
Malam menunjukkan pukul 11 malam. Mala masih sibuk berbenah dengan isi kamar yang baru saja rampung dibangun. Semua tampak mewah. Satria uang mendesign sendiri.
Kini Mala tak lagi harus kekamar mandi belakang yang terletak didapur, Karena kamar itu sudah dilengkapi dengan kamar mandi yang juga terkesan mewah.
Mala melirik Roni yang kini terbaring di tepian ranjang. Saat ink Ia masih dibantu dengan infus untuk membantu memenuhi nutrisi dalam tubuhnya, karena beberapa hari ini Roni todak mau memakan apapun.
Setelah selesai berbenah, Mala teringat akan mengambil kain sprei yang tertinggal dilemari pakaian dikamar yang lama.
Lemari itu rencananya akan diberikan kepada paijo, karena Satria telah menggantinya semua dengan yang baru dan mewah.
Mala beranjak menuju kamar lamanya, lalu mencari barang yang akan diambilnya. Mala harus mengosongkan semua isi kamar itu, karena esok pagi akan dilakukan pembobokan dinding dan penghancuran.
Tanpa terasa, malam sudah merangkak naik. Kini telah menunjukkan pukul 12 malam. Suasana hening, gelap dan mencekam menambah kesunyian yang begitu damai.
Suara jangkrik bernyanyi merdu, mengiringi melodi malam nan syahdu. Namun semua tak berlangsung lama, setelah terdengar sesuatu dari dalam lemari yang sudah kosong, dan ada beberapa helai sprei yang akan diambil oleh Mala.
Mala berjalan menghampiri lemari tersebut. Namun baru saja beberapa langkah, Ia dikejutkan oleh suara gemeratak yang terdengar sangat kuat.
Tratak..tak..tak..
Suara gemeratak seperti dua benda yang sedang beradu satu sama lain semakin teasa terdengar kuat keluar dari dalam lemari.
Seketika suasana menjadi sangat dingin. Semakin lama semakin terasa dan semakin kuatnrasa dingin tersebut.
Mala yang merasa sangat penasaran dengan suara yang didengarnya sama saat siang tadi, membuatnya sedikir merasa takut.
Mala menghampiri dengan langkah yang sangat hati-hati. Setelah Mala mendekti lemari tersebut, dengan gerakan cepat Ia membuka kedua pintu lemari tersebut dengan cepat.
Kreeeeeeekkk....baaammm...
Mala membuka sekaligus membanting pintu tersebut dengan geeakan yang sangat cepat.
Setelah pintu terbuka lebar, Mala tidak menemukan apapun selain keheningan. Ia merasa bingun dan heran dengan apa yang terjadi.
Mala mengernyitkan keningnya. Ia merasa jika yang didengarnya adalah nyata dan bukan ilusi semata.
Nala merasa jika ada pesan tersirat didalam lemari tersebut. Ada sebuah rahasia yang harus Ia pecahkan, dimana mungkin saja rahasia itu menjadi petunjuk bagi masalah hidup yang kiji sedang dijalaninya.
Mala teringat akan Satria. seketika raut wajahnya berubah cerah. Entah dorongan dari mana, Mala merasa harus segera membangunkan Satria. Ia menutup kembali pintu lemari tersebut, lalu beranjak dan menuju kamar Satria.
Kini Mala telah sampai didepan pintu kamar Satria.
__ADS_1
Tok..tok..tok..
Suara ketukan yang sedikit keras.
"Sat..Satria..buka pintunya Nak.. Ada yang ingin Ibu bicarakan.." ucap Mala dengan sopan.
"Iya Bu...." jawab Satria dengan suara parau.
Terdengar suara derap langkah lemah dari dalam kamar.
Sesaat Sayria sudah berada diambang pintu dan dengan mata sayu dan tampak masih mengantuk.
Hooooaammm...Ia menguap sembari mengucek-ngucek matanya. Satria mencoba mengumpulkan nyawanya yang belum kumpul.
Setelah setengah kesadarannya pulih, Ia menatap kepada Mala sang Ibu.
"Ada apa bu..?" suaranya terdengar parau dan berat. Wajah mengantuk masih tergambar jelas diraut wajanya.
"Ada sesuatu yang mencurigakan didalam lemari pakaian di dalam kamar lama. Sua gemeratak, seperti dua benda yang sedang beradu." ucap Mala mencoba menjelaskan apa yang sedang dialaminya.
