Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Roni Berhalusinasi


__ADS_3

Hadi sudah memberikan beberapa obat penenang. Sebutir trihexypenidyl dan sebutir halloperidol untuk membuat ayahnya tertidur.


Roni sering mengingau jika Ia melihat Reza datang membawa balas dendam.


Sebagai anak, Hadi harus ekstra sabar menghadapinya. Mengurusinya jika Roni buang air. Mala sang inu tentu tidak akan dapat sendirian mengurus sang ayah.


Wanita cantik itu merasa kerepotan jika harus mengurus Roni sendirian. Kini Roni telah berhenti bekerja. Maka Hadi harus membantu menopang perekonomian keluarganya.


"bu.. Mobil Hadi kita jual saja ya..? Sebentar lagi Hadi wisuda, sisanya nanti kita pakai untuk modal usaha agar ibu dapat berdagang kecil-kecilan dirumah. Mungkin menjual pulsa, voucher, token listrik adalah pekerjaan yang tidak merepotkan ibu, sekaligus dapat menjaga ayah dirumah." Hadi menuturkan keiinginannya.


"tetapi bagaimana untuk perjalanan kamu kuliah nanti..?" tanya Mala dengan raut wajah yang sedih.


"Hadi hanya tinggal satu semester lagi untuk mencapai gelar dokter. Dan Hadi melakukan ijin pembelajaran online untuk sementara waktu, sembari merawat ayah." Hadi menjelaskan kepada Mala.


Mala menatap kepada Hadi penuh penyesalan. Ia tidak pernah menduga jika akan mengalami kesulitan hidup seperti ini.


Semua ini dimulai karena Reza sialan itu. Pria yang sudah terobsesi karena kecantikannya. Sehingga membawa pada penderitaan hidupnya.


"semua terserah kepada keputusan kamu, sekarang ibu hanya berharap pada kamu." ucap Mala dengan tatapan sedih.


Hadi meraih ibunya kedalam pelukannya. Mencoba memberi ketenangan pada hati dan fikiran ibunya yang kini sedang kacau.


"nanti kalau Hadi sudah mendapatkan gaji yang banyak, Hadi akan membelikan ibu mobil yang baru dan membawa ayah berobat kerumah sakit ternama. Agar ayah sembuh optimal." tutur Hadi kepada Mala.


Mala menatap nanar. "ibu tidak menuntut banyak hal, kesembuhan ayahmu menjadi prioritas yang utama." jawab Mala.


"ibu jangan banyak fikiran ya, biarkan Hadi yang akan menyelesaikan ini semua." ucap Hadi meyakinkan ibunya.


kebahagiaan terbesar orang tua ialah ketika mendapatkan anak yang sholeh dan menyayanginya.


"Hadi pergi ke puskesmas dulu ya bu, ingin bantu-bantu bidan Sri. Lagian ini sudah masuk jam magang" ucap Hadi dengan lembut kepada Mala, ibunya.


Mala menganggukkan kepalanya.


Hadi sudah mekakukan magang dipuskesmas tersebut, bersama beberapa orang temannya.


Setelah kepulangannya tempo hari, Ia mengajukan permohonan agar dapat magang di desanya sendiri. Karena menganggap Hadi adalah mahasiswa yang pintar, dan dapat diandalkan, maka pihak kampus menyetujuinya.


Selama ini mereka belum pernah mengirimkan mahasiswanya magang ke desa itu, dan karena Hadi yang meminta, maka Ia mendapatkan rekomendasi.


Hadi juga memiliki pekerjaan lainnya, yaitu menjadi programer secara diam-diam tanpa sepengetahuan yang lainnya. Ia bekerja diperusahaan ternama, dan pekerjaan itu Ia lakukan secara senyap.


Ia mendapatkannya seminggu yang lalu, setelah berselancar didunia maya. Dan karena kepiawaiannya, Hadi diterima oleh perusahaan itu, dan sudah mulai bekerja secara online.


Saat ini, Hadi hanya masih mengandalkan bantuan perobatan dari Pihak puskesmas yang memberikan obat secara gratis untuk perawatan Roni, dimana menggunakan layanan program pemerintah.

__ADS_1


Namun Hadi akan berencana membawa ayahnya berobat ke rumah sakit ternama jika nanti Ia telah mengumpulkan pundi-pundi uangnya hasil dari bekerja diperusahaan itu.


Sesampainya dipuskesmas, beberapa teman-temannya sudah berada disana terlebih dahulu, dan Ia terlambat sedikit waktu saja.


"Hai Hadi? Mengapa kamu terlambat?" tanya bidan Sri dengan ramah.


Kecantikannya kian memudar digerus usia. Kini Ia juga tak segesit dan tak selincah dahulu.


"Maaf bu Bidan, saya memandikan ayah terlebih dahulu makanya kesiangan." jawab Hadi merasa bersalah.


"oh..ya sudah, saya dapat memakluminya." ucap bidan Sri.


Kini bidan Sri menjabat sebagai kepala puskesmas tersebut. Maka semua kendali ada ditangannya.


------****----


Roni terbangun dari tidurnya, reaksi obat tersebut perlahan sudah hilang. Ia mengerjapkan kedua matanya. Rasa kantuk itu masih melekat di matanya, namun Ia mencoba memaksanya untuk tetap terbuka.


Seketika Ia melihat bayangan Reza menghampirinya, Pria itu membawa sebilah pisau dan ingin melukainya.


