Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Jawaban Hati


__ADS_3

Shinta dan Hadi akhirnya tiba dikediaman Satria. Mala sudah memasak banyak malam ini. Karena Ia tau Hadi akan tiba dan bersama Shinta juga.


Seringnya bertemu dengan Shinta saat di kampung, membuat hubungan mereka terasa akrab. Mala menyambut keduanya sangat antusias.


Wajah lelah mereka begitu sangat kentara sekali. Satria dan Roni juga sudah berada meja makan menunggu mereka.


"oo.. Sayang ibu sudah datang.. Apa kamu lelah sayang?" tanya Mala kepada anak lelakinya.


" Iya bu.. Hadi kangen sama ibu." Ucap Hadi sembari mengecup kening Mala.


Ada perasaan iri didalam hati Shinta, karena Ia sudah tidak lagi pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Karena ibunya sudah meninggal dunia sejak Ia masih duduk dibangku kelas 1 SMP.


Mala yang melihat Shinta memperhatikannya, lalu menghampirinya. "mari masuk puteriku sayang..?" ucap Mala.


Tidak memiliki anak perempuan, membuat Mala menganggap Shinta sebagai puterinya. Shinta merasa tersanjung, dan Ia yang begitu haus akan kasih sayang seorang ibu, merasakan mendapat oase ditengah gurun pasir nan tandus. Dengan gerakan cepat Ia mengambil kesempatan untuk memeluk Mala, Ia ingin juga merasakan bagaimana hangatnya pelukan cinta seorang ibu. Mala menyambutnya, sembari membelai lembut rambut gadis itu.


Hadi yang mendengar Mala menyebut Shinta sebagai Puterinya dengan embel-embel kata sayang, seketika Ia melongo. "Bu.. Sejak kapan ibu mengangkatnya menjadi puteri ibu..?" Cecar Hadi kepada Mala.


Seketika Mala membulatkan matanya, untuk meminta Hadi tidak banyak bicara.


"sejak saat Ia menginjakkan kakinya kerumah kita." ucap Mala dengan tatapan mengunci.


Hadi menatap Shinta dengan bibir manyun, lalu Shinta membalasnya dengan ejekan mencibir dan menjulurkan lidahnya.


Hadi membesarkan matanya. Seperti Ia tak rela jika kasih sayang Mala dibagi untuk beberapa orang..


Satria yang melihat perdebatan kedua orang itu hanya menggelengkan kepalanya. Keduanya tak lebih seperti dua bocah balita yang memperebutkan ibunya.


"bu.. Kita mulai makan malamnya saja ya. Kelamaan ngobrolnya." seru Roni yang sudah merasa lapar.


Shinta melepaskan pelukannya dari tubuh Mala, lalu mengikutinya ke meja makan. Sesampainya dimeja makan, perdebatan antara Hadi dan Shinta sepertinya tidak juga selesai, semenjak dari kejadian kasus lingire dan nenas tersebut. Shinta masih kesal karena jika mengingat ia meminum sari nenas yang diperas Hadi dengan menggunakan lingirenya yang belum dicuci tersebut.


Mendapat kursi terakhir, membuat mereka harus duduk berdampingan kembali.


Shinta mendapt tempat duduk disisi Mala, sedangkan Hadi duduk diantara Satria dan dirinya. setelah Mala melayani Roni sang suami, Kini Ia mengambilkan lauk untuk Shinta.


Hadi kembali menyindir Shinta. "yang baru diangkat sudah berhasil mencuri perhatian ibuku.." ucap Hadi sembari mencomot sepotong ayam kalasan yang khusus dimasak Mala untuk menyambut keduanya.


Shinta membalas tatapan Hadi dengan kesal dan memanyunkan bibirnya.


"Haa...di.." Sergah Mala sembari menatap Hadi dengan tatapan mengunci.


Satria hanya memperhatikan keduanya dengan bingung. "sepertinya kalian memiliki dendam pribadi yang belum terselesaikan." sindir Satria kepada Keduanya.


Mendengar sindiran Satria, seketika Roni dan Mala saling tatap. Mereka seperti baru menyadari, jika salah satu anak lelaki mereka sedang ada yang lagi jatuh cinta, namun masih malu-malu. Roni dan Mala saling membalas senyum geli.


Setelah acara makan malam selesai, Mala membersihkan sisa piring kotor dan sisa makanan. Shinta mencoba membantu membersihkannya.


Hadi, Satria dan Roni beranjak keruang utama. Mereka akan melanjutkan obrolan disana.


"bagaimana dengan acaramu bertemu staf CEO besok Di.? " tanya Satria kepada Hadi membuka obrolan mereka.


