
"Mama jadi pulang kampung hari ini.." Ucap Hadi dengan mimik wajah yang sedih. Ia tidak rela jika harus ditinggal sendiri di rumah ini.
"Iya sayang.. Kamu sekarang sudah menikah, jadilah seorang pria dewasa, yang menyayangi keluarga kecilmu., muliakanlah istrimu, sebagaimana kau memuliakan ibumu." ucap Mala kepada Hadi.
Hadi memeluk Mala dengan penuh kehangatan. "aku akan mengingatnya. Dan juga akan merindukanmu ibu.." ucap Hadi manja.
Shinta menghampiri Shinta, lalu memeluknya. Sering-seringlah berkunjung kepada kami bu." ucap Shinta tulus.
"iya sayang.. Ibu nitip Hadi ya, kalau nakal tinggal kamu jewer telinganya." Ucap Mala, lalu mengendurkan pelukannya.
Hadi juga memeluk Roni. "jaga kesehatan ya Ayah.. Jangan terlalu banyak fikiran. Ucap Hadi sembari memeluk Roni sang ayah.
Satria menghampiri Hadi, jaga dirimu baik-baik. Kakak percayakan perusahaan kepadamu." ucapnya dengan penuh harapan.
Hadi menganggukkan kepalanya, ada rasa berat dihatinya, memikul semua tanggung jawab itu. Namun Ia tidak dapat menghindarinya.
Satri, mala, dan Roni beranjak menuju mobil. Mereka akan berangkat siang ini.
Setelah saling mengucapkan kata perpisahan, akhirnya mobil Satria meninggalkan rumah tersebut. Kini Hadi harus memikul amanah yang sangat besar dipundaknya.
"mengapa ayank murung gitu sih.?" ucap Shinta, sembari bergelayut manja dilengan kekar suaminya.
Ia memandang Shinta dengan tatapan sendu "hanya belum terbiasa, jika menjalani hidup tanpa ibu.." ucap Hadi jujur.
Shinta terdiam mendengar ucapan Hadi. "aku akan membuat ayank terbiasa hidup denganku.." jawabnya, sembari berjinjit untuk meraih bibir Hadi, Ia mengecupnya lembut. Mencoba menenangkan hati Hadi yang masih begitu manja dengan ibunya.
Ternyata usaha Shinta tidak sia-sia, Hadi membalasnya. Lalu membawa istrinya kepada peraduan yang syahdu.
-------♡♡♡--------
"Nak.. Apakah keputusan yang kamu ambil sudah kamu fikirkan baik-baik dan matang?" tanya Mala penasaran.
Satria melirik kearah kaca dashboar."sudah bu.. Semuanya sudah Satria pertimbangkan." jawab Satria tanpa ragu.
Sebenarnya Mala merasa senang jika anak lelakinya itu begitu perhatian pada dirinya dan Roni suaminya. Namun, apakah Satria akan terbiasa hidup dengan lingkungan pedesaan yang begitu amat jauh berbeda dengan kehidupan kota yang penuh dengan kemegahan.
__ADS_1
Bahkan, selama ini Satria sudah biasa hidup bergelimang harta, sedangkan kehidupannya nanti Ia tidak menjaminnya.
Satria terus menyetir dengan fokus. Ia sudah tak sabar untuk kembali kerumah itu.
"bu.. Aku beli coffee dulu ya, biar gak ngantuk.." ucap Satria, sembari menepikan mobilnya dipinggir jalan. Roni yang telah meminum obat penenangnya, kini sepertinya mulai mengantuk. Sayup-sayup akhirnya matanya terpejam, lalu tertidur dipangkuan Mala.
Meskipun kondisi Roni tidak seperti dahulu lagi, namun Ia tetaplah orang yang pernah menjadi pengobat luka hatinya, saat Ia pernah terpuruk dalam cinta kasih tak sampai.
Mala mengecup lembut ujung kepala suaminya, lalu membelai lembut rambutnya.
Ia terkenang masa silam, bagaimana Roni memberikannya sebuah harapan disaat Ia dalam keputusasaan, karena orang yang dicintainya menghilang tanpa kabar dan pesan apapun. Roni datang memberikan sebuah ketulusan, mengisi rongga kecil yang menghampa.
Ia menatap Wajah lelaki yang telah menemani perjalanan hidupnya hingga saat ini. Mala membelai lembut wajah Roni yang sudah tertidur pulas. Ia memberikan kecupan hangat disana.
"uhuuuuuuk.." Satria terbatuk tanpa sengaja saat melihat adegan dewasa tersebut. Kopi yang diseruput dalam mulutnya dan cup dipegang ditangannya sampai tertumpah sedikit. Ia tidak menyangka jika akan melihat adegan itu.
Seketika Mala menyudahi aksinya. Ia merasa malu karena ketahuan oleh Satria saat mencumbu Ayahnya. seketika wajah Mala memerah.
