Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Darah yang mengalir ditubuh Satria


__ADS_3

Sudah pukul sembilan pagi, aku kesiangan shalat subuh.." Satria yang baru saja terbangun dari tidur lelapnya, bergegas kekamar mandi dan bersuci, lalu berwudhu untuk melakukan shalat subuh.


Setelah melakukan shalat subuhnya yang kesiangan, Ia segera mandi dan membersihkan diri.


Ia berniat akan menjenguk Hadi. Ia merasa khawatir dan cemas akan kondisi Hadi. Apakah operasinya berhasil atau sebaliknya.


Satria sangat terburu-buru sekali mempersiapkan dirinya.


Ia menuruni anak tangga. Ia tak melihat keberadaan Jayanti, mamanya. "Mungkin Mama masih tidur karena lelah.." Ia berguman lirih.


Dengan cepat Ia menuju garasi, memanaskan mesin mobil, tanpa sarapan terlebih dahulu, Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, berharap segera sampai ke rumah sakit. Ia merasa tak sabar untuk bertemu Hadi.


*****


Hadi sudah melakukan operasi, dan berakhir sukses. Kini Ia sudah melewati masa kritisnya. Hadi juga sudah sadar, dan dapat berkomunikasi dengan lancar dan baik.


"Ibu….. kapan Ibu datang..?" Ucap Hadi sembari tersenyum melihat Mala berada di sisinya.


Mala tersenyum memandang Hadi. "Dari semalam sayang.., syukurlah, akhirnya kamu sudah melewati masa kritis." Ucap Mala, sembari menitiskan bulir kristal dipipinya.


Ia sangat merasa ketakutan saat mendengar Hadi mengalami kecelakaan, itulah kabar yang Ia terima. 


Hatinya saat itu merasa hancur, Ia tidak dapat membayangkan, jika harus kehilangan Hadi lagi. Anak semata wayangnya.


Rasa trauma 21 tahun yang lalu, masih melekat diingatannya, Ia harus menerima takdir pahit, dimana anak yang siap untuk dilahirkannya hilang begitu saja, tanpa ada tanda-tanda sebelumnya.


Namun hatinya merasakan, jika anak itu masih hidup, dan kini terasa dekat dengannya. Ia dapat merasakan getaran itu.


Setelah Ia kehilangan janin dalam kandungannya, Roni memandikannya dengan air daun bidara pemberian Hamdan. setelah masa nifasnya selesai, Allah menitipkan kembali benih Roni didalam rahimnya. 


Kehadiran Hadi dalam hidupnya, membuat rasa sakit itu berkurang, namun Ia tetap berdoa dan berharap jika anaknya itu masih hidup.


"Bang…bang Roni.. bangun bang.." ucap Mala, sembari mengguncang tubuh Roni, suaminya dengan lembut. Mereka bergantian untuk menjaga Hadi. 


"Heeeeemmmmm.." Roni mengguman, Ia mengerjapkan matanya, lalu menggesekkan jemari telunjuknya ke kedua matanya.


"Ada apa dik..?" Ucap Roni parau,  sembari bangkit dari tidurnya. 


"Abang jagain Hadi bentar ya, Mala mau pulang ke kostan, buat nyuci baju ganti, dan membeli makanan untuk makan siang  kita." Ucap Mala lembut.


Roni mengangguk. "Jangan lama-lama ya dik..?" Ucap Roni lirih, kesadarannya belum hadir sepenuhnya.


Mala tersenyum " iya..hanya sebentar bang.." ucap Mala beranjak bangkit dari duduknya.


Saat Mala melangkah, Ia.merasakan sebuah firasat yang tidak baik, tapi entah apa, Ia tidak mengetahuinya.


"Bu..kak Satria mana..?" Ucap Hadi memanggil Mala.


Mala memutar tubuhnya kebelakang. "Satria.. ? siapa dia..?" Ucap Mala bingung.


[Seeeeerrr..] desiran lembut menyentuh hatinya, saat menyebutkan nama itu.


Hadi menepuk jidatnya. "Oh iya.. Hadi lupa bilang sama ibu, kalau disini Hadi bertemu dengan kakak senior dikampus."


"Orangnya baik banget bu.."


"Dia suka membantu Hadi.." ucapnya penuh semangat.


"Oh..ya.." ucap Mala lembut.


Hadi tersenyum sumringah. "Nanti kalau ketemu Hadi kenalin sama Ibu ya.."ucapnya, sembari mengedipkan matanya.

