Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Keributan-2


__ADS_3

Nini Maru terbang melayang diudara, membelah kegelapan malam yang sepi dan sunyi.


"Sialan itu si Bayu..! Berani-beraninya Ia menentangku sekarang..! Aku akan membuat perhitungan dengannya. Bagaimana caranya mengelabui keturunan Ki Kliwon tersebut..?" Nini Maru tampak berfikir keras, Ia sudah jengah dengan Bayu yang tidak lagi bersikap koperaratif padanya.


Nini Maru nangkring disebuah batang kayu yang rimbun, dekat dengan puskesmas. Tampak kerumunan warga yang membawa para teman mereka yang terluka karena serangannya barusan. Nini Maru memandang dengan sinis. "Rasain.. Siapa suruh main pelorotin aku sembarangan." cibirnya, dengan wajah jeleknya yang semakin jelek.


Seketika Ia kembali teringat kepada Bayu. "Tapi dia terlalu tampan, dan itu membuatku dilema.. Aku ingin merasakan bercinta dengannya saat seperti waktu itu.. Namun keris sialan itu mengapa juga bersemayam ditubuhnya.." Nini Maru menyibakkan rambutnya yang bergerai menutupi wajahnya.


Warga mulai memasuki puskesmas. Meskipun itu sebuah puskesmas, namun pelayanan dan fasilitasnya kelas 1. Dimana puskesmas itu dari segi fisik bangunan saja sudah terlihat sangat bagus, ditambah lagi dengan peralatan yang sudah lengkap saat Satria menjabat waktu itu.


"Aku masih membutuhkan dua janin lagi sebagai tumbal. Aku sangat butuh energi dan asupan yang cukup untuk melanjutkan pertapaanku.." Nini Maru mulai gelisah. Ia harus mendapatkan tumbal 2 jani lagi sebagai syarat untuk kelangsungan kekuatannya.


Ia terus mengamati situasi didesa tersebut, yang kini mulai tampak lengang. "Aku akan bertindak jika situasi desa sudah kondusif, saat ini warga pasti lagi menjadikanku bahan ghibahan dan membuatku Viral.." Gerutu Nini Maru, sembari mengamati warga yang mulai satu persatu berpulangan.


Sementara itu, dikediaman Jhoni tampak heboh. Dimana pria itu yang terkapar dilantai kamarnya tanpa busana sedang berusaha ditolong warga. Ia dibopong keatas kasur, lalu ditutupi dengan selimut.


Sementara itu, Syafiyah yqng dijemput oleh warga, melakukan pemeriksaan terhadap Lisa yang suarq tangisannya masih terdengar seseunggukan. Ia tidqk menyangka, setelah kurang lebih 23 tahun lamanya Ia menantikan kehadiran calon bayinya, kini kejadian yang sama harus terulang lagi. Ia tak dapat menerima semua kejadian yang baru saja dialaminya.


Syafiyah mencoba menenagkannya, karena bidan berwajah manis itu takut jika Lisa menhalami baby blues pasca keguguran dan ini akan berakibat fatal bagi diri Lisa dan juga keluarganya.


Lisa tampak mulai meracau tak jelas, Ia seperti mengalami depresi akibat tak sanggup menanggung beban deritanya yang terus menerus kehilangan calon buah hatinya.


Sementara itu, Jhoni, masih tak sadarkan diri, dan Syafiyah kini beralih melakukan pemeriksaan kepada Suami Lisa tersebut. Bidan itu mengernyitkan keningnya, Sepertinya ada kejanggalan pada pria itu saat melakukan aktifitasnya tadi.

__ADS_1


Wajah pria itu memucat dan seperti mayat hidup. Sedangkan diarea sensitifnya masih tampak tegak berdiri. "Sepertinya ini harus ditangani oleh pihak spritual." ucap Syafiyah menyarankan.


Bu Sabri sebagai orangtua Jhoni menganggukkan kepalanya menyetujui. Apalagi Ia mendengar kejadian yang pernah disaksikannya tempo hari. Meski usianya kini sudah tidak muda lagi, namun Ia masih jelas mengingatnya.


Sedangkan Jumi ibu dari Lisa mencoba menenangkan hati puterinya yang kini mulai meracau tak jelas. Syafiyah mencoba memberikan obat penenang kepada wanita itu, dan meminta Bu Jumi agar membujuk Lisa untuk memakan obatnya.


