Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Ketika Cinta Shinta di Uji


__ADS_3

Kabar keguguran Shinta didengar oleh sang Nenek, Lili.


Kehilangan calon cicit pertamanya sangatlah membuatnya terpukul. Apalagi Shinta ada cucu satu-satunya sebagai generasi pewaris garis keturunan mereka.


Lili kembali dari luar negeri, sengaja untuk mengunjungi sang cucu yang kini sedang berduka.


Perjalanan yang sangat melelahkan membuatnya tampak begitu sangat letih. Namun semuanya tak menjadi penghalang baginya untuk memberikan semangat kepada sang cucu.


Lili yang kini sudah berusia hampir senja, masih saja tampak energik. Semua itu karena Ia menjaga pola hidupnya yang sehat.


diusianya yang senja, masih tampak garis-garis sisa kecantikannya dimasa muda, Ia masih sangat terlihat beseri.


Ia memasuki kamar Shinta dengan diantar oleh Chandra, yang kini terlihat tampak kurus.


Entah penyakit apa yang diderita oleh Chandra, sehingga Ia tidak tampak bersemangat.


Lili membawa berbagai oleh-oleh dari luar negeri, sebagai pelipur lara hati Shinta yang kini sedang kalut.


Sesampainya didalam kamar, Ia berjalan dengan anggunnya. Lalu menghampiri Shinta, yang sedang terbaring dengan jarum infus dipergelangan tangannya.


Lili mencium kening cucunya dengan penuh cinta.


Hadi yang saat itu sedang berada didekat Liki, lalu mengulurkan tangannya untuk menyalim wanita tua itu.


"apa kabar Oma..?" Sapa Hadi dengan ramah.


"Baik.." jawab Lili dengan nada datar, lalu meraih uluran tangan Hadi, dan segera melepaskannya.


Tampak sekali jika wanita itu adalah manusia angkuh dan sombong. Namun sikapnya itu berbeda dengan Chandra dan Shinta, yang cenderung ramah dan baik.


"yang sabar ya Shinta, semua ini cobaan, kelak akan ada penggantinya." ucap Lili dengan kata-kata bijaknya, seolah Ia adalah orang paling bijaksana sejagad raya.


Shinta hanya menangis sesenggukan. Hadi menghampirinya, lalu duduk ditepian ranjang disisi kanan tubuh Shinta. Wanita malang itu membenamkan wajahnya didada bidang suaminya, mencoba mencari kedamain disana.


Lili memperhatikan wajah Hadi. Mata itu mengingatkannya kepada seseorang. Ia mencoba menggali memorynya yang sudah lama Ia kubur bersama waktu.


Saat pernikahan Shinta, Ia belum sempat mengenal bibit, bebet, dan bobot dari keluarga besan anaknya.


Ia hanya mendengar, jika calon suami Shinta saat itu bekerja diperusahaan da calon seorang dokter kandungan.


Mendengar semua talenta yang dimiliki oleh calin suami cucunya, tentu Ia sangat menyetujuinya, apalagi Ia merasa jika calon tersebut berasal dari keluarga kaya raya.


"mengapa wajahmu mengingatkanku akan seseorang..? Sepertinya aku merasa dejavu melihatmu.." ucap Lili penuh selidik.


Shinta yang awalnya menangis tersedu, tiba-tiba menghentikan tangisnya. Lalu berpaling melihat sang Nenek.


"maksud Nenek a..a..apa?" tanya Shinta sembari menyeka air matanya.

__ADS_1


Lili terus memperhatikan wajah Hadi. Ia meyakini jika wajah itu benar-benar mirip dengan seseorang.


"siapa orangtuamu..?" tanya Lili dengan selidik.


Chandra yang menyadari akan hal yang tidak menyenangkan akan terjadi, maka dengan segera mengalihkan penbicaraan.


"Ma.. Mari kita beristirahat dikamar Mama, sepertinya Mama cukup lelah." ucap Chandra dengan cepat.


Sikap Chandra membuat rasa penasarn Lili semakin besar. Ia merasa jika Chandra telah menyembunyikan sesuatu darinya.


"siapa orang tuamu..? Terutama ibumu..?" desak Lili kepada Hadi.


Hadi yang dicecar seperti itu merasa sangat heran dengan pertanyaan yang dianggap Hadi sedikit nyeleneh. Hadi menganggap gidak mungkin Oma Lili tidak mengetahui siapa keluarganya, kecuali Chandra menyembunyikan identitasnya, jikapun iya, tetapi untuk apa..?


"ibuku bernama.. Ma.." Hadi menggantung ucapannya, karena Ayah mertuanya menyela.


"Ma.. Ayo kita kekamar dulu.. Mama istirahat saja." ucap Chandra mengalihkan.


Lili mengangkat tangan kanannya setinggi pundak, dengan tujuan agar Chandra diam, dan tidak ikut campur atas urusan keluarganya.


Lili menatap tajam kepada Chandra, jangan bantah apapun, dan jangan menyela pembicaraan orang lain." ucap Lili merasa geram kepada Chandra.


"siapa Ibumu..? Katakan..?!" ucap Lili dengan angkuh.


Hadi yang terlalu polos akan hal ini, tidak terlalu serius menanggapinya.