__ADS_1


Mala memgangguk lembut. "Ibu pergi sebentar ya.." ucap Mala, sembari melangkah meninggalkan Hadi dan Roni.


****


Mala menyusuri koridor rumah sakit. Ia sampai dipintu gerbang masuk rumah sakit. Ia sedang ingin menyeberangi jalanana raya.


Karena berada ditengah kota, tentu membuatnya kebingungan untuk menyeberangi jalan.


Mala memilih berjalan menyusuri tepian jalanan, karena jarak kost dengan rumah sakit tidak terlalu jauh.


Satria mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, Ia sudah tak sabar ingin mengetahui kabar Hadi,  lalu seorang pengendara motor dari arah depan menyalip mobik truk didepannya, dan dari arah berlawanan, mobil yang dikendarai Satria melaju dengan kecepatan tinggi, Satria yang terkejut dengan pengendara motor, membanting setir ke kiri, lalu..


[Braaaaak..duuuummm..] suara dentuman sangat keras dari mobil yang terguling dan berhenti tepat dihadapan Mala.


Mala yang mendapati kecelakaan tepat dihadapannya, terlihat pucat ketakutan. Ia gemetar menahan rasa kaget dan juga takut.


Semua warga berkerumun, mereka membantu mengeluarkan pengemudinya.


Setelah mereka berhasil mengeluarkannya, mereka meletakkan tubuh satria diatas tanah dipinggir jalan raya.


Mala yang penasaran dengan korban kecelakaan itu mencoba mendekati, menyibak warga yang berkerumun. Tanpa sadar Ia memiliki rasa iba yang begitu dalam pada pemuda itu. Ia memangku kepala pemuda yang tak sadarkan diri.


Entah perasaan dari mana datangnya, Ia begitu cemas dan khawatir akan kondisi si pemuda yang mengalami kecelakaan itu.


Warga berkasak kusuk, karena jika dilihat dari kondisi mobil yang sangat parah, dipastikan pengemudinya akan mati seketika. Namun lain dengan Satria, Ia hanya mengalami luka yang tidak begitu serius, hanya karena benturan stir mobil dikepalanya, membuat Ia tak sadarkan diri.


Karena jarak kecelakaan yang tidak begitu jauh dari rumah sakit, maka ambulance dengan cepat tiba dilokasi. Lalu membawa tubuh Satria yang terluka.


Keinginan untuk membeli makanan tak lagi dihiraukan Mala, Ia berfikir akan membelinya saja nanti.


Ia ikut masuk kedalam  mobil, saat ditanya petugas, Ia mengatakan jika Ia keluarganya. Lalu petugas ambulance mengijinkannya masuk.


Didalam mobil ambulance, Mala terus memandangi wajah Satria. Ia merasa sangat khawatir akan kondisi pemuda yang sama sekali tak dikenalnya.


"Ya Rabb.. selamatkanlah nyawa pemuda ini.." Mala berdoa dengan tulus dalam hatinya.


***


Mobil ambulance telah sampai, perwat berlari membawa ranjang troli pasien. Mereka meletakkan tubuh Satria diatasnya, lalu mereka membawa tubuh Satria ke ruangan UGD.


Mala terus mengikutinya dari belakang, sampai diruangan UGD, Mala hanya dapat menunggu didepan pintu.


Seorang perawat yang melihat Mala bersama Satria sejak dari Ambulance, menduga Mala adalah keluarganya, lalu meminta Mala keruangan Administrasi.


Setelah menyelesaikan data administrasi, Mala merasa ingin buang air kecil. Ia pergi sejenak kekamar mandi. Setelah itu Ia lalu  kembali lagi kedepan ruangan  UGD, Ia ingin mengintai sosok Satria dari dinding kaca.


Seorang perawat mendatanginya dengan seorang wanita yang seusianya. 


Wanita itu berpenampilan sangat elegan. Tampak Ia seorang yang sangat kaya.


Perawat itu terlihat  terengah-engah.. "saya cariin ibu dari tadi.." ucapnya sembari mengatur nafasnya.


"Memangnya ada apa bu..?" Ucap Mala lembut bercampur bingung.


Perawat itu mengatur nafasnya agar normal " ini ibunya pasien yang korban kecelakaan yang ibu bawa tadi." Ucap perawat memperkenalkan wanita disampingnya.


"Saya Jayanti" ucapnya datar dan senyum tanpa ekspresi.


