
Satria menyiapkan segala keperluan yang akan dibawanya saat menempu perjalanan panjang nantinya.
Ia sudah tak sabar untuk melihat seperti apa rupa ibu dan ayah kandungnya.
Debaran dihatinya bagaikan genderang perang yang tak pernah berhenti.
"ibu.. Ayah.. Akankah kau merindukanku? Ataukah sebaliknya?" Satria berguman lirih dalam hatinya.
Rasa penasaran, rasa rindu, menjadi satu dalam gumpalan rasa yang tak mampu Ia artikan. Rasa itu semakin lama semakin membentuk gundukan gunung yang semakin membesar.
Satria memulai perjalanannya. Ia mengendarai mobilnya dengan penuh semangat. Ia mencari alamat yang diberikan oleh Rianti kepadanya.
Sepanjang perjalanan Ia terus berdoa dan berdzikir, kiranya Allah mempermudah pertemuannya dengan kedua orang tuanya.
Satria akan beristirahat jika tiba waktu shalat saja. Ia membawa makanan dan minuman ringan untuk menemani perjalanannya.
Dalam perjalananannya Ia melihat semua alam dan orang-orang yang berpapasan dengannya serasa ikut tersenyum padanya.
------'----******-----
Setelah mendapatkan suntik obat penenang, Roni tertidur dengan pulas. Hadi membopongnya kekamar, menidurkannya dengan lembut diatas ranjang. Ia mengecup kening pria yang selama ini telah membesarkannya dengan cinta kasih.
"sembuhlah ayah, aku merindukanmu saat seperti masa dulu." ucap Hadi dengan hati yang pilu.
Saat semua orang sudah kembali ke puskesmas, Mala mengemasi peralatan yang berantakan dan membersihkannya.
Setelah sore harinya, Shinta datang berkunjung kerumah Hadi, rumah yang sangat sederhana jauh dari kata mewah.
Mala dan Roni tak sempat membangun rumah mewah, karena mereka memikirkan pendidikan Hadi.
Jika dibandingkan dengan kamar Shinta, tentulah rumah ini kalah sangat jauh mewahnya. Namun entah mengapa, Shinta menemukan kedamaian saat memasuki rumah tersebut.
"assalammualikum.." sapa Shinta dari luar pintu.
"waalaikumsalam.." Jawab Mala yang keluar dari kamar dengan menggunakan mukena.
Wanita cantik itu baru saja selesai menunaikan ibadah shalat Asharnya.
Ia mendengar orang mengucapkan salam dan buru-buru untuk keluar melihat siapa yang datang.
Shinta tersenyum malu saat Melihat Mala menyambutnya.
"mari masuk..? Cari siapa ya nak..?" tanya Mala.
"emmm..anu.. Itu bu, saya Shinta, temennya Hadi.." jawab Shinta kikuk dan canggung.
"ooo.. Silahkan duduk dulu ya, ibu mau ganti pakaian bentar, dan Hadi nya masih mandi." ucap Mala ramah.
__ADS_1
Shinta menganggukkan kepalanya dan tersenyum malu-malu.
Mala dapat menebak isi hati gadis itu, pasti ada sesuatu yang spesial dihatinya tentang anak lelakinya.
Lalu Mala masuk kekamar, untuk menyalin pakaiannya dan menggunakan hijab.
Shinta menunggu duduk di sofa sederhana diruangan tamu. Shinta juga membawa beberapa buah tangan sebagai bentuk peduli atas kunjungannya.
Saat itu, Hadi baru saja selesai mandi, dengan hanya berbalut handuk yang melilit dipinggangnya, menampilkan tubuh kekarnya.
Karena kamar mandi yang hanya satu dan berada didekat dapur, tentu membuatnya harus melewati ruangan tamu dimana Shinta menunggu.
Hadi yang tidak menyadari kehadiran Shinta, berjalan melenggang memasuki kamarnya, yang mana pintunya menghadap keruang tamu.
Kamar itu dahulunya pernah ditempati oleh si mbah nya, yaitu mbah Karso dan mbok Darmi, yang kini telah almarhum.
Shinta terpana dengan sosok Hadi, namun dengan buru-buru Ia memalingkan wajahnya karena tersipu malu andai ketahuan mengintai.
Untungnya Hadi tak menyadari kehadiran Shinta. Sehingga gadis itu tidak merasa kepergok.
Wajah Shinta memerah saat membayangkan Hadi yang baru saja dilihatnya tadi tanpa sengaja.
Entah perasaan apa yang mengusik hatinya. Ia merasakan sesuatu yang berbeda sejak masa itu.
Akhirnya Shinta memutuskan pulang ke tempat kos bersama teman magang mereka. Ia akan merasa canggung sekali jika harus berbincang dengan Hadi saat ketahuan Ia melihat Hadi keluar dari kamar mandi.
Shinta meninggalkan buah tangannya diatas meja begitu saja, lalu kabur sebelum Mala dan Hadi keluar dari kamar mereka masing-masing.
Ia buru-buru masuk kedalam kamar dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.Ia merasakan getaran yang sangat aneh dalam hatinya.