Satria terdiam sejenak. " Ya sudah.. Ayo kita periksa.." ucap Satria sembari berjalan menuju kamar.
Mala berhenti tepat didepan pintu lemari yang menjadi pusat easa penasaran dan kecurigaannya.
Satria memahami perasaaan Ibunya. Lalu Ia berjalan menuju lemari tersebut.
Setelah berada tepat didepan lemari tersebut, Satria dengan cepat membuka kedua pintu tersebut.
Kreeeeeekkk..baaammm..
Pintu lemari terbuka lebar..
Lalu tampak kilauan cahaya yang memendar keseluruh ruangan kamar, dengan cepat cahaya itu menyerap Satria masuk kedalamnya, dan pintu lemari terkunci sendiri dengan rapat.
Mala terperangah, lalu mencoba membuka pintu tersebut dengan sekuat tenaganya. Ia tidak ingin sesuatu terjadi pada Satria.
Berulangkali Mala ingin membukanya, namun pintu lemari seolah seperti besi yang di beri las kuat.
Mala memucat ketakutan. Ia tidak dapat membayangkan apa yang sedang terjadi pada Satria didalam sana.
Cahaya itu seperti sebuah pintu masuk menuju dimensi lain.
__ADS_1
Mala terduduk lemah. Ia menangis dan kebingungan. Ia tidak tahu harus bagaimana caranya menyelamatkan Satria. Debaran didanya memburu tak beraturan.
Sementara itu..
Satria terserap oleh cahaya yang bersinar terang tersebut. Cahaya itu membawanya hingga sampai kesebuah tempat yang mirip dengan sebuah lorong menuju altar.
Disana tampak seorang pria sepuh berjanggut dan menggunakan sorban sedang duduk disinggasanya. Tampak wajah itu penuh sahaja dan berwibawah.
Satria memandang pria sepuh itu dengan sangat takjub. Tampak pria itu memandangnya dengan sangat ramah.
Satria berdiri terpaku, lalu mengusap kedua matanya dengan begitu takjub.
"Siapa Dia..? Mengapa aku tidak pernah melihatnya..? Namun seperti dekat dengannya.." Satria berguman dalam hatinya.
Matanya terus memandang kepada pria sepuh yang begitu sangat membuatnya takjub.
Ia melihat kesekeliling ruangan yang begitu tampak indah. Semuanya tampak berkilau.
Pria sepuh itu tiba-tiba saja duduk melayang dengan posisi bersila. Kedua matanya terpejam, lalu duduk diatas permadani berwarna hijau.
Tanpa sadar, Satria seperti terhipnotis, lalu menghampiri pria tersebut.
Dengan langkah yang penuh kesahajaan, Ia sudah berdiri tepat dihadapan Pria sepuh tersebut.
Ia memandang dengan takjub. "Mengapa ada kemiripan dengan Ayah, Roni..? Meski sedikit.." Satria berguman lirih dalam hatinya.
Ia memandangi wajah pria itu dengan penuh seksama. Rambut lurus putih sebahu, hidung mancung, raut wajah yang menggambarkan ketenangan dan penuh wibawa.
Satria mencoba ikut duduk bersila menghadap kepada orang tersebut. Priabitu lebih pantas disebut dengan panggilan habib.
Hal itu karena terlihat dari penampilannya yang begitu amat sangat tepat untuknya.
Sang Habib membuka matanya. Memandang Satria dengan sangat ramah.
"Selamat datang.. Sudah sangat lama aku menatikanmu, akhirnya kau datang juga." ucap sang Habib dengan sangan tenang, dan ramah.
Satria tampak kebingungan dengan apa yang diucpakan oleh pria itu. Namun, rasa penasaran mengalahkan segala ketakutanya.
Satria beranjak dari duduknya, lalu mendekati sang Habib, dan kini jarak mereka hanya tinggal satu depa saja.
"Si..siapa anda wahai Habib..?" ucap Satria kepada sang Habib dengan sopan.
__ADS_1
Sang Habib menatap Satria dengan senyum ramah dan teduh.
"Ada sesuatu hal yang ingin kuberikan padamu.. Maka kamu harus siap untuk segala sesuatunya." ucap sang Habib dengan pandangan teduh.