******


********


Keesokan paginya. Warga yang berkumpul diwarung kopi, di tempat umum dan sebagainya mulai bergosip ria tentang Nini Maru yang membuat kehebohan malam tadi.


Bahkan, peristiwa penarikan pakaian iblis betina itu tak luput menjadi bahan gosipan yang begitu panas. Sesekali mereka tertawa mengingat kejadian tersebut namun juga berubah menjadi khawatir jika mengingat Nini Maru menyasar wanita hamil.


"Iya setuju.. Kita harus bergantian berjaga, dibagi menjadi dua sip.." ujar Bimo menimpali.


"Maryam istri saya juga sedang hamil, maka saya tidak bisa ikut ronda, saya harus menjaganya dirumah.." Yusuf mencoba menyela percakapan.


Budi menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Yusuf tetap standbay dirumah, menjaga istrinya, maka bagi istrinya yang sedang hamil harus wajib ikut meronda, nanti dana buat meronda kita buat iuran setiap bulannya yang diambil dari para warga."Budi mencoba menjelaskan.


"Sepertinya Rina menantu Bu Dewi dan Raisya anak Bu Ratna juga sedang hamil muda.. Mereka kan kemarin baru selesai acara pernikahan yang berbeda hari saja 4 bilan yang lalu.." Bimo mencoba mengingatkan.


Budi tampak berfikir. "Berarti ronda harus keliling dimulai dari Rumah Bu Ratna, melewati rumah mbak Mala , (seketika Budi terdiam sejenak mengingat nama janda cantik tersebut disebutnya). Lalu kita berkeliling ke rumah Rina anak Bu dewi dan lainnya. Jangan sampai ada yang terlewat." ujar Budi mencoba menegaskan.

__ADS_1


Semua yang hadir dalam rapat dadakan tersebut mengangguk menyetujui. Mereka sependapat jika harus diadakan ronda untuk menjaga keamanan kampungnya.


seketika, kampung yang semulany sudah mulai aman dan melupakan peristiwa 23 tahun yang lalu, kini digemparkan kembali dengan ulah Nini Maru yang mulai menyasar warga dan merajalela.


Selama Nini Maru dalam pelayanan tumbal janin yang tersedia dengan mudah, Ia tidak pernah menyasar warga, namun karena Bayu juga tidak lagi memperdulikannya, membuatnya menjadi liar dan memcari mangsa sendiri.


*****


******


Hari mulai meremang. Lembayung menggantung dilangi senja, dengan kemegahannya, pertanda Maghrib akan segera tiba.


Saat seperti ini, wanita hamil dan anak-anak dilarang berkeliaran keluar rumah. Dimana saat ini adalah saat tempat para jin dan bangsa demit lainnya keluar dari sarangnya, maka para wanita hamil dan anak-anak harus berada didalam rumah dan tidak membiarkan pintu atau jendela terbuka.


"Sayang.. Sudahlah.. Jangan lagi kamu angkat jemuran itu, hari sudah senja, dan itu sangat pamali sekali." ujar Yusuf mengingatkan Maryam yang sibuk mengangkat jemurannya, karena kelupaan.


"Itu hanya mitos belaka saja Mas, mengapa kamu begitu mempercayai hal-hal yang diluar logika dan tidak masuk akal. Bagiku nalar dan logika lebih penting ketimbang cerita tahayul yang kalian dengungkan.." ujar Maryam dengan santainya.


Saat Ia menarik jemuran terakhirnya berupa underwarenya, sebuah desiran angin menyapa rambutnya, diiringi aroma kenanga yang menyeruak.


"Wangi sekali aroma kembang ini.. Tetapi sepertinnya tidak ada kembang kenanga disini.. Lalu dari mana datangnya..?" Maryam mulai mencari-cari aroma tersebut. Sesaat Ia segera beranjak dari jemurannya, dan masuk kedalam rumah dengan aroma kenanga yang ikut masuk besertanya. Perasaan Maryam sedikit aneh, ada merasa bergidik dibulu kuduknya.


Namun, karena Ia tidak mempercayai hal-hal yang bersifat diluar logika dan nalarnya, Ia mencoba mengabaikannya, dan tetap beraktifitas seperti biasanya.

__ADS_1


__ADS_2