Mala keluar dari kamarnya, lalu mendapati Shinta tak ada lagi duduk di sofa dan ada beberapa buah tangan tergeletak diatas meja.
Hadi yang juga selesai dari menyalin pakainnya dengan menggunakan celana pendek dan kaos oblong menatap heran pada ibunya yang seperti mencari seseorang.
"ibu cari apa bu..?" tanya Hadi penasaran.
"kamu lihat gak gadis cantik bernama Shinta yang duduk disofa ini? Tadi Ia datang mencari kamu..?" ucap Mala menjelaskan.
Hadi mengerutkan keningnya. "Masa sih bu..? Tapi Hadi gak lihat koq.." Jawab Hadi dengan bingung.
"ada koq sayang, ini buktinya, makanan semua ini dia yang bawa tadi." Mala meyakini ucapannya.
"tapi kalau dia memang datang kemari, kenapa sekarang kabur?" jawab hadi seenaknya.
Mala memandang Hadi dengan seksama. "apa jangan-jangan dia malu saat melihatmu keluar dari kamar mandi..?" ucap Mala dengan pandangan selidik
Hadi mengangkat kedua bahunya. "mungkin saja, soalnya Hadi gak sadar kalau ada tamu." jawab Hadi dengan santai.
__ADS_1
Mala menepuk keningnya. Ternyata anak lelakinya ini gak peka dengan perasaan perempuan.
"ya sudah, coba telfon atau kirimin pesan, bilang terimakasih dengan buah tangan yang dibawanya." titah Mala kepada Hadi.
"ok..bu.." jawabnya santai.
Mala menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap Hadi yang terlalu polos.
--------****------
Wajah Shinta yang berlindung dibalik selimut masih tampak bersemu merah.
Lalu tiba saja Ia mendapatkan sebuah pesan masuk dari Hadi yang berisikan kata "Hai Shinta, makasih ya atas semua makanan yang kamu bawa. Tetapi kenapa kamu tiba-tiba pulang..?" isi pesan Hadi yang membuat Shinta bertambah gugup.
"maaf, aku tiba-tiba sakit perut tadi. makanya buru-buru pulang." balas Shinta asal.
"kalau cuma sakit perut, kenapa gak numpang dirumahku saja tadi.." balas Hadi.
"Haaah..?" Shinta bertambah bingung harus menjawab apa.
Karena shinta tidak membalas pesannya, maka Hadi mengirimkan sebuah pesan. "makananya enak, kamu beli dimana..?" tanya Hadi dalam chat nya.
Shinta tak menjawab pertanyaan Hadi, Ia menyelipkan handphonenya di balik bantal. Lalu tidur dengan membawa bayangan wajah Hadi dalam mimpinya. pria konyol yang gaknada peka-pekanya sedikitpun.
--------*****-------
Keesokan paginya. Hadi berpamitan dengan Ibijya untuk berangkat ke puskesmas. Sebelumnya ia memandikan Roni dan menyalin pakaiannya, lalu Mala memberinya sarapan dengan sedikit memaksa. Setelah mendapat dua suapan, akhirnya Roni mengatupkan mulutnya, menolak untuk makan.
Hadi lalu memberikan obat penenang kepada ayahnya. Setelah memakan obat penenang tersebut, Roni perlahan mengantuk. Lalu tertidur.
Sesampai di puskesmas, Shinta yang sengaja berpapasan dengan Hadi, seketika wajahnya memerah. "Hai Shinta.." sapa Hadi dengan senyum termanisnya. Lalu pergi begitu saja, setelah membuat jantung Shinta tak karuan.
Windy yang memperhatikan wajah Shinta berubah seketika saat disapa Hadi, lalu mencoba meledeknya."ciiiiee.. Ada yang lagi ne sepertinya." goda Windy, yang membuat Shinta bertambah bersemu merah wajahnya.
"apaan sih loe.." jawab Shinta, sembari menyikut lengan Windy dengan sikunya.
Windy tertawa melihat sikap Shinta yang tampak malu-malu.
Hadi berada diruangan khusus untuk magang.
Ia menerima pasien yang akan berobat dan mengeluhkan penyakitnya.
Sebagian pasien yang datang, kebanyakan dari ras emak-emak. Selain mendapatkan pengobatan gratis, tentunya juga karena ingin melihat dokter magang yang tampan.
Shinta memasuki ruangan Hadi. Ia mendampingi Hadi dalam proses magang mereka.
"Hai Shinta, tolong bantu ibu itu chek kan tekanan darahnya." ucap Hadi dengan lembut dan menawan.
__ADS_1
Shinta hanya membalas dengan senyum tanpa ekspresi. "ya Tuhan..kalau lama-lama dekatnya, bisa kena serangan jantung aku.." bathin Shinta, sembari mengeluarkan stetoskop dan alat pengecek tekanan darah.
~love U to All readers ❤❤❤❤ .. terimakasih atas like and komentarnya, serta telah mengikuti perjalanan menulis author. Jika ada typo dan cerita yang kurang berkenan harap memakluminya ~