"mudah-mudahan berjalan lancar kak.. Doain ya kak, semoga terjadi kesepakatan. kerja yang akan aku ajukan." jawab Hadi bersemangat.


Satria mengernyitkan keningnya. "kesepakatan yang kau buat? Memangnya kamu akan mengajukan kesepakatan apa?" tanya Satria menyelidik.


"aku ingin meminta perusahaan menyetujui aku menjadi karyawan bayangan saja." jawab Hadi, lirih.


"maksudnya..?" cecar Satria


Hadi menarik nafasnya dengan dalam, lalu mengehelanya. "bekerja diperusahaan sebesar itu adalah kesempatan langka, sedangkan menjadi dokter kandungan adalah impianku." hadi menggantung ucapannya.


Mala dan Shinta ikut nimbrung bersama obrolan mereka.

__ADS_1


"aku akan bekerja secara online saja. Dimana aku akan tetap bertanggung jawab atas pekerjaanku, dengan loyal dan kompeten. Namun aku tidak bisa meninggalkan impianku menjadi dokter kandungan dimana sebentar lagi Bu Sri yang memegang jabatan kepala puskesmas akan segera pensiun.Ia memintaku untuk menggantikannya. Dan aku juga tidak dapat menolaknya. Namun jika perusahaan tidak menyetujui kesepakatan ini, maka aku akan mengundurkan diri, dan mengabdi kepada warga dikampung saja." jawab Hadi.


Satria tampak berfikir keras dan terdiam. Setelah beberpa menit kemudian Ia berkata " Kupastikan mereka akan menyetujui kesepakatan yang akan kau buat, asalkan kamu konsisten dan komitmen dengan pekerjaanmu" jawab Satria.


"kenapa kakak bisa mengatakan itu.?" cecar Hadi.


Satria merasa kelabakan dengan pertanyaan Hadi barusan. lalu berusaha bersikap Santai.


"emm.. Ya karena mereka melihat kemampuan yang luar biasa dari kamu.." jawab Satria dengan senyum datar.


"kalau kamu pulang, ibu ikut ya Hadi..." ucap Mala, membuat semua mata tertuju pada Mala.


Satria merasa terhiris mendengar ucapan Mala, Ibunya. "apakah Ibu tidak betah tinggal bersamaku?" tanya Satria. Ada perih dihatinya.


"bu..bukan begitu sayang.. Tetapi bagaimanapun Ibu tetap kangen rumah ibu." jawab Mala sekenanya.


Satria menghela nafasnya dengan Berat. "bukankah ini rumah ibu juga?" tanya Satria dengan suara lemah.


Mala merasa serbah salah. Ia bingung dengan jawaban apa yang harus diberinya kepada Satria.


"sebagai orangtua, kami merasa sungkan jika harus tinggal dirumah anaknya. Meskipun rumah kami para orangtua tidak sebaik dan seindah rumah anaknya, mereka akan merasa nyaman tinggal dirumahnya sendiri, dan itu akan kalian rasakan jika sudah tua nanti." Mala mencoba memberikan pengertian kepada Satria.


"lagipula, dikampung Ibu bisa bersosialisasi dengan warga dan berinteraksi untuk membuang rasa jenuh" Mala kembali mengunkapkan isi hatinya. Namun disebalik itu, Mala merasa tidak ingin menjadi farasit dalam kehidupan Satria. Dimana rumah dan kemewahan yang Satria miliki berasal dari orang yang telah mencuri janinnya waktu itu. Meskipun wanita itu sudah melakukan kesalahan, namun Ia menebusnya dengan memberikan semua yang Ia miliki.


Mala juga merasa trauma dengan kejadian Bayu waktu itu. Karena Ia menganggap, kota ini penuh dengan kisah pilu. Bahkan Reza juga pernah melakukan penculikan atasnya di kota ini juga. Ia tidak ingin terlalu lama tinggal dikota ini.


Satria membaca seluruh isi hati Mala, sang ibundanya. Meskipun Ia merasa berat, namun Ia tidak ingin memaksa. Ia tidak ingin merasa ibunya terbebani dengan keinginannya. Apalagi peristiwa tentang pelecehan yang hampir dilakukan oleh pak Bayu, tentu membuat ibunya merasa tidak nyaman. Ternyata Cantik itu tidak selalunya membawa berkah.


"baiklah bu, jika itu keinginan ibu. Tetapi jangan lupa untuk mengunjungiku, dan aku juga akan selalu mengunjungi ibu." jawab Satria lirih.


Saat mereka sedang mengobrol, mereka mendengar suara dengkuran halus dari gadis cantik tersebut. Ternyata Ia tak mampu menahan rasa kantuknya dan kelelahan setelah melakukan perjalanan panjang.


