta dan Hadi menuruni anak tangga, Ia mempercepat pengemasan barang-barang pribadinya.


Saat keduanya telah berada dilantai dasar, Chandra keluar dari pintu kamarnya.."Papa ikut.." ucapnya dengan nada lirih.


Seketika Shinta dan Hadi saling pandang, Mereka tidak menyangka jika Chandra mengetahui hal kepergian mereka, sepertinya Pria paruh baya itu telah mencuri dengar pembicaraaan mereka sewaktu dikamar tadi.


Shinta mengangguk, tak ada bantahan atau sangkalan apapun. Shinta berharap Papanya dapat menerima kenyataan jika Ibu mertuanya bukanlah jodoh Papanya, dan sang Papa harus menerima kenyataan itu.


Shinta dan Hadi beranjak menuju garasi, diikuti oleh Chandra dengan langkah gontai, tanpa semangat apapun.


Ketiga telah berada didalam mobil.."Kita berangkat sekarang.." uvap Hadi memberitahu.


Sepanjang perjalanan, ketiganya lebih banyak diam, hingga suasana dalam keheningan.


"Emmm.. Sepertinya Papa Chandra sedang patah hati." Hadi berguman lirih, menebak isi hati sang Papa mertuanya, lalu kembali fokus menyetir.


Perjalanan kali ini terasa sangat membosankan, karena mereka semuanya larut dalam angannya masing-masing. Hadi memilih untuk memutar lagu slow rock dalam menemani perjalanannya.


*****


Hampir larut malam mereka tiba dikampung halaman, namu Hadi tak memilih untuk langsung kerumah Ibunya, melainkan Ia memilih untuk singgah kerumah pamannya, Hamdan.


Sebelum Ia berangkat dari kota, Hadi sempat menghubungi pamannya, dan menceritakan semuanya. Kebetulan Hamdan sang paman batu saja pulang dari luar kota, sehingga Ia tidwk mendengar kabar tentang mantan adik iparnya itu.


Mendapati kabar mengejutkan itu, Hamdan berencana untuk ikut menjenguk Ibu dari kedua keponakannya itu.


Sehingga Hadi memilih untuk menyinggahi rumah pamannya.

__ADS_1


Rasa lelah menghampiri Hadi, sedangkan Chandra tak berniat menggantikan menyetir.


"Kita beristirahat dirumah pqman Hamdan saja, esok pagi baru kerumah Ibu.." ucap Hadi memecah kesunyian, dan ternyata yang diajaknya berbicara sudah tertidur semuanya.


Hafi mendenguskan nafasnya dengan berat, lalu Ia memasuki gang rumah Hamdan, dan kini sudah berada didepan rumah sang Paman.


Mengetahui siapa yang datang, Hamdan segera membuka pintu rumahnya. Duda tanpa anak itu, menyambut kedatangan Keponakannya dengan hati yang senang.


"Ayo.. Masuklah.." ajak Hamdan, dengan senyum ramahnya, saat menghampiri mobil Hadi.


Hadi membangunkan Shinta dan Papa mertuanya.


"Sayang.. Bangun.. Kita istirahat dirumah paman Hamdan dulu ya.." ucap Hadi, sembari mengguncang lembut tubuh sang istri.


Shinta mengerjapkan matanya, membuka matanya yang tampak berat, dan menganghukkan kepalanya.


Lalu Hadi membangunkan Papa mertuanya. Pria paruh baya itu mencoba untuk bangun, lalu mengikuti anak dan menantunya memasuki rumah Hamdan.


Sesampainya didalam rumah Hamdan, Shinta memasuki kamar yang sudah disediakan sebelumnya, lalu melanjutkan tidurnya disana. Sedangkan Chandra menuju sofa, dan kembali tertidur lagi.


Hadi yang tampak lelah bersandar disofa, mencoba memejamkan matanya, namun tak jua kunjung terpejam.


Hamdan datang membawa segelas susu jahe hangat. Lalu memberikannya kepada Hadi.


"Minumlah.. Agar tubuhmu hangat.." ucap Hamdan, sembari menyodorkannya kepada Hafi.


Pria muda itu meraih gelas dari tangan sang paman. "Terimakasih, Paman.." jawab Hadi dengan lemah. Lalu Ia menyeruput susu hangat tersebut, dan merasakan sedikit kehangatan merasuk ketubuhnya yang tampak lelah.


Hadi mendenguskan nafasnya, mencoba menenanhkan hatinya.."Mengapa ini terjadi pada Ibu..?" ucap Hadi, mencoba mengeluarkan apa yang terpendam dalam hatinya, dan tak mampu lagi untuk Ia tahan.


"Itu takdir hidupnya, dan harus dijalaninya. Namun, pria itu harus diruqyah.. Karena ada sesuatu yang bersemayam didalam tubuhnya, sedangkan Ia tak menerimanya. Jika sesuatu itu terus bersemayam ditubuhnya, maka akan mengakibatkan nasib buruk baginya.." ujar Hamdan, sembari menghisap rokoknya, dan menghembuskan asapnya dengan berat.


"Ma..maksud Paman apa..?" tanya Hadi penasaran.Ia tqk mengerti dengan apa yang diucapkan oleh pamannya.

__ADS_1


"Suami baru Ibumu.. Ada sesuatu ilmu hitam yang diwariskan kepadanya, namun tidak sesuai dengan hatinya.. Ia orang baik, maka berlawanan dengan hakekat ilmu hitam itu sendiri, mereka tak bisa menyatu.. Maka harus dihilangkan dan dibersihkan.." jawab Hamdan, lalu mematikan romoknya, didalam asbak.


__ADS_2