Roni menjadi pucat pasi. Ia sangat ketakutan. Seketika Ia berteriak sangat kencang. Ia berlari kesana kemari didalam ruangan kamar.


Mala yang masih mencuci piring di dapur menghentikan pekerjaannya. Ia berlari dan menuju kamar untuk melihat kondisi Roni suaminya.


Mala membuka kunci pintu kamar, Ia melihat Roni sedang sangat kacau. Saat melihat kemunculan Mala, Ia semakin berteriak. Dalam pandangannya, Mala adalah Reza yang datang ingin membalas dendam atas kematiannya.


Roni semakin tak terkendali. Ia mengambil lampu tidur dan melemparkannya kepada Mala.


Mala yang tak pernah menyangka jika Roni akan menjadi sangat liar, membuatnya sangat ketakutan.


Mala melihat sesuatu yang tidak beres dari Roni. Tatapan mata itu terlihat sangat tajam dan tak biasa.


Mala kembali menutup pintu kamar, lalu Ia mencoba menghubungi Hadi.


"Hallo, Hadi. Coba kamu pulang sebentar sayang, ayahmu sepertinya sedang kerasukan. Pulang segera.. Ibu takut." pinta Mala dengan wajah pucat dan ketakutan.


Roni yang sudah hilang akal, membuka pintu kamar yang ternyata kupa dikunci oleh Mala, karena terburu-buru hendak menghubungi Hadi.


Kreeeeeek..


Pintu terbuka, tampak Roni tersenyum menyeringai dengan tatapan yang mengerikan.


"haaaah..!" Mala terperanjat, lalu Handphonenya terlempar. Hadi uang mendengar dari seberang telefon merasakan sesuatu hal buruk sedang terjadi pada ibunya.


Ia segera memberitahu kepada Nidan Sri untuk segera pulang karena ayahnya sedang kambuh lagi.

__ADS_1


"kalau begitu saya dan beberap anak magang lainnya akan ikut kerumah kamu. Ijinkan ini menjadi salah satu kegiatan magang yang dapat menjadi observasi sebagai rujukan. Kita akan membawa beberapa kbat penenang." ucap Bidan Sri dengan sangat hati-hati dan memohon.


Hadi mencoba nemahaminya, dan mengijinkan keiinginan bidan Sri.


"baiklah bu, tetapi saya Pulang duluan, ibu saya dalam bahaya.." ucap Hadi sembari beranjak pergi dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Ia tidak dapat membayangkan jika sampai Rini ayahnya melukai ibunya dibawah kendali alam sadarnya.


-----***------


Roni meraih kipas angin yang berada tak jauh darinya. Lalu Ia melemparkannya pada Mala yang masih diam terpaku.


buuuuuuuaaam...


Suara dentuman dari hempasan kipas angin yang menyentuh lantai.


Mala berhasil menghindarinya. Roni berjalan menghampirinya. Mala merasa ngeri. Ia tidak pernah merasakan tatapan yang sangat menakutkan dari Roni suaminya.


Selama ini Roni selalu bersikap manis dan dengan penuh kelembutan.


Melihatnya seperti itu, membuat sedikit hati Mala nelangsa. Ia menginginkan suaminya yang dulu, Penuh kelembutan, dan tatapan penuh cinta.


Mala terisak dalam kepiluan. "Ya Rabb... Jangan uji aku dalam ketidak sanggupanku.." rintihnya dalam doa dan kepiluan.


Roni semakin mendekatinya, Mala mencoba berjalan mundur dan mencari celah untuk kabur.


Roni mengejar Mala dengan tanpa terkontrol. dalam pandangan Roni, Mala adalah Reza, pria yang telah menodai kesucian Mala istrinya.


Roni seolah ingin melenyapkan Reza. Ia begitu sangat sakit hati kepada Reza. Ia ingin menuntut balas, Meski sebenarnya yang Ia kejar adalah Mala.


Mala masih dalam kepiluan. saat Roni mendekatinya dan ingin menyerangnya, Ia berteriak sangat kencang. Dan bersamaan dengan itu, Hadi telah berada diambang pintu. Dengan tubuh kekarnya Hafi mencoba melumpuhkan Roni, ayahnya. Lalu membawanya menjauh dari Mala sang ibu.


"Maafin Hadi jika berbuat seperti pada ayah, fidak bermaksud durhaka." Hadi berguman dalam hatinya, dengan penuh kepedihan.


Rombongan Bidan Sri datang, lalu mereka menyuntikkan obat penenang kepada Roni. Sebuah bayangan hitam melesat keluar dari tubuh Roni, bersamaan dengn Hadi yang terus membaca ayat ayat suci al-Qur'an.


Roni yang mulai reda, lalu terlihat lemah karena pengaruh reaksi obat tersebut.


Setelah mengurus Roni, Hadi menghampiri ibunya yang terlihat sangat pucat.


"semua akan baik-baik saja bu, percayalah.." ucap Hadi kepada Mala.


Seorang gadis cantik yang menjadi teman magang Hadi menatap penuh haru. Ia begitu mengagumi kepribadian Hadi yang sangat hangat terhadap kedua orangtuanya. Gadis itu adalah Shinta, yang ikut dalam rombongan magang di desa Hadi.


Shinta secara diam-diam telah menaruh hati kepada Hadi, saat pembebasan Ia dan yang lainnya saatbdalam penyekapan malam itu.

__ADS_1


Namun Ia harus menyimpan rasa itu, karena Ia adalah gadis yang sudah terampas kesuciannya secara paksa oleh Rey si manusia iblis.


__ADS_2