Mereka tidak tega membangunkannya. "Hadi, tolong gendongkan Shinta kekamar Ibu, biarkan malam ini Ia menginap dirumah ini, dan tidur bersama ibu. Ayahmu akan tidur bersamamu atau bersama Satria.


"ya iyalah.. Masa ibu atau ayahmu yang memindahkannya." sergah Mala.


"oh.. Sungguh menyebalkan, bahkan Ia kini sudah mencuri tidur dengan Ibu." Hadi menggerutu.


"Hadi..! Dia gadis piatu sejak Ia masih SMP, dan jika Ia mencuri perhatian ibu itu adalah hal yang wajar, mungkin Ia merindukan kasih sayang seorang ibu. Mengapa kau begitu kesal padanya?! Atau dibalik kesalmu ada perasaan lain yang kau sembunyikan?" cecar Mala kepada Hadi.


"I...buuu.." sungut Hadi kepada Mala.


"ayolah.. Kamu itu sudah beranjak dewasa, ibu tau kau menyimpan sebuah perasaan yang sama padanya, hanya ego kalian lebih tinggi. Ibu juga mengharapkan cepat mendapatkan menantu dari kalian berdua." ucap Mala menatap kedua anak lelakinya secara bergantian.


"haaaah ?!" teriak keduanya bersamaan.


"sudahlah.. Angkat Shinta sekarang, kasihan Ia dengan tertidur posisi seperti itu." titah Mala kepada Hadi.


Dengan menggerutu, Hadi mengangkat tubuh Shinta, dan lagi dan lagi, jemarinya tanpa sengaja menyentuh dua bukit itu. "dasar bukit sialan..!" gerutunya dalam hati, dan hal itu didengar oleh bathin Satria. "jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan Kamu Di.." ucap Satria menyindir sembari beranjak bangkit dan tersenyum geli melihat wajah Hadi yang memerah.


Hadi memanyunkan bibirnya. Lalu membopong tubuh Shinta menuju kamar Mala. "berat sekali dia, padahal tidak gendut.." Ia terus mengomel.


Sesampainya di kamar Mala, Ia ingin meletakkan tubuh Shinta diranjang, namun karena Shinta menggeliat, membuat tubuhnya hilang keseimbangan dan jatuh diranjang menimpa tubuh Shinta. Tanpa sengaja, bibirnya menyentuh bibir gadis yang masih terlelap itu.


entah keberanian dari mana datangnya, Ia mencuri kecupan dibibir sang gadis. Lalu buru-buru menjauh dari tubuh gadis itu.


Perasaanya tidak karuan, hatinya penuh debaran yang tidak dapat Ia artikan. Untuk pertama kali dalam seumur hidupnya, Ia mengecup bibir seorang gadis.


Ia bergegas meninggalkan kamar itu, Ia takut Syetan akan menggodanya dan membisikkan rayuan tipu muslihat.


-----------♡♡♡♡♡-------


Satria memasuki kamarnya, Ia sedang menelefon seseorang. Ia memutuskan sambungan telefonnya, saat mendengar suara handle pintu dibuka.

__ADS_1


"boleh masuk kak?" tanyanya kepada Satria.


Satria mengangguk dan meletakkan gadgetnya di atas nakas.


Hadi memasuki kamar Satria, lalu tanpa permisi Ia membaringkan tubuhnya diranjang Satria.


"tadi aku mau tidur dengan ayah, tetapi saat aku ingin memasuki kamar itu, ada suara ibu disana, sepertinya mereka sedang mengobrol penting. aku tidak mungkin mengganggu mereka." ucap Hadi.


"ya sudah.. Kamu tidur disini saja malam ini." jawab Satria.


Hadi terdiam. Ia menatap langit-langit kamar Satria.


Satria melanjutkan ketikan skripsinya. Minggu Ini Ia akan sidang Skripsi.


"Kak.." paggil Hadi lirih.


"Ya.." jawab Satria yang terus mengetik dipapan keybord laptopnya.


"apa kakak pernah jatuh cinta.?" tanya Hadi, tanpa menoleh kepada Satria, matanya masih menerawang jauh kealam fikirannya.


Satria menghentikan ketikannya. Ia terdiam sesaat mendapati pertanyaan Hadi. 'Jatuh Cinta', kata yang tak pernah terfikirkan olehnya sampai saat ini. Ia pun tak mengerti, mengapa Ia bisa melupakan hal tersebut. Bukan berarti Ia tidak normal, tetapi karena sampai saat ini Ia belum pernah bertemu gadis yang mampu menggetarkan hatinya.


"mengapa kau bertanya seperti itu.? Apakah kini kau sedang merasakan jatuh cinta terhadap Shinta.?" ucap Satria, mencoba menghindari pertanyaan Hadi, tetapi berbalik bertanya.


