
Hari masih subuh, udara juga masih terasa sangat dingin. Satria membenahi letak ranselnya, Ia memandang sungai kecil yang mengalir didepannya. Ia ingin meminumnya.
Pemuda itu menuruni anak sungai, Ia meminum air tersebut menggunakan kedua tangannya yang dirapatkan.
Satria kemudian bersuci, lalu mencari sebongkah batu besar dan menjadikannya sebagai tempat untuk menunaikan ibadah shalat subuhnya.
Mirna memandangi sang pemuda. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Goa tempat tinggalnya juga sudah hancur berantakan tanpa sisa. Bahkan, jika Ia kembali, bisa saja nyawanya dalam bahaya. Karena keberadaan Nini Maru masih misteri.
Jauh dilubuk sang gadis, Ia begitu amat menginginkan pemuda itu. Ia telah jatuh hati saat pertama kali bertemu
Satria kembali naik ketepian sungai, setelah Ia menyelesaikan ibadahnya.
"Mungkin pertemuan kita hanya sampai disini saja, saya harus kembali melanjutkan perjalanan pulang kerumah, dan kamu bebas memilih jalanmu.." ucap Satria dengan tenang.
"Dan terimakasih atas segala bantuanmu.." ucap Satria sekali lagi.
Namun tak ada jawaban dari Mirna, gadis itu hanya memandang sendu. Ia tak tahu harus kemana melangkah, tiada arah dan tujuan yang akan ditempuhnya.
Satria menjabat tangan gadis itu, mengucapkan salam perpisahan. lalu beranjak pergi meninggalkan sang gadis yang masih terpaku menatap kepergiannya.
Satria terus melangkah, meninggalkan gadis nan ayu rupawan yang kini tinggal sebatang kara.
Saat Satria berjalan sekitar seratus meter dari sang gadis. Tiba-tiba saja gadis itu menyenandungkan sebuah lagu dengan begitu amat menyayat hati. Sehingga Satria menghentikan langkahnya, lalu mencoba mendengar setiap bait yang disenandungkan oelh gadis itu.
"Kutunggu dirimu"
"Dipenantian panjangku"
"Hadirlah membawa cinta"
"Hingga akhinya Kita bersatu"
"Mengikat janji yang tertunda"
"Tidakkah Kau menyadari.. Jika Kau yang selama ini Ku nantikan..
Satria memutar tubuhnya ke arah gadis tersebut. Namun alangkah terkejutnya Ia, saat menyadari sang gadis tak lagi berada ditempatnya.
Satria mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan sang gadis, namun tak terlihat.
Lalu Satria kembali melanjutkan langkahnya untuk kembali pulang.
Pemuda itu menysuri kembali jalanan hutan. Masih tampak dengan jelas jejak dari sisa perjalanannya saat akan menaiki puncak bukit
__ADS_1
Mentari bersinar diufuk timur. Entah mengapa perasaan Satria merasa tak nyaman. Ia sesekali memandang kearah semak belukar, seolah ada sesuatu yang dicarinya.
"Mengapa aku jadi memikirkannya.." Satria berguman seorang diri. Ia begitu amat merasa kehilangan. Sedangkan pertenuan mereka hanya beberapa saat, namun Ia merasakan gadis itu membuatnya begitu nyaman.
Satria terus berjalan menysuri hutan, hingga akhirnya Ia merasa lapar. Ia harus berburu untuk mengganjal perutnya yang lapar.
Satria melihat bekas tenda tempat Ia pertama kali mendirikannya dan diacak-acak oleh kawanan kera.
"Heeem..sebaiknya aku beristirahat sejenak disini.." ucap Satria, lalu melihat tendanya yang sedikit rusak.
Tanpa diduga, kawanan kera itu datang membawa beberpa butir pisang,dan melempari Satria dari atas. Kawanan itu tertawa melihat Satria terkejut karena terkena lemparan buah pisang yang mereka jatuhkan.
Satria menggelengkan kepalanya, lalu memunguti pisang-pisang tersebut dan nengunyahnya satu persatu.
Satria duduk sembari menyandarkan tubuhnya disebatang pohon yang rindang, sembari menguyah pisang tersebut.
Sesaat bayangan wajah Mirna menari dipelupuk matanya. Ia tidak tahu dengan perasaannya, mengapa bayangan gadis itu terus mengukutinya. Ia mendenguskan nafsnya, dan membuang kulit pisang itu semabrangan.
Semakin lama Ia merasakan jika gadis itu telah menganggu konsentrasinya. Ia merasakan gejolak didadanya kian tumbuh.
Seaaat Satria mendengar suara gemerisik dari semak belukar disisi kirinya.