"Mala.." jawabnya dengan sopan.


"Dan urusannya dengan saya apa ya bu..? Sampai mencari saya..?" Ucap Mala sedikit penasaran.

__ADS_1


"Begini bu, kemarin saya yang melakukan Pemeriksaan golongan darah ibu."


" Dan anak ibu ini yang mengalami kecelakaan barusan,  memiliki darah yang sama dengan ibu." Perawat itu menjeda ucapannya.


"Kami membutuhkan donor darah untuk anak ibu ini, apakah ibu bersedia?" Ucap Perawat itu menghiba.


Mala tampak berfikir, entah perasaan apa yang membuatnya begitu mendorongnya untuk memberikan sekantong darahnya. 


"Baiklah..ambil darah saya.."ucap Mala tanpa pertimbangan apappun.


"Kalau begitu, ibu beristirahatlah sebentar, makan dan minum yang bergizi. Lima belas menit lagi, kami akan memanggil ibu." Ucap perawat itu menjelaskan.


"Lukanya tidak terlalu serius, namun Ia membutuhkan tambahan darah untuk menstabilkan kesadarannya" ucap perawat itu lagi.


"Saya akan membayar darah ibu..berapapun yang ibu inginkan. " ucap Jayanti dengan datar, sembari mengeluarkan secarik kertas cek.


"Tidak perlu.. saya ikhlas menolongnya.." ucap Mala, sembari menolak kertas cek tersebut. Ia melirik dari dinding kaca. Melihat pemuda yang sedang terbaring dengan penuh persaan yang tak dapat diartikannya.


"Kalau begitu beristirahatlah bu.." ucap perawat itu menyarankan.


Mala mengangguk menyetujuinya.


****


Didalam ketidak sadarannya, Satria seperti sedang bermimpi. Ia bermimpi bertemu dengan wanita cantik bermata indah.


Tangannya perpasang jarum yang menghubungkan pada nadinya, untuk menerima transfusi darah.


Ia merasa sesuatu mengalir didalam pembuluh darahnya. Bersamaan dengan itu, Ia merasakan  seperti belaian penuh kasih. Darah yang masuk kedalam tubuhnya, memberikan energi yang Sangat luar biasa pada tubuhnya.


Ia merasakan kehangatan cinta yang tak pernah Ia rasakan sebelumnya. Bersamaan dengan itu, Ia melihat wanita cantik berjalan mendekati.. namun seseorang  menanggilnya, dan wanita itu meninggalkannya. 


"Tunggu…jangan tinggalkan aku, siapa kamu..?" Teriak Satria dengan keras. Dan teriakan itu membuat perawat datang.


Mala yang sedari tadi memperhatikan pemuda itu dari bakik kaca, meberanikan dirinya masuk kedalam ruangan tempat Satria dirawat. 


Ia tak melihat Jayanti disana. "Mungkin Mamanya sedang mengurus administrasinya." Mala berguman lirih. 


Ia berjalan mendekati ranjang Satria, pemuda itu sedang mengigau. 


Mala meraih tangani pemuda itu, lalu menggenggam jemarinya. Ia mengamati wajah teduh  pemuda itu. "Sepertinya Ia sedang mengigau.." ucap Mala sembari membelai lembut rambut Satria.


Satria merasakan sesuatu yang hangat menyentuh hatinya. 


Mala melepaskan genggamannya, namun Ia mendengar Satria mengingau kembali " jangan pergi..ku mohon jangan pergi" air mata mengalir dari sudut mata Satria. 


Mala kembali mendekatinya, menyeka air mata itu dengan lembut. Entah mengapa hatinya merasakan getaran cinta penuh kasih kepada pemuda itu. 


"Siapa kamu sebenarnya..? Mengapa aku seperti mengenalmu.." ucap Mala lirih. 


Tanpa sadar, Ia mengecup kening Satria.


"Sadarlah nak..jangan kecewakan orangtuamu." Ucapnya lembut sembari berbisik ditelinga Satria.


[Kriiiing..] suara panggilan masuk.


Roni menelfonnya.


"Oh iya..aku lupa membeli makan siang" ucap Mala. Lalu beranjak pergi.


Satria mengerjapkan matanya.  saat itu, Ia melihat dengan samar-samar seorang wanita berhijab lebar sedang keluar dari ruangan.

__ADS_1


Satria kembali memejamkan matanya.


__ADS_2