"aku tidak tau dengan perasaanku, tetapi sejak malam pembebasan Ia dari penyekapan waktu itu, aku merasa ada getaran yang sulit aku kendalikan didalam hatiku. Aku mencoba menutupi darinnya dengan bersikap jutek. Karena sesungguhnya aku merasa gugup saat berhadapan dengannya." Hadi mencoba jujur dengan perasaanya.


Satria menghela nafasnya. Ia teringat kembali dimana masa, saat Shinta mengorbankan harga dirinya untuk menyelamatkan Ia dan Hadi. Dan jika Hadi benar-benar mencintainya, itu adalah harga yang pantas untuk membayar semua pengorbanannya selama ini,dan mungkin juga masih kurang.


"Di.. Apakah kau tetap akan mencintainya setelah mengetahui jika Ia bukan gadis suci lagi.?" tanya Satria menyelidik.


Hadi memiringkan tubuhnya, menghadap Satria. "aku tahu, didalam penyekapan itu Ia mengalami pelecehan oleh Rey dan anak buahnya. Aku tidak mempermasalahkannya. Itu bukan inginnya, namun karena keterpaksaan." jawab Hadi jujur.


"apakah kau tau mengapa sebab Shinta disekap.?" tanya Satria kepada Hadi.


Hadi menggelengkan kepalanya.


Satria mengehela nafasnya dengan berat. "itu semua berawal dari saat Ia menyelamatkanmu dari pembullyan oleh Rey saat pertama kali kamu masuk kuliah, hingga saat penculikanmu. Ia memiliki jasa yang teramat besar dalam hidupmu. Jika kau mencintai Ia dengan tulus, maka terimalah apa yang menjadi kekurangannya, tanpa harus menuntut apapun." Ucap Satria.


Seketika Hadi beranjak dari tidurnya, Ia terperangah mendengar semua penuturan Satria. Ia tidak pernah menduga sebelumnya, bahwa begitu banyak pengorbanan yang diberikan gadis itu untuk hidupnya, sedangkan gadis itu tidak pernah sekalipun mengungkitnya.


Hadi merasa kesal dan bodoh, karena sudah berkata konyol dan bahkan mengerjai gadis itu saat peristiwa dimobil ketika Shinta tak sadarkan diri saat kolestrolnya naik.


Ia berjanji pada hati dan dirinya, jika mulai saat ini Ia akan menjaga dan memberikan hidupnya untuk gadis itu.


--------♡♡♡♡----


pukul 4 pagi Shinta terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya, melihat sekeliling kamar yang sangat tidak familyar.


Ia tersadar jika Ia sedang tidak berada dikamarnya. Ia terkejut saat melihat seorang wanita cantik sedang memeluk pingangnya.


Ia menyibakkan rambut yang menutupi wajah wanita itu. "meskipun dalam tertidur, kau terlihat sangat cantik, dan juga lembut. Andai saja aku memiliki seorang ibu sepertimu, aku akan merasakan hidupku penuh keberuntungan." Shinta berguman lirih dalam hatinya.


Namun, Ia tak ingin berharap terlalu jauh. Karena Mencintai Hadi adalah hal yang tidak mungkin. Apalagi dirinya merasa bukanlah seorang gadis suci. Dan hanya pria bodoh yang akan menerimanya kelak.


Shinta merasa sangat haus. Ia menepiskan tangan Mala yang sedang memeluk pinggangnya dengan sangat lembut. Setelah berhasil menjauhkan tangan Mala, Ia beranjak dengan sangat hati-hati turun dari ranjang. Ia tidak ingin sampai membuat wanita itu terjaga dari tidurnya.


Ia menuju kedapur. Didapur tampak gelap, karena lampu yang dimatikan. Ia mencoba meraba-raba mencari gelas dan dispenser. Ia tidak mengetahui dimana letak saklar lampu tersebut. Sesaat Ia merasakan tangannya menyentuh tubuh seseorang didalam kegelapan itu. Ia terperanjat. Ia tidak ingin bertindak ceroboh, karena dirumah ini ada 3 pria. "kamu siapa.?" tanya Shinta lirih. Namun. pria diam tak menjawab. Saat Shinta menyentuh wajah itu, Ia merasakan sebuah tahi lalat didekat dagu pria tersebut.


"Hadi.." Ucap Shinta lirih.


Seketika pemuda itu menarik pinggang ramping milik Shinta, membawahya dalam pelukannya, lalu mengecup lembut bibir gadis itu. "mau kah kau menjadi istriku..?" tanyanya dalam kegelapan.


Shinta tersentak dalam lamuanannya. Tanpa memberikan jawaban apapun, Ia mengeratkan pelukannya di tubuh Hadi.

__ADS_1


"


__ADS_2