Lalu Satria berpura-pura tidak melihatnya. Satria menghidupkan mesin mobil dan menyalakan musik rege, lalu melanjutkan perjalanan.
----------♡♡♡♡♡------
"bagaimana baiknya saja bu." Ucap Satria menyetujui.
Tiba waktu maghrib. Mereka singgah disebuah mesjid yang sedikit sunyi dari perumahan penduduk. Mereka sudah terlewat shalat berjamaah, maka mereka melakukan shalat berjamaah berdua saja.i yang tertidur, tidak dapat lagi dibangunkan, maka mereka memutusakan untuk meninggalkan Roni sendiri didalam mobil.
Karena takut keracunan gas Carbon Monoksida, maka Satria mematikan mesin dan Ac mobil, lalu membuka sedikit kaca jendela agar Roni, ayahnya agar tidak kepanasan saat berada didalam mobil.
Sesaat Satria dan Mala sedang shalat berjamaah, Sebuah bayangan hitam masuk kedalam mobil melalui kaca jendela yang terbuka. Bayangan itu merasuki tubuh Roni melalui ubun-ubun Roni yang sedang tertidur lelap.
Seketika Mata Roni terbuka dan membeliakkan matanya. tatapannya kosong.
Satria dan Mala telah selesai shalat, mereka memasuki mobil. Saat ini mereka melihat Roni sudah terbangun dan duduk bersandar dijok mobil, tatapan matanya tak biasa dan begitu tajam.
Mala dan Satria merasakan hawa negatif sedang menguasai ruangan dalam mobil.
__ADS_1
Keduanya mencoba merahasiakan isi hati mereka. Mala takut Satria merasa terganggu, dan Satria merahasiakan persaannya yang tidak enak dengan alasan nanti ibunya takut.
"Bu.. Duduklah didepan" pinta Satria kepada Mala.
"emangnya kenapa Nak..? " tanya Mala, namun pori-porinya mulai meremang.
"nanti kita bicarakan bu, Duduklah didepan saja." titah Satria kepada ibunya, dengan nada memohon.
Mala tak ingin berdebat, Ia pun memilih duduk di jok depan, Ia merasakan jika ada yang tidak beres pada tatapan Roni, suaminya.
Mereka melanjutkan perjalanan, namun Satria juga terus tetap fokus, dan sesekali mengawas Roni, ayahnya melalui kaca dashboar.
Selama ini Roni masih terlihat diam, namun saat memasuki kampung mereka yang hampir berada dekat dengan rumah almarhum Reza, Roni mulai berulah, seketika wajahnya menjadi pucat, lalu sorot matanya memerah, tatapan yang penuh dendam, Ia menyeringai, lalau menarik bahu Satria yang saat itu sedang menyetir.
Mala terkejut dengan perubahan Roni, Ia membelalakkan matanya. Lalu mencoba membantu melepaskan cengkraman Roni pada bahu Satria. "Bang.. Sadar bang.. Istighfar bang." ucap Mala mencoba mengingatkan Roni.
Namun Roni semakin menggeram. Dengan tatapan kejam, Ia mencekik Satria. Satria mencoba menjaga keseimbangan mobil, lalu akhirnya...
Buuuummm...
Suara dentuman yang berasal dari mobil Satria yang menabrak sebatang pohon..
Bersambung...
Maghrib... Author shalat dulu.. Ntar lanjut...
Sedikit hikmah.
~sebagaimana yang diriwayatkan dari Aisyah Radiallahu anhu. Rasululkah bersabda " Barang siapa yang tertidur setelah shalat Ashar (menjelang maghrib), lalu akalnya hilang. Maka janganlah Dia mencela (menyalahkan) kecuali dirinya sendiri.
~jangan tertidur disaat maghrib, karena setan bertebaran diwaktu maghrib.
~tertidur diwaktu maghrib, memudahkan sihir dan santet masuk kedalam tubuh, dan sulit untuk disembuhkan.
~jangan menghidupkan AC mobil dalam keadaan mobil berhenti, karena dapat menyebabkan Keracunan gas Carbon Monoksida (CO) bisa terjadi saat pengendara berdiam di dalam mobil berhenti dan bersamaan AC dan mesin mobil dinyalakan. Gas CO merupakan salah satu hasil pembakaran mesin mobil yang dibuang melalui saluran knalpot. Masalahnya, gas CO tidak terlihat oleh mata dan tidak meninggalkan bau.
__ADS_1
Sementara gejala keracunan gas ini sulit disadari, seperti badan lemas, mengantuk, sakit kepala, mual, muntah, sakit pada dada dan seperti berhalusinasi. Jika kadarnya sudah tinggi bisa menyebabkan kehilangan kesadaran dan kematian yang cepat.
Karena ciri-cirinya tersamarkan, begitu sadar akan sulit mencari pertolongan karena badan terlalu lemas, bahkan untuk sekadar membuka pintu mobil.