Satria Mengambil pisau sangkurnya, Ia mengingat dengan jelas saat seekor macan tutul hendak menerkamnya ditempat yang sama, bahkan sampai ikut memanjat pohon tempat Ia bersandar saat ini.
Seketika Ia melihat kelebatan sebuah bayangan. Dengan cepat Satria menerobos semak itu dengan pisau sangkur yang siap menyerang sipengintai.
Aaaaaaaargh..
Teriak seorang gadis saat Satria hendak menikamkan pisau tersebut. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Seketika Satria menurunkan pisaunya, lalu menyarungkannya kembali kepinggangnya.
"Kau..?!" ucap Satria saat terkejut melihat siapa yang dihadapannya.
"Mengapa Kau mengikuti.?" Tanya Satria, meskipun Ia menyadari jika Ia sangat begitu senang dapat melihat kembali gadis itu.
Mirna hanya menatap sendu pada pemuda itu, tanpa jawaban apapun.
Satria menghela nafasnya, lalu melangkah kembali ketempat Ia tadi duduk beristirahat dan sang gadis mengekorinya dari arah belakang.
Satria duduk diatas rerumputan, lalu mengambil kembali buah pisang yang Ia kumpulkan pemberian dari sekawanan kera tersebut.
Gadis itu ikut duduk disisi kirinya, tanpa berkata apapun. Lalu Satria memberikan sebuah pisang kepada gadis itu. "Makanlah.. Jangan sampai kau mati kelaparan.." ucap Satria datar.
__ADS_1
Lalu Mirna mengambilnya, dan mengupas pisang matang itu dan menguyahnya.
Satria memandang lurus kedepan, menatapi jalanan yang akan ditempuhnya. "Kau ingin kemana..?" tanya Satria dengan tenang.
Gadis itu menghabiskan kunyahannya. Lalu menoleh kepada Satria.. "Bolehkah aku mengikutimu.?" tanya Mirna lirih.
Deeeeegh..
Jantung Satria seakan berhenti berdetak. Bagaimana mungkin Ia membawa Mirna, sedangkan Ia memiliki janji terhadap gadis manis yang kini sedang menunggunya.
"Untuk apa..?" tanya Satria tanpa menoleh kepada sang gadis.
"Apa saja.. Bahkan menjadi abdimu Aku juga rela.." jawab Gadis itu dengan polosnya.
"Berapa Usiamu.." tanya Satria dengan penasaran.
"Lebih tua darimu, karena Aku lebih dulu lahir dibandingkan denganmu.." jawab Mirna dengan jujur.
Satria kembali menghela nafasnya dengan berat. Bagaimana mungkin Ia membawa seorang gadis kerumahnya, apa yang akan dijelaskanbya nanti pada Syafiyah.
Namun jujur Ia akui, jika Ia juga tak bisa membohongi hatinya, jika Ia menyimpan rasa untuk gadis itu. Pertemuan singkatnya dengan sang gadis sudah membuatnya jatuh hati.
Bahkan Satria menyadari jika gadis itu adalah anak perkawinan silang antara Nini Maru dengan manusia.
Setelah merasa cukup untuk beristirahat, Satria kembali melanjutkan perjalanannya, dan Mirna masih tetap mengekorinya dari arah belakang.
"Ya Rabb.. Apa yang harus aku lakukan.? Mengapa Kau titipkan rasa yang begitu indah dihatiku untuknya.." Satria berguman lirih dalam hatinya.
Mirna masih terus saja mengikuti Satria, tak ada ragu sedikitpun dihatinya untuk mengambil keputusan menjadi pengkhianat bagi Nini Maru, dan membelot kepada Satria, pemuda yang baru saja dikenalnya.
Sesaat Mirna mempercepat langkahnya, ingin menyamai Langkah sang Pemuda.
Setelah berada disisi Satria, Ia berkata dengan lirih.. "Maukah kau menjadikanku pendamping hidupmu.. Aku berjanji akan menjadi abdimu yang setia.." ucapnya tanpa ragu.
Satria menghentikan langkahnya, memandang kepada gadis yang berada disisinya.
"Mengapa Kau begitu yakin akan hal itu.." tanya Satria dengan tatapan penuh selidik.
"Karena hatiku mengatakan jika kamu adalah yang terpilih.." jawab Mirna dengan jujur.
"Seandainya ada cinta lain dihatiku..?" tanya Satria, lalu memandang lurus kedepan.
Mirna menggenggam erat lengan Satria. "Aku bersedia, meski menjadi yang kedua, bahkan ketiga." jawabnya dengan yakin.
__ADS_1
Satria menatap mata sang gadis. Namun tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Pemuda itu kembali melanjutkan perjalanannya dengan perasaan yang tak mampu Ia ungkapkan.