"Mala.." jawab Hadi sopan.


Jantung Lili seakan berhenti berdetak. Bibirnya bergetar, menahan sebuah gejolak didadanya. Nama itu begitu amat Ia benci. Nama yang tidak ingin Ia dengar untuk seumur hidupnya.


Chandra memucat seketika, Ia tidak ingin Hadi yang menantunya, sekaligus rekan bisnisnya akan merasa tersinggung oleh pembicaraan ini nantinya.


"Siapa nama Kakekmu..?"


"mbah Kar..." ucap Hadi tercekat ditenggorokannya.


"Ayo Ma.. Kita makan siang dulu.." ucap Chandra, sedemikian rupa untuk mencegah Liki mengorek keterangan terlalu dalam dari Hadi.


"siapa..?!" tanya Lili dengan penuh penekanan.


"Karso.." jawab Hadi jujur dan tenang.


Lili bangkit sembari bertepuk tangan tiga kali, seolah mengejek dan meremehkan.


"bagus sekali... Ternyata kau menutupinya dari Mama Chandra..!! Sebegitu pentingnyakah wanita itu bagimu? Sehingga kau menyembunyikan sebuah rahasia yang begitu amat besar." ucap Lili dengan kesal.


Lili menatap tajam pada Chandra, tatapannya penuh intimidasi.

__ADS_1


Sepertinya Hadi membaca gelagat yang tidak baik dari Lili. Hadi menatap bingung dengan apa hang diucapkan oleh Lili. Siapakah wanita penting dalam hidup Papa mertuanya itu yang dimaksud oleh Lili..


Hadi mulai menerka-nerka, Ia mulai mencurigai jika ada sesuatu rahasia yamg amat besar, rahasia yang disimpan rapi oleh Papa mertuanya.


Kondisi Shinta yang saat ini tidak stabil, tetapi tidak menyurutkan wanita renta itu untuk berkata lantang.


"kataka pada Mama.? Apakah benar wanita itu wanita yang sama.?" tanya Lili dengan nada dan tatapan penuh intimidasi.


Chandra tampak memucat, wajah kegelisahannya yak dapat Ia sembunyikan.


"jawab..!!" teriak Lili dengan keras, membuat Hadi bergetar. Karena Ia tidak pernah mendengar suara Ibunya sekeras itu.


Ia mengeratkan pelukannya kepada Shinta. Ia sendiri belum mengerti tentang apa yang diamarahkan oleh Lili sehingga begitu sangat meledak emosinya.


"Iya.. Iya Ma..? Lalu kenapa Ma..? Apa Mama ingin menghukum garis keturunannya juga..?" tantang Chandra.


Plaaaaaaak...


Satu tamparan mendarat dipipi Chandra.


"berani kamu ua melawan Mama.. Sekarang juga pinta Shinta untuk bercerai dengan suaminya..!!" ucap Lili sembari menatap jijik kepada Hadi.


Shinta dan Hadi mengendurkan pelukannya, lalu saling menatap. Hadi yang masih belum mengerti akar permasalahannya meeasa harus berbicara, karena wanita renta itu sudah lancang dalam urusan rumah tangganya.


"apa Maksud dari ucapan Oma.? Mengapa tiba-tiba meminta Shinta bercerai dengan saya..?" tanya Hadi bingung dan inginkan penjelasan.


"karena Saya tidak sudi cucu saya menikah dengan orang seperti kamu..!!" jawab Lili sengit.


"emangnya salah saya apa.?" tanya Hadi mencoba tenang..


"Karena kamu anak dari wanita ******..!! garis keturunan Mbah Karso..!!" ucap Lili sengit.


Hadi serasa mendidih darahnya, ingin rasanya Ia meninju wanita renta itu, karena Ia telah menghina ibunya. Namun Ia masih mencoba menahan dirinya, mengingat Shinta masih dalam kondisi yang tidak stabil.


"terus.. Apa masalahnya..?!" tanya Hadi dengn tatapan sarkas, menghujam jantung Lili.


"karena kakekmu penganut ilmu hitam, dan saya yakin, kandungan Shinta itu hilang dimakan oleh seyan piharaan ibumu.!!" ucap Lili dengan sinis..


Buuuuugh..


Hadi menghantamkan tinjunya kemeja nakas, hingga membuat meja itu berantakan.


Jika saja lawan bicaranya adalah seorang pria, mungkin sudah habis Ia bantai, namun yang dihadapinya hanyalah seorang wanita tua dan lemah.


Shinta tersentak kaget melihat Hadi yang begitu emosi. Selama ini Ia belum pernah melihat sisi lain dari Hadi, suaminya, kecuali kelembutan semata.


Lili dan Chandra sama kagetnya saat melihat Hadi menghamtam meja nakas.

__ADS_1


"jangan hina ibu saya, jika itu kesalahan orang tuanya, lalu mengapa menyalahkan gatis keturunannya yang tidak mengetahui apa-apa". Ucap Hadi dengan tatapan sarkasnya.


Lili berbalik menatap Hadi dengan tajam. "saya ingin kamu ceraikan cucu saya sekarang juga..!!" ucapnya lantang.


__ADS_2